
Bab 143
.
"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Wiliam curiga pada gerak gerik istrinya.
"Eng-enggak" jawab gemetar ketakutan, karena tangannya ditarik Wiliam.
"Buka!" tegas Wiliam melototi Melani mengepal erat tangan.
Melani melirik Josh yang geleng-geleng kepala untuk tidak buka kepalan tangan.
Kepala Wiliam menoleh ke samping lain,kode antara ibu dan anak terhenti. Keduanya tertunduk tidak berkutik.
"Apa yang kalian rahasia kan?" mata tajam setajam silet lihat kedua terdakwa.
Ibu dan anak menggeleng kepala serentak. Mereka disidang kayak penjahat ketangkap basah sama polisi.
Haciuu....
Melani bersin karena sedari pagi mulai badan meriang demam.
Josh yang tinggal selama 24 jam dalam 2 bulan terakhir, menoleh dan khawatir pada keadaan ibu cantik.
"Mami sakit?" tanya cemas Josh,ngacuhkan Wiliam yang menyidang mereka.
Tangan Wiliam langsung nempel di kening Melani.Terasa panas suhu tubuh Melani tidak seperti orang normal.
"Ayo kita ke dokter" hardik Wiliam narik Melani berdiri.
"Aku hanya flu saja" jawab Melani, tidak lupa serahkan mini chip memori.
"Josh kamu tetap di rumah dan segera pakai masker" titah Wiliam, takut anaknya tertular.
Melani yang ditarik keluar kamar hanya bisa ngekor dari belakang.
"Kamu jaga Tuan muda" titah Wiliam begitu lihat pelayan yang sedang sediakan menu makan siang.
"Baik,Tuan" ketakutan lihat wajah dingin majikan.
Wiliam dan Melani pergi ke rumah sakit untuk periksa kesehatan Melani.
"Kalau sakit kenapa tidak ke dokter,hmm?" ketus tanya Wiliam.
"Sudah tau aku enggak boleh keluar, dan tidak boleh ada yang datang, masih berani protes" keluh batin Melani dengan bibir tipis meruncing.
Hacimm....
Melani menahan bersin, agar tidak diceramahi dengan hal lain.
Setiba di rumah sakit, Wiliam mencari dokter umum yang lagi longgar pasien.
"Silahkan masuk Tuan" ucap perawat.
"Ayo masuk" hardik Wiliam neruskan ucapan perawat.
"Dok,ini pasiennya" ucap suster, menyerahkan kartu pendaftaran pasien.
"Silahkan duduk" ucap dokter, tidak lihat pasien.
Wiliam merasa familiar dengan wajah dokter wanita yang duduk dihadapan mereka.
Dokter baru angkat kepala untuk menoleh, setelah menanyakan beberapa pertanyaan pada pasien.
"Kamu ..?" tunjuk dokter wanita cantik.
"Cepat periksa dia" titah Wiliam tidak ingin mengulur waktu sembuhkan Melani.
Dokter wanita pun memeriksa pasien yang di bawa Wiliam.
__ADS_1
"Coba buka lebar mulutnya" perintah dokter memeriksa kerongkongan Melani.
Beberapa pemeriksaan juga dilakukan, seperti cek mata,cek suhu tubuh dan pernafasan.
"Bagaimana keadaan Melani?" tanya dingin Wiliam pada dokter yang tinggalkan Melani di meja pemeriksaan.
"Hanya demam dan flu ringan" sahut dokter menulis resep.
"Kamu harus banyak istirahat pulang nanti" tegas Wiliam pada Melani yang hampiri.
Dokter semakin yakin dengan ingatan samar-samar pada pria tampan. Dan memberanikan bertanya akan pertanyaan dalam pikiran.
"Anda Wiliam Lee kan?" tanya dokter wanita dengan senyum.
"Iya"
"Anda tidak ingat saya?. Saya Evi Sundari, teman sekolah Ronald" coba ingatkan sewaktu mereka pernah bertemu.
"Oh" datar jawab Wiliam, tidak peduli.
"Apa kabar ?" dokter Evi mengulurkan tangan.
"Baik" tetap duduk tidak sembarang sambut salaman orang.
"Dunia memang selebar daun kelor ya?" ujar dokter,salah tingkah merapikan rambut yang sudah rapi dari awal.
"Mmm"
"Ini adik sepupu anda ya?" basa basi tanya Evi sok akrab.
"Bukan"
"Karyawati anda dong, hehehe.." melucu biar tidak tegang.
"Istri saya" kesal jawab Wiliam.
Evi terdiam menutup mulut ternganga habis tertawa. Siapa sangka pasien masih muda berstatus istri Abang temannya.
"Oh ya.Silahkan" jawab kaku dokter, sambil serahkan resep obat tebus.
Wiliam dan Melani keluar dari ruang praktek ke apotek tebus obat.
Hacimm....
Wiliam sodorkan masker kesehatan pada Melani, agar tidak menularkan virus pada orang lain.
"Nih,hirup inheler. Biar tidak tersumbat nafas kamu" ketusnya serahkan inheler khusus untuk bantu orang yang sukar bernafas lega saat flu.
Wajah tampan Wiliam mampu menarik penglihatan lawan jenisnya,biar dimana pun dia berada.
"Wahhh... Sungguh tampan" gerutu seorang pasien rawat jalan.
"Ingat!. Kamu sudah akan menikah 3 bulan lagi" nasehat orang tua pasien.
"Cuci mata boleh dong,Bu"
"Lebih baik jaga mata dari sekarang" nasehat orang tua pasien, tapi mata juga tertuju pada Wiliam.
.
Sampai di mansion, Josh membuka begitu dengar suara bel pintu.
"Mami sakit apa?" kata sambutan Josh ambil ahli nuntun masuk ibu cantik.
"Hanya demam dan flu" jawab Wiliam,menepis tangan Josh yang main pegang tanpa izin.
"Kalau gitu, Mami bobo saja,yuk" ajak Josh merasa ada tembok pembatas antara mereka begitu Wiliam datang.
"Iya.Mami juga sedikit pusing" sahut pelan biar tidak diomelin.
__ADS_1
"Minum obatnya dulu" titah Wiliam yang kembali dingin, bersikap dewasa sebagai orang tua.
Melani ngangguk nurut untuk minum obat sebelum beristirahat.
"Mi,usaha kita bagaimana?" bisik Josh celingukan lihat kiri kanan depan belakang.
"Kayaknya bakal down kalau Daddy sudah pulang" jawab lesu habis neguk obat dan air.
Huff....
Keduanya menjadi gusar untuk hadapi kebangkrutan. Mereka enggan untuk masuk kamar, karena ada orang yang mereka takuti ada di kamar tersebut.
Mereka duduk di meja makan sambil menopang dagu di atas tangan yang berlipat.
"Josh, kamu sudah sembunyikan semua barang bukti kan?" tanya lesu cemas Melani.
"Sudah,Mi.Joshs sembunyikan di gudang"
"Baguslah" Melani memejamkan mata terasa hangat kuku.
Josh pun ikut memejamkan mata,meniru duplikat yang ia sayangi.
Di kamar,Wiliam tidak lihat salah satu bocah, terutama Melani yang seharusnya sudah masuk setelah minum obat.
"Buat ulah apa lagi mereka?" gerutu Wiliam keluar kamar cari dua bocah beda generasi.
Berjalan beberapa langkah, dia lihat kedua orang yang dicari sedang duduk di ruang makan.
"Kalian" geleng kepala dan nutup mulut lihat keduanya tidur tidak pada tempatnya.
Tidak tega juga Wiliam untuk membangunkan mereka.Lagian, sebentar lagi juga akan makan siang.
Ketika makan siang akan dihidangkan, pelayan membangunkan keduanya.
"Maaf, Nya" izin pelayan untuk sajikan hidangan.
"Oh" berdiri ajak Josh untuk cuci muka dan tangan.
"Mami ngantuk Josh" adu Melani mencuci tangan.
"Habis makan tidur lagi, Mi" saran Josh periksa suhu tubuh Melani masih panas.
"Mmmm" dehemnya, keringkan tangan.
Ketika keluar habis cuci muka dan tangan, mereka berhadapan dengan pemilik rumah.
Wajah keduanya tegang kaku berdiri tegak.
"Habis makan, minum obat yang sehabis makan" titah tegas Wiliam periksa suhu kening istrinya.
"I-iya" jawab tegang.
Mereka bertiga makan siang bersama,kayak keluarga kecil utuh saat mereka bersama.
"Makan ini" ucap Wiliam sendokkan sayur bening bayam untuk Josh dan Melani.
"Aku sudah kenyang" jawab Melani baru makan beberapa sendok nasi pakai telur oreng.
"Lanjut makan obat, tapi jangan langsung berbaring" ucap Wiliam memberi nasehat.
Kayak anak seumuran 9 tahun, Melani menuruti saran nasehat protokol kesehatan sehabis minum obat.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.