Change Destiny

Change Destiny
148.Mencari pegawai


__ADS_3

Bab 148


.


Melani memutar sedikit kepalanya, lihat asal suara. Terlihat bayangan hitam sekelibat melintas.


"Penunggu rumah ini kayaknya marah" gumam Melani, sambil lambaikan tangan pada Wiliam yang sibuk diantara semak rerumputan.


Sosok kerdil hitam tiba-tiba, narik tas handbag-nya.


"Han-hantu....!!!" jerit Melani tidak berani melirik atau lihat.


Wiliam yang dengar suara jeritan istrinya bergegas hampiri.


Sosok kerdil hitam itu, bersembunyi ketakutan disamping Melani yang semakin ketakutan pula dengan sentuhan sosok tersebut.


Kedua pecundang yang sama-sama takut pada wujud yang menghampiri mereka.


"Kamu kenapa, Mel?" tanya Wiliam.


"Ada hantu narik bajuku" jawab Melani pelan gemetaran.


Wiliam menoleh kesamping Melani. Ada tangan hitam kecil yang pegang baju istrinya.


"Keluar!!" bentak Wiliam.


Sosok hitam kerdil memunculkan ujung kepala botaknya.


"Siapa kau!" ujar Wiliam dengan suara tinggi.


"Mama" ucap sosok kerdil, minta pertolongan pada Melani.


Wiliam narik paksa keluar sosok kerdil yang bersembunyi dibalik punggung Melani.


Mata Wiliam yang melotot besar, buat sosok itu narik kuat baju Melani.


Aaaaa.....


Melani dan sosok kerdil itu saling bersahutan menjerit ketakutan.


Melani yang takut pada sosok kerdil hitam dikiranya hantu,dan sosok hitam kerdil yang takut pada Wiliam yang berwajah garang. Semua saling berkesinambungan.


"Lepas,atau saya pukul!" hardik Wiliam pada sosok tersebut dengan suara tinggi,dan terus coba lepaskan tangan sosok itu yang satunya lagi narik baju Melani.


Saat Wiliam sedang mengancam sosok tersebut, Melani malah berpikir bahwa Wiliam punya indera ke-7, hingga dapat berinteraksi bebas sesuka hatinya.


Setelah sosok itu ditangkap Wiliam, Melani membalikkan badannya memunggungi Wiliam dan sosok kerdil hitam, yang pasti tidak ada dihadapannya.


"Huhuhu.....Aku mau pulang" ucap Melani masih tidak berani buka mata yang basah.


Cukup lama Wiliam menyidang sosok tersebut, hingga Melani berdelusi dengan pikiran sendiri.


Dalam delusinya,Melani sedang ditertawakan sama sekelompok setan pocong, kuntilanak,genderuwo,tuyul dan antek-anteknya.


Air seni yang tertahan karena ketakutan, tidak mampu lagi dikendalikan Melani. Celana panjang yang dipakai pun jadi basah terguyur air seninya.


"Mel" panggil Wiliam, memegang pundak gemetaran Melani.


"Jangan dekat!" ujar sesenggukan Melani menepis setiap sentuhan yang dikira hantu.


"Kok ada air?" gumam Wiliam, lihat lantai jadi becek.


Dicari Wiliam asal muasal air keluar. Matanya terus ikuti jejak air mengalir.


"Kamu ngompol?" cibir Wiliam, menahan tawa.


"Pergi, kalian" bentak sesenggukan Melani, memeluk handbag.


"Mel,ini saya.Suami kamu" ucap Wiliam memegang wajah ketakutan itu.

__ADS_1


"Ko, disini banyak hantu" adu Melani langsung meluk tubuh kekar.


"Enggak ada kok" jawab Wiliam mengelus punggung Melani agar tenang.


"Ada" bersih kekeh dengan apa yang terasa tadi.


"Tadi itu, anak tukang parkir yang nyari ibunya. Dikiranya,kamu ini ibunya" jelas Wiliam, mulai tercium bau pesing ompol.


"Koko enggak bohong kan?" berhenti nangis.


"Tentu tidak. Apa kamu tercium bau pesing,hmm?" jawab dan lontarkan pertanyaan selingan.


Melani tertegun, dia ikut mencium aroma bau pesing, dan masih belum sadar dirinya yang keluarkan aroma bau yang semakin tajam.


"Bau sekali,Ko" ucap Melani tidak merasa bersalah.


"Iya,kamu harus segera pulang untuk mandi" jawab Wiliam menutup hidung dengan jari telunjuk.


Melani terdiam sejenak. Mengapa Wiliam berkata demikian, seakan dirinya yang buat aroma bau tersebut.


Ketika Melani merapikan kembali bajunya,baru tersadar olehnya, dan paham maksud Wiliam.


Sangkin malu,Melani tidak berani jalan dekat Wiliam.Bahkan ia risih harus keluar dengan celana bau ompol.


"Kita tunggu asisten saya bawa baju ganti untuk kamu" ucap Wiliam berhenti jalan.


"Pakaian dalam?" tanya samar-samar Melani, nunduk malu.


"Satu set lengkap" jawab dingin Wiliam berdiri nunggu antaran.


Dalam waktu 5 menit, semua yang dibutuhkan sampai di depan rumah tua itu. Atas saran dari Wiliam, Melani menunggu di pintu belakang.


"Air dan semua yang Tuan butuhkan, sudah kami letakkan di kamar mandi" ucap asisten selesai dengan tugas anehnya.


"Mmm... Kalian boleh pergi" ucap Wiliam, kibaskan tangan.


Semua yang datang mengantar permintaan Wiliam, segera tinggalkan rumah tua.


"Tapi pintunya enggak ada"


"Sudah masuk saja. Lagian cuma ada saya" tau maksud pertanyaan Melani.


Melani pun masuk dalam kamar mandi tidak berpintu. Dia cepat-cepat bersihkan badan bagian bawah dengan air bersih yang dibawa, sebelum Wiliam bersikap aneh seperti beberapa bulan lalu.


Tubuh sudah bersih, pakaian juga telah diganti. Melani keluar membawa paper bag isi pakaian kotornya.


"Kita pergi sekarang" ucap Wiliam dengar suara langkah kaki.


"Ya" nurut apa adanya.


Mereka tinggalkan rumah tua, pergi ke tempat lainnya lagi hingga jam pulang sekolah Josh tiba.


"Ko, sudah waktunya Josh pulang" ucap Melani ingatkan.


"Mmm..." dehemnya masuk mobil jemput anaknya.


Sungguh senang hati Josh, pulang dengan jemputan kedua orang tuanya.


"Mami, duduk sama Josh saja" pinta Josh tidak peduli dengan perasaan Wiliam.


"Ok" jawab Melani buka pintu mobil untuk ubah posisi ke belakang.


"Tetap di tempat" ujar Wiliam. Langsung kunci tombol pintu otomatis.


Melani menunduk nurut, sedangkan Josh yang duduk di kursi penumpang belakang, memanyunkan mulut sambil melipat tangan.


Wiliam beserta rombongan kecil tiba di rumah mewah. Josh dan Melani begitu keluar mobil langsung bergandengan tangan, tinggalin Wiliam yang memarkir mobil.


"Josh,tadi Mami hampir ketahuan Daddy. Untung saja masih keburu simpan semua barang bukti" Melani melaporkan kejadian tadi pagi, secara pelan-pelan.

__ADS_1


"Tapi, kalau begini terus. Customer kita jadi makin berkurang dong,Mi" mencemaskan omset dan pelanggan setia kabur.


"Bisa jadi. Kita harus cari solusi" menaiki anak tangga sambil cari solusi.


Keduanya menaiki anak tangga, dengan wajah penuh pikiran.


Pusing mikirin cara untuk ngatasin rahasia tetap tersimpan rapi, Melani pun jadi gunda gulana.


"Jangan sampai usaha online ketahuan. Bisa panjang buntut urusan sama tuh orang" gerutu Melani menggantungkan handbag di balik dinding pintu kamar utama.


Josh dan Melani keluar dari kamar masing-masing, menghampiri Wiliam yang duduk nungggu makan siang bareng.


"Besok Daddy akan ke Singapura untuk hadiri jamuan, kamu jangan nakal di rumah" ucap Wiliam pada Josh.


"Baik,Dad" jawab Josh dengan senyum tersimpul.


Ada secercah harapan untuk ibu dan anak melakukan rutinitas pekerjaan tanpa hambatan.


Wajah Melani dan Josh terlihat bebas beban hidup berat. Namun, ketika Wiliam kembali berucap, keduanya terlihat habis di angkat setinggi langit, langsung dicampak ke bawah tanpa pakai parasut.


"Jadi siapkan pakaian kamu juga" titah tegas Wiliam ke Melani.


"Iya" lesunya menjawab.


Bakal terkocar kacir usaha online mereka, tanpa ada yang mengendalikan usaha tersebut.


Inilah yang lupa terpikir oleh Melani sejak awal karir online, yaitu mempekerjakan seorang pegawai untuk membantu kegiatan mereka.


"Aku kok enggak kepikir bisa ada hari ini!. Tau akan terjadi, aku seharusnya mempekerjakan seorang pegawai" keluh batin Melani, sambil nikmatin makan siang gabut.


Habis makan, Melani membuat brosur online penerimaan pegawai manggang. Hal, tersebut di 'Ok' kan Josh sebagai wakil CEO kecil.


"Nah.... Dengan begini, kalau Daddy ada di rumah,kita tidak perlu gugup" ucap Melani memposting brosur.


"Terus, kapan bisa mulai kerja,Mi?"


"Bisa mulai sekarang, asal sesuai kriteria"


"Josh paham"


Sebentar saja pengumuman yang tersebar, sudah dapat calon pegawai.


Lekas pula Melani melakukan interview online dengan pelamar kerja.


"Baik. Sesuai dengan peraturan, kamu akan kami beri imbalan sesuai berapa banyak pesanan yang bisa kamu selesaikan tepat waktu" Melani mengirim surat kontrak kerja.


"Baik,Bu" jawab pelamar kerja.


Usai mengajarkan bagaimana cara kerja usaha online, pegawai itu mulai kerjakan semua perintah Melani.


Sementara Josh, sedang mensinkronisasikan ponsel pegawai mereka, agar mudah di pantau kapan pun mereka mau.


"Ok,Mi.Ponselnya sudah Josh pindai" berhasil menghubungkan setiap kegiatan usaha online pegawai.


"Jadi, dari ponsel biasa,Mami bisa cek kegiatan dia" tanya Melani dan di acungi jempol.


Satu masalah terselesaikan lagi. Mereka bisa sedikit bebas bergerak saat sedang terawasi Wiliam.


.


Malam harinya, Melani mengemas pakaian dalam koper untuk dibawa bersama Wiliam. Dan tidur tenang, setelah semua disiapkan.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2