Change Destiny

Change Destiny
Bab 16 I'm say NO


__ADS_3

Bab 16.


.


Dilain sisi, nenek ternyata mempercepat pertemuan dengan kedua cucunya. Dengan penerbangan kelas bisnis yang tersisa, siang itu langsung bertolak ke kota dimana dua cucu berada.


Hanya butuh waktu empat puluh lima menit, nenek telah menginjak kota tersebut.


"Halo bibi besan. Saya sudah tiba di bandara,tolong minta supir menjemput, ya" titah nenek keluar dari jalur penerbangan.


Mobil yang baru saja hendak menjemput bocah kecil itu pun melaju cepat menuju bandara.


Sang supir pun masuk menjemput nenek yang sedang duduk menunggu tidak lama.


"Nyonya Sonia?" tanya supir agar tidak salah orang.


"Iya" nenek.


"Saya diminta bu Minah menjemput Nyonya besar" supir membantu narik koper.


Lalu nenek ngikut kemana supir memarkikan mobil. Dalam mobil, supir minta izin untuk sekalian menjemput tuan muda kecil keluarga itu yang hampir tiba waktunya pulang sekolah.


Hati nenek senang bisa melihat cicit dari cucunya itu. Dia juga tidak lupa minta supir berhenti sejenak mampir ke mini market untuk membeli sebuah hadiah salam perkenalan kecil.


Sekotak coklat susu dan mainan mobil tayo edisi terbaru, di beli nenek.


"Cicitku pasti senang" nenek menenteng hadiah masuk mobil.


Mobil kembali melaju menuju sekolah bocah, untungnya tidak telat tiba menjemput.


Kaget bocah kecil saat ia masuk mobil ada sosok tidak di kenal duduk melempar senyum dan pelukan.


"Lepaskan aku" tolak bocah kecil mendorong tubuh tua renta itu.


"Omah adalah omah buyutmu" nenek mengelus kepala bocah.


Mana ingat bocah itu saat nenek bercerita tentang masa bayi yang selalu di timang. Bocah kecil pun memilih duduk diam, dan akan segera minta jawaban dari orang rumah begitu sampai nanti.


.


Ting tong. ....


Bel rumah besar itu berbunyi, pelayan pun menyambut majikan kecil yang baru pulang sekolah.


"Grandma mana, pak?" tanya bocah kecil memberikan tas punggung.


"Ada di dapur" tunjuk pelayan.


"Nyonya besar" sapa sambut pelayan.


Nenek ngangguk lalu masuk untuk istirahat dari kelelahan perjalanan.


.

__ADS_1


...~Dapur~...


.


"Grandma,ada omah-omah ikut Josh pulang loh.Katanya omah uyut Josh" lapor bocah itu, tapi mata melirik tamu nan jauh.


Ibu tua tersenyum mengelus kepala cucu ponakan yang tidak mengenali orang penting undangan ibu tua.


"Iya, omah itu omah uyut Josh. Grandmanya dady dan uncle" ajak ibu tua mengenalkan lebih dekat.


Saat dekat, ibu tua melihat nenek sudah tertidur pulas.Harap maklum jika nenek itu langsung tidur begitu terkapar di sofa, namanya juga sudah termakan umur.


"Ssttt.... Omah uyut bobo, kita ganti bajumu dulu,ya" ucap pelan agar tamu spesial tidak terusik.


Josh ngikutin ibu tua, tapi kepala menoleh belakang. Apa tujuan nenek itu datang ?.Mengapa, apa, untuk apa?.Begitu banyak pertanyaan dalam benak anak sekecil itu.


Sore hari tiba, waktu kedua cucu tua pulang ngantor. Betapa amat kaget nenek luar mereka datang tanpa ada kabar kabari.


"Kita kok gak dapat info kalau omah mau datang, ko?" bisik Ronald.


"Mungkin omah kabur dari pengawasan om. Tapi,masa kamu tidak curiga ?" Wiliam menyelidik.


"Curiga apa?" penasaran.


"Omah kok tau kita ada di sini"


Mata abang beradik adu pandang menyelidik mengapa nenek tau dengan cepat kehadiran mereka di tanah air.


Bukannya mereka berdua tidak senang ketemu nenek mereka, tapi yang kurang di sukai adalah ,mereka sering di paksa ketemu wanita pilihan nenek langsung, plus om tante yang suka menyindir jika perjodohan mereka tolak. Pokoknya rumit menjelaskan perasaan abang beradik yang ada dalam satu kapal melajang tua.


"Kamu temani omah, aku sibuk ngurus urusan baru" titah Wiliam.


"Ko, jangan gitu. Kalau omah tanya, aku jadi puyeng" Ronald nahan pundak sang penguasa.


Wiliam tersenyum sinis, mengangkat tangan Ronald dan menepuk pundak kekar itu untuk tabah hadapi nenek ratu.


Saat makan malam, Wiliam berdalih dengan segudang pekerjaan yang harus di selesaikan olehnya sebelum bertolak pergi ke kantor cabang di benua Amerika.


"Ron, benar koko mu sibuk?" selidik nenek.


"I-iya .Omah makan ini. Ini sup ayam jamur paling lezat" Ronald mengecoh sudah seperti anak kecil.


"Uncle, Josh sudah kenyang" bocah kecil meletakkan sendok garpu dengan rapi.


"Kamu tidak makan es buah dulu, Josh ?" cegah paman tampan.


"No uncle, thank you" bocah kecil menggeser kursi, lalu pamit untuk naik lantai atas.


Tahukan apa yang mau di lakukan bocah itu?.Ya, bocah itu masuk ruang kerja dan mulai bertanya dengan segudang rasa penasaran.


"Dady, omah uyut itu omah dady dan uncle ya?" selidik bocah duduk menatap mata hitam lekat milik dady.


"Iya" angguk kepala Wiliam.

__ADS_1


"Kenapa Josh tidak pernah lihat ?" semakin penasaran.


"Karena omah uyut tidak berkunjung" balas datar sedapatnya.


"Mengapa bukan kita yang kunjungi omah uyut?" semakin selidik.


"Gini ya Josh. Bukan tidak ingin mengunjungi atau di kunjungi. Tapi kadang kita tidak tinggal lama di sini, jadi kamu tentunya tidak pernah ketemu dengan beliau" jelas Wiliam, hentikan aktivitas kerja.


"Ohhh.... Omah uyut orangnya baik kan, dad?" manggut bocah.


"Baik kok" jawabnya datar.


"Lalu kenapa dady gak ikut kumpul makan?"


"Karena dady masih sibuk" makin pusing Wiliam mesti menjawab setiap pertanyaan. Ingin membentak, tidak mungkin. Yang ada pasti nenek akan mulai ngoceh sembarang.


"Kamu lanjutkan tugas sekolah, trus tidur" titah Wiliam menopang dagu berwajah memerintah.


"Siap laksanakan, dad" bocah terkocar kacir keluar, sebelum wajah dady tampan berubah jadi monster.


Wiliam tahan melapar dalam keadaan tertekan kondisi. Untung saja ibu tua tau kebiasaan ponakan yang bakal mengurung diri. Jadinya ibu tua meminta pelayan mengantar semangkuk Quaker oats dan potongan buah.


Namanya saja sudah dewasa mapan. Tapi mesti diurus layak anak kecil. Itu yang buat ibu tua cemas, jika suatu hari kelak dia akan pergi tanpa ada pengganti dirinya yang ngurus kedua bocah tua itu.


Diruang tengah Ronald berhasil lolos dari ocehan nenek. Tak lupa Ronald kembali melaporkan ocehan nenek pada penguasa rumah, agar tidak pusing seorang diri mikir ocehan tersebut.


"Nah, pusingkan ko" Ronald mengusap kasar wajah tampan kisut.


"Kita harus cari cara pulangkan omah ke rumah om" saran Wiliam.


"Ctak... Setuju. But the way, i'm not have smart idea" Ronald menjentikkan jari.


Abang beradik mondar mandir mikir cara halus memulangkan nenek, agar sama-sama enak tidak dikulik privasi mereka.


"Kita sewa pacar sewaan saja. Gimana ?" saran Ronald.


"Gak bisa!. Kalau kamu mau, kamu sendiri saja" tolak Wiliam, tidak mau ambil resiko.


"Kita cuma sewa sampe omah pulang saja" sahut Ronald puyeng mikir ide yang tepat.


"Pokoknya, i'm say NO!!" bentak Wiliam.


Sebagai pebisnis kelas atas, Wiliam telah mengenal banyak wanita yang dekat hanya berujung materi dengan segala tipu daya yang menjerat susah lepas kedepannya.


.


...****************...


.


Terimakasih atas dukungan semua


Salam sehat sejahtera selalu untuk kita 🙏

__ADS_1


__ADS_2