
Bab 71
.
Mereka semua berkumpul duduk memadati meja makan dengan singkat.
Tidak lama mereka telah selesai sarapan singkat itu, karena tuan rumah harus ngantor.
"Pa,Mel ikut" seru Melani, saat Wiliam berjarak jauh.
"Kamu ini. Sudah tau ada suami dan keluarganya datang, masih saja bertingkah manja" mencubit pucuk hidung Melani.
"Aishh... Boleh ya. Mel bosan di rumah. Lagian sudah ada Mama" rengeknya mengandeng manja tangan Tuan Wijaya.
"Kali ini nurut ya. Lagian kamu saja tidak di izinkan pergi kantor sendiri, sudah pasti tidak diizinkan juga ke kantor Papa" memeluk sayang.
"Ehemmm....." suara yang buat Melani seolah terpenjara dalam sangkar emas tiba-tiba nongol.
"Kamu jangan halangi Papa-mu kerja" ucap dingin Wiliam, meletakkan tangan dalam saku celana.
"Tuh dengar kata Wiliam" melepaskan pelukan.
Bibir Melani manyun runcing, kebebasan semakin menjauh dari bayangan masa depan.
Tuan Wijaya melambaikan tangan pada putri kesayangan,lalu masuk mobil yang sedang menunggu untuk ngantar dirinya.
"Kamu mau kemana,hum?" tanya Wiliam diacuhkan.
Kaki Melani berjalan menghentak kesal menuju kamar tidurnya, tanpa peduli pada Wiliam dan keluarga barunya.
"Daddy, Mami kenapa?" tanya bocah penasaran.
"Mami seperti kamu yang suka ngambek"
"Ohh... Berarti Mami mau minta sesuatu ya?,tapi Daddy nggak bolehkan" memperjelas maksud sang Daddy.
"Kamu jangan seperti dia,ya. Daddy banyak kerjaan, bukan hanya untuk jaga kalian terus"
"Ok ,siap Dad. Josh akan bantu Daddy jaga Mami. Tapi..." ucap Josh ,menaik turunkan alis menginginkan sesuatu.
"Kalian sama saja. Nggak bisa tanpa imbalan" lupa kalau dirinya sendiri juga contoh yang sama.
Wiliam tidak mengindahkan perkataan bocah kecil, karena masih harus mengawasi ketat istrinya.
Sambil menunggu waktu berkunjung habis,Wiliam mengerjakan tugas kantor terpending secara virtual online di sudut rumah Wijaya.
"Sudah sore,kami mau pamit pulang dulu Bu besan" pamit ibu tua pada nyonya rumah.
"Iya benar. Lain kali baru kita sambung" sambung nenek.
"Kok enggak nunggu sekalian makan malam saja" basa basi ibu suri.
"Kapan-kapan saja. Lagian,kalau Josh tau Mami Daddy-nya tidak akan pulang rumah, pasti akan buat Melani repot" sahut ibu tua,tau sifat bocah yang dibesarkan sejak brojol ke dunia.
"Baiklah. Lain kali kami akan menjamu bibi dan nenek besan" mengantar.
Setelah ibu tua berhasil membohongi Josh untuk ikut pulang bersama mereka. Mereka pun segera pulang.
__ADS_1
"Bye Mami,bye Daddy,bye Grandma" ucap Josh melambai sedih.
"Bye Josh" ibu suri melambai bersama Melani.
"Mel,kamu bantu Mama siapkan makan malam,yuk" ajak lembut ibu suri, menarik tangan Melani ke dapur.
Tumben-tumbennya angin sepoi mamiri hampiri hati ibu suri. Biasanya suka ngajak dengan suara cempreng,ini karena ada mantu idaman menampakkan sisi lembut ke ibuan.
"Ma, Mel boleh nginap kan" ambil kesempatan dalam kesempitan.
"Kalau kamu nginap,terus Wiliam tidur dimana?" tanya ibu suri sembari membantu Mbok masak beberapa menu spesial.
"Gampang,Ma.Nanti Mama suruh dia pulang saja" jawab mudah Melani.
Cetakk....
Ibu suri jitak pelan kepala Oon putrinya itu dengan ujung Sutil penggorengan.
"Sakit,Ma" keluh Melani gonyor kepala.
"Bagus kalau tau sakit. Kamu itu sudah jadi istri orang" oceh ibu suri.
"Ya iya aku istri orang.Masa istri kucing" celetuk sahut dongkol Melani.
"Jawab lagi" menjewer telinga Melani.
"Ma, boleh ya" merengek manja.
"Ada apa? " tanya orang yang suka tiba-tiba nongol tanpa diundang.
"Ini Melani, katanya mau..." terputus.
"Tapi saya mau ambil air" sahut Wiliam, melihat ibu mertua mengkode bahwa Melani ingin bermalam.
"Nanti aku ambilkan" terus mendorong balik.
Lebih sukar bagi Wiliam hadapi bocah expired dari pada bocah sungguhan. Entah bagaimana caranya agar membuat Melani patuh tidak kabur hilang tanpa jejak.
"Kak Agung,kemari" panggil Melani melambai.
"Ada apa ,Mel?" tanya Agung mendekat.
"Kakak temani Tuan Wiliam ngobrol ya. Mel, mau bantu Mama" mengedipkan mata kasih kode.
"Ok. Kakak akan temani Om ini" jawab dingin Agung,hempaskan bokongnya di sofa.
Melani segera lari menjauh, malas berurusan dengan Wiliam.
Baru saja beberapa menit di dapur, terdengar suara balita nangis bersahutan.
"Ma,Mel bantu kakak ipar dulu"
"Sana bantulah" kasih izin.
Melani mengendong balita berumur 1 tahun keluar dari kamarnya, untuk ditenangkan. Karena yang tua tidak mau berbagi kasih sayang.
Cara Melani menggendong bayi juga tampak piawai.
__ADS_1
"Kadang seperti anak-anak, sekarang terlihat pantas jadi Mama" gumam Wiliam.
"Anda barusan ngomong apa?" ketus Agung bertanya.
"Bilang sikap Melani" sahut santainya.
"Kak, Leonardo mirip aku nggak?" tanya Melani gendong bayi dekati bapaknya.
"Rambutnya mirip ,Mel" canda Agung, mengambil alih gendongan.
"Iya,ya. Sama-sama hitam lurus" tawa Melani.
"Kalau mau anak yang mirip kamu,saya bisa kasih" bisik Wiliam.
Bulu kudu Melani merinding dengar bisikan berbau dewasa. Dari tempat duduknya,dia menggeser lebih jauh.Apa lagi teringat kejadian belasan jam lalu ,yang buat dia terengah-engah sampai sesak nafas.
"Kak,Mel ke dapur saja" risih dengan lirikan ujung mata Wiliam yan mengarah pada tubuhnya.
"Mel, tolong sekalian buatin susu ,ya" ujar Agung, menimang bayinya.
"Hai,nama kamu Leonardo" sapa Wiliam pada bayi imut campuran Indo keturunan dan bule.
"Kenalkan,ini Opa Wiliam, nak" Agung mengenalkan putra bayinya pada tamu.
Sang bayi senyum merentangkan tangan. Tangan Wiliam pun menyambut bayi dengan sebuah gendongan.
Meski dulu jarang gendong Josh kecil, tapi ia masih ingat caranya hanya untuk sekilas gendong.
Jari jemari mungil itu mengelus rambut-rambut halus yang tumbuh di pinggiran wajah tampan Wiliam,dan membuat sang bayi tertawa geli.
"Leo, tidak boleh begitu sama tamu. Sini Papi gendong" ucap Agung mengajarkan tata krama orang Indonesia pada anaknya sedari kecil.
Jemari kecil itu coba meraih wajah Wiliam, merasa seperti sebuah mainan yang buat geli tapi senang untuk dilakukan.
"Leo,ayo mimik cucu" ucap Melani niru bahasa balita,sambil goyang botol susu yang hangat.
"Sini,kakak aja Mel"
"Ok,Papi" canda Melani.
Seseorang melihat Melani tidak begitu terhadap dirinya,dan tentu menimbulkan rasa cemburu.
Melihat Melani yang hendak ke tempat lain bukan dapur, Wiliam ngikutin sampai dimana istrinya berhenti.
"Halo,Bel. Ini aku Melani. Besok saya akan kembali masuk kantor, semua berkas kamu letakkan di atas meja kerja aku ,ya" titah Melani bersuara pelan nelepon pada orang diseberang.
"Ok,Nona" jawab sekretaris.
Saat berbalik, Melani tidak sengaja mencium bibir Wiliam yang sedang menguping pembicaraan.
Tentu Wiliam tidak marah,dan membiarkan istrinya ingin berapa lama menciumnya dengan posisi setengah membungkuk tanpa bergeming.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.