Change Destiny

Change Destiny
Bab 66 Demam


__ADS_3

Bab 66


.


Sambil nungguin dokter pribadi kami tiba, aku disuruh Mama untuk mengompres kening pria itu dengan air es.


"Ma,Mel capek. Minta Mbok aja yang kompres ya" dalih Melani, memutar bola mata.


"Suami, suami siapa.Kok minta orang lain yang urus.Kamu ini sudah jadi istri orang, mesti tau tanggung jawab dan kewajiban sebagai istri" ceramah ibu suri.


"Papa" rengekku memelas pembelaan.


"Benar kata Mama. Kamu selamanya tetap jadi putri kesayangan kami, namun tidak bisa dipungkiri pula, bahwa kamu juga sudah berstatus istri Wiliam" nasehat Tuan Wijaya mengendus aroma yang dikenalnya.


Nurutlah sudah kalau Papa yang ngomong, dari pada penciuman berujung ceramah marahnya.


"Papa sama Mama pasti sudah capek kan?. Mendingan duduk saja" dalihku menjauhkan jarak indera penciuman mereka.


Terpaksa aku jadi istri soleha kayak di tivi sinetron saja. Aku memeras handuk agar tetap dingin untuk mengompres kening yang basah aku buat, karena kurang kering saat aku memeras handuk.


Dokter yang telah aku nanti, akhirnya datang menyelamatkan diri ini yang berendam air es.


"Bagaimana keadaan menantu saya ,Dok?" tanya Ny Wijaya.


Dokter terkejut dapat kenyataan bahwa pria yang sakit itu menantu pemilik rumah, tanpa diduga putri rumah ini mau menikah dengan pria berpaut jauh usia.


"Dok" panggil Tuan Wijaya.


"Oh. Tuan ini kecapean, kurang nutrisi dan istirahat saja. Saya akan tulis resep,usahkan agar asupan nutrisi dan istirahat tercukupi" jawab dokter, sambil memandang Melani tidak percaya.


Aku saja sampai sekarang tidak percaya mau nikah sama Om Om , andai saja ada yang mengerti keadaanku saat itu akan lebih baik. Ya sudahlah,nasi sudah hangus, mau jadi bubur pun gak bisa dimakan, terima keadaan untuk sementara sambil berharap nasib buruk tidak datang coba menguji lagi.


Papa mengantar dokter keluar, sementara itu Mama mengizinkan kamar mereka untuk dipakai kami malam ini.


"Tidak usah,Ma. mendingan minta kak Agung antar dia pulang saja" saranku.


"Iya.Aku bisa kok ngantar Om ini pulang" sambung Agung berdiri sandaran kosen pintu.


"Kamu jangan panggil Om. Nggak sopan tau!" omel ibu suri.


"Jadi harus manggil apa?. Nggak mungkin panggil Mas,ntar dikiranya aku homo" bergedik bahu geli merinding.


"Cukup nama saja" sahut Tuan Wijaya.


"Sana Mel,kamu siap-siap pulang" ibu suri mendorong tubuhku untuk berkemas.


"Ya,Mama.Tadi bilangnya izinkan Mel tinggal.Sekarang kok di usir" rengekku dengan wajah manyun sedih.

__ADS_1


"Kan kamu sendiri yang mau suamimu pulang.Ya berarti,kamu sendiri yang mau pulang" terus mendorong keluar.


Hikss.... Hikss....


Aku bagai anak terbuang ,saat ada anak baru masuk dalam anggota keluarga inti kami. Bahkan Kak Agung tidak berani membelaku lebih jika sudah terintimidasi Papa.


Aku dan Kak Agung keluar memapah tubuh kekar ke dalam mobil,dan menuju tempat lain.


"Kak,bawa aku ke hotel saja setelah kakak antar orang ini ke rumahnya" saranku pada kak Agung yang mengemudi.


"Emangnya kenapa ,Mel?.Apa selama menikah,dia jahatin kamu,hum?" Agung penasaran.


"Mmmm....Mel nggak bisa jelaskan. Pokoknya, Mel nggak mau tinggal serumah" sewot Melani.


"Ke hotel saja" sambung seseorang yang di belakang kami.


Ternyata orang yang tiduran di jok belakang mendengar percakapan kami, entah sejak kapan dia mendengar utaraan hati kecil ini.


Aku dan kak Agung diam tidak meneruskan percakapan kami, lagian hari semakin larut dan istri bule juga membutuhkan kak Agung menemaninya.


Sesampainya kami di hotel, Wiliam yang masih lemas terpapah kak Agung memesan 1 kamar VIP untuk aku dan dirinya.


"Pesan 1 single room" sambung kak Agung pada resepsionis.


"Tidak usah.Yang tadi saja" ujar Wiliam.


"Mel,saya sakit dan kamu punya kewajiban merawat saya sampai sembuh,titik" titah Wiliam menarik tanganku.


Aku menoleh ke arah kak Agung untuk tidak berdebat panjang dengan orang disamping aku, cukup aku yang tau apa yang bisa dilakukan orang ini jika dilawan.


"Sudah malam.Kakak pulang dulu, besok baru jemput, Mel" mengedipkan mata bahwa aku akan aman malam ini,walau harus menahan perasaan kurang nyaman.


"Kalau dia jahatin kamu, cepat telepon kakak" memeluk dan mencium keningku.


Ada aura cemburu dapat aku rasakan dari punggung belakangku ,tangan dingin seseorang coba melepaskan pelukan kami.


"Saya sudah capek" ucap orang itu.


Aku pun melambai tangan pada kak Agung, sambil menarik koper masuk lift.


Ting.....


Pintu lift terbuka menuju kamar VIP pesanan Wiliam. Kamar luas dengan satu tempat tidur ukuran king size,tapi agak kecil sedikit dari pada tempat tidur yang ada di rumahnya.


Pria itu menghempaskan tubuhnya langsung ke atas tempat tidur tanpa memberikan pilihan bagiku untuk tidur nyaman.


"Dasar Om jahat!" celotehku membuka koper keluarkan baju bersih.

__ADS_1


Sejenak aku membersihkan tubuh sebelum mengetuk pintu dunia mimpi.


Perasaan kesal yang sudah aku redam beberapa hari ,kembali bergejolak begitu lihat pria yang emoh aku temui.


Sangkin kesal,aku menarik selimut membiarkan tubuh itu tidur kedinginan sepanjang malam, sebagai aksi balas dendam yang tidak seberapa.


Kemudian aku pun mulai mengetuk pintu dunia mimpi,dari sofa panjang yang aku tiduran lengkap dengan bantal guling serta bedcover.


Jam menunjukkan pukul 3 pagi,aku terbangun karena haus menyerang tenggorokan. Ku lihat sejenak wajah pria dingin itu yang lebih pucat dari sebelumnya,tanganku pun aku jadikan alat thermometer manual alami.


"Tuan, demam anda makin tinggi" segera aku cari bungkusan obat resep dokter saat kami menuju hotel tadi.


"Ayo cepat minum.Jangan takuti aku" suaraku gemetar takut, membantu dirinya untuk duduk meminum obat.


Greb....


Tangannya yang panas memeluk aku dengan erat dan kencang,dan itu membuat aku susah masukkan obat ke dalam mulutnya.


"Bangun.Cepat minum obat" ucapku gemetar ketakutan.


Bukannya bangun,malah menyandarkan dagu pada pundakku. Aku merasakan panas demam yang tinggi, ya sekitar tiga puluh delapan derajat Celcius atau lebih.


Sekuat tenaga aku dorong untuk lepaskan pelukan itu.


Akhirnya pelukannya dapat lepas, tetapi keadaan aku yang sekarang buat diriku canggung. Tubuhku menindihnya karena tarikan tangan yang enggan melepaskan diriku tadi.


"Cepat telan obatnya" omelku, memaksa masukkan obat demam dan teman yang seresep dalam mulutnya.


"Mel,jangan kabur" ucapnya membuka mulut.


Aku mungkin salah dengar, karena suasana yang masih ngantuk.


Setelah memberinya minum,aku melanjutkan mimpi yang terputus akibat haus.


Esok paginya aku terbangun tepat tidur disampingnya,tubuh kami saling berhadapan.Nggak mungkin aku berjalan saat tidur, karena hal itu tidak pernah terjadi dari dulu.


Tapi karena tidak terjadi sesuatu antara kami,aku pun cuek. Tangan kembali jadi thermometer mengukur suhu di keningnya.


"Ah, syukurlah kalau sudah reda. Aku mesti siap-siap pulang" menurunkan kaki dari tempat tidur.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2