
Bab 121
.
Melani mulai gak mampu menahan pingin buang air kecil. Tubuhnya bergetar merinding beberapa kali, dan buat Wiliam yang menunggu pura-pura bodoh.
"Oke,oke" ujar dingin Melani pasrah.
"Kamu bicara sama saya?" Wiliam menoleh,pura-pura gak tau kalau sedang diajak ngomong.
"Enggak!.Aku bicara sama Om Jin !" ketus Melani, merinding.
"Oh ... Om Jin" ujar dingin, berdiri nunggu.
"Ihh... Udah tau anda, masih aja pura-pura" kesal
"Haaa... Saya?" menunjuk dirinya sendiri.
"Iya!" semakin merinding.
"Kalau begitu, kamu harus minta tolong dengan sopan" ucapnya, mengurung tubuh Melani dengan kedua tangan bertatap dingin kamar mandi.
Malas jika tidak dalam keadaan terpaksa. Mau tidak mau aku pun harus menjilat ludah sendiri.
"Tuan, bisa tolong bantu aku...." ucap tertekan merasa rendah.
"Nona,anda di dalam?" tanya perawat yang masuk membawa obat Melani.
Ini namanya, Tuhan berbaik hati pada hambanya yang butuh pertolongan. Di detik terakhir,Tuhan menghadirkan seorang malaikat penolong.
"Iya..." jawab Melani dengan suara keras.
Wiliam langsung membungkam mulut Melani untuk tidak mengundang perawat ganggu situasi terindah.
Emmm....Emmmm.... Melani tetap aja coba berteriak meski mulutnya dibungkam tangan Wiliam.
"Nona, nanti obatnya jangan lupa di minum ya" ucap perawat, lalu keluar kamar rawat.
Wiliam yang khilaf langsung membungkam mulut Melani dengan mulutnya. Tiap barisan gigi Melani di absen sekilas, begitu juga lidah kaku yang tidak menyambut kehadiran lidahnya.
Merasa tubuh kecil itu semakin merinding,ia pun melepaskan celana segitiga tipis, menyembunyikan lembah subtropis yang ditumbuhi rambut-rambut halus.
"Dah, sana keluarkan" seringai Wiliam, mendudukkan Melani di toilet duduk.
Malu, marah Melani udah sampai ke ubun-ubun.
Belum lagi Wiliam masih berdiri tak bergeming melihatnya mengeluarkan air kecil.
"Enggak usah lihat terus" ujar ketus, tidak tau harus bagaimana menutup aurat terbuka.
"Siapa pula lihat kamu" dalih Wiliam, padahal terpesona dengan sekelibat pemandangan lembab punya istri.
"Hengg!!" memalingkan wajah marah,malu.
Bagi Wiliam melihat punya Melani termasuk hal sudah lumrah, tapi setiap melihat hasratnya juga ikut bangkit.
"Sudah belum?" Wiliam pura-pura tanya, matanya melirik ke lembah subtropis.
"Udah" menunduk marah.
Wiliam memakaikan kembali celana segitiga tipis, disusul celana punya rumah sakit.
"Jangan galak sama suami" sindir Wiliam memapah Melani.
__ADS_1
Wajah Melani ditekuk,dimanyunkan, sebagai aksi unjuk rasa penolakan.
Teringat perbuatan Wiliam yang barusan,buat Melani ingin muntah. Sudah semakin sering juga ia diperlakukan tanpa izinnya.
"Nih, minum obat biar cepat sembuh" mengambilkan obat dan air minum.
"Habis sembuh, sakit hati" gerutu pelan Melani masukkan obat ke mulut.
Habis minum obat,Melani memilih untuk pejamkan mata meski tidak ngantuk.
Sudah 2 jam berlalu mereka di kamar berdua. Tak semenit pun Wiliam meninggalkan kamar rawat itu.
Untuk urusan lainnya juga ia tidak hiraukan, kecuali urusan masalah Melani yang belum kelar.
Sebuah pesan chat di kirim Wiliam. Pesan yang berisi untuk menurunkan Amanda dari dunia industri periklanan, dan juga memblokir agar tidak bisa muncul di televisi.
"Cepat kerjakan tugas dari Tuan" ucap ketua bodyguard pada anggota.
"Siap,bos"
Beberapa orang itu pergi ke sejumlah tempat, menyampaikan pesan yang bisa disebut sebagai perintah urgent.
Siapa pun yang berani tidak mengindahkan perintah,maka harus bersiap-siap jadi saingan di ujung tanduk.
Dalam sekejap, Amanda dan juga ketenaran langsung down ke bawah. Ada juga yang mempublikasikan berita alasan Amanda yang redup seketika.
Sama-sama melakukan perawatan di tempat berbeda. Tapi suasana yang dialami jauh berbeda drastis.
Ada yang ngamuk karena popularitas hancur,ada pula yang kalut karena diajak adu mulut.
10 hari sudah masa heboh itu berlanjut dan mulai redup. Beberapa hari juga Melani telah pulang ke mansion.
Kesehatan Melani yang sudah pulih total itu pun diketahui Tuan dan Nyonya Wijaya, dari berita yang sudah beberapa hari ingin mereka tanyakan langsung.
"Kamu ini bagaimana menjaga Melani,hmm?" tanya marah Tuan Wijaya.
"Sudahlah ko. Yang penting, sekarang Melan sudah baik-baik saja" bela ibu suri.
"Mel,kamu ikut Papa pulang" ujar Tuan Wijaya.
"Benar ini, Pa?" Melani loncat gembira diajak pulang.
"Benar" jawab tegas Tuan Wijaya.
Melani langsung masuk kamar, memasukkan semua pakaian dan barang ke dalam koper besar.
"Kamu benar ingin pulang?" tanya Wiliam nyusul masuk, setelah izin pada tamunya.
"Iyalah. Kalau di sini terus aku selalu anda bully" sindir Melani, karena harus mengurus rumah.
"Baik.Kalau begitu silahkan" Wiliam keluar dengan wajah kecewa.
Dipihak Wiliam ada ibu suri yang mendukung mantu. Atas saran dari ibu suri, Wiliam juga mengemas pakaian untuk pergi dari mansion.
Dua mobil berjalan terpisah jarak, tapi dengan satu tempat tujuan sama.
.
...Rumah Wijaya...
.
Mobil Tuan Wijaya sampai duluan, disusul enggak lama mobil mewah Wiliam.
__ADS_1
"Ngapain kamu kemari!" hardik Tuan Wijaya halangi mantunya masuk pintu rumah.
"Saya hanya ikuti kemana istri saya pergi,Pa" jawabnya dengan tenang.
"Ko, izinkan Wiliam masuk dulu.Malu kalau jadi tontonan tetangga" ucap ibu suri,narik masuk suaminya yang garang.
Tuan Wijaya terpaksa masuk. Wiliam dari belakang juga ikut nyusul masuk atas izin ibu mertua.
"Duduk Wil" ucap ibu suri.
"Loh!.Kok anda kemari" tunjuk sebel Melani.
Dikira tidak akan lihat wajah pria menjijikkan itu lagi,eh malah ketemu dalam hitungan menit.
Nyonya Wijaya mulai angkat bicara, dia ingin anak menantunya tinggal bersama sementara waktu, sampai masalah dianggap penting itu terselesaikan secara persuasif.
"Ya...Ini namanya sama aja bohong, Pa" keluh Melani.
"Tenang Mel. Papa tidak akan biarkan siapa pun untuk menyakiti putri Papa" sahut Tuan Wijaya, mengelus kepala Melani.
Melani ngangguk karena percuma berdebat kalau ibu suri sudah buka percakapan keluarga.
Meski tinggal seatap, sekamar, Melani tetap tidak ingin tidur seranjang.
"Kamu yakin tidur di sofa?" tanya Wiliam.
"Yakinlah. Atau anda saja" tantang Melani yang berkacak pinggang.
"Baik. Tapi kalau Mama lihat, jangan salahkan saya" pura-pura tertindas.
"Bisanya main ancam. Dia pikir aku takut. Cih... Kali ini aku enggak bakal takut" monolog batin Melani, memindahkan bantal dan selimut miliknya ke tempat tidur.
Malam hari setelah selesai makan malam bersama,dan usai berbicara santai sebagai keluarga rukun damai. Kedua pasangan beda generasi masuk ke kamar mereka masing-masing.
Melani dengan percaya diri untuk tidur di tempat tidur baru, yang baru dibeli dengan ukuran size king.
"Kok enggak enak gini?" bolak balik risih tidur.
"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Wiliam lihat Melani duduk risih.
"Spring bed-nya enggak enak. Kita tukaran saja" menarik selimut dan bantal.
Wiliam menurut karena dalam masa pendingin ego.
Melani pun rebahkan tubuhnya di sofa panjang lebar. Dalam sekejap ia sudah tidur lelap.
"Jurus apa yang kamu pakai sampai buat saya luluh,hmm?" membelai pelan wajah cantik itu.
Tidak tega lihat istri harus tidur semalaman di sofa, dia pun memindahkan tubuh kecil itu ke tempat tidur yang luas.
"Tidur yang nyenyak, Mel" ucapnya, mengecup bibir tipis yang sudah beberapa hari tidak digoda.
Wiliam pun nyusul tidur disamping Melani. Ketika setengah kantuk menyerang,dia mendapat pelukan tiba-tiba.
Wiliam menahan posisi agar tidak menggangu lelapnya tidur Melani.
Malam itu Wiliam tidur kaku, tapi hati merasa bahagia.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.