
Bab 109
.
Melani berlari keluar kamar. Sedangkan Wiliam menertawakan tindakan sendiri yang abnormal dalam hidupnya.
"Sepertinya saya sendiri yang sudah terperangkap dengan umpan" gumamnya menertawakan kelakuan layak pria playboy.
Wiliam menatap aneh telapak tangan sendiri yang semakin suka menjelajahi tubuh kecil istrinya, kapan pun ada kesempatan dalam kesempitan.
"Jika bukan masih harus jalani perawatan, pasti sudah saya cicipi" pikiran seketika meluncur ke alam jauh.
Malam itu mereka lewati dengan jaga jarak. Melani memilih tidur di gudang yang dipenuhi kardus tak terpakai.
.
Seperti biasanya, Melani sudah bangun untuk bersiap ke kantor saat hari kerja.
"Pakai apa ya, biar kaki enggak perih?" milih antara sepatu dan sandal.
"Ngapain lihat sepatu?" tiba-tiba sosok penguasa ada di belakang.
"Nggak ada" dalih Melani,meraih sandal.
"Tunggu.Kamu mau buat saya malu?" ucap sinis Wiliam,nginjak ujung sandal istri.
"Nggak" geleng kepala. Tidak ada maksud untuk merusak citra nama baik sebagai suami dan bos.
"Pakai ini" menggantikan sandal istri.
Wiliam baru tau, kalau kaki istrinya juga berplaster.
"Kaki kamu kenapa?" lihat sinis.
"Tuan,kita hampir telat" dalih Melani, berjalan tertatih mendahului.
"Tunggu. Sebelum kamu jawab, kita tidak akan berangkat" berdiri nunggu jawaban.
"Tapi pagi ini anda punya rapat" jawab Melani profesional sebagai asisten.
"Kamu atau saya, atasan di kantor" menunggu jawaban.
"Tuan"
"Kalau begitu, cepat katakan kenapa kaki kamu" suara semakin tinggi.
"Tapi janji jangan di hukum" ucapnya bersuara pelan.
"Mm..." angguk setuju.
"Kemarin pagi saat cuci piring, aku kurang hati-hati. Jadi piring anda pecah. Saat kutip pecahan beling, aku juga kurang hati-hati" jelas Melani menjawab pertanyaan dengan rasa takut.
Cup...
Wiliam mencium kening istrinya dan meluk tubuh kecil itu.
"Kalau sakit, libur saja" membelai rambut kuncir rapi.
"Nggak usah Tuan. Cukup pakai sandal saja" menolak kebaikan suami sekaligus bos.
"Kamu ini bandelnya melebihi Josh. Nih, pegang tas saya" menyerahkan tas kerjanya.
"Baik Tuan" menerima ikhlas sebagai bagian tugas pekerjaan.
Tangan kekar itu langsung membopong istrinya yang ngeyel, keluar mansion.
"Tuan, turunkan aku" malu jadi tontonan bodyguard dan supir.
Wiliam mengacuhkan perkataan Melani. Langkah terus berlanjut sampai masuk mobil yang telah disambut supir.
__ADS_1
Betapa malu dan jatuh harga diri Melani di depan deretan bodyguard dan supir yang berbaris rapi, ketika diperlukan demikian rupa.
"Makanya jangan bandel seperti Josh" ujar dingin Wiliam.
Supir tersenyum semeringah lihat wajah majikan yang dingin tapi bahagia. Dia tau, meski majikan sering berkata setajam pisau pada wanita khusus, tapi sekali bertindak sudah seperti buaya peliharaan. Beda banget dengan perlakuan majikan pada wanita lainnya. Begitu marah dan dibentak, wanita-wanita itu langsung di turunkan dari mobil, tanpa lihat ada di pinggir jalan atau jalan sepi.
Mobil pun tiba di perusahaan mewah. Melani memohon agar tidak dipermalukan di depan publik.
"Baik. Jika begitu, kamu urus anak cabang perusahaan" titah Wiliam.
"Anak cabang perusahaan?" bingung.
Dia lupa anak cabang perusahaan Wiliam yang dimaksud.
"Kantor lama kamu" mengecup tiba-tiba kening istrinya,lalu turun mobil.
Melani tertegun, apa yang terjadi dengan big bos di pagi ini?.
"Kamu antar Nyonya sampai kantornya. Dan tunggu sampai panggilan berikut" ucap dingin Wiliam pada supir.
"Baik Tuan" sahut supir.
"Pak, Tuan masih normal kan?" tanya Melani begitu pintu tertutup.
"Tentu saja normal" jawab supir dengan simpul di bibir.
"Tapi, itu tadi..." bingung ungkapin yang ada.
Supir ngerti maksud istri big bos.
"Tuan hanya begitu sama anda" jawab supir, lirik dari kaca depan mobil.
"Bukannya banyak wanita yang dekat" cari info
"Iya. Tapi anda jangan mau kalah sama mereka" supir menyemangati.
Keduanya tertawa dengan pikiran masing-masing yang beda.
Mobil mewah pun berhenti di depan kantor perusahaan miliknya. Dengan jalan pincang, Melani yang sudah lama tidak ke kantornya merasa kaku ketika setiap langkah berpijak tertinggal.
"Selamat pagi Nona" sapa karyawan yang berlalu lalang.
"Selamat pagi juga" sahut Melani berbalas senyum.
"Nona apa kabar?" sekretaris keluar sambut mantan CEO cantik.
"Kurang baik" jawabnya menunjuk kaki pakai sandal.
"Loh, kaki Nona?" segera bantu memapah.
"Habis kepijak beling" jawabnya halus.
Sekretaris memapah pelan sampai masuk ruang kerjanya.
"Sudah banyak yang berubah" melihat ruang kerja terakhir dia masuk beberapa bulan lalu.
"Iya Non. Ruang ini seharusnya ruang manager" sahut ibah sekretaris.
"Tapi tak apalah. Oh ya Bel, laporan yang harus aku periksa segera bawa kemari,ya" memberi perintah.
"Semua laporan sudah diperiksa Tuan Ronald langsung"
"Lalu aku ngapain?"
"Tuan Wiliam ingin anda mendesain logo stempel perusahaan" menyampaikan pesan penguasa.
"Baik. Akan aku kerjakan" membuka laci meja kerja.
"Nona,ini kertasnya" menyerahkan apa yang dicari.
__ADS_1
"Terima kasih.Kamu bisa lanjutkan tugasmu"
"Saya ditugaskan Tuan untuk jaga Nona"
"Ehh.... Kamu ini sekretaris, bukan baby sister" menatap.
"Semenjak bukan Nona pemilik perusahaan ini. Kami semua...." jawab sekretaris menunduk, tidak mampu lanjutkan penjelasan.
"Huff... Ya sudahlah. Aku paham" berhela nafas berat.
Memang benar apa yang dikatakan sekretaris. Semenjak perusahaan diambil alih oleh pengusaha berdarah dingin, dirinya aja harus tunduk pada semua perintah Wiliam.
Melani mendesain stempel logo perusahaan raksasa Wiliam,lalu mengirim hasil desain melalui e-mail.
"Nona, minum dulu" ucap Bella membawakan secangkir teh.
"Terima kasih" menikmati secangkir teh hangat menjelang makan siang.
"Nona boleh saya bertanya?"
"Ya, apa?" mensejajarkan pandangan.
"Anda dan Tuan Wiliam,apa punya hubungan spesial?" pelan-pelan tanyanya.
Uhukk...
Pertanyaan tersirat itu membuat Melani tersedak dengan air liur sendiri.
Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan itu. Benar adanya status hubungan rahasia, tapi bukan berarti hubungan jauh layaknya suami istri.
"Nona" panggil sekretaris, melambai tangan pada wajah cantik bersemu merah.
"Hubungan spesial apa?. Posisi kita sama, bahkan hampir sejajar" dalih Melani dengan tawa kecil.
"Tapi, sepertinya tidak dengan Tuan" ingin tau.
"Hahaha...... Sama saja. Mungkin karena aku sebagai asisten,jadi terlihat beda" memutar bola mata kebohongan.
"Menurut saya, Nona dan Tuan serasi banget"
"Serasi darimana?. Perusahaan ini aja sudah dikuasai sama dia. Tidak ada kata serasi diantara kami!" seketika nada Melani meninggi tiga oktaf. Dia tidak terima dikatakan serasi berpasangan dalam segi apa pun pada pria yang sudah mengambil ahli perusahaan kecil.
Wajah yang bersemu merah itu jadi merah gelap. Emosi yang meliputi diri sang mantan CEO cantik itu pun buat sekretaris lompat terkejut dari tempat duduknya.
"Ingat!. Aku tidak ingin dengar lagi rumor tentang kami. Hubungan kami hanya sebatas keprofesionalan kerja saja!" tegas Melani mengingatkan sekretaris agar tidak bertanya apa pun tentang mereka.
Sekretaris mengangguk paham. Dia pun menutup rapat mulut kepo.
Tring....
Bunyi pesan chat khusus masuk di ponsel Melani. Dia yang sedang marah semakin meledak lihat pengirim chat. Rasanya ponsel itu ingin sekali dibanting sampai hancur.
"Apa lagi maunya" gerutu Melani, membuka isi pesan chat.
Pesan yang berisi ketidak sesuaian permintaan itu menaikkan level kemarahan Melani.
"Kalau bisa desain sendiri ngapain minta orang desain. Ubah sendiri sesuka kepalamu" menghapus kesal isi pesan chat, tanpa membalas.
Sekretaris yang masih duduk terdiam dalam keheningan menjadi takut. Wajah secantik itu ketika marah ternyata sangat menggerikan.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1