
Bab 160
.
Lihat Melani tertidur pulas, tak kuat untuknya membangunkan.
"Biar saja jika ketahuan orang" gumam Wiliam menggendong Melani untuk ganti ruangan.
Sampai di kamar utama, Wiliam tidak ingin menyatukan kedua bocah tanpanya sebagai penengah.
"Malam ini kita tidur di sofa" ucap pelan Wiliam meletakkan tubuh Melani di sofa panjang.
"Emmm" rancau Melani nyahut ucapan Wiliam, tubuh mengeliat ikut kasih respon.
Bibir Wiliam semeringah dengar respon Melani.Pikirannya kembali liar untuk mengembara dalam goa pink kecil.
"Sebaiknya kita pindah lagi" bisik nakal Wiliam, membelai bingkai wajah Melani.
Gigi Melani menggigit bibir bawahnya sendiri, bibir merat merotnya langsung disergap rakus Wiliam.
Uhukkk..... Uhukkk....
Orang yang diserang pun terbangun dengan mata membulat.
"Pindah yuk" Wiliam mengedipkan mata penuh hasrat.
Melani melihat ruangan yang memang beda dari sebelumnya, dan juga pasti bukan kamar milik Josh.
"No" tolak Melani, menyilang tangan tutupi dada.
"Berarti mau terekam memori Josh?" menarik turun celana piyama karet Melani.
Melani menoleh jauh tempat tidur size king disampingnya. Terlihat sosok yang tidak patut melihat tiap tindakan anarkis pemilik kamar sekaligus rumah.
Menggeleng kepala tentunya untuk menolak niat Wiliam. Celana piyama yang hampir melorot segera ditarik naik lagi.
"Move now?" mengedipkan mata genit ke Melani.
Ngangguk dong pasti jawabannya. Tidak ingin meninggalkan kesan kurang pantas untuk Josh, mereka keluar kembali dengan langkah pelan nyaring tak terdengar.
Tiba kembali di ruang kerjanya, Wiliam langsung memburu mangsanya.
"Kita main 3 trip" bisik Wiliam, tangan sudah melepaskan tubuh mereka dari helaian benang melekat.
"Nanti Josh cari" dalih Melani merem melek, sebab sudah mengeliat diusili tangan Wiliam yang bermain di titik sensitif.
"Jangan teriak kencang,maka dia tidur sampai pagi" Wiliam mencium leher Melani, sambil gerakan senjata yang masih setengah beramunisi.
Tubuh Melani kian menggelinjang terima serangan dari segala arah.
"Sekarang kita main lebih lama" bisik Wiliam memasukkan perlahan senjata ke dalam goa pink yang masih sempit.
Emmm....
Sedikit sempit, tapi memuaskan permainan yang mereka lakukan.
Setiap taburan benih yang akan semaikan, Wiliam masih belum yakin untuk menanamnya di dalam rahim wanitanya.
Diujung permainan, Wiliam mengeluarkan senjata kramat untuk keluarkan isi amunisi pada selembar tisu.
Masih belum curiga juga Melani pada tindakan Wiliam.Pikiran lugunya malah berpihak pada Wiliam yang ingin cari kenikmatan lebih, saat di luar miliknya.
Sudah tiga kali mereka lakukan olahraga tengah malam itu, dengan ujung yang sama.
"One more,beb" pinta Wiliam ketagihan, karena puas yang dirasakan selalu beda ketika puas semburkan cairan kental di dalam goa pink.
"Capek" memelas nyudahi permainan buas Wiliam.
"Nanti saya pijit" membuka lebar kaki Melani dengan bibir menyungging.
Tidak habis pikir Melani untuk mengiyakan permintaan suami mesumnya. Mungkin dikarenakan sudah menerima nasib buruk telah menjadi istri, dan sedang melakukan pdkt.
Satu,satu, dan satunya banyak tidak terhitung dilakukan mereka, hingga fajar mulai menampakkan wajah cerah nyinari bumi.
__ADS_1
Tisu noda cairan kental milik Wiliam yang berserakan di lantailah, jadi saksi penyatuan mereka sepanjang malam.
"Ko,paha Mel sakit" adu manjanya, merapatkan kaki terkangkang sepanjang malam.
"Merah juga" lihat bekas permainan telah menyakiti kulit pangkal paha Melani.
"Kan sudah Mel bilang 'Stop', tapi tetap saja Koko paksa" ngomelin pelaku kejahatan.
"Iya,iya. Nanti malam pasti saya rem" jawab, sambil niup bekas memerah yang dikira perih.
Dalam kegelian di tiup, paha Melani langsung jepit kepala Wiliam ditengah pahanya, akibat kaget.
"Kamu mau lagi?" tanya Wiliam salah persepsi akan tingkah Melani.
"No!!" teriak Melani menolak keinginan suami mesum.
Melani pun memunggut pakaian dan memakai sendiri dengan keadaan sekujur tubuh capek, lelah,ngilu, sakit.
"Kita mandi bareng saja" menahan Melani keluar sendiri.
"No!!" tolak Melani, pikiran jadi hancur begini, niat pacaran berujung korban mesum.
"Ayolah.Masa kamu rela suami kamu ini digoda wanita lain" nyusul Melani keluar.
"Yes" asal jawab kesal Melani.
Dalam pikirannya, hanya wanita penjajah tubuh saja yang mampu hadapi kebrutalan buas suami mesum.
"Jangan begitu.Wanita di luar sana itu kurang higienis" memeluk dari belakang.
"Ya nggak usah jajan" memutar mata malas,mana kebelet buang air kecil.
"Makanya makan di rumah" mencium pucuk kepala Melani.
"Nggak tau ahh...Dah, Mel kebelet pipish" ujar Melani mukul tangan yang merangkulnya dari belakang.
"Koko gendong biar cepat" godanya langsung gendong Melani.
"Mami" langsung lompat turun dari tempat tidur.
"Jangan ganggu Mami" ucap dingin Wiliam hentikan Josh mengganggu wanitanya.
"Kenapa?" bingung, ikut jalan dari belakang.
"Mami sakit perut" jawab sinis Wiliam.
"Mami kebanyakan minum" sambung dalih Melani.
"Oh..." ngangguk "Josh bantu buka pintu kamar mandi" tanpa diperintah lanjut, dirinya langsung berinisiatif buka jalan untuk Melani.
Kedua laki-laki berdiri di depan pintu kamar mandi, menunggu Melani yang baru masuk.
"Sana mandi di kamar kamu" titah Wiliam, melipat tangan jaga pintu kayak bodyguard.
"Josh mau tunggu Mami" bersi keras ikut menjaga pintu.
"Nanti kamu telat sekolah" ketus Wiliam, mendorong pergi orang yang keras kepala.
"Tidak apa" mencuekkan peringatan rival.
"Jangan harap Daddy maupun Mami akan ke sekolah, untuk dengarkan ceramah guru kamu" ancam keras Wiliam.
Josh terkenal dengan patuh taat, tanpa kasus sedikit pun luluh pada ancaman Wiliam.
"Mami, Josh pergi mandi dulu ya" pamitnya dengan suara keras.
"Ya,sana mandi" jawab Wiliam ngusir Josh segera keluar.
Dengan wajah sewot Josh pun keluar terdorong Wiliam dari belakang.
"Habis mandi, cukup tunggu di ruang makan" titahnya tegas, membukakan pintu dengan kunci sidik jari.
"Tapi Mami jangan disembunyikan" membuat 1 permintaan.
__ADS_1
"Iya" jawab sinis Wiliam berkacak pinggang.
Pengacau telah pergi, saatnya bagi Wiliam untuk beraksi, menyergap buruan pagi hari ternyata dijadikan hobi baru buatnya.
"Buka pintunya, Melani" Wiliam mengetuk pintu kamar mandi, dengan suara yang sulit dikatakan untuk bucin pemula.
"Bentar..." jawab menggelegar orang di dalam kamar mandi.
"Cepat.Nggak bisa ditahan" berdiri memasang gaya siap nerkam buruan begitu pintu terbuka.
Baru selesai membuka kancing piyama terakhir, kembali kancing itu dipasang.
"Ini, kalau kamar mandi hanya 1 di dalam kamar" gerutu Melani buka pintu.
Tubuhnya terdorong masuk ke dalam kamar mandi. Belum sempat untuk menghindar dan berkata, dirinya sudah dikepung pelukan posesif suami mesum.
"Kamu mau mandi kan?" pura-pura nanya, padahal sudah lihat kancing baju terpasang lari jalur aturan.
"Iya" jawab polos.
"Kita mandi bersama" tangan membuka kancing bagian bawah.
"No!!. Nanti pikiran Koko jorok" tolak Melani mendorong jauh.
"Tinggal kamu bersihkan pakai sabun" mengedipkan mata genit.
"Ogah" ketus Melani, sambil julurkan lidah ngejek.
"Melani!!" panggilnya dengan suara haus.
Mereka larian dalam kamar mandi lumayan luas,dan tentunya Melani berhasil ditangkap, mengharuskan dirinya mandi berdua.
"Tutup mata Koko" titah Melani tidak ingin memancing hasrat awang-awang suami.
"Nanti bagaimana saya gosok punggung kamu" pegang spon.
"Mel, mandi sendiri" jawab sewot Melani, bersuara manja.
Busa melimpah di tangan, diusapkan pada punggung kekar yang minta digosok.
"Tengkuk,Mel" menunjuk tengkuknya, dengan modus yang sudah tersiapkan.
Nurut perintah suami, dilakukan Melani dengan menambah sabun cair pada spon.
Jlebb...
Tubuh polos Melani tertarik menempel licin dipunggung Wiliam, yang sedang tersenyum semeringah.
"Gosok pakai tubuh kamu saja" titah jaim Wiliam.
"Kan,modus" cibik Melani, bibir manyun.
"Biar tidak dibilang modus,sini saya yang sabuni kamu" menarik Melani ke depannya.
Ternyata benar apa yang muncul dalam pikiran Melani. Wajah Wiliam terus tersudut kegundukan, tangan menggosok pangkal paha berambut hitam tipis halus.
"Ko, nanti kita terlambat sarapan" ucap Melani, mengeliat geli .
"Mmm" cuma berdehem dan sudahi pikiran ngeres meresahkan.
Byurrr...
Air pun membersihkan sabun sekujur tubuh mereka.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1