
Bab 31
.
Ronald masih minta ahli IT melacak keberadaan terakhir dua wanita tua berada. Dan Wiliam juga menelpon orang suruhan ikut turut melacak dari Cctv rekaman terakhir.
Kusut kacau kedua pria dewasa dengan sibuk kotak katik ponsel.
Mereka sampai lupa jam makan malam sudah lewat, dan membiarkan seorang bocah merajuk dalam kamar tanpa makan malam sama sekali hingga tertidur .
Jadwal kepulangan Wiliam ke Amerika sementara dibatalkan ,sampai dapat kabar tentang dua wanita tua yang hilang seharian belum ketemu.
Pagi itu karena kurang fokus, Josh bangun seperti anak terlantar tanpa orang tua ngurus dirinya yang hendak sekolah.
Muka murung manyun Josh menghampiri kedua pria yang duduk termenung dengan pakaian semalam panik.
"Dad, Uncle. Josh mau sekolah" pamitnya belum sarapan.
"Mmm... " Wiliam berdehem sambil mijat pelipis nyeri.
Sungguh beda jika tidak ada yang mengurus semua kebutuhan bocah itu. Biasa ada yang ingatkan untuk sarapan atau sekedar minum susu,hari ini dia tercuekin oleh pria dewasa gabut.
Langkah kecil itu keluar menuju mobil siap mengantarnya ke sekolah.
"Tuan muda tidak tunggu Tuan Ronald?" tanya supir.
"Tidak, Pak. Uncle dan daddy sudah lupa sama Josh" adu bocah minta diantar cepat.
Mobil pun bergerak tinggalkan halaman rumah mewah. Pelayan rumah pun kasih tau kalau anak majikannya itu pergi tanpa sarapan.
"Kenapa kalian tidak minta dia sarapan dulu, haa!!.Apa begini tugas kalian!!" marah Wiliam, kecewa sama kinerja para pelayan.
"Mulai sekarang, kalian semua ku pecat!!" mengusir spontan.
"Tidak ada gunanya salahkan mereka. Jika ada bibi maka ini tidak kacau" sahut Ronald ikut bernada tinggi.
Aksi baku hantam pun terjadi, karena tidak ingin dipojokkan lawan bicara.
Baghh.. Bughhh....
Bogem demi bogem mendarat di wajah tampan itu. Masing-masing sudut bibir mereka pecah merekah keluar darah.
Tak seorang berani meleraikan tonjokan, sampai sebuah telepon rumah berdering mencari mereka.
"Tuan, Nyonya Minah telepon" ucap pelayan rumah.
Ronald segera berhenti menonjok, dan jalan mengangkat panggilan telepon.
__ADS_1
"Bi, Bibi dan Omah kemana?.Tolong jangan marah sampai kabur?.Kasihan cucu Bibi pergi sekolah gak makan dari semalam" adu Ronald panjang lebar.
Sebagai pengasuh sedari bayi merah, tentu ibu tua merasa amat sedih sama bocah kecil. Tetapi karena ada yang minta dia untuk kekeh merajuk sampai kemauan mereka tercapai, dan penguasa tidak asal memaki orang ibu tua jadi berkeras hati.
"Bilang saja kita tidak mau pulang, sampai tuntutan terpenuhi" ujar pelan nenek.
"Ron, bilang sama kokomu kalau Bibi hanya akan pulang setelah emosi kami mereda dan dia mau kabulkan permintaan kami" tegas ibu tua berpesan.
"Baik, Bi. Tapi sekarang Bibi dan Omah tinggal dimana?.Biar Ronald jemput kalian, ya" bujuknya perlahan.
"Dengar ya, Ron. Sebelum semua kalian patuhi, kami tidak akan pulang" ancam nenek,merebut telepon.
Tutt... Tutt....
Telepon di tutup sepihak sama nenek yang tidak main-main dengan ucapan sendiri.
"Bilang apa Oma?" tanya Wiliam mengusap darah di sudut bibir.
"Minta kita turuti kemauan mereka" ketus dingin balas Ronald, membelakangi Wiliam.
"Tidak!.Sampai kapan pun gak mungkin ku turuti mau mereka satu ini" marahnya menggema seisi rumah.
"Sebenarnya apa mau Bibi dan Omah, sampai kamu tidak mau kabulkan. Apa susah sampai tega lihat Josh seperti tadi, haa!!" debat Ronald ingin tau duduk perkara.
"Kamu mau tau kan?.Baik, akan ku kasih tau" menghentikan langkah kaki adiknya.
Jederrrr....
Jantung serta hati Ronald seketika berhenti detak. Antara percaya dan enggak pada ungkapkan abangnya. Wanita yang ia sukai mau di nikahkan sama abangnya.
Mustahil ia rela melepaskan begitu saja wanita impian pada permintaan Bibi dan Omah. Susah payah baru menghidupkan denyut jantung serta hati setelah sekian lama membatu tidak ada kemistri terjalin sama wanita lain.
"Gak.... Gak mungkin. Pasti karena kamu asal tebak, ya kan Ko!!" shock Ronald tidak terima kenyataan.
"Kalau tidak percaya, kamu bisa tanya langsung siapa cewek yang dimaksud. Lagian saya juga tidak suka sama cewek macam dia" ujar Wiliam, lihat reaksi adik yang berlebih membela pada wanita yang sedang dibicarakan.
Ronald berjalan meninggalkan sang abang duduk merintih kesakitan, begitu juga pada dirinya yang sakit terluka luar dalam.
Di bukanya ponsel genggam, lalu mengirim chat singkat pada Melani untuk bertemu siang itu pada resto terdekat.
Sesudah mandi dan berpakaian rapi, Ronald pergi menunggu Melani pada tempat janjian. Wajah bonyok memar untung saja bisa tertutupi pakai kacamata hitam dan masker.
.
...Resto...
.
__ADS_1
Ronald duduk menunggu sambil menyeruput segelas kopi latte dan waffel penganjal perut.
Pikirannya penuh pertanyaan bertubi-tubi ingin ia sendiri langsung tanyakan dan dengar langsung jawaban itu.
Empat belas menit Ronald duduk menunggu sambil merenung mikir. Wanita yang di undang akhirnya tiba tepat waktu tidak terlambat.
Beda Ronald, beda pula Melani yang datang karena takut akan masa depan perusahaan kecilnya.
"Selamat siang, Tuan" sapa Melani gugup, menarik kursi tepat dihadapan pengundang.
"Siang, silahkan duduk dan mau pesan apa?" mempersilahkan.
"Tidak perlu repot. Kita langsung ke topik saja" jawab Melani semakin gugup.
"Apa anda tau kalau kakak saya dan anda... " Ronald coba meyakinkan diri bertanya hal tersebut.
"Apa Tuan Wiliam sudah kasih tau apa yang terjadi ?" cemas panik Melani,takut dana utama bakal ditarik cepat jauh dari dugaannya.
Ronald semakin terpuruk sakit, karena wanita itu ternyata sudah tau maksud topik pembicaraan siang mereka .
"Jadi kamu bersedia terima permintaan keluarga kami?" lebih memastikan jawaban.
"Jika memang itu keputusan yang terbaik untuk semua, aku bersedia" jawab pasrah Melani dengan segala keputusan yang dibuat investornya.
Keduanya sama-sama menghela nafas pasrah pada keadaan.
Jika mereka benar-benar menyimak dengan santai, mungkin jawaban atas pertanyaan tidak seberbelit dan ngawur jadinya.
Bisa jadi Melani shock dan menolak mentah-mentah pernikahan sepihak. Dan Ronald akan memberikan suntikan dana baru dengan aset yang ia punya.
Akan tetapi yang namanya hidup, jika nggak ada problema dan bertele-tele pasti hidup tidak berwarna warni jadinya. Rasanya ambyar kurang lengkap tanpa manis, asem, asin, pedas, pahit, getir.
Yang buat kisah hidup bagi setiap orang, bakal tidak ada cerita baru menarik lainnya. Dengan adanya kekurangan serta kelebihan dari kita, maka tau apa tujuan kita untuk saling melengkapi di dunia.
.
...****************...
.
Akankah tambah kacau ribet bertele-tele cerita kehidupan mereka ?.Atau menjadi lebih baik?.
.
Terima kasih atas dukungannya.
Salam sehat sejahtera selalu untuk kita semua 🙏
__ADS_1