Change Destiny

Change Destiny
107 Maling


__ADS_3

Bab 107


.


Tak seorang pun yang bakal dengar suara jeritan batin Josh. Melihat darah yang mengalir mengukir goresan setiap petak keramik, membuat rasa piluh terdalam dalam lubuk sanubari seorang Joseph Lee.


"Josh,kamu pakai sandal ini,dan masuk ke kamar" titah Melani menahan rasa perih jari dan telapak kaki tergores.


"Mami..." patuhnya dengan prihatin, tidak ada yang datang menolong mereka.


Josh memakai sandal ukuran kaki Melani menuju kamar utama. Namun dia berdiri dari kejauhan melihat ibunya yang sedang menyapu bersih serpihan beling tertinggal.


"Daddy jahat!" rutuk Josh kasihan lihat ibunya.


Lantai sudah dibersihkan dari serpihan beling kaca, bahkan juga sudah di pel sekaligus.


Kini Melani membersihkan luka dengan air mengalir, dan periksa ada pecahan halus beling masih ada di dalam luka atau tidak, sebelum ia kasih obat lanjutan.


"Apes banget nasibku bulan ini. Baru saja luka di lengan sembuh,eh menjalar ke lain. Jadi jelek deh" gerutu Melani mengolesi obat luka dan memplaster di ruang tengah.


"Mami pasti sakit. Sebaiknya minta Uncle kirim Bibik kemari aja" cari ponsel Melani.


Berhasil menemukan ponsel milik ibu barunya,dia pun mencari daftar kontak milik sang paman.


"Mami pasti tulis nama Uncle" menscroll daftar buku telepon.


Tidak menemukan nomor sang paman, dia pun langsung tekan nomor ponsel sang Daddy.


"X?" melihat layar ponsel muncul dengan nama X.


Josh bingung kenapa saat menekan nomor telepon Daddy-nya,yang muncul hanya sekedar simbol.


"Apa salah tekan nomor?" mematikan,dan tekan ulang nomor Daddy secara teliti.


Muncul lagi simbol yang sama, dan segera di cancel olehnya.


Tidak lama ponsel Melani gantian berdering dengan penelepon 'X'.


Dari luar Melani dengar nada dering ponselnya berdering. Pelan-pelan dia berjalan untuk menjawab si penelepon.


Cekrekkk....


"Siapa yang telepon Josh?" tanya Melani telat angkat panggilan, dilihat anak big bos mandang layar ponselnya.


"Nggak tau Mi. Hanya di tulis X" menyerahkan ponsel dan ingin tau juga siapa pemilik nomor simbol X.


"X ?. Untuk apa dia telepon?. Apa jangan-jangan dia tau anaknya tidak ku jaga baik?. Pasti dia letakkan CCTV di dapur" gerutu spekulasi batin Melani, mengambil ponsel.


Ponsel berdering kembali, Melani menjawab dengan nada extra waspada.


"Halo Tuan" jawab Melani memunggungi Josh.


"Ada apa kamu telepon saya,hum?" ketus sambung orang diseberang.


Melani terdiam. Dia tidak merasa menelpon pria dingin yang sudah hilang sepekan kurang satu hari.


"Kalau tidak penting, tidak usah telepon" ujar dingin orang diseberang,tapi juga senang.


"Mami,itu siapa?" tanya pelan Josh ingin tau.


Takutnya ibu baru sedang diancam orang jahat, karena lihat wajah tegang ibunya.


"Hei kamu siapa!. Jangan ganggu Mami-ku. Nanti saya lapor ke Daddy, biar masuk penjara" sambung Josh dengan suara kencang menakuti orang diseberang, yang membuat wajah ibunya tegang.

__ADS_1


"Josh,ssttt" Melani cepat-cepat menutup mulut kecil itu agar tidak memaki orang tua kandung.


"Mel,itu Josh?" tanya kesal orang diseberang.


"Mampus aku. Bakal ada perang dunia" gerutunya.


"I-iya" terbata-bata.


"Serahkan hp kamu ke dia" titah tegas orang diseberang.


"Josh. Daddy kamu ingin bicara sama kamu,tapi jangan asal bicara ya" memohon sebelum menyerahkan ponsel.


"Daddy?. X itu Daddy?" bingung.


"Iya. Kamu jangan bilang soal X ya" memohon.


"Ok" ngangguk paham dosis anak-anak.


"Halo,Mel..." panggil kesal orang diseberang,menanti.


"Halo, Daddy. Ini Josh" sahut bocah ambil alih percakapan lanjut, dengan suara manja takut amukan sehabis asal memaki.


"Apa maksud kamu tadi,Josh?" menginterogasi via telepon.


"Enggak ada kok Dad. Josh pikir ada orang jahat saja" dalihnya menatap ibunya yang meniup plaster.


"Kamu nanti harus pulang sama uncle" ucap Wiliam sudah tau berita dari adiknya.


"Jangan Dad. Kasihan Mami. Jari dan kaki Mami habis terluka" keceplosan jawab.


"Apa maksud kamu?" beranjak duduk tegak.


"Tadi Josh nggak sengaja jatuhkan piring, terus...." mulut Josh langsung di tutup Melani yang bergeleng kepala.


Melani menekan tombol loud speaker, agar dapat dengar apa yang sedang bapak dan anak bicarakan.


"Terus apa Josh?" ingin tau lebih jelas.


"Terus apa ya?. Josh sudah lupa Dad" mengedipkan mata ke ibu.


"Pulang nanti kamu berlutut satu jam.Jangan kira, kamu bisa membohongi Daddy" tegasnya.


"Hahh.... Iya deh,asal Mami tidak di hukum" pasrah terima hukuman.


"Siapa bilang. Mana dia!" ucapnya bersuara tinggi, sambil menyunggingkan bibir membayangkan ibu dan anak yang kompak terima hukuman.


"Mami,cuci baju Dad" dalih Josh menyelamatkan sang ibu dari hukuman.


Melani melambai tangan silang agar anak big bos jangan berbohong kebanyakan,jika tidak hukuman akan double.


"Bilang sama Mami kamu ya. Dia di hukum berdiri satu kaki, sambil jewer telinga dan tidak boleh bergerak selama 1 jam. Awas kalau kalian berdua tidak jalani. Begitu Daddy pulang, hukuman kalian 3 kali lipat" tegas ancam orang seberang.


"Baik Dad" lesu jawab dan langsung tutup percakapan.


Hufff.... Ibu dan anak mengehela nafas berat sambil menatap satu sama lain.


"Kamu nanti pulang saja Josh. Kalau tidak hukuman kamu pasti bertambah" nasehat Melani.


"Tapi Mami sedang terluka" prihatin.


"Tidak apa.Ini hanya luka kecil" senyum palsu.


Sore hari Ronald datang menjemput. Dilihatnya sang mantan berjalan tertatih untuk memanggil Josh.

__ADS_1


"Ada apa dengan dia?" berdiri gumam sendiri, sambil menunggu.


Di kamar,Melani ingatkan Josh agar tidak bicara kejadian yang terjadi pada siapa pun. Cukup 2 pasang mata bola jadi saksi bisu.


"Tapi, kalau Mami makan, harus di restoran saja. Biar nggak usah cuci piring" jawab bocah enggan berpisah cepat.


"Iya. Kamu juga jangan berbohong lagi. Nanti harimau galaknya muncul loh" nasehat Melani sembari canda.


"Aummm..... Hahaha..." mengaum sindir orang yang jauh.


Ibu dan anak keluar kamar sambil tertawa geli, menertawakan julukan untuk orang paling berpengaruh di rumah.


"Uncle" sapa Josh.


"Barang kamu tidak ada yang ketinggalan lagi kan?" tanya Ronald mengambil tas punggung Josh.


"Tidak ada kok, Uncle" berdiri disamping paman tampan.


"Kaki kamu kenapa, Mel?" buka mulut agar tidak cemas.


"Kaki ku?. Nggak ada apa-apa" pura-pura semua terlihat baik.


"Tangan kamu" melihat jari berplaster.


"Uncle, ayo pulang" respon cepat bocah, menarik paksa paman tampan untuk segera pergi.


"Bentar Josh" menahan tarikan.


"Mi,see you" pamitnya, lebih menarik kuat.


"Baik, baik. Kami pergi dulu,Mel" terpaksa ikut.


Melani melambai mengantar kepergian kedua tamu, dan cepat tutup pintu sebelum salah satu dari mereka balik.


"Hufff.... Bebas juga" berdiri membelakangi pintu, menepuk pelan dadanya.


Melani akhirnya kembali sendiri di dalam mansion. Makan sendiri juga saat malam tiba. Lalu memandang langit malam dari balik jendela kamar hingga tertidur dalam posisi duduk memandang gelap malam.


Di luar kamar terdengar suara pintu utama dibuka paksa seseorang. Tidak ada yang teriak maling, meski dijaga bodyguard galak dari jarak jauh.


Mungkin orang itu tau kapan jam lengah para bodyguard berjaga, atau juga sudah mengintai lama mansion tak berpenghuni ramai.


Cekrekkk....


Pintu utama terbuka. Orang itu pun masuk dan menutup pintu dengan tenang tanpa berisik.


Maling ini mungkin sudah profesional melakukan pekerjaannya. Dan mungkin pula ada anggota kelompoknya yang nyamar jadi salah satu bodyguard.


Langkah orang itu pun menapak tenang memasuki kamar utama, tempat dimana istri Wiliam sedang tertidur memandang gelapnya langit malam.


"Maling...." teriak Melani memukul dada orang yang menggendong tubuh kecil.


Maling tidak peduli dengan teriakan Melani, ia terus mengendong sampai ke tempat tidur,lalu tubuh kecil Melani dijatuhkan di atas tempat tidur empuk.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2