
Bab 118
.
Tidak lama dokter yang dihubungi pun datang untuk memeriksa bapak dan anak.
"Bagaimana keadaan Melani, Dok?" tanya serentak Tuan dan Nyonya Wijaya,yang dijawab dengan senyum sinis mengarah pada menantu mereka.
"Melan baik-baik, hanya kelelahan saja. Justru anda yang butuh istirahat jika mau melihat anak cucu" dokter menasehati Tuan Wijaya yang masih kesakitan pada punggung.
"Baiklah. Terus bagaimana keadaan calon cucuku?" jawab dan bertanya lagi.
Dokter canggung untuk jawab. " Cucu?. Melan tidak sedang keadaan hamil,tapi..." jawabnya, pandangan mengarah ke pria wajah jutek nan dingin.
Tidak mungkin dokter menjawab blak-blakan pertanyaan itu. Karena hasil pemeriksaannya, banyak menemukan bekas permainan yang masih baru dibagian dada.
"Tapi apa?" ibu suri penasaran.
"Hanya butuh istirahat dan minum vitamin. Dan jangan telat makan biar maag gak kambuh" nasehat dokter membuka 2 resep obat untuk 2 pasien.
"Ternyata Melan, hanya kena gejala maag" Tuan dan Nyonya Wijaya ngangguk sahut.
Dokter itu menyerahkan 2 lembar kertas sobekan dengan tatapan sinis pada pria jutek dingin, yang berdiri tak bergeming memandangnya.
"Jaga psikisnya.Jangan pentingkan ego sendiri" bisik ketus dokter pada Wiliam,dan keluar.
Wiliam paham maksud dokter,tapi dokter yang tidak tau mereka baru pertama kali.
Dengan dua lembar resep, Wiliam keluar untuk membeli obat yang tertulis.
Sementara Melani yang dititipkan di rumah orang tuanya, bergelut batin sendiri.
Kenyamanan, ketenangan yang diharapkan sirna sudah. Kemana lagi dia harus pergi untuk mencari tempat tenang dan damai?.
"Mel, kamu kenapa?" tanya Tuan Wijaya, menghampiri putri kesayangan yang duduk di atas tempat tidur miliknya, yang memeluk lutut.
"Papa.... Izinkan Mel tinggal di sini lagi ya. Mel,gak betah tinggal di rumah mereka" adu rengeknya.
"Bukan Papa tidak izinkan kamu tinggal di sini. Tapi kamu sudah menikah, jadi harus ikut kemana suamimu pergi. Kecuali dia sudah berbuat kasar dan tidak menginginkan kamu,maka Papa sendiri yang akan menjemput kamu pulang" jawab Tuan Wijaya, mengusap linangan air mata putrinya.
Huhuhu.....
"Tapi Mel gak betah" sesenggukan.
"Apa dia berselingkuh?" tanya Tuan Wijaya dan dijawab dengan bahu bergedik.
"Dia memukul kamu?" memperjelas pertanyaan. Dan dijawab dengan geleng kepala.
__ADS_1
Sulit bagi Tuan Wijaya untuk ambil keputusan,jika tidak ada KDRT terjadi.
Mengenai rumor yang beredar akan mantunya yang dikelilingi banyak wanita cantik, seksi ia sudah tau. Dan juga tau apa tiap tindakan sang mantu.
"Sabar ya, Mel. Pernikahan itu memang banyak lika likunya. Anggap saja,kamu sedang belajar tumbuh jadi lebih dewasa. Kan Melani putri Papa seorang wanita cerdik dan tangguh hadapi rintangan bisnis. Masa masalah sekecil itu langsung K.O" nasehat dan menyemangati.
Huaaa....
Tangis Melani pun pecah memenuhi kamar orang tuanya.
Mengapa tidak ada yang membela dirinya disaat yang sedang ia butuhkan. Andai saja ia bisa bilang apa yang sedang dialami,apa mungkin juga ada yang mendukung dirinya?.
Ya sudahlah. Memang kalau nasib tidak mengindahkan kehidupan. Tidak ada gunanya pula menjabarkan panjang lebar, jikalau hasil nihil.
Untuk malam itu, Melani diizinkan bermalam bersama suaminya.
Mereka menempati kamar sang kakak yang usai direnovasi beberapa Minggu lalu.
"Kamu tidur saja di kasur" ucap Wiliam berusaha kontrol ego.
"Heng..!!" Melani menarik kasar bed cover menutupi kepala sampai ujung kakinya.
Kemarahan Melani belum mereda, sebagai suami giliran dirinya untuk kontrol emosi.
Mereka tidur terpisah tempat,satu di tempat tidur, dan satunya lagi harus tidur di sofa induk dengan posisi duduk.
Baru beberapa jam mereka tidur. Melani terbangun untuk keluar mengambil air minum.
Aku pun berjalan melihat kamar lamaku yang berantakan dengan kertas wallpaper,cat tembok,kuas, tangga, dan bambu yang bersusun rata di lantai kamar.
Cukup lama aku memandang kamar yang aku tempati sedari kecil. Meski tidak banyak kenangan, tapi aman bagiku untuk tinggal dan mojok seharian saat di rumah.
Ku sentuh dinding kamar yang masih belum terpasang wallpaper. Ada sebuah perasaan teracuhkan dan kurang nyaman.
Ahh... Ini bukan karena aku yang bukan lagi jadi inti dalam keluarga ini. Aku yang dulu kuliah ke luar negeri saja, ketika pulang akan tetap merasa nyaman begitu lihat kamar minimalis. Tapi kali ini, benar-benar jauh kenyamanan tersebut.
Mungkinkah aku tidak sepatutnya lagi untuk tinggal kembali?. Atau aku sekarang hanya sekedar tamu yang datang bermalam beberapa hari?.
Banyak pertanyaan terlontar, derai air mataku juga ikut keluar lolos begitu saja.
"Kamu kenapa,hmm?" tanya seseorang memegang sebelah pundakku.
Ya, suara yang tak asing aku dengar itu sudah aku cukup mengenalnya.
Ku hapus derai air mata ini yang masih tidak bisa berhenti, agar pria itu tidak memandang rendah akan diriku.
"Menangislah jika itu bisa buat kamu nyaman" ucap pria itu,ikut menemaniku berdiri di dekat pintu kamar lamaku.
__ADS_1
Entah mengapa kehadirannya seakan mengolok dan juga beri kelapangan dada.
"Keluar" aku mendorong tubuh kekar itu, karena aku tidak ingin terlihat bodoh dan naif.
"Tidak. Saya tidak akan meninggalkan kamu. Karena sekarang kamu, adalah bagian jiwa saya" mendekap tubuhku yang tertarik olehnya.
Terasa hangat. Sama halnya dengan pelukan Papa pada aku, ketika aku butuh support.
Isak tangisku yang kencang pun teredam tubuh kekarnya. Bahkan pukulan tanganku, tidak membuat dirinya marah.
"Sudah enakkan?" tanyanya dengar isak tangis yang sudah mendingan pelan.
Dia merenggangkan pelukannya, melihat wajahku yang sudah masuk mimpi meski terdengar sesenggukan tangis.
"Sudah tidur kucing manis ini" ucapnya halus membopong diriku keluar kamar lamaku.
Lalu meletakkan tubuh kecil ini perlahan di atas tempat tidur milik kak Agung,dan menyelimuti.
.
Esok pagi.
Aku terbangun dengan pandangan bola mata yang duduk menghadap diriku yang berantakan.
"Mau apa anda" ujarku ketakutan, mengambil bantal sebagai pelindung.
"Semalam cengeng. Sekarang galak banget" sindir pria tak berperasaan banget.
"Bukan urusan anda" jawab ketusku, memalingkan wajah dongkol.
"Sana mandi. Papa Mama sudah menunggu kita sarapan" ucapnya lebih lembut dari pada hari biasa.
"Terus ngapain anda masih di sini?" menatap kesal.
"Tentu nunggu kamu. Saya tidak ingin buat Mama Papa cemas" jawabnya santai lugas.
Caranya menyebutkan kedua orang tuaku juga tidak kaku, seakan orang tuaku telah berada di pihaknya.
Semakin jengkel dan e-nek aku melihat dirinya yang bertampang sok perhatian.
Aku pun turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, meninggalkan pria dingin menjijikkan.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.