Change Destiny

Change Destiny
85 Suami posesif


__ADS_3

Bab 85


.


Bergegas cepat Melani turun tangga setelah dapat perintah.


"Kamu mau kemana lagi, Mel?" tanya nenek bingung.


"Diminta ke kantor, Omah" jawab tergesa-gesa,pakai sepatu.


"Ya ampun, Wiliam. Kamu kok buat istri capek. Kalau begini, kapan bisa punya anak" gerutu nenek bergeleng kepala.


"Kenapa Melani tergesa-gesa begitu, Bu?" tanya penasaran ibu tua.


"Itu si Wiliam, minta istrinya ke kantor. Apa dia gak pingin punya anak lagi" keluh nenek.


"Memang susah tebak pikiran dia. Yang penting sekarang Melani sudah tinggal bersama,jadi kita bisa jaga asupan lebih baik" sahut ibu suri prihatin.


.


Kaki Melani melangkah panjang cepat harus sampai dalam ruang CEO di perusahaan 'L'.


Dengan nafas satu dua putus-putus, dia harus menyiapkan presentasi dadakan.


"Gak mati,gak hidup. Yang iya, setengah mati" celetuk Melani ngos-ngosan.


"Hei anak baru!!,ini tema yang akan diusung" seorang wanita muda dari difisi kreatif memberikan kertas berisi tema secara tidak senang.


"Oh, baik" sahutnya, muka kaget.


Wanita muda itu memasang tampang tidak suka, seharusnya dia yang akan mempresentasikan suatu produk sesuai tema. Namun alih-alih ingin berpresentasi, lihat wajah tampan CEO dari jarak terdekat sudah melayang jauh ke luar angkasa.


"Siapa sih dia!" ucap ketus wanita muda, melipat tangan marah.


"Dengar kabar burung,dia asisten baru" celetuk sambar seseorang yang juga cemburu.


Bagaimana pada tidak cemburu, posisi puluhan tahun biasanya ditangani oleh seorang pria,kini berganti jadi cowok.


Jarak terdekat untuk melihat seorang Wiliam adalah jabatan sekretaris, itu pun jarang.


Melani berpacu waktu yang hanya tersisa kurang lima belas menit, untuk membuat rancangan presentasi terbaiknya.


Dari kaca pembatas yang hanya dapat dilihat dari satu sisi, tepatnya dari ruang CEO, Wiliam memperhatikan wajah serius cantik sedang fokus itu tampak menggoda.


"Emm.... Dia sengaja memasang wajah ini pasti untuk menggoda saya" melihat serius wajah istrinya yang fokus, sambil ngelus dagu.

__ADS_1


Saat wajah Melani berbalik natap ke kaca untuk bercermin sebelum keluar meeting, mata Wiliam beradu pandang sendiri.


Tingkah Melani yang merapikan style baju dari kerah baju sampai ke bokong di lihat Wiliam,tanpa berkedip. Belum lagi Melani yang memanyunkan bibirnya ke cermin,buat jantung Wiliam berdegup kencang seketika.


"Ada apa dengan saya?. Biasanya berhadapan dengan wanita lebih sexy bahenol juga tidak begini" wajahnya memanas merah, menutup kaca pembatas dengan tirai.


Selang beberapa menit, cewek yang baru memompa detak jantung mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Tuan,kita meeting sekarang" ucap Melani profesional.


"Mm..." merapikan penampilanya.


Kaki Wiliam berjalan di depan, disusul istri dari belakang tanpa dicurigai orang lain akan status rahasia mereka.


Di dalam mobil, Wiliam memperingati istrinya untuk tidak menggoda pria lain dan berbincang dengan pria lainnya juga. Sikap posesif Wiliam mulai keluar untuk mengontrol.


"Iya,tau" sahut ketus capek Melani.


Melihat paha mulus putih memakai rok di atas lutut istrinya,keposesifan meningkat kembali.


"Mulai besok ke kantor, kamu wajib pakai celana dan jas" ucap Wiliam, menutup paha mulus di samping pakai map file.


"Kenapa?" bingung banyak aturan aneh.


"Enggak usah tanya dan bantah. Cukup ikuti peraturan" jawab tegas.


Sewaktu kerja jadi CEO di kantor sendiri juga tidak ada yang berkomentar penampilan yang tergolong sopan itu.


"Kamu jangan jauh dari saya. Awas kalau jauh!,akan saya tinggal" ancam Wiliam, membuka pintu mobil.


"Oh" balas datar membuka pintu mobil satunya.


Wiliam berdiri menunggu istrinya yang jalan memutar mobil ke arahnya berdiri.


"Cepatan!!" ujar Wiliam gak sabaran nunggu.


Melani mempercepat langkahnya, sebelum dipermalukan di depan publik.


Jarak mereka hanya setengah meter, agar suami yang mulai posesif bisa segera menepis orang mata buaya darat.


"Ingat, jangan tebar pesona, apa lagi genit. Ini lagi kerja bukan waktu untuk cari perhatian" ketus Wiliam.


"Iya" jawab Melani gerah dengar peringatan tidak penting.


Saat bertemu dengan saingan bisnis lainnya, Wiliam yang telah berpesan pada istri untuk tidak tebar pesona termasuk untuk senyum, buat istrinya benar-benar jadi orang jaim dingin.

__ADS_1


Tanpa senyum dan cukup jawab sekilas setiap ditanya, buat yang bertanya semakin tertantang penasaran.


"Kamu cari tau siapa dia" titah seorang pria muda dari perusahaan lain pada sekretarisnya.


Melani tau siapa pria ini. Pria yang gemar mengemis cinta ,tapi juga seorang playboy, tentu buat Melani enek jijik dengan rumor negatif itu. Dan mencoba menghindari pandangan pria muda playboy.


Selain itu juga Melani mengenal rival suaminya yang lain. Memang banyak buaya darat dan playboy dalam ruang rapat,tapi mengapa suami sudah tau, tetap membawanya masuk.


"Kalau mereka lihat, kamu acuhkan saja" ucap pelan Wiliam.


"Bisa dipercepat nggak meeting ini?" bertanya bisik.


"Kalau presentasi yang kamu buat bisa langsung menjadikan perusahaan saya sebagai vendor, maka itu bisa" balas dingin Wiliam.


Melani ngangguk paham. Dia meningkatkan semangat sampai kepuncak agar segera mengakhiri banyak tatapan buaya, hanya dengan sekali pukul smash.


Giliran meeting perusahaan Wiliam harus menunggu urutan, sampai urutan tiba pikiran Melani menyerap semua presentasi pihak rival.


Ada yang bagus,tapi dengan tawaran harga tidak masuk akal.


"Mana bisa mereka membuat perhitungan dengan low budget?. Ini pasti ada yang aneh? " pikiran Melani bertanya-tanya.


"Tuan, mereka..." bisik pelan Melani.


"Mmm..." dehem Wiliam tau apa yang mau ditanyakan.


Tau kalau akan dikalahkan dengan kecurangan, Wiliam sebagai pemilik memilih untuk unjuk bicara saat giliran tiba. Beginilah Wiliam Lee menyelesaikan masalah tanpa menarik orang lain untuk dijadikan kambing hitam jika kalah.Tapi itu pun jangan terjadi kesalahan dari dalam pihaknya. Jika itu terjadi, maka semua akan terima hukuman berat.


"Perusahaan saya hanya bisa memberikan dengan harga budget tertulis. Ini kami pastikan hasil kinerja akan tepat waktu selesai" ucap Wiliam meyakinkan pihak pemegang rekan bisnisnya.


Keputusan yang sulit terkait budget sering mengalahkan banyak perusahaan yang memang ingin menekan biaya pengeluaran. Tapi,bagi siapa yang sudah tau kualitas dan kuantitas yang di junjung tinggi serta terjamin oleh perusahaan Wiliam, mereka tentu tidak akan berpikir panjang dua kali lipat.


"Kayaknya kita kalah" ucap pelan Melani.


"Kamu ini terlalu pesimis. Cukup duduk dan tunggu" jawab dingin Wiliam penuh percaya diri dengan hasil kerja keras yang dibuat istri.


Mau gimana jika big bos telah ambil kesimpulan. Ya tinggal duduk manis nunggu hasil keputusan. Apa pun keputusan itu,mau sepahit kopi atau semanis gula, bukan dia yang terima utuhnya.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2