Change Destiny

Change Destiny
Bab 14 Jurus ampuh


__ADS_3

Bab 14.


.


Pertemuan pertama mereka setelah dua tahun berlalu apa akan membawa dampak apes untuk Melani?.


Melani malam itu setelah pulang dari acara pertemuan, memikir cara untuk tolak bala sial setelah bertemu abang adik Lee.


Percaya tidak percaya di era modern, Melani ingin coba melakukan tolak bala yang di anggap mitos.


Sepanjang malam Melani mencari orang pintar yang terkenal mengusir tolak bala.


"Jalan Kantil no... Jalan kamboja no.... " Melani mencatat alamat orang pintar dalam buku agenda.


"Kok nama jalannya semua berhubungan dengan benda mistis" bulu kudu Melani jadi merinding.


"Yang ini, jalan simpang neraka pula" aneh dengan nama jalan kampung di kota sebesar itu.


Melani mengaruk kepala dengan balpoint, ia pusing mau menuju orang pintar yang mana lebih efektif usir sial.


Usai catat mencatat dia pun merebahkan tubuh penuh beban pikiran galau, hati tidak tentram.


.


Di rumah keluarga Lee, Ronald pulang dengan wajah senang setelah pertemuan pertama mereka lagi, yang akan berlanjut ke pertemuan lain.


Lain dengan Josh yang pulang mesti dapat hukuman akibat kenakalannya.


"Uncle, help me please " Josh yang berlutut minta bantuan pengampunan.


"Okey fine. Ini karena uncle orang paling baik" Ronald mengelus kepala bocah kecil bukan karena paling baik, tapi karena sedang happy.


Ronald berjalan lenggang kangkung sambil bersiul memasuki kamar utama rumah itu.


"Ko, aku masuk ya" izin Ronald agar tidak di gampar penguasa rumah.


Begitu Ronald masuk dalam kamar utama besar dan mewah, matanya terbelalak lebar lihat semua yang ada di kamar penguasa itu.


"Ini!!" mulut Ronald menganga kaget.Sambil munggut lembaran bertebar di lantai.


"Bibi kok gak berhenti" kesal sang penguasa rumah menahan amarah.


"Slow, bro. Ini demi kebaikan kita semua" Ronald coba mendekat.

__ADS_1


Niat awal ingin bernego pengampunan si kecil jadi batal. Lebih penting memadamkan amarah gunung merapi yang bisa kapan saja meletus.


"Gini ko, kan Josh makin sering merajuk minta di antar Mama-nya seperti kurcaci di sekolahnya itu. Jadi bibi coba carikan koko ,istri. Biar ada mama baru yang bisa antar jemput Josh setiap hari" jelas Ronald dengan hati-hati.


Mata sipit Wiliam melotot sudah sebesar bola pingpong, tangannya mengepal erat ingin membejek seseorang sebagai pelampiasan.


"Ko, slow-down bro!!." Ronald jadi was-was.


"Saya hidup tidak butuh seorang wanita, begitu juga dengan anak itu. Jika kalau mau cewek antar jemput anak itu, kan bisa cari baby sister" suara penguasa rumah menggelegar sampai lantai bawah kamar bibi.


Josh yang masih berlutut bergetar ketakutan dengar suara penguasa rumah yang tidak pernah menggemakan suara bass emasnya itu.


"Ada apa dengan anak-anak ini?" ibu tua memakai syal, lalu keluar kamar lihat keadaan.


Tap tap tap....


Langkah masih lincah ibu tua itu menghampiri bocah kecil terlebih dahulu yang berlutut gemetar ketakutan.


"Grandma" bocah kecil berlari mendekap erat takut.


"Sana masuk kamar ,bobo" ibu tua mengelus kepala bocah.


Josh tanpa mikir sedang di hukum langsung masuk kamarnya di sebelah dua kamar besar lantai itu.


Ronald langsung bersembunyi di punggung bibi setelah lihat setengah lahar magma melegak.


Emosi Wiliam semakin tertahan lihat wanita tua yang di hargai dalam keluarga. Ia tidak mungkin memaki, memarah pada wanita tua yang sudah membantu menjaga dan merawat anaknya selama ikut dengannya delapan tahun.


"Huff... Syukur, magma tidak jadi muncrat malam ini" Ronald membisik pada ibu tua.


Ibu tua mengerti apa penyebab amukan sang penguasa. Ia pun menjelaskan niatnya bukan hanya untuk satu orang saja, melainkan dua orang sekaligus.


Ronald lebih memilih dengar ocehan ibu tua, dari pada dapat letupan lahar yang bisa membinasakan kapan saja mau.


"Bibi sudah seperti mama kalian, kan?" tanya ibu tua menatap lekat kedua pria melajang.


"Iya" serentak jawab.


"Sebagai mama, maka kami juga punya tugas dan kewajiban untuk merawat, menjaga, hingga memberikan kalian keluarga baru. Sampai itu semua terjadi, baru tanggung jawab kami sebagai orang tua baru sempurna." jelas ibu tua.


Ronald dan Wiliam ngangguk dengar ceramah.


"Terutama kamu, Wil. Kamu juga sudah merasakan sebagai orang tua meski bukan ayah kandung. Kamu pasti punya perasaan dan kewajiban pada Josh, kan?"

__ADS_1


"Tapi, bi" Wiliam ingin menghentikan nasehat ibu tua.


"Tidak ada tapi. Kalian pikir, bibi mu ini yang sudah tua bisa hidup sampai ratusan tahun?.Kita tidak tau kapan bibi di panggil. Mungkin habis ini, besok, lusa, tahun depan, atau sepuluh tahun lagi" jurus ampuh orang tua biar tidak di bantah, saat menasehati.


"Bibi hanya harap kalian bisa keluarga yang bisa kalian sayangi dan menyanyangi kalian, atau setidaknya ada teman saat kalian tua nanti" petuah ibu tua makin mendalam masuk ke ruluk sanubari.


Tapi ibu tua tidak yakin jika petuah dan jurusnya bakal mampu menembus batin seorang Wiliam Lee. Batin yang keras sekeras batu akik mungkin.


"Cam kan itu!!. Apa salah jika kalian mengabulkan keinginan terakhir bibi kalian ini, hum?" drama menyentuh jika di resapi pendengar budiman.


Sesudah puas berceramah, ibu tua kembali turun masuk kamar tidurnya.Siapa bilang tidak takut menceramahi salah satu keponakannya itu, saat berceramah tadi tangan, kaki serta jantung di tahan semampunya untuk tidak bergetar kencang menghadapi salah satu dari mereka.


"Ko, Ci, aku pasrah jika anak kalian ingin melajang seumur hidup" ibu tua memandang sedih bercampur aduk lemas gemetar ,atap langit kamar tidur.


Belum lagi pesan dari ibu besan yang ingin lihat cucu mereka punya keluarga dan generasi keturunan melanjutkan garis marga Lee.


Teringat cara efektif lain untuk membuat dua pria melajang tua untuk nurut.


Selama ini nenek luar mereka jarang berkontak mata langsung dengan dua cucu ini. Hal itu digunakan ibu tua mengundang ibu besan bertatap muka langsung, kebetulan dua bocah tua sedang ngumpul di Indonesia karena urusan bisnis.


Hehehe....


Ibu tua senyam senyum menekan tombol pencarian kontak nomor ibu besan.


Tit tit tut tut...


"Selamat malam, bu besan" sapa basa basi ibu tua.


"Malam, ada apa bibi besan?" jawab nenek di seberang daerah.


"Saya perlu bantuan. Ini mengenai dua cucu anda" ibu tua.


"Apa terjadi sesuatu sama mereka" panik nenek di seberang.


"Iya"


Nenek di seberang mendengar laporan dari ibu tua. Betapa sedih kesal hatinya dengar laporan itu. Mengapa putrinya melahirkan bocah nakal menyusahkan sampai setua itu.


Segera nenek ambil tindakan untuk bertatap muka, dua hari kemudian.


.


Terimakasih atas dukungan semua.

__ADS_1


Sehat sejahtera untuk kita selalu 🙏


__ADS_2