Change Destiny

Change Destiny
108 Percobaan pembunuhan


__ADS_3

Bab 108


.


"Pigi kau maling!!" seru Melani melempar bantal dan guling bertubi-tubi.


"Diam. Atau semua orang akan berkumpul" jawabnya dengan suara penekanan, sambil menepis lemparan bantal guling.


"Biar saja. Pigi kau sebelum yang punya rumah datang" teriak mengusir, memundurkan bokongnya.


"Kalau begitu silahkan teriak lebih kencang" menyeringai, berbalik melepaskan masker kesehatan hijau putih.


"Tolong..... Tolong...." benar-benar teriak kencang.


"Kamu benar-benar akan terima hukuman setelah ini" keluar kamar membuka pintu, lihat siapa yang berani ketuk pintu selarut itu.


"Mampus kau.Takut kan" ujar Melani turun dari tempat tidur, cepat-cepat kunci pintu kamar.


Pikirnya, maling yang masuk lari terkocar kacir saat ada suara ketukan pintu,habis ia berteriak minta pertolongan.


Setelah beberapa menit, Melani mengintip dari balik pintu kamar yang ia buka kecil.


Di lihatnya pintu utama terbuka. Lalu berjalan keluar ingin mengunci.


"Eh...Kok bodyguard ajak ngomong maling itu. Apa jangan-jangan itu geng mereka?" bertanya sendiri. Dan cepat-cepat grendel pintu dari dalam.


Tok...Tok...


Pintu diketuk begitu bodyguard melaporkan pada pria yang tadinya mereka ajak bicara.


"Siapa?" tanya Melani waspada, sambil cari sesuatu untuk menjamin keamanan.


"Buka pintunya, Nyonya" jawab seorang bodyguard.


"Enggak!. Kalian komplotan maling. Lihat saja begitu Tuan pulang. Akan aku adukan perbuatan kalian" memegang sapu.


"Tuan, Nyonya tidak mau buka pintu. Dia kira kami komplotan maling" lapor bodyguard yang habis ketuk pintu.


"Ya sudah. Dobrak saja pintunya" mengusap dahi.


"Siap Tuan" jawab serentak bodyguard.


Bodyguard memasang kuda-kuda untuk mendobrak pintu besar itu.


Melani yang ada di dalam berdiri gemetaran, dan segera bersembunyi di bawah kolong meja makan.


Rusak sudah pintu itu akibat bodyguard mendobrak keras beberapa kali.


"Silahkan Tuan" ucap bodyguard mempersilahkan Tuannya masuk.


"Karena pintu rusak. Kalian berjaga di teras" titahnya.


"Baik" serentak,lalu nutup pintu.


Pria itu berjalan masuk, sambil melepaskan jaket yang sedari tadi dipakainya. Lalu mematikan lampu utama yang bersinar terang.


Langkah kakinya terdengar berat setiap ia menapaki lantai.


"Emmm... Kemana pula sekarang dia bersembunyi?" ucapnya pelan melihat kamar tidur kosong penghuni.


Sementara itu, Melani keluar mengendap-ngendap dari bawah kolong meja makan, lalu mendorong punggung orang yang dikira maling sampai jatuh tersungkur di atas tempat tidur.


Bughhh.... Bughhh....


"Rasakan ini" dengan mata terpejam,Melani memukul orang yang masih tersungkur dengan sapu.


"Melani Wijaya!!" pekik orang teraniaya.

__ADS_1


Namun Melani masih memukul dengan mata terpejam.


Wiliam yang sudah terima beberapa pukulan tongkat sapu nenek sihir, pun mengeser tubuhnya kesamping.


Wajah penuh ketakutan dan masih memukul sembarangan, menjadi tontonan untuk Wiliam yang sudah berdiri disamping istri.


"Kamu mukulin kasur atau maling,hem?" berdiri disamping, melihat tingkah istri.Sambil berkacak pinggang nahan patahan tulang punggung.


"Maling!" jawab tidak sadar.


"Mana malingnya?" menahan tangan gemetaran yang terus memukul.


"Loh mana...!!" melotot lebar, mendorong Wiliam menghalangi pandangan.


Cetakk....


Wiliam menyentil pelan dahi istrinya yang berani melototi dirinya.


"Tuan apa-apaan sih!. Pulang-pulang sentilin aku, bukannya tangkap penjahat" adunya kesal, mengusap dahi.


"Tidak mungkin ada penjahat" menarik duduk di atas tempat tidur.


"Ada!. Mereka sudah kerja sama dengan bodyguard. Kalau tidak percaya,anda bisa tanyakan langsung pada mereka" membela diri.


"Baik. Kalau begitu, coba katakan bagaimana ciri-ciri penjahat tadi" memijat tengkuk yang sakit kena pentungan sapu nenek sihir.


"Tadi orangnya pakai jaket hitam,masker,topi, tinggi sekitar...." terdiam, menoleh kesamping suaminya dan mengenali aroma parfum yang sama dengan maling, bahkan ciri-ciri juga hampir sama.


"Seperti saya?" menatap sinis, dan diangguk geleng Melani.


"Gawat kali ini nyawa kamu,Mel. Jangan-jangan yang kamu sangka maling adalah, dia!" bergeser tempat duduk, dengan tatapan sang killer.


Tidak bisa disangkal olehnya lagi. Ingin memberi pembelaan juga akan tertolak.


"Kamu tau hukuman jika melakukan KDRT,hmm?" menahan tangan istri kabur.


"Bagus kalau tau itu. Saya akan menuntut kamu atas tuduhan percobaan pembunuhan juga" ujar Wiliam menambah alibi.


"Aku mana ada melakukan percobaan pembunuhan!" suara kaget Melani melengking.


"Ada. Kalau saya atau malingnya meninggal,maka kamu tersangka utama" mencubit dagu Melani.


"Kan aku membela diri" mata menoleh kearah berlawanan.


"Oh ya?" mendekatkan wajah.


"Tuan mau apa?" ketakutan.


"Saya minta pertanggung jawaban atas kerugian yang saya alami" menyeringai.


"Baik. Tapi tidak usah dekat" mencoba dorong.


Wiliam melepaskan istrinya, lalu tidur tengkurap.


"Sekarang obati luka memar saya" titahnya, melepaskan baju.


Pukulan cukup banyak dan berjejak di punggung lelaki itu.


Lelaki yang niat pulang karena dapat laporan kurang lengkap dari adiknya tadi sore, ternyata saat pulang dapat pentungan dari kesalah pahaman.


Perlahan Melani mengolesi salep pada setiap bekas jejak pukulan.


"Mana tangan kamu" ucap dingin Wiliam berposisi tengkurap.


"Kenapa?" muka cemberut ngolesin salep.


"Sudah nggak usah banyak tanya" berbalik badan.

__ADS_1


Sekarang Melani berhadapan,tampak badan sixpack kekar kayak artis-artis Hollywood sedang tebar pesona.


"Kemarikan tanganmu" tegasnya, duduk.


"Tenang Mel. Paling-paling dia akan mukul balas dendam. Atau hal gilanya di gigit doang. Kalau dia belum pernah di suntik anti virus, kamu tinggal ke rumah sakit, minta dokter suntikan anti rabies dan tetanus" monolog batin Melani, maju-mundur ngulur tangan.


"Tangan kamu ini kenapa?" berhasil menarik tangan yang maju mundur.


"Nggak kenapa-kenapa" memutar bola mata.


"Oh saya tau. Kamu sengaja cari sensasi agar saya pulang kan?" melepaskan tangan istri.


"Nggak juga" turun dari tempat tidur.


"Nggak juga, berarti memang iya" menyunggingkan bibir.


"Kepedean banget jadi orang. Siapa pula berharap dia pulang. Kalau bisa tidak usah pulang" gumam pelan Melani masuk kamar mandi untuk cuci tangan.


Sraasshh.....


Pancuran air shower membilas tangan berbusa hingga bersih.


Di ulang kembali kejadian barusan. Kecemasan melanda pikiran Melani.


Antara milih harus hidup berdamai dengan terima konsekuensi suami,atau terima hukuman hakim, yang tentunya pula akan berdampak mencoreng nama baik keluarganya.


"Mana ku tau kalau itu dia. Lagian siapa pula suruh dia pulang malam-malam pakai acara kagetin orang" duduk merenung di atas kloset.


Wiliam yang sudah hampir tertidur kembali sadar, bahwa istrinya sudah terlalu lama di kamar mandi hanya untuk mencuci tangan.


"Mel,kamu tidur atau pingsan" tanyanya sebelum masuk.


"Merenung" jawab lesu Melani membuka pintu.


"Kamu kenapa lagi,hmm?"


"Aku siap di laporkan pihak berwajib saja" berhenti jalan.


"Maksud kamu?" bingung.


"Atas tuduhan kasus penganiyaan anda. Karena aku tidak bisa ganti rugi" menunduk lesuh.


Ingin rasanya Wiliam tertawa cekikikan saat itu juga. Tampang yang selalu mampu buat dirinya tergoda dengan tingkah aneh,yang lain dari pada wanita di luaran sana.


Grebb...


Sebuah pelukan hangat memeluk tubuh kecil yang tiba-tiba kaku ketakutan.


"Saya akan biarkan kamu cicil ganti rugi sampai lunas. Lagian, jika saya lapor ke pihak hukum. Yang ada kedua belah pihak keluarga akan malu" jawabnya.


"Tapi, aku tidak memiliki banyak uang lagi" sadar diri untuk tidak mempergunakan modal utama perusahaan dalam urusan pribadi.


"Siapa bilang harus dengan uang" menyeringai.


"Maksud anda?. Aku kerja tanpa terima gaji, gitu?" mendorong kulit sixpack.


"Bukan. Tapi dengan ini" tangan Wiliam menjelajahi tubuh kecil istrinya, terutama bagian dua bakpao hangat di bagian depan atas.


"Enggak!!" tolak Melani mendorong tubuh kekar sampai terhuyung.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2