
Bab 126
.
Terkadang mendapat kabar kehamilan seseorang akan membawa kebahagiaan,tapi itu teruntuk bagi mereka yang sudah berharap atau menunggu momen tersebut.
Ada pula yang tidak siap dengan kabar itu. Mungkin disebabkan masih ingin tanpa ikatan jauh,atau sedang mengejar karir,atau mungkin pula karena tidak ingin tumbuh benih tanpa cinta.
Ya tentu banyak pikiran masing-masing orang, yang tidak dapat kita terka begitu saja.
3 menit lewat, pesanan paket yang diminta telah datang.
Wiliam membuka pintu kamar utama mengambil paket kiriman, yang dibawa masuk oleh ART.
"Mel, ganti baju dulu" ucap lembut Wiliam membuka paket yang diterima.
Melani menjuling marah, mengapa ada gangguan dalam masa kebebasan usia muda.
Sesekali ia menepuk perut, dan marah terhadap kehadiran kecebong dalam rahimnya.
"Kamu jangan marah lagi. Saya akan bertanggung jawab atas kehidupan kalian" bujuknya yang lebih susah hadapi bocah kecil di rumah mewah.
Tidak plong rasanya jika tidak keluarkan semua uneg-uneg dalam hati.
Saat Wiliam mengeluarkan isi paket, di situ kesempatan Melani mengeluarkan uneg-uneg.
Dengan mata membulat marah, Melani menghampiri Wiliam, dan menggigit pundak kekar suaminya yang melihat paket lengkap yang dipesan.
Tidak ada teriakan keluar dari mulut pria dingin itu. Hanya terlihat wajah mengkerut kesakitan.
Setelah beberapa detik Melani menggigit puas, Wiliam pun memeluk tubuh gemetaran istrinya.
"Tidak apa. Semua akan baik-baik saja" ucapnya lembut,sambil mengelus pundak gemetaran.
"Anda jahat!" rutuk Melani sesenggukan.
"Iya saya jahat karena khilaf. Tapi ini bukan pure kesalahan saya juga" jawabnya membela diri.
"Karirku sudah hilang" sesal Melani.
"Siapa bilang?. Karirmu,adalah jadi Nyonya Lee" mengusap air mata istrinya yang menggeleng tidak setuju.
"Bukan!. Aku ingin memimpin perusahaan besar" sahutnya yang labil.
Wiliam tertawa geli ketika Melani bertingkah seolah anak ABG yang butuh perhatian dan dukungan dari orang tua.
"Iya deh" ngikutin sikap labil Melani yang butuh perhatian.
"Perusahaan saya juga milik kamu. Sekarang ganti baju,terus kita makan, lalu baru kita lanjut bahas" melepaskan kaos miliknya dari tubuh kecil Melani yang sedang bentrok dengan ego sendiri.
Tanpa disadari Melani, pakaian yang dikenakan telah dilucuti suami mesum yang senyum nakal memandang gundukan putih berbungkus br* dan banyak jejak jelajah tidak beraturan.
Otak Wiliam setengah hank untung saja masih tau kondisi labil istrinya. Dipakaikan cepat olehnya kaos V-neck pas badan Melani,lalu menggantikan celana karet kedodoran dengan celana ukuran Melani.
"Sekarang kita makan,yuk" ajak Wiliam mengalihkan halusinasi habis lihat pemandangan samar-samar.
Tampang Melani kayak orang bodoh yang nurut perintah pengajak. Untungnya saja yang ngajak suami sendiri.
Mereka menuruni anak tangga dengan tangan bergandengan sampai ke meja makan, dimana adik dan anak masih duduk nikmati makan siang.
__ADS_1
Hati Ronald jadi sakit seakan teriris belatih tumpul yang karatan, melihat pemandangan tersebut.
"Kamu duduk di sini" ucap lembut perhatian Wiliam, menggeser kursi di sampingnya.
"Mami kok sedih?" celetuk Josh memandang wajah muram durja ibu cantik.
Siapa lagi yang bisa jadi tertuduh tunggal oleh Josh. Tentu bapaknya yang suka memberi hukuman.
Josh pun ikut ibunya yang berwajah muram, sebagai aksi demo protesnya.
"Kamu kenapa?" tanya dingin Wiliam dapat pandangan marah dari bocah asli.
Josh tidak menjawab pertanyaan itu, dia melanjutkan makan siangnya yang bersisa dikit.
"Ko, saya duluan" pamit Ronald tidak kuasa lihat sikap abangnya, dan wajah muram sang mantan.
"Hmm" dehemnya ngangguk, sambil ciduk nasi ke piring istri.
Dari pada tidak sanggup lihat tontonan realitas, Ronald mendingan mengistirahatkan tubuhnya sejenak di dalam mobil, yang membawanya kembali ngantor.
Tinggallah bapak,ibu serta anak yang duduk. Mereka bertiga makan tanpa ada sepatah kata keluar. Hanya ada lemparan pandangan mata yang berbicara antara bapak dan anak.
Usai Josh makan, dia menunggu ibu cantik untuk di ajak ke kamarnya. Tanpa peduli apa yang akan bapaknya katakan.
"Yuk,Mi" ajak Josh mengulurkan tangan begitu ibunya sudah selesai makan dan minum.
"Kalian mau kemana?" tanya dingin Wiliam diacuhkan, dan dimusuhi.
"Mau ke kamar" jawab Josh tetap berjalan menggandeng tangan ibunya.
Kali ini sikap Josh diampuni, karena berharap suasana hati istrinya dapat lebih tenang.
Selagi dua bocah melakukan perjanjian di kamar, Wiliam pun menyibukkan diri di ruang kerjanya.
.
Sambil merenggangkan otot-otot, dia keluar menuju kamar Josh.
Di ketuknya pintu kamar yang tidak tertutup rapat, sambil ngintip apa yang diperbuat dua bocah beda generasi dalam rumah mewahnya.
Wiliam terdiam sejenak melihat Josh memangku kepala istrinya di atas paha, sambil membelai rambut sepundak.
Cekrekkk....
Suara ketukan pintu tidak dijawab,lalu Wiliam masuk dengan wajah cemburu.
"Sssttt!!" toleh Josh menempelkan jari telunjuk di bibirnya dengan wajah serius ke Daddy.
"Ini anak makin lupa kalau Melani milik saya, bukan miliknya" gigi bergertak geram.
"Biar Daddy bawa Mami ke kamar" ujar dingin cemburu Wiliam tidak mau kalah.
"Tidak boleh" merangkul kepala ibunya yang tertidur pulas.
Pertarungan mata antara dua pria yang memperebutkan satu wanita menjadi sengit, karena tidak berani mengeluarkan suara keras yang akan membangunkan wanita itu.
Secara paksa Wiliam merebut wanitanya dari bocah kecil. Senyum pun terkembang di wajah Wiliam yang berhasil merebut tubuh wanitanya.
Tidak tinggal diam, Josh kembali menarik kemeja yang terselip rapi dalam celana Daddy. Niat hendak merebut kembali wanita kesayangan, membuat dirinya pantang menyerah.
__ADS_1
Sedangkan Melani yang digendong Wiliam, mengalungkan tangannya di leher itu, ketika aroma tubuh Wiliam terhirup semakin dalam.
Makin berkembanglah senyum Wiliam akan kemenangan mutlak itu.
Namun,perang antara bapak dan anak masih berlanjut sampai ke kamar utama.
Wiliam meletakkan perlahan tubuh kecil wanitanya di atas tempat tidur besar. Kemudian mengecup bibir tipis itu.
"Eh...Kamu mau apa?" tanya dingin Wiliam mengendong turun Josh yang berbibir runcing.
"Mau cium Mami" sahutnya meronta minta dilepaskan.
"No!. Kamu bisa membangunkan Mami. Sekarang kamu istirahat saja di kamar kamu" dalih Wiliam, tidak ingin berbagi kasih sayang apalagi cinta.
Wiliam mengeluarkan anaknya dengan paksa, karena ikut pun tanpa diundang.
"Daddy... Open the door!!" Josh mengetuk pintu kamar itu dengan kuat, setelah dikeluarkan secara sepihak.
Wiliam membuka pintu dengan sedikit celah hanya ingin mengejek anaknya dengan sikap yang sama.
"Sssttt...!!!. Be quiet" ucap Wiliam,lalu tutup pintu.
Tidak terima kekalahan,Josh merengek duduk di depan pintu sambil mengetuk.
Dalam kamar besar itu, Wiliam merebahkan miring dirinya di samping Melani. Memandang wajah cantik yang sekarang sedang mengandung benih, meski kadang jutek,galak.
Perlahan tangannya membelai ujung kepala sampai ke bibir tipis.
"Thank you so much" ucap lembut pelan Wiliam sambil mengelus bibir candunya, yang telah memberikan kepuasan dan kesempatan untuk berumah tangga dalam tanda kutip lengkap asli.
Tubuh Melani merespon belaian yang diberi Wiliam tepat di bawah gundukan bakpao.
"Kamu mau?" goda Wiliam menyentuh lembut perut dan bungkusan gundukan.
Melani mengeliat dan membuka matanya perlahan.
"Ahh.... Mana Josh!" menarik keluar tangan usil yang masuk dalam bajunya.
"Kok cari Josh?. Seharusnya cari saya" jawabnya cemburu.
Melani pun beranjak turun untuk menjauhi suami yang tampak mulai mesum.
Salah Wiliam siapa suruh kasih kode akses keluar masuk kamar sebebas itu. Jadi ada peluang besar untuk Melani kabur dari kamar.
"Stupid!. Coba saya tidak cepat buatkan kode password,kan saya masih bisa berduaan" keluh Wiliam kehilangan buruan yang lari kabur, sambil menggaruk kepalanya yang penat.
Melani yang berhasil keluar segera berlari bersama Josh ke kamar bocah. Tidak lupa mereka mengunci pintu serta menahan dengan sofa sebagai penghadang.
"Josh, kalau Daddy kamu ketuk pintu, kita tidak boleh buka!" ucap Melani kecapekan geser sofa.
"Siap,Mi" tangan memberi hormat.
Keduanya pun merebahkan tubuh di kasur single, menatap langit atap kamar dan takut jika keluar nanti.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.