
Bab 58
.
Satu jam sudah tangan halus Melani memijit kerasnya tubuh Wiliam berotot besi.
"Sudah siap" jutek Melani, wajah capek mijat.
"Mmm...." dehemnya memiringkan tubuh dan geser kaki.
"Tuan. Aku sudah siap mijit, kapan keluar?" omel Melani.
"Tidur saja" sahut Wiliam menepuk bantal disampingnya.
"Ogah!!" jawab kesal Melani turun dari tempat tidur, merasa dibohongi.
Dia kembali coba buka pintu dengan kata sandi baru beberapa kali lagi. Tetapi tetap gagal dan duduk bersandar di pintu.
Tingkahnya itu diperhatikan Wiliam yang pura-pura tidur meski ngantuk banget. Rasanya seperti memiliki anak kecil penganti Josh ,yang sukar dinasehati saat rasa penasaran kecilnya bergejolak.
"Ihh....Sebel..!!" omel Melani menggesek tumit di lantai dan mukul paha,sama persis anak kecil yang merajuk minta sesuatu.
Ctak....
Wiliam menjentikkan jemari dua kali, lampu di kamar itu pun padam jadi gelap gulita.
Huaaa..... Tangis Melani ketakutan gelap gulita.
"Ssttt.... Jangan berisik. Atau nanti hantu yang lewat, pikir kamu itu teman mereka" ujar Wiliam dengan suara ngantuk.
Melani menutup mulutnya, namun tetap takut setengah mati pada kegelapan tanpa cahaya.
Wiliam pun teringat bahwa Melani ada phobia dengan kegelapan, ia menghidupkan lampu tidur yang remang-remang.
Kakinya berjalan menghampiri istri kecil yang meluk lutut ditekuk erat.
"Kamu takut gelap?" tanya Wiliam jongkok dihadapan Melani.
"Aku mau keluar" jawab Melani sesenggukan dan angguk.
"Malam ini,tidur disini saja" memapah berdiri tubuh gemetar ketakutan.
"Enggak mau" tolak Melani.
"Kalau tidak nurut, nanti saya suruh matikan seluruh pasokan listrik" Wiliam nakutin.
Hikss... Hikss.... Melani nurut dengan rasa takut, telapak tangan jadi sedingin es.
"Dah, sekarang tidur. Dan jangan berisik" ucap Wiliam, menyelimuti.
Melani memiringkan tubuh ketakutan sampai ujung tempat tidur. Sedangkan Wiliam sudah membuka pintu alamat mimpi baru.
Sudah dua jam berlalu, namun mata Melani masih melek penuh kesadaran.
Jederr... Gemuruh petir bersama kilatan halilintar menembus gorden tipis kamar warna putih.
Posisi awal memunggungi pria di samping, jadi berbalik berhadapan,dan menutupi seluruh wajah dengan selimut. Aroma tubuh maskulin tercium slow menelusuri indera penciuman.Terasa nyaman dan menenangkan sampai tanpa sadar tertidur ikut masuk mimpi, dengan sahutan gemuruh dan percikan halilintar.
Pagi hari, Wiliam terbangun dengan kehangatan yang lembut di dadanya. Sebuah pelukan dari wanita yang tertidur pada tempat yang sama.
Pertama kali Wiliam tidur dengan seorang wanita di atas tempat tidurnya. Wajah merah perlahan menuruni tempat tidur tanpa mengusik wajah cantik istri kecil.
__ADS_1
"Kamu beruntung, saya bisa mengontrol.Jika itu pria lain,pasti tubuh kamu sudah di santap" ucap pelan Wiliam menutup lebih tinggi selimut sampai batas leher.
"Emmm....Sudah pagi" Melani terbangun mengeliat nurunkan selimut, renggangkan tangan ke atas.
"Cepat bangun" titah Wiliam berdiri berlipat dada.
"Siap!" sahut Melani berdiri cepat turun.
Melani turun, tapi berdiri tegak karena pintu dari semalam tidak bisa terbuka.
"Kenapa?" tanya Wiliam menatap.
"Pintunya terkunci" Melani nunjuk pintu.
Wiliam berjalan membukakan pintu agar Melani bisa keluar cepat.
"Jangan ngintip" Wiliam menoleh kebelakang.
"Iya" sewot jawab Melani berbalik memunggungi.
Setelah pintu terbuka, Melani berlari kecil cepat keluar .
"Kamu bersiap ikut saya olahraga" ucap Wiliam, sebelum pintu tertutup.
"Baik" lesu jawabnya kapan bebas.
Selang beberapa menit, Melani sengaja berlama-lama di dalam kamarnya setelah mandi segar.
"Kalau mau olahraga ngapain ngajak. Yang ada aku di tindas" mengeringkan rambut dengan hairdryer.
Tokk... Tok....
Panjang umur orang yang baru di gibah. Niat untuk hindar tidak terelak lagi.
Ketukan semakin keras,Melani terpaksa harus menukar pakaian kembali.
"Sabar napa. Emang Om Jin, begitu kedip mata langsung cling, siap" omel Melani memakai pakaian olahraga.
"Lama banget" menarik tangan Melani segera ikuti dirinya.
"Aku belum pakai sepatu" jawab Melani nunjuk kaki bersandal rumah.
"Begini kalau cewek. Ribet tidak menentu" berdiri menunggu.
Sepatu olahraga terpakai sudah, joging pun dimulai sebelum Wiliam pergi ngantor. Wiliam mengajak Melani ke tempat gym pribadi,yang ada di vila belakang rumah.
"Kamu pakai treadmill itu" tunjuk Wiliam pada alat treadmill sepeda.
"Oo..." berjalan nuruti perintah.
Sedangkan Wiliam menggunakan alat treadmill yang menguatkan otot lengan,kaki dan perut.
Tidak lama waktu olahraga mereka di ruang gym pribadi.
Pengantar koran yang melintas rumah mewah itu menyapa pemilik rumah yang baru keluar dari ruang gym hendak masuk rumah.
Sudah lama pengantar koran setia mengantar koran setiap pagi ,selama tiga tahun terakhir. Namun dirinya tidak pernah melihat pemilik rumah mewah berolahraga dengan seorang wanita.
"Selamat pagi Tuan" sapa pengantar koran (B.Inggris).
"Pagi juga" mengambil koran (B.Inggris).
__ADS_1
"Siapa Nona itu?" tanya pengantar koran (B.Inggris).
"Saudari saya" datar jawab (B.Inggris).
Pengantar koran ngangguk percaya apa jawaban pemilik rumah. Karena Memiliki perawakan sama khas Asia. Pengantar koran pun berpamitan untuk mengantar koran keliling setelah basa basi singkat.
Melani sehabis olahraga kembali mandi membersihkan tubuh lengket dari keringat. Dan berlanjut sarapan setelah bersih segar.
Sambil ngunyah sarapan, Melani bertanya tugas yang mau dikerjakannya.
"Oh,kamu ikut saya ke kantor" jawabnya santai.
"Ya ampun.Ini orang kok plin plan .Kalau mau suruh aku ikut ngantor, seharusnya bilang dari tadi.Jadi bisa pakai baju formal. Senang banget kalau lihat aku tersiksa " oceh batin Melani, mengunyah kasar makanan yang masuk.
Wiliam lihat kekesalan terpampang jelas di raut wajah Melani. Semakin Melani ingin melawan, si suami juga punya segudang cara untuk menaklukkan.
Biasanya ada Josh yang mengusik, sekarang melampiaskan pada orang yang lebih tau kata 'Menurut'.
"Mau kemana kamu?" tanya Wiliam.
"Ganti baju.Tidak mungkin pakai baju casual ke kantor" jawab jutek.
"Tidak usah. Jam meeting tidak bisa diundur" berdiri nunjuk tas kerja untuk di ambilkan.
"Yakin?" serahkan tas kerja.
"Mmm...Saya bos-nya.Jadi terserah saya" ketus balasannya.
"Terserah dech" bahu bergedik, kaki ngikutin jejak.
ART gemuk memandang kedua orang yang keluar tanpa debat heboh. Seakan pasangan serasi di dunia ini terlahir hadir dalam rumah mewah.
"Oii... Lihat apa kamu" ART kurus nepuk pundak ART gemuk yang ngintip dari balik gorden jendela.
"Lihat Tuan dan Nyonya" nunjuk mobil yang melaju.
"Awas bintitan. Uppss, ketahuan maksud ku" canda ART kurus.
"Sebenarnya mereka saudara atau suami istri ya?. Kalau saudara, tidak mungkin tidur sekamar. Kan bukan muhrim?" ART gemuk penasaran dengan kejadian kemarin malam.
"Nah kan,kamu juga sependapat dengan aku sekarang. Mendingan tanya sama Pak Legi. Kan beliau orang lama" ART kurus terpancing gosip.
"Jangan.Nanti kalau ketahuan,kita bakal dipecat sama mereka" tahan ART gemuk.
"Jadi harus bagaimana?" menggaruk dagu tidak gatal.
"Cukup kita amati saja. Kalau suami istri, pasti mereka sering tidur satu kamar. Kalau calon, berarti tidak lama lagi ada acara" ucap ART gemuk.
"Nah,kalau saudara?" tanya ART kurus.
"Kalau saudara, kalian bersihkan rumah ini" tiba-tiba sosok lain muncul dan menjewer mereka.
"Ampun Bik" jawab serentak.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.