
Bab 67
.
Baru saja kaki bergerak, sudah ditahan sama orang yang sedang sakit.
"Kamu mau kabur?" tanya Wiliam dengan suara khas orang sakit bangun tidur.
"Ihh..Apaan sih. Lepas!" aku memukul tangannya.
"Saya tidak izinkan kamu keluar tanpa izin" coba bangkit dengan tubuh lemah.
"Ini orang sudah sakit, masih saja suka ngatur" keluh batin jengkelku ini.
"Kamu telah berhasil kabur satu kali,kali ini tidak akan saya biarkan" hardik Wiliam mendekatkan tampang dinginnya.
"Aku tidak kabur kok, suwer" jawabku dengan dua jari bentuk V.
Masih tidak percaya, dia mendekatkan jarak wajah ,kini kami bisa saling merasakan hembusan angin lawan kami.
"Ihh...Nafas Tuan panas. Aku bisa tertular" spontan aku dorong kuat tubuh pria itu, hingga terpental ke tempat tidur.
"Kamu!!" geramnya memandang diriku yang mendorongnya.
"Maaf" aku katupkan tangan, perlahan kakiku turun bersiap lari masuk kamar mandi.
"Hei..." panggil Wiliam terkecoh.
Dari pada melihat amukan seorang Wiliam Lee, lebih baik bersembunyi lama dalam kamar mandi.
Usai mandi dan berpakaian rapi, aku menunggu kak Agung yang akan menjemput diriku seperti janji kami kemarin malam.
Entah sudah berapa lama aku berdiam dalam kamar mandi,bahkan ponsel yang lupa aku bawa masuk bersamaku ke dalam kamar mandi tidak berbunyi.
"Ayo kak Agung,cepat datang dan bawa aku pulang" mondar mandir dalam kamar mandi.
"Melani Wijaya keluar kamu!!" ketuk Wiliam.
"Nggak!!. Sebelum kakakku datang" balasku dengan suara cempreng.
"Keluar, apa saya dobrak!" wajah Wiliam mengeram kesal.
Pikiranku ketakutan jika Wiliam memakai cara kekerasan, bisa-bisa saat berhasil mendobrak pintu, aku akan terkukung pengintimidasian.
Cekrekkk....
Wajahku tertunduk tidak menatap wajahnya saat buka pintu. Soalnya aku bukan kucing yang punya 9 nyawa cadangan. Ia kalau ninggal benaran,nah kalau hidup kagak mati pun enggak, sudah payah ceritanya. Sementara aku main tarik ulur sambil cari celah untuk bebas darinya 'Forever'.
"Kamu tetap berdiri di sini. Awas kalau berani gerak 1 inci,maka akan saya pasang rantai borgol" ancamnya.
Tentu aku tidak mau di borgol seperti narapidana mafia pembunuhan. Meski aku nurut akan ancaman, namun rasa benciku meledak 2 kali lipat.
"Ya Tuhan.... Mengapa aku harus bertemu orang seperti dia. Tidak bisakah Engkau mengirimkan seorang malaikat pelindung juga kalau ini sudah terjadi?" tanyaku memandang platfoam kamar.
__ADS_1
Cetakk...Cetakk....
Cicak menjawab pertanyaanku. Apa jawabannya aku pun tidak tau. Hanya bisa menunggu mukjizat segera datang menghampiri.
"Kamu bergerak 1 inci,hum?" tanyanya keluar tanpa kedengaran suara pintu terbuka.
"Mana ada" cepat-cepat aku kembali dalam posisi awal,kaki merapat kayak patung.
Harum tubuhnya menyeruak, sudah pasti ia baru selesai mandi dalam keadaan masih demam. Tapi apa peduliku,kalau bisa buat dia kembali sakit, bahkan sampai tidak bergerak akan lebih baik.
Kadang aku menyesal telah minta untuk mengulangi waktu, jika harus jadi sosok antagonis. Sangat bukan kepribadian aku yang sebenarnya.
Lalu jika sudah dalam keadaan ini, siapa yang harus aku salahkan?. Apa Tuhan? Atau diriku yang berubah jadi tidak sabaran dan lemah lembut?. Skip sajalah,kalau makin bertanya makin kesal ujung-ujungnya.
Tangannya kembali menarik tanganku. Dia duduk di sofa,lalu mengulurkan tangannya untuk minum obat.
Sesuai resep anjuran dokter ,obat yang di minum saat pagi hari mewajibkan terlebih dahulu untuk makan. Namun malas untuk berkata dan tambah emosiku,aku langsung memberikan sebungkus resep obat untuk dipilihnya sendiri.
"Kamu itu istri saya. Mengapa tidak bisa mengurus hal sekecil ini" omel Wiliam memilah sendiri obat yang sesuai anjuran.
Aku berdiri diam mengunci rapat mulut dari pada harus ribut, biarkan saja emosiku tertahan dalam batin selama aku bisa menahan.
Tokk...Tokk....
Bunyi pintu kamar kami diketuk, wajah tegang ini sedikit terulur santai. Malaikat pelindung akhirnya datang menjemput.
"Aku buka pintu" ucapku.
Tangan ini mengepal, rasanya ingin menendang bokongnya lalu membejek- bejek sampai puas.
"Selamat pagi Tuan. Ini sarapan pesanan anda" ucap OB hotel mendorong meja trolly masuk.
Ya...Bukan malaikat pelindung yang datang, mukaku berlipat kusut kecewa terdalam.Sudah hampir pukul 9, orang yang aku tunggu belum datang .Apa sudah tidak ada lagi yang peduli,menyayangi aku lagi?.
Hufff....Nafas kecewa yang panjang dan berat buat tiap harapan aku hilang satu persatu.Masa iya,aku harus nurut seumur hidup dan tinggal bersama ini orang?.
"Cepat sarapan" titahnya membuka penutup stainless makanan.
Ya sudah,makan sajalah. Aku sadari semenjak bertemu orang ini,aku jadi jahat dan plin-plan bertele-tele.
Andai saja jika bukan bertemu orang dengan kekuasaan power se-Asia dan beberapa negara, mungkin bisa aku hadapi tanpa getar. Tapi karena kekuasaannya melebihi dariku,aku juga harus berfikir panjang di antara logis dan psikis yang sering beradu peran utama.
Aku menarik kursi,dan duduk berhadapan untuk sarapan.
"Kamu habiskan. Habis ini kita pulang" ucap Wiliam mengambil obat.
"Aku boleh nggak pulang ke rumah anda, nggak?" menunduk tanya.
"Kenapa?"
"Aku belum siap punya keluarga lainnya" jujur tanpa pikir panjang.
Wiliam memperhatikan gerak-gerik tubuhku yang kaku dan risih.
__ADS_1
"Baik" jawabnya.
"Ehh....Kesambet atau over dosis minum obat,ya?. Apa pun jawabnya, yang penting aku bisa pulang ke rumah Papa" ucap batinku dengan goresan senyum tipis di sudut-sudut bibir.
Sehabis aku sarapan, kami pun check out. Biarlah kali ini aku mengalah, kalau memang bisa mengabulkan keinginan kecil ini.
Kami menunggu mobil yang baru di telepon Wiliam melalui telepon pihak hotel, akibat ponsel kami berdua kehabisan baterai tanpa ketahuan.
Selang tidak lama, mobil mewah menjemput kami. Hatiku merasa sedikit senang mau pulang ke rumah. Sepanjang jalan aku melihat bangunan menuju arah rumah Papa yang tampak beda.
"Kita mau kemana?. Ini bukan jalan ke rumah aku atau anda?" tanyaku kaget.
"Ke rumah baru kita" jawab dingin Wiliam.
"Nggak!!.Aku mau ke rumah Papa" sahutku dengan suara getar takut.
"Jaga sikap kamu atau mau saya kurung" ancamnya.
"Lebih baik mati" aku memukul lengan pria disamping secara membabi-buta.
Grebb....
Lagi-lagi dia memelukku tanpa seizin dariku.
"Mel,bisa nggak jangan bicara begitu,hum. Kamu tidak tau shocknya saya saat dapat berita buruk" memeluk erat dengan suara lembut.
Benar-benar sudah over dosis makan obat.Tadi suka-suka ngancam, sekarang berbanding terbalik dari sebelumnya.Mungkin saja plin-plan kayak aku, hehehe....
Cup..... Cup....
Dua kecupannya mendarat di kening dan sebelah pipi saja.
Aku antara malu banget dan marah sangat. Aku gigit saja lengannya yang aku dapat , sebagai aksi protes dan ganti rugi.
"Lebih baik kamu gigit saya,dari pada saya membiarkan kamu kabur" menahan sakit gigitan,sambil megang tangan Melani.
.
.
Hayo.....
Apa bisa timbul percikan api asmara diantara salah satu dari mereka?.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1