
Bab 82
.
Kecemasan melanda hati keras Melani. Niat untuk memperjuangkan perusahaan keluarga tanpa mengemis dan tunduk patuh pada ancaman pria dingin, dipikirkan masak,digodok , digoreng, dipanggang sekalian sampai hangus.
"Tidak bisa. Ini sudah lari dari jalur. Jika begini, sudah tidak ada ketenangan. Berarti aku sebagai anak telah durhaka" mondar mandir komat Kamit dalam kamar tidurnya, pegang ponsel.
Kepala yang tidak gatal pun terasa ketombean. Terus-terusan menggaruk pusing tujuh keliling, antara ikuti ancaman atau mati-matian berjuang dengan ego.
"Baik-baik... Ini terakhir kali aku ikuti ancaman permainan dia. Karena aku juga tidak ingin jadi anak durhaka tanpa mencoba" mengatur nafas ambil keputusan terberbahaya sepanjang umur.
Layaknya permainan Squid game, hampir di garis finis bisa saja kalah total. Dengan pikiran jernih dan hati tenang, Melani telah ambil keputusan terakhir.
"Halo,aku setuju dengan kesepakatan anda.Tapi dengan satu syarat" ucapnya berat harus berani hadapi tantangan terberbahaya.
Usai menelepon,Melani pun bersiap menggemas sedikit pakaian. "Anggap saja ini lagi dinas keluar kota, Mel. Don't panic, everything will be better" menyemangati hadapi pertempuran menuju garis finis.
Esok hari ..... Bodyguard suruhan Wiliam datang menjemput sang Nyonya muda.
Ibu suri yang lihat jemputan merasa lega bahagia.Ternyata keluarga mantunya masih sayang pada putrinya.
"Lain kali kamu tidak boleh main pulang sendiri saja tanpa suamimu. Kamu harus jaga martabat dan nama baik dia" nasehat ibu suri memeluk Melani.
Bosan kesal rasanya kuping Melani dengan petuah tidak penting. Andai saja ada yang tau, mengapa dia jadi plin-plan bertele tubbies ,akan jauh membaik.
(Yang buat cerita ngerti banget, kalau kisah bertele-tele atau monoton itu buat orang bosan 🤧🤧. Tapi namanya kehidupan tidak ada yang mulus, harus ada banyak lobang serta tempelan biar hidup bisa dijadikan pembelajaran. Kalau ada yang sudah mulus ceritanya, jangan lupa bagi resepnya donk. Kan pada pingin hidup mulus selembut sutera 🤣🤣).
Melani dengan langkah terberat seakan menarik bola besi di kedua kakinya menaiki mobil jemputan.
Dia dibawa ke mansion untuk sementara waktu, hingga memar benjolan jidat sembuh total. Dengan pengawasan super duper ketat di luar mansion, dia mengerjakan setumpuk laporan.
"Begini lebih baik, dari pada harus lihat muka arogan" mulai memeriksa laporan di meja ruang tengah.
Sebuah laptop juga disediakan untuk membantu mengirim hasil pemeriksaan. Kode sandi yang tertera pada selembar note paper, juga tidak asing dikenal.
"Ini kan tanggal...." teringat tanggal ajukan pernikahan secara hukum.
Ingat tanggal tersebut,Melani jadi sebal. "Lebih baik aku ubah saja kode password" mengkonfirmasi kode password baru.
"Beres... Jadi ini akan mempermudah untuk ingat masa kontrak" menyunggingkan senyum kecut.
Sudah 2 jam dia bekerja fokus memasukkan data penting untuk di e-mail.
Jam makan siang pun hampir kunjung tiba. Sebuah mobil berhenti di depan pintu mansion.
Tokk....Tokk.....
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu untuk dibukakan dari dalam.
"Kamu siap-siap. Kita makan siang di luar" ucap pria dingin.
"Oh" datar jawabnya.
Laporan yang ditinggal dalam keadaan tersusun rapi, membuat pria dingin tidak kecewa menjadikan istri sebagai asisten pribadi.
"Aku udah siap" malas ucap Melani, mengenakan jaket dan topi menutupi benjolan.
Sebuah restoran yang di reservasi pun sedang menyelesaikan segera menu pesanan, sebelum pelanggan VIP datang,dan menunggu lama.
"Sudah siap belum?. Sebentar lagi Tuan Lee akan segera tiba" tanya manager restoran pada koki.
"Hampir selesai, tinggal tunggu matang sempurna dan keluar dari oven" sahut kepala koki,yang sedang buat hidangan dessert.
"Kalau begitu lebih cepat" ucap manager restoran.
Jarang sekali tamu VIP ini memesan menu sebelum tiba. Dan hal itu membuat pihak restoran berburu waktu menyiapkan semua yang fress.
Baru saja manager mengejar kepala koki, mobil tamu VIP mereka sudah berhenti tepat di depan restoran.
Secepat kilat manager restoran berbaris menyambut kedatangan tamu spesial mereka.
"Selamat datang Tuan.Silahkan" sapa menunduk sambil menunjukkan arah tempat reservasi.
Secangkir kopi latte panas, dan segelas orange jus dingin pesanan mereka dengan cepat tersaji.
Tidak butuh waktu menunggu lama, menu hidangan pun keluar dengan aroma menyeruak penuh bau rempah-rempah.
Dari jarak beberapa meter, manager yang masih berdiri, memperhatikan siapa wanita yang diajak tamu VIP.
Rasa keingintahuan manager, buat dirinya lupa bahwa dirinya bisa tertimpa masalah serius.
Melani melepaskan topi menutupi kening saat akan mulai menyantap, dengan begitu wajah cantik akan lebih mudah terexpose orang lain.
"Sungguh cantik" gumam manager terpesona.
"Jika tidak ada kepentingan lainnya, silahkan tunggu di luar" ucap tegas bodyguard, secara tidak langsung mengusir penganggu majikan.
"Kalau boleh tau,nona itu siapa?" tanya pelan manager yang terpesona pada pandangan pertama.
"Bukan urusan anda. Silahkan keluar" jawab bodyguard mendorong keluar.
"Uhh....Pelit. Saat ada kesempatan ,gue akan cari tau sendiri" gerutu manager di usir keluar.
Menu hidangan tidak ada yang buat Melani tertarik untuk makan lahap. Itu dikarenakan harus duduk menghadap pemandangan gunung berapi yang bisa ngamuk kapan saja.
__ADS_1
Makan secukupnya sudah cukup. Asal yang penting perut terisi makanan.
"Kamu wajib habiskan semua ini" titah Wiliam sengaja biar istrinya makan lebih banyak.
"Haa....Makan ini semua!!. Are you crazy?" tercengang kaget.
Makanan sebanyak itu tidak mungkin bisa di habiskan dua orang,apa lagi satu orang. Mana banyak menu daging dan seafood pengundangan kolesterol. Habis makan bersiap berat badan nambah lima kilo, paling parahnya masuk rumah sakit akibat serangan jantung.
Jika tidak ada Wiliam, pasti makanan itu sudah diberi Melani pada para bodyguard pengawas yang berdiri berbaris jaga area.
"Kalau tidak habiskan, jangan harap keluar" hardik Wiliam memutar piringan meja agar lauk bisa dimakan istri.
"Kagak mati makan batin, makan kolesterol yang ada" keluh Melani mengambil terpaksa setiap hidangan.
Habis satu piring, Wiliam memutar ke piring lain sampai dilihat istrinya memang tidak sanggup makan.
Sudah 70 persen hidangan itu dihabiskan Melani seorang. Sampai rasanya perut hampir meledak pecah.
"Aku tidak sanggup lagi" ucap Melani, mengangkat satu tangan menyerah.
"Ya sudah" memanggil pelayan, membayar tagihan bill.
Dalam keadaan perut terisi full tank terasa akan pecah, Melani tidak kuat berdiri. Jika berdiri mungkin bisa meledakkan semua isi perut.
"Awas kalau kamu muntahkan!" ancam Wiliam lihat istri yang mau muntah,muka merah,mata berair.
Siksaan hidup begini lebih sadis dari pada siksaan hukuman.
Tidak kuat untuk berdiri,di tambah ancaman serius. Buat Melani harus menyandarkan punggung ke kursi dan sedikit duduk turun,agar lebih mudah dicerna ususnya.
Posisi tersebut kurang pantas dipandang dengan status mereka dari keluarga konglomerat. Dengan terpaksa juga, Wiliam segera hampiri , untuk...?.
.
Untuk apa, ya??.
Tunggu jawabannya di next bab.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1