Change Destiny

Change Destiny
131


__ADS_3

Bab 131


.


Beberapa hari sudah Melani merajuk ngambek cuekin Wiliam, karena tidak izinkan dirinya pulang ke rumah orang tuanya untuk bermalam seorang diri.


"Josh,apa salah kalau Mami mau pulang ke rumah orang tua Mami ?" curhat Melani yang habis makan siang bareng Daddy dan paman tampannya.


"Enggak" sahutnya yang bertopang dagu, lihat wajah murung merajuk itu.


"Kalau gitu, kenapa Daddy kamu tidak izinkan Mami pulang" merebahkan badan di atas kasur single Josh.


"Apa kita minta Grandpa jemut saja,Mi" saran Josh, karena sudah beberapa kali ibu cantik terus bertanya dengan pertanyaan sama.


"Benar juga ya. Kok Mami tidak kepikiran" lompat dari rebahan jadi duduk untuk ambil ponsel.


Saran yang tepat langsung dikerjakan Melani. Siang itu Melani mengeluh pada orang yang sejak kecil jadi sandaran dirinya.


"Pa... Papa bisa jemput Mel kan?. Mel rindu,di sini enggak ada kerjaan" rengeknya pada orang jauh.


"Ya sudah, Papa jemput kamu sore nanti" jawab orang diseberang.


"Grandpa.... Josh juga ikut ya" celetuk Josh nebeng dengan suara keras agar terdengar.


"Iya" sahut Tuan Wijaya.


"Ya sudah. Melani dan Josh akan tunggu Papa datang jemput. Kalau bisa jangan sampai telat ya,Pa" ucap Melani dengan suara sedikit manja.


"Iya" sahut Tuan Wijaya, mematikan koneksi.


Melani dan Josh mengemasi pakaian mereka dalam koper dengan senang hati.


Sambil menunggu jam 5 sore, Melani dan Josh bermain game satu ronde.


Jam 5 sore..


Ting tong....


Bel rumah mewah berbunyi, Josh yang mendengar bunyi bel langsung mematikan permainan mereka.


"Mi, kayaknya Grandpa sudah datang" merapikan kaset game.


"Iya.Kita harus cepat sebelum yang lain datang" Melani menarik dua koper.


Josh dan Melani keluar dengan menarik koper mereka.


Orang yang menekan bel itu dipersilahkan masuk oleh pelayan yang membukakan pintu.


Tukkk....


Josh dan Melani menjatuhkan pegangan koper, karena terkejut lihat orang yang berjalan masuk.


"Gawat Josh" ucap pelan Melani.


"Kabur, Mi" saran Josh menyiapkan langkah mundur seribu.


Dalam hitungan dua, Melani dan Josh kabur dari orang yang menghampiri.


"Melani,Josh!" panggil orang itu dengan suara kencang.


Tidak boleh berhenti, atau tetap akan dapat hukuman. Sebelum berhasil masuk dalam tempat persembunyian, Melani dan Josh tetap tidak berhenti lari naiki anak tangga.


Brakk....


Mereka akhirnya berhasil masuk kamar dan mengunci pintu.


"Selamat" ucap Melani dengan nafas terenggah.


"Iya" sahut Josh menepuk dadanya.


Ibu dan anak berdiri dibalik pintu dengan wajah takut dan nafas putus-putus.


Tokk...Tokk....


Orang tadi mengetuk pintu dengan ketukan tidak sabar.


"Keluar atau akan terima hukuman" ancam orang tadi.

__ADS_1


Glekk....


Melani dan Josh kesulitan nelan ludah mereka dengar ancaman barusan.


"Jangan buka Josh sebelum Grandpa datang jemput" bersih kekeh jaga pintu.


"Siap" ikut nahan pintu.


Cukup lama ibu dan anak berdiri menahan pintu, menunggu dijemput.


Ting tongg....


Bel berbunyi lagi,kali pasti malaikat penolong yang datang untuk menyelamatkan mereka.


"Josh, begitu Grandpa panggil,baru kita buka pintu ini ya" bersiap siaga dapat panggilan.


"Oke" menempelkan telinga untuk dengar signal panggilan.


Dua pria dewasa bertemu pandang. Sebagai tuan rumah dan menantu, tentu Wiliam harus menunjukkan etika yang baik.


Dipersilahkan bapak mertuanya duduk sebelum bertanya maksud kedatangan beliau.


"Ada hal apa, buat Papa datang sehabis pulang kantor?" tanya Wiliam.


"Melani tadi siang telepon minta dijemput. Katanya rindu sama Mama Papa" jawab Tuan Wijaya.


"Kok kamu tidak bawa Melani pulang kalau dia rindu rumah" interogasi Tuan Wijaya pada mantunya.


"Oh itu. Maksud saya besok baru akan ajak Melani pulang, tapi rupanya dia sudah enggak sabar" dalih Wiliam dengan tenang, tapi hati kebakaran.


"Ohhh.. Karena Papa sudah datang, enggak salah kalau Papa bawa Melani dan Josh" ucap izin Tuan Wijaya.


Tidak bisa Wiliam membantah ucapan bapak mertuanya. Dengan pasrah,ia menyerahkan istri dan kedua anaknya di bawa pulang bapak mertua.


"Yeah.... Akhirnya kita ikut Grandpa pulang" seru bahagia Melani dengar percakapan dua pria dewasa di ruang tengah.


"Kalau gitu cepat,Mi" Josh menarik tangan Melani menghampiri dewa penolong mereka


Dua bocah beda generasi berlari menuruni anak tangga dengan senang.


Hap..


"Koko" ucap manja Melani dengan wajah takut.


"Heng!! Sekarang sudah pintar pakai cara ini. Kamu tega tinggalkan saya sendiri" keluh kesal Wiliam menarik Melani ke pojok.


"Kan ada kak Ronald" sahutnya berwajah tegang.


Cupp....


Rasanya kurang afdol, jika belum menikmati bibir tipis berhadapan yang sudah beberapa tidak dia nikmati.


"Ko,malu" Melani mendorong kuat tubuh kekar tidak tau tempat yang cocok untuk gituan.


"Siapa suruh kamu jauhi saya,hmm?" menggesekkan senjata kramat dalam sangkar celana segitiga pada area bawah Melani.


"Koko..!!" hardik Melani, risih dalam posisi tertindih yang ada maunya.


"Sudah sana pergi, tapi nanti saya akan jemput lagi" izin enggak relanya.


Melani langsung kabur begitu dapat izin. Tidak tunggu lama, Tuan Wijaya membawa dua orang keluar dari rumah mewah itu.


.


...Rumah Wijaya...


Kehadiran mereka bagai kejutan untuk Nyonya Wijaya.


Melani yang tidak pulang bersama suami masih diizinkan masuk Nyonya Wijaya, karena membawa seorang anggota keluarga Lee.


"Grandma, nanti Josh ikut Mami nginap loh" ujar Josh memasukkan kopernya.


"Kalian nginap?" ibu suri tertegun, nunjuk koper.


"Iya Ma. Cuma 1 bulan" sahut Melani dengan senang.


"Haahhh!" kaget Nyonya Wijaya menganga lebar.

__ADS_1


"Enggak apa donk, kalau anak dan cucu kita nginap.Itu tandanya mereka suka tinggal bersama kita" sahut Tuan Wijaya,mengelus punggung istrinya.


"Tapi enggak lama juga,ko" bisiknya agar tidak menyakiti hati bocah kecil.


"Ma, Melani dan Josh masuk kamar dulu ya" pamit Melani mengajak Josh ke kamarnya di rumah orang tua.


"Mel,tapi...." coba nahan langkah, tapi malah di tutup mulut sama suami.


"Sudahlah, biarkan mereka tinggal sampai mereka mau.Lebih bagus kalau selamanya" ucap Tuan Wijaya melangkah masuk kamar mereka, bersiap untuk makan malam bersama.


.


...Rumah Lee...


Wiliam merasa sepi tanpa kehadiran salah satu dua bocah beda generasi seperti biasanya.


Begitu pula dengan Ronald yang melihat hanya wajah dingin jutek abangnya.


"Ko,kamu usir mereka ya?" tanya Ronald menciduk nasi.


"Enggak.Mereka yang kabur" mengambil sayur.


"Kalau begitu akan saya jemput mereka pulang" saran Ronald.


"Enggak usah" jawabnya dingin.


Ronald selalu tidak bisa berbicara basa basi dengan abangnya lebih lama, terkecuali mengenai hal perusahaan atau yang penting.


Dua pria dewasa itu makan dengan suasana monoton kaku.


Beda di rumah Wijaya yang terdengar banyak ocehan saling menyambung saat makan.


Melani dan Josh yang banyak menjawab pertanyaan dari Tuan dan Nyonya Wijaya secara panjang lebar terperinci, buat suasana makan malam itu seakan sedang berpiknik tengah malam.


"Kamu itu sudah jadi Mama, harus kasih contoh yang baik" nasehat ibu suri dengan nada tegas dingin.


"Iya Ma. Kan Mel sudah jaga anaknya dengan baik. Buktinya Mel pulang ajak anaknya juga" oceh Melani menjawab.


Ibu suri dibuat pusing oleng. Mengapa putri mereka bertingkah amat tidak dewasa,malah bisa dibilang ngikutin tingkah bocah,makanya ibu dan anak sambung itu terjalin ikatan cocok.


"Setress lama-lama aku" ucap batin ibu suri, menepuk pelan jidatnya.


"Grandma kenapa?" tanya Josh lihat nenek sambung mukul jidat sendiri.


"Pusing lihat Mami kamu" menghembus nafas berat.


"Jangan banyak pikir. Santai aja" celetuk Tuan Wijaya.


"Mama selalu begini. Kenapa sih enggak pernah hargai pemikiran aku" keluh rutuk sesal Melani pulang ke rumah.


Baru beberapa menit di rumah sendiri, merasa kurang nyaman. Lebih baik balik ke rumah Wiliam walau harus sering dimodusin,dan bertahan dengan sikap otoriter Wiliam.


"Ma, Mel ke dapur potong buah dulu" pamit dingin Melani berwajah masam.


"Potong buah kesukaan Josh dan Papa" titah dingin ibu suri, temani suami dan cucu sambung di meja makan.


Melani berjalan menuju dapur, membuka lemari es mencari buah yang tersedia.


Banyak buah kesukaannya yang tersedia meski nyonya rumah tidak tau akan kepulangan dia.


"Mana ada buah kesukaan Papa dan Josh" cibiknya mengeluarkan buah anggur hitam,jambu merah dan plum dari rak buah.


Bagian rak pintu pendingin terdapat buah olahan yang dijadikan jus berkemas.


"Ternyata Mama kasih 5 sempurna untuk Papa dengan jus kemasan" cibir Melani keluarin kotak jus apel express.


Dia juga mengeluarkan kotak jus jeruk kesukaan Josh.


Untuk dirinya sendiri, dia harus mengunyah dapatkan sari pati buah tersebut.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2