
Bab 40
.
Jam sekarang menunjukkan pukul 11 siang. Takut si Melani lupa dengan tugas baru sebagai seorang ibu, Nyonya Wijaya menelpon untuk mengingatkan.
Muka Melani sudah mirip kayak jeruk habis di peras ,saat terima panggilan itu. Giginya mengertak, jari jemari merampas kertas lalu di remas seperti remas cucian baju.
"Ya Tuhan.... Begini jadi nasibku, mengapa setiap yang ku ubah, jadi makin buruk" rutuk Melani, menutup wajah di atas meja.
Takut bencana besar datang mengoncang ganjing, Melani meraih tas kerja, lalu keluar dari ruang CEO ademnya hanya untuk menjemput bocah kecil bersaing dengan sang surya.
"Pak, kita sekolah Xxx" ucap Melani pada supirnya.
"Baik, Non" supir menekan pijakan pegas.
"Apa Mama gak tau, kalau aku banyak tugas penting selain ini. Kan anak itu bisa dijemput supir mereka atau keluarga sendiri. Lama kelamaan aku seperti baby sister" gerutu pelan Melani dan terdengar supir yang pura-pura tidak dengar.
"Non, kita sudah sampai" ucap supir berhenti di depan gerbang sekolah.
"Ohh... Bapak tolong jemput anak yang tadi pagi ya" Melani memijat kening puyeng tujuh keliling.
Si supir keluar jalani perintah keluarga bosnya. Dia berdiri di pintu masuk gerbang, sambil perhatikan satu persatu murid yang berhamburan kayak anak ayam.
"Mana ya Den Josh.Malah awak ke kagak hafal mukanya tadi" supir noleh kiri kanan, sambil garuk kepala gatal terpanggang panas matahari.
Josh ternyata lebih pintar, ia mengenal supir keluarga barunya itu, tapi membiarkan supir itu menunggu, sedangkan dirinya jalan menuju mobil tidak jauh milik keluarga barunya.
Cekrek....
"Mommy datang jemput Josh ya" bahagianya Josh lompat masuk duduk merapat begitu lihat ibu baru cantik datang menjemput.
Melani kaget ngangguk, mengapa si bocah tiba-tiba masuk. Mana si supir masih berdiri celingak-celinguk kayak orang goblok kecolongan.
"Aku keluar panggil Pak supir dulu.Kamu tetap di sini" kaku Melani, genggam handel pintu.
Josh ngangguk tersenyum senang. Begini rupanya rasa dijemput Mama, sama halnya dengan teman-teman.
Pikiran Josh makin mimpi jauh. Andai saja yang antar jemput dirinya adalah Daddy dan Mommy nya, pasti akan lebih happiness.
Di luar mobil, Melani memanggil supir segera masuk.
"Den Josh belum keluar ya ,Non?" tanya binggung supir, celingak celinguk di antara murid yang sepi dan duduk nunggu jemputan.
"Sudah Pak. Tuh ada di mobil" tunjuk malas Melani.
Antara menertawakan kebodohan dan malu, supir berjalan gegas membawa mereka pulang.
.
"Kamu turun saja dulu Josh. Kalau Grandma tanya aku, bilang aku balik ke kantor" ucap dingin Melani.
__ADS_1
"Jadi, Mommy tidak mau makan siang sama Josh?" sedih murung muka Josh.
"Bukan begitu maksudnya. Hanya saja ada kerjaan mesti cepat di siapkan" binggung Melani menjelaskan dan berbohong secara tepat.
Bocah tetap saja duduk gak mau keluar, dan buat Melani berpikir cara apa biar bocah itu nurut untuk turun cepat.
Cupp....
Melani mencium kepala dan mengelus kepala bocah,ikuti hasil tontonan film drama selama ini.
"Besok-besok kita baru makan sama-sama ya. Sekarang cepat masuk makan dulu, sebelum cacing di dalam perut kecil kamu konser" pakai cara bujuk halus, berharap berhasil.
"Promise " mengulurkan jari kelingking.
"I'm promised" Melani kaitkan jari kelingking.
Berhasil donk, jika sudah jari kelingking saling mengait erat.
Josh membuka pintu dan cium pipi ibu baru cantik sebelum turun.
"Bye, Mom. See you later" memberikan kiss bye dan lambaian.
"Bye " balas Melani terpaksa.
Mobil pun laju kembali sebelum ibu suri keluar merantai kakinya untuk pergi.
Lepas satu bukan berarti tuntas. Yang namanya manusia hidup tidak ada kata" Selesai ",sebelum mata tertutup rapat-rapat untuk selamanya.
"Hai Mel. Kamu lunch sendiri ?" tanya seseorang dari belakang menghampiri mejanya.
"Emm... Oh kamu. Iya, aku sendiri" jawab Melani mengunyah.
"Kalau begitu, boleh donk aku duduk"
"Silahkan"
Orang itu sengaja milih tempat duduk tepat berhadapan. Karena orang itu memang ingin memandang makhluk ciptaan Tuhan yang cantik.
"Kamu kenapa lihat aku terus , hum?" risih Melani terus di lihat terang-terangan.
"Emang ada yang larang?.Gak ada kan?" tanya dan jawab orang itu sendiri.
Melani mempercepat mengunyah setiap makanan yang masuk mulut, dan minum. Seusai makan dan bayar tagihan, gadis cantik segera keluar meninggalkan pria itu.
"Sungguh wanita high class. Bagaimana pun caranya, aku akan berusaha mendapatkanmu" si Tomi lanjut makan sendiri.
.
Setiba di kantor, Melani coba konsentrasi pada tugas kantor, sampai jam menunjukkan hampir pulang karyawan kantornya.
Sore datang menjemput malam. Ibu Suri menelepon Melani untuk pulang. Melani merasa benar-benar diteror oleh anggota keluarganya sendiri.
__ADS_1
" Hallo Mel, kamu ingin pulang sendiri atau dijemput" tanya ibu suri pada orang jarak jauh.
"Pulang sendiri .Aku bukan anak TK yang butuh dijemput" sindir Melani pada ibu suri, yang mulai memperlakukannya beda jauh sama bocah kecil.
"Kamu jangan pulang terlalu malam ya .Soalnya ada tamu khusus, dan mesti kita jamu bersama" pesan ibu suri dengan suara cempreng tertahan.
"Mama Papa saja yang jamu tamu itu. Aku masih harus lembur" sahut Melani makin malas pulang dengan segudang alasan ibu suri, lalu mematikan tanpa akhir jelas.
" Halo... Halo... Halo... Mel. Ih ni anak main putus sambungan" kesel ibu suri meletakkan gagang telepon.
Suami tampan muda yang berdiri di belakang Ibu Suri mendengar secara samar-samar akan percakapan antara ibu anak beda pendapat ,dan dia memutuskan untuk mulai mendisiplinkan Melani serta bertanggung jawab sebagai seorang istri.
"Mama dan yang lainnya makan duluan saja. Saya hendak keluar membeli sesuatu" dalih menantu idaman si Ibu suri.
"Begitu ya?.Baiklah" senyum ibu suri ramah pada mantunya.
Si mantu keluar dengan langkah kaki panjang menuju mobilnya yang masih terparkir di depan pintu.
"Pak ,jalan." ucap perintah Wiliam.
"Baik, Tuan" supir menghidupkan starter stir kemudian.
Wuzzz...
Mobil desain terbaru dengan kecepatan sedang, berjalan laju di tengah keramaian laju kendaraan kota.
Dalam waktu lima menit, Wiliam sudah berdiri di depan liff menuju lantai 4,tanpa hambatan security dan staf lain yang memang mulai kosong.
Tringg...
Liff berhenti di lantai 4. Langkah kaki panjang Wiliam kemudian menuju ruangan si istri.
Tokk... Tokk....
Melani dengar ada ketukan pintu ruang kerja, dipikirnya sekretaris sedang ngikut lembur bersama dirinya.
"Masuk" sahut Melani, rupa-rupanya sedang fokus lihat diagram candle statistik saham dan obligasi.
"Ayo pulang" titah sang suami berdiri tegap tepat samping Melani.
"Haa.... Anda!!.Kenapa kemari ?" panik Melani, mematikan tombol on off laptop tanpa shutdown.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1