
Bab 151
.
Beberapa menit setelah pencarian yang rahasia berjalan, salah seorang pengawas acara yang mencari di sudut tempat luar acara jamuan berada, mendengar suara rong-rongan sayup-sayup nyaring.
Langkah orang tersebut membawa senter tangan, menyinari tempat kolam Melani habis diceburkan.
"Are you alright ?" tanya pengawas itu mendekat dengan cahaya senter (Apa kamu baik-baik saja?)
"Ya" jawab Melani memeluk lutut.
Pengawas membantu Melani yang basah kuyup berdiri. Kemudian menghubungi rekan lainnya untuk kabarin Wiliam.
Dengan langkah cepat Wiliam menghampiri tempat kejadian. Dirinya yang menyetujui untuk tidak mempublikasikan status mereka, meminta pengawas menunjukkan jalan samping agar tidak terekspose.
Sadar bahw istri kecilnya membeku kedinginan,ia pun melepaskan jas agar menghangatkan tubuh menggigil kedinginan itu.
Hacimm...
"Pulang nanti mandi air hangat" ucap dingin Wiliam.
"Sudah aku dibully sama wanita-wanita itu, masih berani juga dia ketus ke aku" gerutu batin Melani dalam keadaan menggigil kedinginan.
Sampai juga mobil yang ditumpangi ke hotel tempat mereka bermalam.
Muka Melani yang tertutup setengah jas, berjalan cepat hindari rumor yang kapan saja bisa menyebar secepat virus.
Ting...
Pintu lift terbuka di lantai kamar VIP mereka.
"Cepat mandi!" hardik Wiliam, lihat Melani sibuk buka koper.
"Aku ambil baju dulu.Hachimm..." sahutnya tidak mengindahkan langsung perintah Wiliam.
Wiliam pun langsung bopong tubuh lembab Melani yang lagi nyari barang perlengkapan dalam koper.
"Turunkan aku!!" ujar Melani memukul pundak Wiliam berjalan masuk kamar mandi.
"Kamu terlalu sukar dibilang" tidak peduli dengan rengekan sebentar itu.
Hachimm...
"Awas saja kalau menularkan virus" ketus Wiliam memalingkan wajah.
"Makanya turunkan aku.Atau aku sebarkan kuman penyakit" pura-pura ngancam.
Dengar kata-kata Melani mengancam dirinya, Wiliam teringat untuk bertanya beberapa hal.
"Sudah sampai, sekarang turunkan aku" Melani memberontak untuk turun.
"Kamu masih utang saya beberapa jawaban" mata Wiliam menatap tajam orang yang diturunkan.
Melani langsung masuk kamar mandi, dan ketiga mau tutup pintu, pintunya tertahan Wiliam.
"Apa lagi sih?" ujar kesal Melani.
"Ingat mandi yang bersih, jangan sampai virus menular" Wiliam ingatkan istri yang mandi lebih cepat darinya.
"Iya" memutar bola mata nya sambil menarik pintu.
__ADS_1
10 menit kemudian...
Melani telah selesai mandi membersihkan tubuh dengan sabun dan shampo, serta membalut tubuh dengan handuk kimono tanpa dalaman.
Walaupun tiap mili centimeter sekujur tubuh sudah dijamah Wiliam, namun kadang Melani masih malu-malu untuk menonjolkannya.
Hachiuuu.....
Terdengar suara bersin yang menggelegar dari dalam kamar mandi.
Wiliam yang baru ngawasin putranya untuk tidur setelah menemukan ibu cantik, pun menyudahi percakapan jarak jauh karena gangguan sesaat.
"Dia pasti sudah selesai" gumam Wiliam meletakkan ponsel di atas meja, berjalan ke kamar mandi.
"Kalau begini ceritanya,aku nunggu dia tidur" gerutu Melani sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
"Kamu sudah siap ya?" tanya Wiliam dari balik pintu penghalang keduanya.
"Sudah" jawab Melani mengucek hidung meleran.
"Cepat keluar" berjalan membelakangi pintu kamar mandi.
Melani mengintip dari celah pintu yang dibukanya sedikit.
"Nyuruh orang keluar, tapi enggak pergi" dumal Melani menutup balik pintu.
Hachiuuu....
Lagi-lagi hidung yang tidak bisa menipu sedang kedatangan virus, mengeluarkan suara untuk didengar.
Tekanan darah orang yang sedang menunggu di luar kamar mandi naik cepat, karena belum ada jejak istrinya keluar dari dalam kamar mandi.
"Kalau tidak saya paksa keluar, pasti tetap akan ada di dalam sana" kesal Wiliam berbalik hampir Melani.
"Buka pintu!,Atau saya dobrak" ancam serius Wiliam sambil berkacak pinggang nungggu pintu kamar mandi terbuka.
Tau bagaimana sifat Wiliam jika sudah di puncak ambang kesabaran, Melani pun membuka perlahan pintu.
"Maju kena, mundur kena" gerutu Melani deg-degan tekan handle pintu makin turun.
Tampak wajah tampan dingin sedang berdiri memandang diri ini, yang serba salah menarik handuk kimono menyentuh kulit langsung.
"Cepat keringkan rambut kamu" ketus Wiliam berganti masuk kamar mandi tanpa aba-aba.
"O-ok" manggut canggung.
Ketika Wiliam masuk kamar mandi, dan mulai terdengar suara pancuran air shower, Melani mencari lengkapan baju untuk dipakai.
Swingg.....
Suara hairdryer mengeringkan rambut yang setengah basah, tidak hanya mengeringkan rambut, tapi juga menyapu hangat wajah ini.
Hachiuuu....
"Aku harus cepat makan obat" ucap Melani mematikan tombol on hairdryer.
Entah bagaimana caranya untuk mendapatkan obat yang dibutuhkan, namun yang pasti ia segera dapatkan obat flu itu dari office boy hotel.
"Thank you" ucap Melani tidak lupa membayar obat titipan.
Dari pada dengar pertanyaan dan menjawab Wiliam, sehabis minum obat Melani pilih pura-pura tidur.
__ADS_1
"Ayo tidur dong mata.Masa udah minum obat tidak mau nurut" oceh Melani menutup rapat wajah pakai selimut.
Orang di dalam kamar mandi juga hampir selesai, setelah 20 menit membersihkan tubuh.
Sensasi segar sehabis mandi mampu nenangkan tegangnya tubuh seharian keluar. Aroma tubuhnya yang hanya terbalut handuk di bagian pinggang hampir penuhi ruangan kamar VIP yang ia lewati.
Dari balik selimut, hidung Melani mencium aroma sabun yang makin dekat.
"Ayo tidur!!" omel halus Melani,paksa mata terlihat tidur normal.
"Kamu sudah tidur?" tanya Wiliam, berdiri ngeringkan rambut.
Biar tidak ketahuan bohong, Melani tidak menyahut atau memberi bahasa tubuh. Dirinya tidak bergeming dengan posisi tidur miring selama dia mampu bertahan.
Wiliam meninggalkan istri yang sudah tidur, mengeringkan rambut dan pakai baju untuk nyusul tidur.
Keduanya pun masuk alam mimpi masing-masing, dengan kejadian berbeda.
Kelang beberapa jam, Melani memberikan signal tubuh terserang sakit. Tubuhnya meringkuk kedinginan dalam selimut, gigi bergertak disertai suara rancau.
Sontak orang disamping terusik dengan respon tubuh Melani yang tidur begitu gusar.
Tangan Wiliam menyapu selimut nutupin wajah istrinya,lalu mengukur suhu tubuh. Sebagai alat thermometer manual jaman doelo, Wiliam jadi panik untuk cari solusi.
Teringat bahwa pelatihan ketika jadi pramuka masa sekolah untuk menghadapi orang demam dalam situasi tidak terduga, Wiliam masuk kamar mandi mencari apa yang dia butuhkan.
Handuk yang pertama kali ditemukan, dibasahi air dari shower. Kemudian dibawa keluar untuk ditempelkan pada kening Melani yang begitu panas.
Mungkin saja kalau ada thermometer,suhu tubuh Melani terukur 39 derajat Celcius, dan butuh penanganan tim medis.
Wiliam menghempas selimut, dan lepaskan baju yang melekat pada tubuh istrinya.
Jika dia dalam keadaan normal, pasti lihat tubuh mulus tersebut akan ikut merespon. Namun semenjak kehilangan bakal calon bayi 2 bulan lalu, Wiliam menghilangkan ego hasrat.
Tangan Wiliam menggosok seluruh tubuh Melani, agar lebih hangat dan kurangi rasa nyeri menusuk tiap tulang belulang.
Satu jam lebih Wiliam menggosok tubuh Melani, sambil ganti beberapa kali handuk basah untuk kompres.
"Untung saja demam kamu sudah turun" mencek suhu tubuh.
Erangan rancau serta gertakan gigi sudah hilang. Wiliam juga baru nyimak bahwa ada samar-samar bekas jejak tangan menyapu wajah Melani.
"Siapa yang sudah berani lakukan ini ke kamu,hmm?" tanya Wiliam pada orang tertidur pulas.
Hanya kerutan wajah Melani saja menjawab pertanyaan Wiliam, yang mengompres jejak tamparan itu pakai handuk basah.
"Tidurlah,besok akan kita lanjutkan" ucap Wiliam menyelimuti Melani dengan tambahan selimut baru.
Wiliam kembali menyapa mimpi yang datang pergi tidak tidur nyenyak.
Setiap tiga puluh menit atau lebih, Wiliam akan terbangun keluar dari mimpi, hanya untuk mencek suhu tubuh istrinya yang menarik selimut bagiannya.
Terasa suhu tubuh Melani mulai rendah, Wiliam mematikan pendingin ruangan kamar, dan menghangatkan tubuh istri dengan sebuah pelukan erat.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungan nya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.