
Bab 65
.
Tuan Wijaya yang mendapatkan mukjizat dari Tuhan,pun menelepon Agung serta menantunya untuk segera datang ke rumah.
Tanpa banyak tanya Agung serta Wiliam bergegas bareng menuju rumah kediaman Wijaya.
Entah berita apa yang membuat pria paruh baya begitu tergesa-gesa meminta mereka berkumpul tanpa boleh banyak tanya.
Begitu tiba mobil Agung di rumah, mereka disambut oleh Mbok yang terus nunjuk dalam rumah dengan senyum bahagia.
"Ada apa Mbok?. Mbok menang lotre,ya?" tanya Agung penasaran.
Si Mbok melambai silang tangannya, karena tidak bisa mengutarakan kebahagiaan yang bakal mereka berdua rasakan.
Sebuah kejutan yang tidak mereka sangka setelah tujuh hari diliputi rasa duka terdalam.
"Pa, kenapa kami dipanggil?. Untung tamu-tamu di sana tadi sudah mulai bubar?" tanya Agung pada Tuan Wijaya yang tampak senang.
"Kalian akan segera tau.Wiliam, coba kamu ke kamar Papa , dan lihat apa kamu akan suka atau tidak" jawab Tuan Wijaya sambil memberi perintah pada menantu.
Dengan langkah yang pelan dan berat, Wiliam menuju kamar utama rumah ini. Saat pintu di ketuk, Nyonya Wijaya keluar dari dalam kamarnya,dan memberikan izin pada menantu untuk masuk.
Senyuman bahagia terukir pada garis pipi wanita yang sudah lemas beberapa hari. "Masuk, dan lihat" ucap pelan Nyonya Wijaya membuka jalan.
Wiliam yang masuk kamar itu hanya melihat tubuh orang dewasa yang sedang tertidur posisi miring. Entah hal penting apa yang ingin disampaikan keluarga mertua pada dirinya.
"Ma..." panggil suara orang tertidur miring, mengeliat manja.
Antara percaya dan tidak. Mata yang sudah kabur karena kurang istirahat, semakin mendekat untuk memastikan sosok yang ia lihat samar-samar.
Greb.....
Setelah yakin dengan penglihatan jarak terdekat tiga puluh centi, tubuh Wiliam yang kurang fit ambruk menindih tubuh sosok wanita yang dia kira bakal kagak jumpa.
Ahhhh.... Teriak sekencang-kencangnya Melani, menahan berat tubuh yang menindih tubuhnya tiduran.
Orang-orang yang sedang berada di luar pun masuk tergesa-gesa, takut mereka bertengkar hebat.
Sebuah pemandangan yang tidak disangka untuk mereka tonton. Posisi Wiliam menindih Melani cukup dimengerti oleh mereka yang berpasangan dan sudah merasakan setiap momen tersebut.
"Hei, bangun" Agung menepuk punggung Wiliam agar tidak menindih adiknya terlalu lama.
"Kak,dia pingsan" ucap Melani merasa sesak nafas, sambil nahan tubuh Wiliam tidak terlalu menindih total.
"Haaa! Kaget sampai pingsan.Cemen banget jadi cowok" sindir Agung, menarik tubuh ipar ke samping Melani.
"Kok, semua pada ngumpul?" Melani bingung sedari sampai, semua tampak aneh dan antusias.
"Kan kamu hidup kembali" Agung juga tidak luput memeluk erat tubuh kecil Melani .
__ADS_1
"Lah,kan Mel memang masih hidup" sahutnya balas pelukan sang kakak.
Siapa yang bingung di antara dua posisi berbeda. Untuk sementara, mereka membereskan tubuh Wiliam yang pingsan tidur di tempat tidur tuan rumah, sebelum mendengar cerita utuh tanpa pengulangan.
"Ma,ini orang mau aku pulangkan ke rumah orang tuanya, nggak?" tunjuk canda Agung ke Wiliam. Kasihan lihat sang Mama jadi tidak punya tempat tiduran.
"Tidak baik begitu sama adik ipar kamu" ibu suri memukul lengan Agung yang tidak sopan.
"Idih... Cocoknya jadi Om kami, bukan jadi adik ipar aku" bergedik ogah.
"Hushhh!! . Nggak baik gitu. Ayo keluar, biar Melani yang jaga" ujar ibu suri,narik suami dan putranya keluar dari kamar itu.
"Aku ikut" seru Melani tahan tangan sang kakak.
"Ayo Mel" merangkul pundak Melani.
"Mel,suamimu pingsan jangan ditinggal.Kalau perlu sesuatu kan butuh orang disampingnya" jelas ibu suri, menghempaskan rangkulan tangan Agung.
"Benar kata Mama,Mel. Kamu temani Wiliam sampai sadar" sambung lembut Tuan Wijaya.
"Yaaa...Kakak temani Mel,dong" pinta manjanya nahan kepergian keluarga.
"Ok"
Takkk....
Tuan Wijaya menjitak sikap putranya yang tidak tau kondisi.
"Dasar emang sudah bodoh!. Cepat keluar!" hardik Tuan Wijaya menunjuk pintu kamar.
"Mel,kalau kamu perlu bantuan, teriak yang kencang saja" bisik Agung sebelum keluar.
Manik mata Melani berkaca tidak rela ditinggal seorang diri dalam kamar.
.
"Bangun" menoel tangan Wiliam.
Beberapa kali dibangunkan tetap tidak bangun. Melani berjalan mondar mandir harus menunggu orang siuman pasti bakal lama, dicarinya minyak angin dalam lacin meja hias sang Mama untuk membantu orang tersebut segera sadar untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Melani menaruh lubang botol minyak angin untuk dihirup tepat di hidung Wiliam ,tapi masih belum sadar.
"Biar cepat pulang,aku oleskan saja pake balsem gosok extra hot" tertawa keji, mengambil balsem yang biasa dipakai untuk mijit Tuan Wijaya.
Sekali sapuan tipis balsem extra hot mengenai permukaan kulit hidung yang ditumbuhi rambut halus.
"Jorok banget ini Om Om. Sudah tau kumis tumbuh bukannya di cukur" omel Melani ,geli menyentuh rambut tipis di atas bibir.
Sudah diolesi balsem extra hot, Wiliam juga tidak bergerak bangun. Pikiranku menebak orang ini terlahir dengan kulit badak Sumatra. Tidak tinggal diam saja aku yang harus menunggunya sadar. Aku juga berinisiatif untuk mengolesi keningnya.
"Waduh... Panas banget nih kening" mengukur suhu tubuh dengan telapak tangan.
__ADS_1
Aku segera berjalan keluar memanggil Mama, Papa serta kakak, tanpa memberitahukan apa alasan aku keluar memanggil mereka. Tangan aku menarik kak Agung, karena dia bisa aku ajak lari masuk kamar Papa lebih cepat.
"Ada apa,Mel?.Om Om itu jahatin kamu ,ya?" tanya Agung.
"Bukan kak. Tapi Tuan Wiliam demam" jawabku kaku menyebut nama lelaki itu langsung.
"Alahmak!!. Sakit kok pingsan di sini" Agung mendekat ,dari dekat tercium bau aroma balsem.
"Kakak kenapa?" tanyaku berdiri di belakang kak Agung.
"Kamu olesin balsem ya?" tanya kak Agung dengan senyum geli.
Hehehehe..... Aku tersenyum malu ketahuan ulahku oleh kak Agung. Tapi bakal tetap bakal dibela asal jangan ketahuan sama Mama ,Papa.
Belum sempat kami menghilangkan jejak ulah jahatku, sosok yang paling kami berdua segani telah masuk.
Tanganku menyenggol lengan kak Agung,pria yang bisa melindungi aku saat aku butuhkan
"Ok,tenang" gumam pelan kak Agung padaku.
Hatiku jadi tenang tentram, bakal ada yang bisa aku kambing hitamkan,tapi hal ini hanya berani aku lakukan pada Kakak ku tersayang.
"Ada apa,hum?" tanya Tuan Wijaya melihat kami kakak beradik begitu berdekatan.
"Itu, Pa. Om itu demam" jawab Agung mencegah aroma balsem terhirup hidung orang tuanya.
Aku ngangguk mengiyakan jawaban kak Agung, sambil menghalang jalan orang tua kami.
"Kenapa masih di sini,cepat panggil dokter" titah Tuan Wijaya.
Mendingan aku yang keluar panggil dokter, dari pada lihat wajah orang tuaku yang lebih memperhatikan menantu mereka.
"Mau kemana kamu" ibu suri menghalangi langkah kakiku yang baru beberapa langkah saja.
"Panggil dokter" jawabku jujur ,tanpa dosa dan macam-macam.
"Tidak usah. Biar Agung yang panggil,kamu jaga suami" ucap ibu suri
"Cepat panggil" hardik Tuan Wijaya pada Agung.
"Ok" kak Agung keluar mengambil ponselnya untuk mencari kontak dokter pribadi keluarga kami.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1