
Bab 94
.
"Pakai ini" serahkan daun talas hutan yang didapat.
Hoekk.....
Semua magma terguncang sedari tadi langsung melesat keluar dari mulut.
"Kamu ini kok bisa muntah,sih?" menepuk pelan punggung istrinya.
Wajah cantik pucat pasi itu menatap suami yang membuat hal ini terjadi. Jika saja memilih jalan lempeng lurus mulus, pasti hal ini tidak terjadi.
"Sudah jangan nangis" mengusap air mata yang mengalir.
"Kan Tuan pilih jalan banyak lobang. Jadinya perutku mual" jawabnya, merasa mulut kecut.
"Sekarang sudah berani menuduh" duduk menjauh.
"Idihh... Tuan ngambek" merasa lucu tingkah seorang big bos.
"Hemphh..." memalingkan wajah kecut,dan lanjut nyetir.
Akhirnya sampai juga mereka ditempat tujuan. Sebuah pemandangan indah didapat untuk membayar rasa capek dan mual selama perjalanan.
"Indahkan?" tanya Wiliam mematikan mesin mobil.
Melani ngangguk dan masih ingin mengeluarkan isian perutnya.
Tidak peduli apa pendapat Wiliam padanya. Dia langsung lepaskan sabuk pengaman dan loncat turun dari mobil Jeep.
"Mel..." panggil Wiliam. Segera menyusul istrinya sebelum kesasar.
Hoekk....
Keluar lagi isian perut yang lebih pahit dan kecut. Beberapa kali Melani mengeluarkan cairan bau tersebut hingga tubuh jadi lemas.
"Aku mau pulang" ucap lemas Melani.
"Kalau pulang sekarang, apa lagi yang bisa kamu keluarkan, hum?. Lebih baik sekarang duduk sampai agak tenang" memapah.
.
Sudah dua jam mereka duduk diatas Jeep menikmati pemandangan dengan semilir angin sepoi-sepoi, meniup rambut mereka.
Krukk....
Suara perut keroncongan menghibur mereka.
"Kamu lapar?" menoleh.
"Iya. Kan tadi semua sudah terbuang" garuk alis mata tidak gatal.
"Ya sudah. Kamu di sini,akan saya carikan buah hutan"
"Emang ada?. Jadi kayak Tarzan dong. Hehehe..." celetuk Melani bersuara pelan.
"Kamu istri Tarzaannya" berbalik,natap.
Upppsss.... Ternyata suara pelan itu terdengar si suami dingin.
Wiliam mencari buah disekitar mereka berhenti,agar istrinya tidak perlu cemas. Melihat anak sungai sedang panen ikan,ia juga menangkapnya.
Dengan buah kelapa yang didapat bersama buah lain dan ikan segar. Dia ingin membuat makan siang ala anak camping.
Banyak pelepah kayu kering dan juga ranting pohon berjatuhan. Wiliam pun munggutnya untuk dijadikan api unggun.
__ADS_1
"Nih makan buah kesemek dulu, sekalian bantu saya masak ikan"
"Tuan dapat dari mana?. Nggak nyolong punya warga kan?" penasaran, suaminya bisa dapat ikan lumayan banyak di tengah hutan.
"Kamu pikir saya pencuri" berjalan ninggalin.
Lega jadinya kalau yang dimakan adalah barang halal pemberian alam.
Buah kesemek ternyata belum masak pokok, alhasil yang dimakan hanya buah asem kecut.
Weekkkk....Puihh... Meludah buah yang nambah rasa kecut kerongkongan.
Melani berjalan menyamperi suami yang sedang buat api unggun untuk memasak ikan.
Uhukk.... Uhukk.... Kepulan asap hasil proses pembuatan api unggun menyapa wajah Melani yang berdiri tepat di belakang suami.
"Sini" Wiliam berbalik dan ngulur tangan.
Apes...Apes.... Wiliam yang buat api unggun,malah angin meniup asap memoles wajah cantik pucat itu.
"Jangan sentuh" Melani menghempas tangan Wiliam, yang sentuh wajahnya.
"Ya sudah, jika kamu mau cemontengan" kembali meniup bara.
Tangan Melani menyapu wajah sendiri, telapak putih menjadi abu-abu karena debu asap.
Api unggun yang sudah membesar pun siap untuk memasak apa pun. 4 ekor ikan hasil tangkapan yang sudah di cuci bersih dan dibalur garam, dipanggang di atas tumpukan batu pipih.
"Kamu lanjut tiup apinya,saya mau cari umbian" ucap Wiliam berdiri.
"Oh...." nurut, ambil posisi aman tidak kena bakar.
Api terus dijaga kestabilannya hingga ikan matang. Wiliam dengan bawaan makanan, kembali memasukkan jenis umbi-umbian kedalam bara api.
"Sebentar lagi sudah bisa makan" menyiapkan daun talas sebagai piring.
"Hufff....Hufff...." Wiliam ngembus, mengambil sepotong ikan,lalu diletakkan di atas daun talas.
"Hati-hati,Tuan" ucap Melani menerima ikan.
"Makan pelan-pelan.Masih ada yang lain" jawab dingin, meletakkan tangan panas ke daun telinganya.
"Nih, Tuan" menyodorkan cuilan daging ikan miliknya.
Tanpa sungkan Wiliam makan cuilan daging dari tangan istrinya.
"Ihh... Jariku jangan ikut dimakan juga" keluhnya, jijik liat liur Wiliam nempel di jari capit.
"Terus gimana?" kembali menyuapi.
"Gini" menunjukkan cara sopan terima suapan orang lain. Melani menggigit ujung daging, tanpa perlu memasukkan jari lawan.
"Oh... Coba sekali lagi" pinta sengaja.
"Aaa...." menyodorkan cuilan daging baru.
Memang sengaja Wiliam melakukan hal salah, karena ia ingin membuat Melani menyukai dirinya.
"Kan udah ku bilang, jangan ikut masuk jariku" ketus Melani mengelap jari pada jaket Wiliam.
Tampak simpul di ujung bibir pria dingin, mesti wajah Melani jutek.
"Ya sudah. Saya suapin kamu saja" ucap Wiliam menyuapi, tau istrinya kesulitan makan pakai tangan kiri, akibat jijik dengan jari tangan kanan.
Sengaja saat Melani tidak lihat dirinya, Wiliam mengecap jarinya, lalu memberikan suapan dari jari yang sama.
"Mau keladi enggak?" tanya Wiliam menusuk umbian pake ranting.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang" tolak halus, agar porsi big bos tidak kurang dan berakibat perhitungan.
Wiliam ngangguk, lanjut makan keladi hutan bakar.
Waktu berlalu tidak terasa, tidak lupa Wiliam padamkan api unggun sebelum meninggalkan wilayah itu agar tidak terjadi kebakaran hutan.
"Sekarang saya ajak kamu ke suatu tempat" ajak Wiliam berjalan.
"Tapi ini sudah hampir sore" jawab Melani takut gelap ketika keluar hutan.
"Tidak apa, hanya sebentar saja"
Terdengar suara gemericik air mengalir begitu mereka sampai. Ya anak sungai yang tadi ditemukan Wiliam saat melintas. Asal mula ikan yang habis mereka makan.
"Wow... Amazing,so beautiful" kagum Melani lihat pemandangan indah, dihiasi pelangi.
"Lihat ini" menunjukkan ikan-ikan berenang riang.
"Ya... Kasihan teman-teman mereka yang tadi" ibah
"Mereka hidup untuk kita makan. Apa kamu tidak pernah belajar tentang rantai makanan?"
"Pernah. Tapi ini hal berbeda, Tuan" jawabnya menanamkan moralitas.
"Terserah kamu. Sekarang kita pulang" ketus Wiliam enggan berdebat.
Belum juga puas lihat keindahan alam yang tersembunyi dalam hutan, kini harus meninggalkan panorama itu.
"Semoga lain kali kalau aku mampir kembali, jalan ke sini sudah bagus, tidak banyak lubang dan batu" monolog Melani menoleh ke belakang.
Sudah tau jalan tidak mulus, Melani masih saja cari penyakit sendiri. Kakinya tersandung akar pohon tua,dan berakhir jatuh terluka. Coba saja fokus jalan ke depan, pasti tidak akan terjadi hal demikian.
Suara berat badannya jatuh terdengar lumayan, hingga Wiliam yang berada di depan dapat mendengar.
"Ada-ada saja ulah kamu" menoleh ke belakang.
Untungnya juga, Melani memakai celana panjang, jadinya tidak ada luka serius pada bagian kaki, hanya lebih jelas terlihat pada telapak tangan yang tergores akibat menahan tubuh.
"Bisa jalan kan?" tanya dingin Wiliam membantu istri berdiri.
"Bi-bisa" membersihkan luka di telapak tangan pelan-pelan.
"Harus segera dibersihkan sebelum terinfeksi" berjalan di depan.
Orang yang ada di belakang tidak berani berkata, takut urusan makin panjang ribet. Cukup sudah perih di tangan yang menemani pikiran, tidak perlu dengar tambahan bumbu pedas.
Dugghhh....
Kepalanya ketubruk benda empuk, terbiasa berhenti tanpa aba-aba.
"Kamu suka menubruk tubuh saya ya?"
"Mana ada. Kan Tuan yang suka berhenti tiba-tiba" jawabnya menunduk.
"Dasar kamunya yang tidak rem. Sini saya papah biar cepat" merangkul pundak istri.
"Ti-tidak usah" kaku Melani, merasa ada bau kemarahan suami.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1