
Bab 75
.
Kaki Josh berlari kencang ketakutan mengetuk pintu ruang kerja yang bersebelahan.
"Dad, Mami is dead again" celetuk kekhawatiran Josh, tangan satu nunjuk keluar, satunya lagi pegang dada.
Wiliam pun terperanjat dari kursi besar. Tidak mungkin dokter memberi obat yang salah, bahkan lebih tidak mungkin istrinya bunuh diri benaran. Bisa jadi kasus terkacau dan heboh, apabila hal tersebut benar-benar terjadi.
Wiliam lari dengan cepat masuk kamarnya, disusul Josh yang ketinggalan di belakang.
Untuk memastikan apa masih hidup bernyawa, Wiliam mengulurkan jari telunjuk di hidung istrinya itu.
"Dad...Mami?" tanya sedih Josh dengan suara pelan tercekat.
"Tidak apa-apa" memeluk.
Seseorang mengeliatkan tubuhnya yang berbungkus bedcover. Senyum di wajah tampan Josh, berhamburan memeluk tubuh itu.
"Mami...." panggil Josh yang menindih peluk.
"Josh" sahut Melani, melihat dua laki-laki yang ada secara bergantian.
"Sudah puas tidur kan?. Sekarang waktunya makan siang" Wiliam ada timbul perasaan cemburu.
"Iya Mami. Ayo makan" ajak Josh tidak lepaskan pelukan.
Melani menggeleng kepala. Rasanya kerongkongan pahit anyep tidak ingin makan apapun.
Sedangkan Wiliam mengendong paksa turun Josh yang menindih seenaknya tubuh kecil istrinya.
"Mami demam?" tanya Josh dari tadi merasakan panas tubuh ibu baru.
Melani ngangguk dan mengecek suhu tubuhnya sendiri dengan punggung tangan.
"Masih pusing?" tanya jutek Wiliam, namun mengulurkan tangan cek suhu tubuh istri.
"Sedikit" sahut lemasnya.
"Ya sudah. Nanti saya minta pelayan bawakan makan siang kamu ke kamar" Wiliam menarik Josh keluar.
"Daddy,Josh makan sama Mami di kamar aja ,ya" pinta Josh.
"No.Kamu sehat, jadi tidak boleh tanam kebiasaan manja" sindir Wiliam dengan suara penekanan agar di dengar orang termaksud.
"Tapi,habis makan Josh boleh sama Mami ,kan Dad?" tanya Josh yang sudah patuh.
Wiliam ngangguk, menutup pintu kamarnya untuk makan siang bersama yang lain.
Di bawah pun sudah tampak lengkap anggota keluarganya berkumpul di meja makan. Usai cuci tangan, Wiliam dan Josh ikut berkumpul.
"Loh,mana Melani?" tanya nenek.
"Mami sakit, Omah uyut" jawab Josh menyelipkan kain lap mulut di leher.
__ADS_1
"Masih pusing dia.Biar pelayan membawakan makanan ke kamar" sambung dingin Wiliam.
"Oh begitu.Ya sudah,kalau masih sakit jangan dipaksa" ucap ibu tua mengambilkan nasi.
"Bagaimana ceritanya Nona Melani bisa lewati peristiwa naas itu,Ko?" tanya Ronald ingin tau, dalam hati ikut senang bisa bertemu kembali.
"Entahlah,dia sendiri juga tidak ingin mengatakannya" menciduk sayuran.
"Josh makannya pelan-pelan" ibu tua memperhatikan cucu keponakan tergesa-gesa menghabiskan makanan tanpa pilih menu.
"Josh mau suapi Mami, Grandma" jawabnya mengunyah makanan lebih cepat.
"Tidak usah, cukup kamu makan tenang. Biar nanti Daddy yang suapi" cegah Wiliam.
"Benar kata Daddy kamu Josh. Biar Daddy yang suapi Mami" celetuk nenek, dengan senyum tersungging.
"Tapi, Daddy makannya masih lama" jawab muka kasihan.
"Sana Wil, kamu temani Melani makan" titah ibu tua.
Wiliam bingung dengan anggota keluarga yang terlampau mempedulikan istrinya. Mau makan tenang saja tidak bisa. Padahal jarang bagi mereka duduk berkumpul untuk makan siang bersama.
Langkah beratnya mengharuskan dirinya untuk beranjak pisah makan siang keluarga.
"Tuan, Nyonya muda tidak selera makan" lapor pelayan,membawa nampan isi makanan keluar.
"Bawa masuk lagi" titah Wiliam, ikut pelayan masuk.
Hacimm...Hacimm...
Bersin-bersin mengganggu pernafasan dan buat indera pengecap hambar.
"Saya yang suruh" sosok penguasa rumah bersuara.
Setelah pelayan meletakkan makanan di meja samping tempat tidur mereka,dia pun keluar.
Wiliam mengambil nampan itu dan ambil ahli membuat Melani untuk makan.
"Aku sudah bilang tidak selera" rewelnya, lap ingus.
"Buka mulut kamu" titah Wiliam menyodorkan sesendok nasi.
Melani menggeleng kepala dan nutup rapat mulut pakai telapak tangan.
Hacimm....
"Tuh,masih enggak mau nurut,hum. Apa tidak takut kualat" sindir Wiliam.
Hacimm.... Hacimm....
Bersin Melani semakin tidak terkendali. Demi kenyamanan dan kesehatan anggota lain di rumah besar, Wiliam pun memutuskan untuk memblok orang yang bisa menemui istrinya yang terserang virus influenza.
"Mulai hari ini sampai nanti sembuh total, kamu tidak boleh keluar kamar, dan hanya saya yang akan merawat kamu" memberikan tisu tarik.
"Berarti aku nggak pulang?" menatap sedih.
__ADS_1
Wiliam ngangguk. "Kalau mau pulang, cepat makan dan minum obat teratur" ujar Wiliam menyodorkan sendok.
Bagaimana pun caranya, Melani tetap ingin bebas tanpa ikatan. Seperti anak kecil, Melani menuruti kata suaminya itu untuk makan.
"Sini aku makan sendiri" ketus Melani, merebut piring makanan.
Wiliam berasa jaga bocah yang haus perhatian. Dia duduk di samping menjaga agar Melani tidak membohonginya.
Hanya beberapa suap nasi masuk ke dalam mulut. "Aku sudah kenyang" meletakkan piring was-was di omelin.
"Nih, obatnya" Wiliam mengambil bungkusan obat.
"Demam sudah turun, makan obat flu saja" mengukur suhu tubuh, untuk kurangi jumlah obat.
"Kamu ini gimana sih. Sudah besar masa harus di jaga" omel Wiliam mengupas satu paket obat sekaligus tegak.
"Tuan saja tidak makan obat lagi kan" ujar Melani,cari alasan tepat.
"Siapa bilang. Apa kamu pernah memperhatikan kebutuhan harian saya" balasnya, memberikan air minum.
Skak mat .... Tidak bisa lagi Melani berucap. Memang benar yang dikatakan suaminya, namun tidak salah pula dia cuekin pria dingin.
Dengan susah payah Melani menelan satu persatu butir obat di tangan sampai habis,di saksikan langsung oleh pengawas ketus.
"Daddy buka pintu.Josh sudah siap makan" ucap Josh di balik pintu.
Sesuai keputusan, Wiliam tidak mengizinkan siapa pun masuk ke dalam kamarnya, untuk memutuskan rantai penularan virus influenza.
"Josh, kamu tidak Daddy izinkan masuk. Daddy tidak ingin kamu tertular sakit flu" jawab Wiliam bersuara keras.
"Daddy jahat!!. Daddy tadi sudah izinkan Josh ketemu Mami ,kalau sudah siap makan. Sekarang Daddy ingkar. Daddy jahat!!" keluh Josh terisak.
"Ada apa Josh?" tanya Ronald tidak tau pangkal rengekan keponakan.
"Daddy sudah bohong, ingkar janji" aduh Josh terisak.
Ronald rasanya terjerumus dalam drama keluarga baru. Semenjak gadis impian masuk dalam ruang lingkup keluarga ini, terutama Josh seakan penuh drama yang mirip sinetron.
Habis mendengar aduhan Josh, kini giliran untuk mendapatkan penjelasan dari orang yang melarang.
Sudah tau alur cerita, Ronald memberi penjelasan yang kongkrit namun simple mudah dimengerti anak usia 7 tahunan.
"Jadi,Daddy bukan mau cegah kamu bertemu.Tapi biar kita semua tidak ada yang sakit saja kok. Kan sama halnya sewaktu uncle kena flu,kamu tidak bisa bertemu uncle kan?" bujuk Ronald dengan penjelasan.
"Jadi setelah Mami sembuh, Josh bisa dekat Mami kan, uncle?"
Ronald mengangguk dan ajak ke kamar untuk melanjutkan tugas sekolah seperti biasanya.
Untungnya Josh anak yang gampang dikasih pengertian. Walaupun harus mutar otak untuk menjelaskan secara pikiran seorang anak kecil.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.