
Bab 147
.
Setiap memikirkan Ronald, Santi terasa bebas plong hatinya.
Matanya terpejam dengan bayangan wajah Ronald menyambut dirinya.
"Koko" sapa Santi menghalusinasi.
Ronald membentang lebar kedua tangannya menyambut Santi yang berjalan mendekat.
"Miss you so much.Will you merid me?" tanya Santi melamar Ronald dalam pelukan.
"Yes,I do" jawab Ronald dengan cepat.
Terlukis jelas wajah kebahagiaan Santi akan lamarannya diterima.
Mereka saling berciuman dalam, dan nikmati permainan lidah lawan jenis.
Kikkk.....Kukkk....
Alarm menganggu mimpi Santi yang memonyongkan bibirnya.
"My God!!" Santi kembali bangut telat.
Buru-buru iya membersihkan tubuh di bawah guyuran air shower.
"Masa mas Ronald mau terima lamaranku. Tapi mungkin saja" ucap Santi flash back mimpinya, sambil menggosok gigi.
Rrrrgggg....Puihh....
Saat mengkumur mouth wash, yang terniang hanya Ronald.
"Aku harus coba. Paling jika gagal, malu sebentar" Santi berbicara pada bayangan di kaca.
Pagi itu setelah mandi, Santi dengan keyakinan penuh mengchat Ronald.
✉️"Selamat malam Tuan. Ada yang mau aku katakan.Sedikit terbilang aneh, tapi aku tetap harus bilang" Santi kirim pesan pembuka percakapan.
Dalam waktu Ronald sedang aktif memegang ponsel, chat masuk akan direspon cepat.
✉️"Malam juga.Apa yang kamu ingin katakan?" balasan dari Ronald.
✉️"Terlebih dahulu,aku minta maaf. Aku ingin bilang....Will you merid me?" Santi sand chat panjang to the point.
Cenggap-cenggap Santi atur nafas jantung, nungggu hasil jawaban dari orang di benua lain.
"Mati sudah kalau di tolak" Santi deg-degan nungggu balasan, memandang ponsel belum ada balasan.
Titt...
Bunyi pesan masuk yang ditunggu akhirnya nongol.
Santi berkomat-kamit baca mantra sebelum buka chat balasan.
"Tenang San,it's just answered" menenangkan pikiran.
Di klik chat yang masuk dengan jari telunjuk maju mundur kena.
Hiks....Hiks....
Matanya berkaca-kaca membaca isi balasan chat singkat padat.
✉️"Thank you" balas Santi usai baca pesan.
Jawaban atas pertanyaan buat perasaannya bebas seketika.
Satu bulan berlalu lagi....
.
...Rumah Lee...
Melani sedang fokus lihat laptop dan ponsel secara bersamaan. Dirinya akan menyibukkan diri setiap telah di tinggal seorang diri bersama ART di rumah.
Tanpa sepengetahuan Wiliam, Melani masih bisa kerjakan usaha online rahasia itu.
Setiap pulang sekolah dan habis ngerjakan tugas sekolah,dia akan ikut partisipasi membantu ibu cantiknya melakukan usaha mereka.
"Josh,produk yang kita jual sudah lebih dari 1.000 jenis. Mami berencana untuk buka toko makanan siap saji. Selain menambah income,juga bantu pemerintah kurangi pengangguran.Bagaimana pendapat kamu?" ucap Melani, lihat tabungan sudah lebih dari cukup.
"Josh setuju saja,Mi" ngangguk.
Atas persetujuan sang anak, Melani mengelola tabungan rahasia. Ternyata dengan usaha rahasia,dia lebih dapat berkarir bebas tanpa ada yang tau identitas dirinya.
Melani membrowsing area lahan yang akan dijadikan toko makanan siap saji,di sekitar ojek online sering melintas.
"Harga tanah ini 1 miliyar. Aku tambah saja pakai uang tabungan sendiri" gumam Melani kurang dana langsung untuk beli bangunan pinggir jalan.
Josh mendengar samar-samar apa yang terucap keluar dari mulut Melani. "Mami bisa pakai uang tabungan Josh juga" sarannya untuk ikut andil.
"Jangan Josh. Kalau Daddy-mu tau, usaha kita bisa dibubarkan" Melani takut rahasia mereka terkuak.
"Gitu ya,Mi?" bingung harus bagaimana menolong ibunya.
__ADS_1
Melani ngangguk sambil hembus nafas bingung juga.
Seketika Melani tau harus mencari siapa untuk mendukung dirinya.
Ponsel disampingnya diambil,lalu tekan nomor orang yang dituju. Setelah tersambung, Melani menjelaskan keadaan pada orang tersebut secara detail. Dan orang itu pun bersedia membantu dengan sedikit uang tabungan yang tersisa.
"Terima kasih ya kak. Kakak paling is the best" ucap Melani dengan raut wajah gembira.
Josh pun turut bahagia,saat bala bantuan rahasia bersedia membantu mereka. Kini satu masalah sudah teratasi lagi.
"Yuk kita siap-siap, sebelum Daddy pulang" ujar Melani menutup laptop,tak lupa sembunyikan memori chip.
"Ayo.Let's go" seru Josh beranjak berdiri untuk simpan memori chip mereka ke kamarnya.
Mereka mandi di kamar masing-masing, bersiap menyambut pemilik rumah yang dalam hitungan menit akan segera sampai.
Ting.... Tong....
Bel berbunyi, pelayan membukakan pintu setelah diintip siapa yang datang.
"Selamat datang,Tuan" sambut pelayan setengah membungkuk.
"Nyonya dan Josh ada dimana?" tanya Wiliam setiap pulang kerja.
"Kami ada di sini ,Dad" cetuk jawab Josh, menuruni anak tangga sambil lambaikan tangan.
"Sebentar lagi kita makan" ucap Wiliam, yang hendak mandi.
"Sebentar Daddy itu kan 10 menit" bisik pelan Melani setelah mereka turun dan Wiliam naik.
"Iya,Mi" jawab Josh tertawa sambil nutup mulut.
Melani dan Josh duduk setia pada posisi mereka masing-masing, menunggu pemilik rumah yang masih butuh proses mandi.
Hoammm.....
Nguap Melani lelah nungggu seperti patung.
"Mami ngantuk?"
"Iya. Tadi tidak sempat rilekskan mata" mengucek mata lelah berair.
"Mau Josh ambilkan obat tetes mata?" natap prihatin.
"Tidak usah. Nanti habis makan, Mami langsung tidur"
Tidak lama, orang yang ditunggu-tunggu turun menghampiri mereka yang duduk boring.
"Kita mulai makan" ucap Wiliam persilahkan istri dan anaknya.
"Kalian kenapa tiap hari makan seperti dikejar setan,hemm?" tanya Wiliam selalu penasaran 3 kali sehari pada tingkah dua bocah beda generasi.
Keduanya menggeleng, dan memperlambat mengunyah makanan di mulut mereka. Agar tidak timbul kecurigaan baru untuk Wiliam.
Habis makan, Melani naik ke lantai atas untuk beristirahat. Begitu juga dengan Josh yang nyusul dari belakang.
"Pasti mereka punya rahasia" Wiliam mencurigai istri dan anaknya yang bertingkah aneh beberapa bulan ini.
Itu karena dirinya selalu ditinggal makan sendiri di pertengahan makan.
Untuk memastikan apa ada rahasia tersembunyi, Wiliam berencana untuk tidak absen masuk kerja selama 1 minggu. Itu pun tidak ia katakan alasannya pada Melani.
Esok harinya, Wiliam benar-benar cuti kerja untuk ngawasin istri dan anak 24 jam.
"Koko kok enggak kerja?" tanya Melani susah bergerak bebas jika diawasi.Padahal orderan barang bertambah banyak dari kemarin malam.
"Semua sudah di handel asisten" jawab dingin, sambil baca koran politik.
"Gimana ini?. Masa aku kunci pintu?. Apa aku kerjakan di kamar Josh saja?" Melani gelisah tidak tau harus bagaimana atasi pemilik rumah.
"Kamu mau kemana?" tanya Wiliam, curiga dengan gelagat istri.
"Emmm...Mau ke kamar Josh" sahut jujur Melani.
"Mau ngapain?" menatap sinis,melipat koran.
"Ma-u...Mau bereskan buku pelajaran" dalih Melani memutar bola matanya,tidak punya alasan.
"Oh" jawab datar Wiliam pura-pura percaya.
Hufff...
Melani menghembuskan nafas saat memunggungi Wiliam. Dia berjalan santai menaiki anak tangga, biar tidak tambah kecurigaan.
Sesampainya di atas, Melani berlari cepat masuk kamar Josh,lalu kunci manual pintu kamar itu.
"Syukur.... Syukur...Dia percaya.Kalau tidak,bisa kasihan nasib customer online" ucap Melani elus dada.
Dia buka laci meja belajar Josh,lalu meraba atas dinding laci cari memori chip program.
Ponsel yang untuk bisnis juga tersembunyi di kamar itu,demi kerahasiaan hakiki.
"Untung saja punya rencana cadangan.Jadi tetap bisa kerja" mengeluarkan laptop milik Josh.
Dia mulai mengerjakan orderan customer yang beruntun pesan barang.
__ADS_1
30 menit....
Wiliam ingin melihat apa yang dilakukan Melani di dalam kamar anaknya, sampai betah seorang diri dalam kamar itu.
Informasi yang didapatkan dari pelayan, menambah kecurigaan besar.
Tokkk....Tokk....
"Mel..." panggil Wiliam ketuk pintu.
"Mampus aku!!" ucap Melani panik belum memproses konfirmasi orderan terakhir.
"Ya" jawab santai,tapi muka Melani panik nyimpan semua benda.
"Kamu bisa temani saya ke suatu tempat?" Wiliam berdiri tegak menunggu pintu di buka.
"Aku harus nunggu Josh pulang" jawab spontan Melani, menyimpan memori chip yang paling utama.
"Nanti kita sekalian jemput dia"
"Aduhh... Kalau ditolak pasti curiga" Melani sibuk nyimpan laptop benda terakhir sebelum buka pintu.
Semakin lama Melani buka pintu, intensitas kecurigaan Wiliam naik 10 persen.
Cekrekkk....
"Lama sekali buka pintu" ujar Wiliam berkacak pinggang.
"Aku habis bereskan buku" Melani menarik tutup pintu kamar.
"Oh ya?" tidak percaya, coba buka pintu yang hampir tertutup.
"Kita mau pergi kan?" ujar Melani dorong tubuh Wiliam.
"Hmm" Wiliam memberi kesempatan pertama untuk istrinya.
Dengan pakaian santai, mereka pergi ke suatu tempat. Tanpa supir untuk membawa mereka, mereka lebih leluasa untuk berbincang saat di jalan.
Namun keduanya tidak berbincang, yang ada menatap lurus pandangan ke depan kaca.
Sampailah pula mereka di tempat tujuan. Sebuah rumah tua berukuran 8 x 42 meter, terletak di persimpangan jalan arteri.
"Bagaimana rumah ini?" tanya Wiliam berlipat dada, memandang rumah tua sambil nunggu respon Melani.
"Tidak buruk" asal kasih jawaban, Melani hati-hati masuk ke dalam rumah tua tanpa penerangan lampu.
"Mana tangan kamu?" ketus Wiliam.
"Ini. Kenapa?" pegang tangan sendiri, takut di pukul.
"Kemarikan!" ujar dingin Wiliam ngulur tangan.
Melani jadi was-was untuk ngulur tangan.Dan dia juga waspada akan terjebak dalam rumah tua remang-remang.
"Sudah tau takut gelap, masih saja sok berani" cibir Wiliam, langsung narik tangan Melani.
"Aku mau di apa kan?" panik Melani, memukul tangan Wiliam yang pegang erat tangannya.
"Emang bisa apa,hengg!!. Jaga pikiran kamu" Wiliam menyentil kening Melani.
Semenjak calon bayinya pergi untuk selamanya, hasrat Wiliam tidak bergejolak seperti dulu. Pikirnya masih diliputi rasa bersalah terdalam, bagaimana pun cara untuk menebus, masih belum bisa hilangkan bayangan itu.
Wiliam menuntun Melani perlahan melihat seluruh isi bentuk rumah tua itu.
"Menurut kamu, rumah ini cocok untuk apa?" tanya Wiliam menghidupkan lampu pengaturan ponsel.
"Ruko" Melani memeluk lengan Wiliam lebih erat, takut dengan sarang laba-laba yang menjuntai turun berwarna kehitaman.
"Kita ke sana?" tunjuk Wiliam,merasa Melani gemetar ketakutan.
Melani ngangguk, asal tidak di kurung dalam rumah tua.
Sesampai di luar pintu belakang rumah, mereka melihat halaman kecil di penuhi semak rerumputan belukar.
"Jangan kesana,ko" ucap Melani, menahan larang Wiliam yang nekad untuk mijak tanah penuh rerumputan, takut ada serangga atau hewan merayap.
"Kamu stay here!" titah tegas Wiliam, mengacuhkan larangan itu.
Melani berdiri tegak di pinggir pintu, takut balik dan maju.
"Dah lah. Aku nunggu aja" gerutunya waspada pada sekeliling.
Krakkk....
Suara aneh mengageti Melani yang sedang mawas diri.
"Suara apa itu?" Melani ketakutan melihat dalam rumah yang remang-remang.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.