
Bab 139
.
Atas permintaan wali pasien,tim medis memberikan suntikan nutrisi bagi tubuh Melani melalui selang infus.
.
3 minggu sudah Melani keluar rumah sakit, dan menjalani masa nifas rahasia di mansion. Hanya ditemani seorang pelayan dan Josh setiap harinya, untuk menghilangkan rasa sepi sedih.
Wiliam yang tak sanggup untuk melihat Melani sejak keluar rumah sakit, memilih untuk pergi ke kantor pusat yang ada di Amerika.
Keadaan suasana hati Wiliam di negeri orang juga tidak terlalu baik. Rasa penyesalan yang terus menghantui dirinya hanya menyisakan perih teramat dalam.
Hubungan jarak jauh diantara mereka seperti saat ini tidak bisa di bilang baik maupun buruk. Mungkin saja ada baiknya untuk mereka koreksi diri masing-masing.
Sementara itu,Josh yang bulan depan memasuki liburan akhir semester mengajak kerjasama ibu cantiknya untuk membuka usaha online mereka, yang berbasis dunia secara secret.
"Oke. Lagian Mami tidak ada kegiatan lain" jawab lesu kurang bersemangat.
"Josh akan buat akun e-mail baru untuk kita, biar Daddy dan uncle tidak tau" pergi keluar kamar cari laptop.
Laptop di bawa masuk kembali ke dalam kamar.
Josh melompat naik ke atas tempat tidur di samping Melani. Kemudian membuka jejaring internet dan buat akun baru dengan database ketat.
Kelincahan jari-jari kecilnya tidak sulit untuk memprogram apa saja yang diperlukan, dengan saran dan bimbingan Melani,akun bisnis sudah siap digunakan kapan pun mereka mau mulai.
"Mami tidak mau tambah yang lain?" menoleh sambil nunggu konfirmasi akun bisnis mereka telah terlindungi dari hacker.
"Nanti kalau ada, Mami kasih tau. Sekarang kamu lanjut serius belajar,gih" ucap lesu Melani kembali berbaring.
"Oke Mami" mencium kening Melani dan turun untuk laksanakan perintah.
Setiap hari, Melani banyak mengurung diri dalam kamar. Kebencian pada sekelompok wanita yang membuat dirinya keguguran, masih membekas dalam batin.
"Aku harus membalaskan dendam anakku" geram Melani, mencabik-cabik selimut.
Beberapa hari kemudian, dengan stamina yang sudah stabil, Melani mengajak pelayan untuk keluar berbelanja kebutuhan rumah.
Sesampai di pusat perbelanjaan dan memilih beberapa produk,Melani pura-pura sakit perut.
Melani meninggalkan pelayan, dan lihat keadaan bodyguard yang tampak lengah padanya.
Saat ada waktu dan celah tepat, Melani kabur dari penjagaan, antara kerumunan orang-orang yang memperebutkan barang obral dadakan.
Melani terus berjalan cepat meninggalkan area pengawasan.
"Taksi" Melani menghentikan taksi yang lewat dengan pintu mall terbesar.
"Mau kemana,Bu?" tanya supir.
Melani pun mengatakan arah tujuannya.
Mobil melaju cepat sesuai permintaan penumpang. Dalam 10 menit mobil telah berhenti di gedung megah.
"Ini ongkosnya,Pak. Uang kembaliannya ambil saja" Melani menyerahkan uang ratusan 2 lembar secara terburu-buru.
"Terima kasih,Bu" ucap supir.
Begitu kunci pintu terbuka, Melani pun turun.
Beberapa rivalnya yang sedang duduk mengerjakan tugas mereka dengan serius, dikagetkan dengan kedatangan Melani yang tiba-tiba.
Muka mereka kaget, namun kecemburuan mereka buat akal bar-bar muncul.
"Mau ngapain lu datang,heng!" sambut sombong seorang wanita rambut kribo panjang terurai, sambil dorong tubuh Melani tersudut ke tembok.
"Bukan urusan kamu. Minggir sana!" balas Melani bersuara lantang, menepis tangan lain yang cengkeram dagunya.
"Ckckck....Songong banget kau!. Mentang-mentang jadi asisten pribadi.Uppsss!! Sekarang ditinggalkan. Hahaha...." sambung wanita kurus pendek berlipat dada, meledek keadaan Melani.
"Oh.... Jangan-jangan cewek gatal ini mau goda Tuan Ronald" celetuk cibir wanita lainnya lagi.
Melani menunduk,tapi puncak amarah sudah hampir dipuncak ubun-ubun.
Tangannya mengepal keras, meremash 2 butir cabe rawit dimasing-masing tangan.
"Dengar ya!. Jangan pikir Tuan Wiliam peduli dengan lu,maka lu bisa sombong. Cih!!. Lu tidak jauh beda dengan wanita rendahan" cibir pedas wanita rambut kribo, sambil dorong tubuh Melani ke belakang hingga berdiri terhuyung.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia sudah jual harga dirinya sama Tuan. Mungkin juga itu profesi asli. Ya, biasalah... Penjual jasa tubuh. Wkwkwk...." hina wanita lain.
"Sudah pasti itu. Masih muda sudah terjun dunia prostitusi, jadi wanita peliharaan orang tajir" cibir wanita kurus, menyunggingkan bibir.
"Cukup... Cukup...." ucap wanita kribo berlagak bijaksana.
"Kalau memang itu profesi lu, kami bakal carikan lu Om-om yang butuh jasa lu, asal lu jauhi Tuan Wiliam dan Ronald yang terhormat" sindir pedas wanita kribo.
"Ya...Ya... Kami pasti hubungi kau" sambung wanita lain.
Hahaha.... Mereka yang ada di sana menertawakan Melani sekencang-kencangnya.
Mata Melani memerah marah, amarah yang dari kejadian waktu lalu dan hari ini semua bercampur jadi satu, menjadi satu kepanduan yang erat.
Melani mendorong muka satu persatu wanita yang coba hentikan untuk cari biang masalah utama, dengan tangan yang berlumur getah cabe rawit habis di remah.
"Sial!. Kejar dia!" titah wanita kurus, langsung terasa efek pedas panas cabe rawit di mukanya.
Tidak ada yang bisa menghalang lagi untuk menuntut balas.
Melani berlari cepat masuk lift mencari musuh utama di lantai atas.
Entah sudah di takdirkan atau kebetulan tidak sengaja. Melani bertemu dengan kelompok tim kreatif yang hendak turun dengan tangga eskalator.
"Berhenti kalian!" pekik lantang Melani mendekati.
"Hei!!. Jangan sentuh aku. Dasar wanita pelakor!" ujar pelaku utama pembunuhan nyawa dalam kandungan.
"Mau apa kau kemari,hengg!" sambung Dewi menepis tangan Melani yang tahan bahu temannya.
"Utang mata bayar mata, utang nyawa bayar nyawa" ceplos Melani.
Plakk....
Dewi menampar keras muka Melani tanpa alasan kuat.
"Kalian ini tidak lebih dari seekor anjing gilak yang ngemis tulang pada majikan. Jika majikan kalian tau,apa yang telah terjadi sesungguhnya. Mungkin batang hidung kalian tidak ada lagi di dunia" maki Melani penuh ancaman serius.
Dewi dan anggotanya sama sekali tidak takut pada ancaman Melani. Malah mereka balik menyerang balik setiap kata, dengan kata tajam lebih menusuk.
"Kau itu wanita rendahan!. Keluar,sebelum Tuan Ronald tau kebusukan kau!" ujar pelaku utama pembunuhan.
Melani menampar satu persatu anggota Dewi dan juga Dewi sendiri. Tangannya yang terasa pedas digonyorkan kebagian mata setiap musuh.
"Mampus kalian!" maki Melani, terbalaskan dendamnya lihat sekelompok wanita genit kelabakan mata pedas.
Flash back......
...Mansion...
.
"Nak, Mama akan balaskan dendam kamu, supaya kamu tenang di surga. Utang Budi di bayar budi. Utang mata dibayar mata. Utang nyawa dibayar nyawa" Melani mencari gunting kecil, lalu masukkan ke dalam handbag.
Dengan reaksi seperti biasa, Melani pun pergi bersama pelayan ke pusat perbelanjaan.
Saat Melani memilih beberapa jenis sayuran,dia mengambil beberapa butir cabe rawit yang disisipkan dengan sayuran lain.
Setelah agak jauhan, Melani pun membongkar timbunan sayur ambil cabe rawit.
Sebagai manusia, Melani masih punya jiwa kemanusiaan. Niat untuk membunuh musuh, dapat dicegah dengan akal sehatnya.
"Kalian beruntung. Aku hanya akan memberi kalian peringatan siapa diriku" gumam Melani yang memikirkan wajah setiap orang yang jadi saksi pembunuhan, sambil memasukkan cabe rawit dalam handbag,dan membuang anak gunting ke tempat sampah.
Melani memilih jadi tersangka puncuri, dari pada jadi pembunuh seperti musuhnya.
.
Flash on....
Melani menuruni tangga eskalator dengan cepat. Tidak ada waktu baginya untuk berada di tempat itu.
Akan jadi masalah serius pula jika langsung tertangkap security.
.
Dibelahan benua lain, Wiliam dapat kabar Melani berhasil meloloskan diri dari pengawasan bodyguard.
Sontak Ronald yang dikabarkan berita itu segera mengarahkan bodyguard lain untuk mencari.
__ADS_1
Saat yang bersamaan pula, Ronald dapat aduan dari sekretaris akan banyak wanita habis diserang Melani.
"Kalian berpencar dan temukan Nona Melani" titah Ronald pada security.
Siapa bilang Melani pergi ke medan perang tidak pakai strategi?.
Melani yang memakai dua lapis pakaian membuka lapisan luar. Lalu membuangnya ke tong sampah, tidak lupa juga memakai perlengkapan penyamaran.
Security mencari Melani di setiap ruangan gedung mewah. Salah seorang dari mereka yang mencari di bagian toilet pria, menemukan pakaian wanita yang terbuang.
"Saya harus segera laporkan ke Tuan" ucap security memunggut pakaian barang bukti.
Tiba di ruang wakil CEO, security menunjukkan pakaian yang dipungut.
Untuk memastikan itu memang pakaian Melani, Ronald bertanya pada wanita yang jadi korban.
"Awas kalau kalian berani berbohong!" ancam Ronald, menunjuk satu barisan wanita berpipi merah panas cabe rawit.
"I-iya Tuan" serentak jawab.
Satu persatu dari mereka membenarkan pakaian barang bukti.
Keadilan tetap harus ditegakkan. Tidak boleh ada tumpang tindih meski yang berurusan adalah keluarga sendiri.
Sebelum memberitahukan masalah pada orang diseberang benua, Ronald menyelidiki kasus yang melibatkan Melani, yang menjadi brutal tak terkendali.
Ronald ke ruang CCTV gedung itu berada, untuk cari fakta kebenaran.
"Buka rekaman kamera pengawas dalam satu jam ini" titah Ronald, berdiri menunggu security yang bertugas memflash back reka kejadian.
Security merepeat tangkapan kamera pengawas. Tampak normal setiap karyawan wanita melakukan aktivitas mereka. Ya,tentu saja nampak pula tingkah mereka ada yang berleha-leha,merias diri sampai nelpon tertawa terbahak-bahak.
Ronald tidak menemukan tindak tanduk brutal Melani yang dicari dari tangkapan kamera pengawas.
Untuk lebih meyakinkan,dia menelepon seseorang melacak keberadaan GPS ponsel Melani.
"Lacak cepat nomor yang saya kirim tadi" ucap Ronald dengan suara tenor tinggi pada orang lain tempat.
Dalam 1 menit, orang suruhan Ronald berhasil lacak keberadaan Melani.
"Nomor yang anda cari, sekarang ada di jalan Xxx" orang suruhan mengirim alamat terlacak ke ponsel Ronald.
"Ok" balas singkat Ronald pada orang suruhan.
Bergegas Ronald meninggalkan gedung megah ke alamat yang di kirim.
Setiba di alamat yang dituju, Melani sendiri yang bukakan pintu.
"Ada apa kak Ronald datang?" tanya Melani pura-pura tidak menahu kejadian di kantor.
"Kamu bukannya sedang belanja?" balik tanya serius Ronald, tidak berani masuk ke dalam jika tidak ada orang lain.
"Iya. Tapi karena sakit perut,aku pulang sendiri" sahut Melani berwajah tenang.
Bagaimana tidak tenang?. Setiap reka kamera pengawas telah di hacker Melani saat dia akan masuk ke dalam gedung megah.
Tidak sia-sia ia banyak bersama dengan Josh, yang amat ahli meretas dan membuat virus kuat untuk setiap akun yang dibuat.
Ronald segera menelepon bodyguard yang masih mencari di area pusat perbelanjaan, untuk segera kembali bersama pelayan.
"Jadi apa yang dikatakan sekretaris itu hanya tuduhan fiktif?" tanya Ronald sambil nunggu pelayan dan lainnya datang.
"Bisa dibilang, iya. Sebelumnya mereka yang mengancam aku" aduh tuding balik Melani.
"Kenapa kamu tidak bilang?" merespon baik aduan sang mantan.
"Aku nggak mau dibilang cari muka atau sensasi saja" santai menjawab, meski hati sedang merintih perih teringat kejadian waktu itu.
Sambil ngobrol, pikiran dan hati Melani terus teringat peristiwa yang menyakiti itu. Andai mereka tau, juga tidak akan membiarkan dirinya berurusan dengan mereka.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1