Change Destiny

Change Destiny
93 Size B & M


__ADS_3

Bab 93


.


Mentari pagi terbit di ufuk timur. Biasanya Melani ketika malam tidur di sofa,maka pagi hari sudah di atas tempat tidur.


Hari ini dia terbangun tetap berada di tempat yang masih sama seperti malam itu.


"Hoammm...." nguap sambil merenggangkan otot-otot kaku yang tidur semalaman di sofa.


Sadar pula dirinya bahwa bayangan big bos sudah hilang dari kamar.


"Kan liburan, mendingan aku santai dulu" membuka tirai gorden jendela kamar depan dengan pemandangan gunung.


Lalu membuka pintu kaca balkon kamar, yang disuguhi pemandangan kolam renang. Sambil melihat wisatawan lain berenang, ia pun menarik kursi untuk duduk berjemur.


"Lumayan, tidak buruk berjemur di sini" ngangguk-ngangguk rileks.


Udara pagi hari memang jauh lebih segar dan masih belum berpolusi banyak. Sangat cocok untuk kesehatan tubuh terutama paru-paru dan kulit.


Kehadiran seseorang masuk tanpa ketuk pintu,tentu menganggu kenyamanan Melani yang masih duduk berjemur dengan pakaian piyama.


"Jam segini masih belum mandi" ketus orang itu.


Gelagapan Melani bersikap, dari posisi duduk puwenak jemur langsung loncat berdiri mendengar ucapan orang ini. Langkahnya berlari cepat masuk kamar mandi, sebelum mendapat surat peringatan.


"Sial!!!. Gara-gara terburu-buru,aku lupa bawa handuk dan baju ganti" omelnya menepuk jidat , tidak ada sepotong handuk di dalam kamar mandi itu.


"Coba ku lihat dimana orang itu berada" pelan-pelan membuka pintu, ngintip keadaan kamar dari celah.


Matanya menatap lurus ke arah tempat tidur dan kosong, lalu ngintip ke kiri yang juga kosong tak berpenghuni. Sekarang ke kanan yang pasti juga sedang kosong tentunya.


Eh.... Tapi ternyata salah dugaan. Sejak kapan orang itu berdiri dan pastinya sudah melihat ujung kepala yang habis keramas.


"Kamu pagi-pagi sudah coba ingin menggoda iman saya,hum?" menahan pintu yang didorong dari dalam kamar mandi.


"Bukan!!. Siapa pula mau goda Om Om seperti anda. Tolong jangan dorong lagi" ujar Melani merah merona malu dan jengkel.


"Om,katamu?" sengaja mengganjal pintu dengan kaki bersepatu.


"Kalau tidak mau dipanggil Om, jangan dorong" menendang kaki Wiliam.


(Hahaha.... Sakit kaki kamu atau kaki Wiliam? timun kok lawan batu 😌.)


"Kamu mohon dengan cara lembut dulu, baru saya lepaskan" balas Wiliam tidak mau kalah di awal pertarungan.


"Ogah!!" bersi keras.


Awal hanya dari sebuah dorongan, lalu kaki di buat sebagai pengganjal,kini tangan masuk merayap kecelah pintu toilet.


Refleks pula Melani melakukan pertahanan. Dia menggigit jari yang merayap masuk.


"Melani....!!" pekik Wiliam keluarkan kaki dan tangan dari celah pintu.


"Makanya. Anda jangan coba-coba. Itu belum seberapa" ujar Melani antara puas dan takut ketika keluar nanti.


Melani untuk saat ini aman. Tapi dia mondar mandir kayak udang rebus sambil nutupin area ******** atas dan bawah.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu, Melani belum juga keluar.


"Mel, keluar atau saya dobrak!" hardik Wiliam bersuara keras.


"Tuan keluar dulu,baru aku keluar" balas Melani dengan suara keras.


"Enak saja perintah saya. Siapa bos dan bawahan" keluh Wiliam mengertakkan gigi.


Ponsel Melani berbunyi, panggilan dari putra big bos yang selalu mencari ibu baru.


"Halo Mami" sapa Josh dengan suara lembut manja.


"Ini Daddy, bukan Mami" jawab dingin Wiliam jarang dicari anaknya semenjak beristri.


"Oh, Daddy" jawab datar.


"Kamu sudah breakfast?" tanya Wiliam.


"Sudah Dad. Daddy, Mami kemana?. Josh mau bicara sama Mami?" kembali mencari orang yang dicari.


"Dia sedang meditasi di dalam kamar mandi"


Dari dalam kamar mandi, Melani mendengar jawaban Wiliam yang bersuara keras.


"Aku bukan meditasi,tapi gak bawa baju" terpaksa keluar pakai piyama kembali.


Saat Wiliam menelepon, setidaknya ada waktu baginya untuk mengambil pakaian ganti. Kali ini,dia harus bergerak lebih cepat. Jangan sampai keduluan Wiliam lagi.


Cepat sih cepat gerakan Melani keluar dari kamar mandi untuk ambil baju ganti, tapi lebih cepat lagi Wiliam yang berhasil menghentikan langkahnya kembali masuk kamar mandi.


"Josh, Daddy tutup dulu" ucap dingin Wiliam memutuskan sambungan.


"Kan aku tadi minta Tuan keluar dulu. Tapi Tuan tidak keluar" jawabnya meremas baju ganti dan juga onderdil dalaman.


Penampilan rambut basah teracak, dan penampakan tali bh yang digenggam membuat rasa penasaran pria itu muncul. Apa gerangan, yang buat istrinya tampak ambrul radul.


"Kamu sudah semakin banyak menjawab. Kalau begitu ngapain kamu di dalam sana" menatap dengan tatapan ingin memangsa.


"Mandi" gemetar ketakutan tiap lihat tatapan itu.


"Mandi... Lalu ...." membuat istri berjalan mundur.


"Karena lupa bawa baju ganti dan handuk,aku..." terpojok.


"Aku apa, hmm" mengunci pergerakan pakai tangan.


"Aku mau keluar ambil handuk sama baju ganti tapi anda sudah ada di luar tadi" jawabnya tanpa titik koma berjeda.


Pikiran Wiliam dapat mencerna ucapan simpel itu. Ternyata dia berdiri dalam posisi yang buat istrinya serba salah.


Cup....


Ciuman nempel di pucuk kepala istrinya yang nangis sesenggukan setiap habis terpojok atau tidak sama sekali menguntungkan.


"Jangan nangis lagi. Sana ganti baju lalu temani saya sarapan" mengusap air mata, dan memungut baju dan orderdil dalam yang jatuh.


Ketika istrinya sedang berganti pakaian, Wiliam berpikir ,apa benar cara ini untuk menaklukkan hati istri?. Seekor kucing liar tapi dengan ras khusus yang harus diberi perlakuan istimewa.

__ADS_1


Banyangan onderdil yang dipungut juga lewat. Tambah kacau pikiran pria yang sedang duduk menunggu.


"Kenapa saya kebayang size B dan M" mengacak rambut rapi dan hentakan kaki.


"Tuan, anda kenapa?" tanya Melani waspada, takut suaminya sedang ngamuk.


"Gara-gara kamu,jam sarapan sudah lewat" dalih Wiliam merapikan rambut acak-acakan pakai tangan.


"Ma-maaf" menunduk.


Tanpa basa basi ,Melani segera sarapan bareng. Lalu menemani ajakkan big bos yang ingin pantau suatu tempat.


"Jangan lupa bawa jaket dan topi" ucap dingin Wiliam yang posesif tanpa disadari.


"Sudah" menunjukkan penampilan lengkap.


Bertopi, kacamata hitam,masker, jaket panjang selutut.


"Ingat!. Jangan jauh-jauh dari saya" memperingati.


Cukup dengan balasan manggut-manggut, Wiliam dan Melani keluar dari kamar hotel ke tempat tujuan.


Sebuah mobil Jeep yang cocok digunakan pada tanah sekitar kota C tidak beraspal merata, telah menunggu di depan pintu hotel.


"Perlu kami pandu, Tuan?" tanya pria kurus.


"Tidak perlu" mengambil kunci mobil.


Tangannya mengulur, bantu Melani naik ke atas Jeep yang cukup tinggi.


Jeep pun dikemudikan Wiliam menuju tempat tujuan.


Bebatuan,jalanan tanah liat dan berlubang memang tidak akan mudah dilintasi orang yang tidak mahir dalam kondisi alam demikian. Namun inilah Indonesia-ku ,yang masih asri dan indah, patut dapat sanjungan menjulang oleh bangsa lain.


Antara was-was jikalau ada binatang hutan liar, dan terjebak kondisi alam, muncul dipikirkan gadis cantik yang duduk menemani Wiliam.


"Tuan,kita sebaiknya pilih alternatif jalan umum saja" sarannya, memegang erat sabuk pengaman akibat guncangan mobil terus melanggar batu-batu ukuran sedang sampai besar.


"Kamu bawel,ya" ujar dingin Wiliam fokus nyetir.


"Kan sekedar saran" isi perut terguncang.


Wajah cantik itu mulai memucat. Apa karena guncangan medan area jalur, atau karena memasuki hutan belantara yang kurang intensitas cahaya.


"Mel,kamu kenapa?,hum" melambatkan.


"Aku mau muntah" menutup mulutnya yang segera keluarkan magma.


"Kamu tidak boleh muntah sembarangan" menghentikan mobil,dan cari kantongan atau apapun untuk menampung muntahan.


Wiliam mencari sesuatu,dan Melani coba menahan selama yang dia bisa.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2