
Bab 110
.
Emosi Melani kian meninggi. Rasa penyesalan telah kembali menjadi orang gagal pun memicu kemarahannya.
"Bel, aku mau keluar dulu" ucap dingin Melani beranjak berdiri dari kursi empuk.
"Nona mau kemana?" cemasnya.
"Kamu tidak perlu tau" meraih kasar tas tangan, mata menatap sinis ke sekretaris.
"Tapi Nona. Anda tidak bisa pergi sendiri" menahan kepergian.
Melani menghempas kasar tangan Bella. Di saat ini, yang ia butuhkan hanya sebuah tempat tenang untuk merenungkan semua kesalahannya.
Dari jarak agak jauh, Bella yang baru mengabarkan mantan CEO cantiknya pada CEO baru, jadi kehilangan jejak ngikutin langkah pincang Melani.
"Maaf Tuan. Saya kehilangan jejak Nona" ucap sekretaris, lihat kiri kanan jalan.
"Heng...!! Suruh kamu awasi dia saja tidak bisa!" gelegar suara orang seberang, memukul meja.
"Maaf Tuan" jawab penyesalan,tapi sudah dimatikan koneksi oleh orang diseberang.
Sekretaris berlanjut jalan, mengikuti jalan lurus di depannya.
Pikirnya dia tidak mungkin akan kehilangan jejak orang yang berjalan pincang,makanya tadi tidak terlalu memfokuskan pada Melani.
"Nona kamu dimana?" mencoba hubungi nomor kontak Melani.
Melani yang bersembunyi di pohon rindang,pun segera memutar arah tujuan.
Ketika ada taksi yang lewat di depan, segera ia hentikan.
"Pak, kita ke cafe Seroja" ucapnya.
"Baik,Nona" memutar kemudi.
.
......Cafe Seroja......
.
Melani memilih tempat duduk dipojokkan,lalu memesan segelas air lemon.
Genangan air yang sedari tadi tertahan di kantung mata itu pun mulai mengalir halus dari sudut matanya.
"Mel, tidak ada gunanya kamu menangis. Nasi sudah jadi bubur. Kemana diri kamu yang dulu penuh semangat juang, yang disegani banyak pebisnis" nasehat fatamorgana orang dari masa depan, sambil ngusap aliran deras air mata.
"Hiksss...Hiksss...Aku sudah gagal. Mengapa ini jauh dari masa depan. Semua daya upaya sudah tidak berarti. Lihat aku sekarang!!. Perusahaan sekecil itu saja sudah bangkrut aku buat. Tidak ada lagi yang bisa aku banggakan" beradu pemikiran sendiri.
"Jangan gampang menyerah. Bukankah dulu kamu juga banyak rintangan?. Dan semua itu bisa kamu lalui?. Coba kamu ingat kembali,berapa kali kamu telah jatuh dan di remehkan?. Bukannya kamu bisa lalui itu seorang diri" ucap fatamorgana.
__ADS_1
"Iya. Tapi itu dulu. Beda jauh dengan kehidupan sekarang" keluh Melani.
"Sama saja. Hanya kamu belum menemukan cara tepat untuk mengatasinya. Lagian,kamu juga ingin berdamai dengan takdir perubahan kan?. Kenapa tidak kamu temukan solusi masalah ini dalam kegelutan batin?" mengirim informasi memori.
"Jika bukan karena orang itu. Mungkin saja nasibku tidak sesial ini" marah Melani.
"Anggap saja kali ini, rintangan yang kamu harus hadapi adalah dia. Jadi kamu harus segera cari solusi atasi masalah ini" nasehat fatamorgana pikiran.
"Tapi aku tidak punya kemampuan untuk melawan dia" kepercayaan diri down.
"Ada. Tidak harus menggunakan kekuatan fisik dan materi"
"Apa itu?" bertanya ingin tau.
"Nona,ini pesanan anda" pelayan cafe meletakkan pesanan Melani.
Melani menjawab dengan anggukan kecil,sambil nutupi mata bengkak dan merah.
Tingkat keasaman alami lemon menyeimbangkan rasa perih dan galut batinnya. Sambil minum pelan-pelan,dia mencerna ulang setiap kata yang tadi terlintas.
"Gimana aku bisa kembalikan keadaan?" tanyanya sesenggukan.
.
Di tempat lain dengan waktu yang sama, beberapa bodyguard dan juga Bella sedang melakukan pencarian di area taman.
Sudah 1 jam semenjak kehilangan Melani itu tersiar ke Wiliam, namun sehelai rambut Melani pun belum berhasil mereka temukan.
Begitu pula orang yang melacak Melani juga tidak berhasil menemukan pergerakan barunya.
"Siap ketua" serentak jawab dan berpencar lebih jauh.
Teriknya matahari siang itu semakin buat orang yang mencari mudah kelelahan.
Kekhawatiran Wiliam yang baru beberapa hari berlalu, teringat akan ganggu preman pada istrinya kembali terniang.
"Awas saja jika mereka berani dengan keluarga saya. Maka kehidupan keluarga mereka juga tidak akan selamat" mengeram marah. Menekan nomor ponsel hubungi seseorang.
"Halo Tuan. Ada tugas apa?" jawab seseorang diseberang.
"Kamu awasi pergerakan sekelompok preman yang beberapa kamu laporkan" titah singkat.
"Siap, laksanakan" jawabnya, lalu mematikan percakapan.
Orang itu langsung bergerak cepat, ketika perintah sudah turun dari pimpinan mereka.
Sekelompok preman cemen yang pernah berurusan dengan mereka langsung dibuat terkocar kacir berlari cari tempat persembunyian aman. Ada yang pake acara ngumpet di WC umum, ada pula yang milih ngikutin polantas nertibkan arus lalu lalang pengemudi.
Mata harimau mereka yang siap menerkam kemanapun preman cemen pergi,juga tengah mengintai tempat markas yang sering mereka gunakan untuk nongkrong mabuk-mabukan,main judi, dan juga berhura-hura dengan wanita malam.
"Tempat ini cleansing" ucap anggota yang ngawasin markas preman.
"Tetap awasi. Jika ada pergerakan mencurigakan, segera konfirmasi" jawab ketua.
__ADS_1
"Laksanakan perintah" menutup percakapan.
.
...Cafe Seroja...
Sudah dua jam lebih Melani duduk seorang diri merenung, memikirkan solusi.
Tiba-tiba dari sampingnya, ada seorang pria yang dikenal memanggilnya.
"Boleh gue duduk?" permisi pria itu.
"Silahkan" menunduk.
"Mata kamu bengkak, Mel?" menatap.
"Oh ya" mengeluarkan kacamata hitam dari tas tangan.
"Kamu kenapa kusam?.Apa ada masalah?. Coba katakan, sebagai teman gue akan coba bantu" ucap perhatian pria itu.
"Masalah?. Mana mungkin aku punya masalah. Ini cuma efek hasil lihat video drakor" dalih Melani.
"Oh,gue pikir ada masalah" angkat tangan ,memanggil pelayan cafe.
"Maaf ya Tom.Aku harus pergi dulu" permisi Melani tidak ingin kegalauan hatinya diketahui siapa pun.
"Ya,... Kita baru saja ketemu, masa pergi cepat. Duduklah sebentar.Lagian ada yang ingin gue bicarakan" coba menahan.
"Lain waktu aja. Sekarang aku harus ada urusan lain" bergegas pergi.
Selalu saja jika bertemu, Melani seakan sengaja menjauhi pria itu. Entah karena alasan apa yang buat Melani semakin berjaga jarak setelah kembali dari dunia masa depan. Mungkin Melani tidak ingin hadir dalam hidup pria yang diketahui menyukai dirinya, dan bakal kedepannya punya ikatan suci dengan Bella.
Emosi yang sudah mulai reda, menyadarkan Melani akan luka di telapak kakinya. Ternyata sewaktu dia melarikan diri dari sekretaris tadi, dia tidak sadar sedang terluka.
"Aduhh... Perih banget kaki ku. Aku pulang sajalah. Lagian sudah nggak mood kerja" menyetopkan taksi yang lewat.
"Pak,jalan K" ucapnya.
"Baik"
Tidak ada tempat lain selain dirinya harus kembali ke mansion. Setelah keputusan ibu suri melarang dirinya untuk pulang tanpa izin suami, terutama karena kabur tak beralasan penting.
Seorang bodyguard yang ditugaskan untuk berjaga di mansion, segera menelepon sang majikan begitu lihat batang hidung Melani keluar dari taksi.
"Kamu tetap jaga Nyonya" titah Wiliam segera berjalan keluar dari ruangan CEO.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.