Change Destiny

Change Destiny
Bab 72 Semua jahat


__ADS_3

Bab 72


.


Wajah Melani memerah kesal, dengan gesit ia melepaskan ciuman dadakan.


"Anda telah mengambil ciuman kedua-ku" mendorong tubuh Wiliam sambil lap bibir.


"Oh ya.... Bukannya ini inisiatif kamu ingin merayu saya" Wiliam menahan tubuh Melani pergi.


"Minggir..!!. Aku malas bicara sama Om Om mesum" ujar Melani mendorong kuat tubuh Wiliam.


Wiliam terkekeh tahan tawa,tapi ia juga penasaran. Apa benar first kiss Melani ,dia yang sudah ambil beberapa waktu lalu. Apa gadis secantik dan smart itu belum pernah mengenal pacaran, bahkan masih original dalam tanda kutip?.


Secara garis besar mayoritas, banyak gadis seusianya mereka tinggal barang second alias sudah menikmati dunia perkawinan tanpa status sah, di tambah pernah menuntut ilmu di negri yang semua berkembang pesat tanpa mengenal adat sopan santun ketat dalam bersosialisasi. Banyak pertanyaan timbul dalam otak Wiliam. Andai saja jawaban akan pertanyaan itu mengatakan semua yang diharapkan masih "Pure" ,maka tidak rugi baginya telah menikahi seorang Melani Wijaya.


.


Waktu makan malam pun tiba, setelah semua berkumpul , Tuan Wijaya mempersilahkan para menantu untuk mengambil makanan.


Wajah jutek Melani sudah dapat diterka Wiliam yang tau persis apa penyebabnya. Namun Wiliam coba untuk tampak normal saat berhadapan keluarga istrinya itu.


"Mel, tolong ambil itu" pinta sopan Wiliam.


"Ambil saja sendiri.Kan punya tangan" ketus jawabnya, memotong kesal daging di piringnya.


"Yang mana. Biar Mama ambilkan" sambung ibu suri, merasa malu punya anak kurang didikan.


"Mama makan saja.Biar Melani yang ambilkan untuk saya" jawab Wiliam.


"Mel, cepat ambilkan" di bawah kolong meja ,kaki ibu suri nendang kaki Melani.


Mata Melani mendelik ke ibu suri. Perlakuan tidak adil dirasakan olehnya. Mentang-mentang menantu yang satu ini tajir melintir dan tampan, lebih dikasih perhatian extra. Sedangkan dia yang putri kandung tunggal, selalu diketusin serta harus ikutin semua peraturan kolot.


"Kak, tolong ambilkan mau Om ini, ya" pinta Melani mengoper.


"Anda mau yang mana?" tanya dingin Agung.


"Yang itu saja" tunjuk Wiliam.


Wiliam masih sanggup menerima kejengkelan Melani saat ada yang lain. Bahkan cara Melani menyebut dirinya 'Om' dihadapan keluarga.


Tetapi belum tentu jika tinggal mereka berdua.


Usai makan malam, Papa mertua ngajak ngobrol mantunya itu bersama sang putra yang menggendong salah satu anaknya.

__ADS_1


"Wiliam,kamu harus sabar dengan sifat kekanak-kanakan Melani" nasehat Tuan Wijaya.


"Iya, saya paham" sahutnya.


"Melani sebenarnya tidak manja kok. Cuma kadang suka bertingkah kekanakan untuk cari perhatian. Nanti kalau sudah lebih mengenalnya, pasti ngerti maksud Papa" ucap Tuan Wijaya.


Wiliam ngangguk paham, namun apa bisa mengalah terus pada sikap Melani yang jawab kasar setiap diajakin bicara olehnya,itu hanya bisa dijawab oleh sang waktu.


"Aku juga mau bilang. Sebagai kakaknya, aku punya andil untuk melindungi adikku.Jadi , jika Om berani berbuat kasar sama Melani,maka jangan salahkan aku bertindak tidak sopan" ancam Agung.


Plak....


Tuan Wijaya menapok kepala bagian belakang putranya itu,yang berani bicara tidak sopan. Meski status tamu lebih rendah,tapi dari usia Wiliam jauh dari mereka.


Wiliam menyunggingkan senyum ,lihat sang papa mertua mendidik ketat putranya. Begitu juga dengan ibu mertua yang ketat pada putrinya.


Keluarga yang terlihat ikut perkembangan moderen, akan tetapi masih menjunjung tinggi tiap norma-norma wajib dalam berinteraksi.


"Sudah malam,Pa. Saya dan Melani sudah waktunya pulang" pamit Wiliam lihat jam tangan.


"Oh iya. Sana Gung,kamu panggil Melani keluar, sekalian tidurkan Erica" titah Tuan Wijaya.


Jujur saja, Agung enggan lepaskan sang adik ikut Om Om pergi. Tapi akan penahanan sang Papa, dia tidak dapat ikut campur jika masalah tidak ada.


Melepas kepulangan Melani dari rumah mereka sangat berat untuk Tuan Wijaya juga. Tapi mau tidak mau, rela tidak rela harus tetap lepaskan.


"Pulanglah, sudah malam. Besok-besok masih bisa ketemu" bujuk Tuan Wijaya membelai rambut panjang Melani.


Wiliam merangkul pundak istrinya itu yang memang tidak ingin ikut dirinya pulang.


Mobil pun bergerak meninggalkan kediaman Wijaya. Sepanjang jalan Melani menangis senduh, mengapa tidak dapat pembelaan dari sang Papa.


"Ya Tuhan .... Apa artinya lagi aku hidup,jika tidak ada yang harus diperjuangkan dan melindungi aku" doa batin Melani, sambil usap tetesan air mata.


"Kamu jangan nangis lagi. Kapan-kapan kita mampir lagi" celetuk Wiliam, mengusap air mata yang ngalir di wajah cantik nan jutek.


"Jangan sentuh" menghempas tangan orang yang niat modus.


"Kamu ini di lembuti salah, di kasari bilang saya jahat" jawab ketus Wiliam.


Supir yang dengar perdebatan majikan tampak puyeng, tidak mengerti perdebatan tersebut. Ia pun kembali fokus nyetir di gelapnya malam dengan pencahayaan lampu jalan serta mobil.


Setiba di rumah simple cocoknya di bilang mansion keluarga, Wiliam turun tanpa peduli dengan Melani.


Untuk sejenak Melani meraung kencang dalam mobil yang hanya ada dirinya sendiri. Di keluarkan semua keluhan dengan teriakan kencang.

__ADS_1


"Arrrgggggg..... Aku benci semua!!!" pekik Melani, sambil tendang jok di depan dan mukul paha sendiri.


Supir yang sedang membuka pintu garasi dibuat kaget dengan teriakan itu. Lalu melaporkan pada sang majikan yang berdebat dengan wanita di dalam mobil.


"Kamu sudah bisa pulang" izin Wiliam pada supir.


"Terima kasih,Tuan" pamitnya.


Wiliam berjalan menuju mobil dengan lampu redup dari dalam mobil,lalu mengetuk kaca mobil tersebut.


"Kamu yakin tidak mau masuk,hum?. Apa enggak takut di hampiri pria hidung belang" ucapnya dingin, berbalik jalan masuk rumah.


Antara marah, jengkel,tapi ada benarnya yang dikatakan Wiliam. Suasana gelap dan sepi pasti bisa menimbulkan orang jahat hampiri dirinya.


Kaki Melani pun keluar dari mobil,dan berjalan waspada jika ada orang jahat ikuti dirinya masuk.


Wiliam berdiri di samping pintu dengan bibir menyungging dan geleng-geleng kepala. Benar saja yang dikatakan Papa mertua, dan telah mengetahui sedikit sifat istrinya yang tidak kalah sama Josh saat ngambek.


"Takut kan" sindir Wiliam bersandar tembok.


Melani terkejut, tapi tidak dipungkiri bahwa dia juga takut jika berurusan sama orang tidak bertanggung jawab.


Bammm....


Melani menutup kasar pintu kamar mereka, aksi protesnya dapat dideteksi Wiliam.


"Hufff... Memang susah punya istri" gerutu Wiliam mijit tengkuk.


Saat kakinya masuk kamar, posisi Melani sudah seperti ikan pepes. Dari bagian leher sampai kaki terbungkus lilit selimut, dan duduk di bawah tempat tidur nangis sesenggukan. Yang kelihatan tinggal kepalanya doang.


"Saya mau mandi. Saat keluar nanti, saya tidak ingin lihat kamu nangis,atau saya kurung kamu di gudang" ancam Wiliam mengambil handuk.


"Jahat...!!!. Semua jahat!!" pekik Melani.


Dengan cuek Wiliam meninggalkan Melani yang ngumpat.


"Paling sebentar lagi diam" ucap Wiliam percaya diri, melepaskan pakaian.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2