Change Destiny

Change Destiny
101 Penyelamatan Melani


__ADS_3

Bab 101


.


"Halo Mel. Kamu dimana?" suara bass diseberang sana bertanya.


"Jangan coba-coba dekat atau polisi segera datang" ancam Melani pada sekelompok buaya darat, dalam keadaan ponsel masih tersambung dengan orang asal sambung.


"Halo Mel....Mel...." panggil orang diseberang melacak keberadaan signal ponsel.


Di warung itu,Melani jadi tontonan dari ulah keusilan preman cemen. Satu persatu pengunjung warung yang ada pun di usir keluar oleh kelompok itu, bahkan pemilik warung pun diusir jika tidak ingin warung kecilnya diobrak abrik .


"Tolong.... Tolong..." teriak kencang Melani dengan ponsel masih tetap tersambung,dan tangan bawa garpu untuk perlindungan.


"Jangan habiskan suaramu cantik. Atau sudah nggak tahan untuk bermain,ya" goda seringai seorang anggota, menyentuh pundak Melani.


"Diam! Atau ku tusuk kalian pakai garpu" seru Melani, sambil menghunuskan garpu sembarangan.


"Wow... Takut..." ujar ketua kelompok dengan tawa terbahak-bahak.


"Hahaha... Mau dong ditusuk kalau yang enak-enak" sambung anggota lain, mengusap bibir yang hampir ngences.


Lama banget bala bantuan datang menyelamatkan dirinya. Sampai kapan harus dalam mode pertahanan lemah bertahan?.


"Kalau kalian berani menyentuh,maka aku bunuh diri!" mengarahkan ujung runcing garpu ke lehernya.


"Jangan dong.Masa belum kami puaskan sudah mati. Nanti nggak tau rasa nikmatnya dong" gombal ketua kelompok, memberi bahasa isyarat untuk menyergap mangsa saat lengah.


Trengg....


Garpu yang tepat menghadap leher Melani pun di lempar jauh oleh seorang anggota yang ambil kesempatan lengahnya.


Dan yang lain berjalan mendekat dengan tawa mesum dan tangan yang mengulur untuk menjamah tubuh gemetar ketakutan.


"Tangkapan bagus. Pasti legit dan hangat" seringai ketua kelompok, mencium aroma rambut dan leher Melani.


"Lepaskan dia!!" teriak seseorang bersuara bass.


"Eh...Ada lalat pengacau. Kalian sikat habis dia" ucap ketua kelompok, mengambil posisi menahan mangsa pagi mereka.


Pertarungan sengit pun dimulai. Warung yang rapi mulai tidak karuan.


Aneka suara dari piring terbang, gelas terbang sampai jurus lempar sendok garpu pisau semua meramaikan dalam ruang kecil itu.


Cetrangg....Centreang... Piangg..... Baghhh...Bughhhh....


Meja kursi pun tidak luput untuk ikut andil dalam pertarungan itu, bahkan taplak meja dan kain lap juga digunakan.


Melihat pertarungan mulai tidak seimbang bagi kelompok preman cemen melawan bala bantuan, ketua kelompok mengancam dengan akan mengakhiri hidup korban.


"Hentikan, atau aku bunuh cewek ini" menadahkan pisau cerurit yang jadi senjata bawaan dia, tepat ke leher korban.

__ADS_1


"Awas saja jika sehelai rambutnya lepas,maka hidup kalian juga akan berakhir sama" ancam pria bersuara bass.


Jauh di luar warung, banyak orang menonton aksi drama pertarungan kolosal gratis. Ada yang memfoto dan upload ke sosial media mereka.


Hanya dalam hitungan detik, mereka sudah mendapat puluh ratus ribuan viewer dan disertai komentar, like.


Tapi tenang saja, semua itu segera mungkin dihapus oleh hacker bayaran orang terkenal.


"Mereka cari penyakit saja. Untungnya gue up to date berita" ucap hacker lagi duduk santai nikmati sarapan paginya.


.


Dengan kemampuan para bodyguard yang terlatih untuk bertarung, sudah dapat dipastikan pihak mana yang untung.


Doorr....


Suara tembakan mengenai tangan ketua preman yang mengancam pakai pisau. Oleh pria suara bass yang tak kalah keluarkan senjata rahasia.


Korban terselamatkan, dengan luka lecet pisau mengenai lengan korban dan rambut yang terpotong sabitan pisang cerurit.


"Kalian amankan mereka,dan cari latar belakang bergajul ini" titah pria suara bass,mengatur sisa pertarungan singkat dan sengit.


"Siap Tuan" bodyguard menangkap para preman cemen untuk diinterogasi secara gaya mafia.


Darah yang mengalir dari serapan baju pun termasuk banyak. Terbukti dari baju jadi basah resapan darah segar.


"Mel, kita sekarang ke rumah sakit" titah pria itu, sambil menutup luka dengan telapak tangan.


Dalam mobil, pria itu mengunci peredaran darah dengan dasi cadangan yang ia sisipkan pada belakang jok kemudi.


"Ini akan mengurangi darah mengalir" mengikat kencang dasi yang melilit.


Antara sakit dan perih tidak dapat dibedakan dalam situasi begini oleh Melani. Setidaknya ia tau telah lolos dari marabahaya.


"Kamu bukannya pulang ke rumah. Malah pergi kabur. Jadinya begini kalau kualat sama suami" mendakwah.


Biar saja pria itu berkoak atau memberi siraman rohani pagi hari. Untuk hari ini kemampuan dia menjawab saja tidak ada, dan masih harus berpikir untuk hutang budi telah diselamatkan.


Setiba di rumah sakit, Melani langsung mendapat penanganan intensif.


Baju bersimbah darah yang tergores itu, lalu di gunting untuk mempermudah menangani luka.


Suster mulai mengambil kapas yang dibasahi alkohol,lalu membersihkan luka dan sisanya.


Kemudian Dokter mulai mengambil jarum jahit kulit yang disiapkan suster lain.


Hettsss...


Melani mendesis tahan sakit saat jarum mulai menusuk kulitnya. Maklum, karena luka tidak terlalu dalam dan panjang dokter tidak memberi bius dalam dosis banyak.


Hanya 5 jahitan saja yang Melani terima pagi itu, yang ditutupi perban agar tidak terinfeksi.

__ADS_1


"Perbannya satu hari sekali bisa anda ganti di rumah. Jangan lupa kapas perban juga diberi Betadine gel, biar luka lekas sembuh" ucap Dokter menulis serangkaian resep obat minum dan luar.


"Kapan bisa cabut benang,Dok?" tanya Wiliam.


"Sekarang sudah canggih,tadi itu kami gunakan benang daging. Yang artinya benang akan menyatu sendiri dengan kulit tanpa resiko" jelas Dokter.


"Baiklah" paham, lalu keluar untuk urus admin dan tebus obat.


Dengan wajah super duper galak, Wiliam mendorong kursi roda keluar dari rumah sakit sampai ke mobil.


"Kalau kamu berani kabur lagi, akan saya kurung kamu di rumah, atau sekalian kaki tangan di borgol bola rantai" marah Wiliam memasukkan istri ke dalam mobil.


Supir yang dengar pun ketakutan dibuat majikan saat bersuhu emosi mengimbangi gunung merapi.


"Jalan" ujar galak Wiliam.


"Ya Tuhan ku... Mengapa Engkau kirim penyelamat seperti dia. Apa tidak ada pilihan lain kah jariku tadi mencari kontak penyelamat ku?" doa penyesalan Melani. Di saat tidak mampu membalas setiap ucapan pedas, sinis,kejam suami, akibat pita suara kering sekering gurun Sahara.


Efek obat bius tidak lagi mampu menahan bekas luka dan jahitan, rasanya yang menusuk sampai keubun-ubun.


Keringat dingin sebesar biji jagung keluar membasahi keningnya yang lemas pucat. Padahal baru beberapa menit saja berlalu habis operasi kecil itu berlangsung.


"Pak,kita ke rumah jalan K saja" titah Wiliam sambil menyandarkan kepalanya ke jok.


"Baik Tuan" memutar arah menuju mansion.


Mansion adalah rumah utama bagi Wiliam yang butuh ketenangan, dan tidak ingin banyak orang tau masalah pribadi.


Setiba di mansion, pria dingin menyuruh istrinya untuk memberi kabar pada keluarganya.


Melani mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu membalas pesan chat yang masuk.


"Hiks...Hikss..., Pa..." isak tangis suara parau.


Wiliam tersadar, mengapa istrinya begitu menurut tidak membantah atau melawan seperti hari biasa saat dia marah. Rupanya pemilik suara cempreng itu kehabisan stok cadangan suara.


"Kamu mandi dulu" ucap Wiliam memberi perintah.


Melani memakai bahasa isyarat menunjuk baju dan celana, dan nyilangkan tangan. Yang berarti dia tidak ada baju ganti.


Hufff... Wiliam menghembus nafas kasar lihat bahasa isyarat.


"Nanti saya pinjamkan pakaian saya" balas Wiliam berjalan masuk kamar mereka.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2