
Bab 144
.
Hari Minggu yang seharusnya bisa untuk Melani dan Josh menyelesaikan semua kegiatan dalam waktu cepat, sekarang terhenti dengan kepulangan pemilik rumah, dan ditambah dengan keadaan Melani yang kurang fit.
Melani istirahat tidur siang setelah memberi jangka waktu obat untuk memproses, lebih kurang 30 menit. Ditemani Josh yang bantu kompres demam dengan handuk basah.
"Mami tidur saja. Josh akan temani " ucap Josh pegang handuk basah di kening ibu cantik.
Melani ngangguk dan coba tidur, sambil pegang pinggiran bawah baju Josh.
Pemilik rumah yang habis mengatur pekerjaan untuk adiknya, memasuki kamar melihat apa yang dilakukan kedua bocah tanpa suara.
Terlihat bocah kecil sedang merawat bocah tua yang sakit.
"Mana buku penghubung kamu?" tanya Wiliam bersuara pelan pada Josh.
"Ada di tas, Dad" jawabnya nunjuk tas punggung di ujung pintu kamar.
"Cepat ambil" perintah Wiliam.
"Enggak bisa" nunjuk baju di tarik Melani.
Wiliam tau jika putranya tidak memiliki kasus di sekolah, namun ia hanya sekedar cari alasan untuk masuk kamar.
"Sudah turun demam Mami?" tanya Wiliam berbalik ambil tas sekolah.
"Belum Dad" coba ukur suhu kening ibu cantik.
Wiliam melihat buku penghubung yang di tanda tangani Melani sebagai wali orang tua setelah Ronald. Lalu menyimpan buku penghubung yang bersih tanpa ada peringatan pihak guru.
Tidak ada yang bisa di tanya, Wiliam keluar ninggalkan kedua bocah beda generasi.
Josh yang mulai ngantuk pun merebahkan diri di samping Melani. Mereka tidur menyamping dan saling berpelukan.
.
Sore menjelang magrib tiba, Wiliam masuk kamar untuk mengingatkan Melani meminum obat sebelum makan.
Tetapi yang ia lihat, kedua bocah tidur pulas saling berpelukan.
Rasa kecemburuannya yang dikira sudah pergi jauh bersama rasa penyesalan yang tiba, ternyata masih bisa dirasakan.
"Josh wake up" panggil Wiliam goyang kaki Josh yang menindih kaki istrinya.
Melani dan Josh terbangun bersama, dengan wajah tidak bersalah sama gaya tidur mereka, yang saling berpelukan.
"Kamu cepat bangun untuk minum obat" ucap dingin Wiliam pada Melani.
Melani ngangguk dan coba bangkit dengan rasa denyut di kepalanya.
"Demam Mami tinggi lagi, Dad" seru Josh kaget dengan suhu di tangan Melani yang menyentuh tangan.
Dengan gesit Wiliam mendekat dan periksa suhu tubuh Melani.
"Saya akan bawa kamu ke rumah sakit lagi" ujar cemas Wiliam.
"Enggak usah,ko. Obat yang tadi aja belum habis" tolak Melani, pegang kepala sakit.
"Kalau begitu kamu harus segera minum parasetamol" berjalan cepat pergi ambil obat yang tadi di tebus.
"Mami minum dulu" Josh mengambilkan botol air minum di kamar itu.
Glekk...Glekk....
Rasa air begitu ambyar, hanya bisa di teguk beberapa kali untuk basahi mulut.
"Minum lagi,Mi" ucap Josh.
"Pahit Josh" adunya menolak.
"Josh ambil gula ya, Mi" bertanya dan di angguk Melani.
__ADS_1
Josh keluar untuk pergi ke dapur cari gula, berpas-pasan sama Wiliam yang hendak masuk bawa obat.
"Kamu kok tinggalkan Mami?"
"Mulut Mami pahit,jadi Josh mau cari gula" sahutnya terburu-buru.
Wiliam biarkan Josh pergi ambil gula, dirinya masuk untuk memaksa minum obat.
"Kamu minum obat ini,biar cepat turun panas kamu" menyodorkan sebutir obat pereda demam dan sebutir obat yang tidak ia ketahui,tapi harus di minum sebelum makan.
Melani menggeleng kepala dan menutup mulut terasa pahit tapi haus.
"Bagaimana mau sembuh kalau tidak tepat waktu makan obat. Jangan kayak anak kecil harus disuapi" omel Wiliam narik tangan Melani yang nutup mulut.
Wiliam pun memberi sedikit tekanan agar Melani nurut minum obat.
"Kalau tidak mau minum sendiri obat ini,maka saya yang akan memasukkan obat ini dari mulut ke mulut" ancam serius Wiliam.
Melani tertegun,dia pun segera raih 2 butir pil obat di tangan Wiliam.Lalu memasukkan ke mulut yang bikin tambah pahit tiada tara.
"Minum ini" Wiliam serahkan botol air minum.
Hanya sekali tegukan sedikit untuk bantu pil turun seluncur di kerongkongan,di sudahi Melani.
"Kamu harus banyak minum air kalau mau turun demamnya" saran Wiliam meletakkan kembali botol air.
Melani tau jika minum obat harus diimbangi banyak minum air,akan tetapi mulutnya tidak merasa enak minum air putih ambyar.
"Mami,ini Josh bawa toples gula" ucap Josh masuk tergesa-gesa agar ibu cantik bisa minum air putih ada rasa.
Josh terlihat mandiri dan bisa mengerjakan beberapa hal kecil yang dulu tidak pernah diajarkan keluarga.
Dia mengambil sesendok gula dalam gelas,lalu menuang air di dalamnya sambil diaduk-aduk pakai sendok.
"Ini Mi" Josh serahkan air yang telah ditambahkan gula.
Melani meminum air gula, namun masih ambyar.
"Cukup Josh" ucap Melani tidak ingin merepotkan anak sambung.
Melani menatap dengan wajah sedih. Lalu ambil toples gula dan menambah 3 sendok gula di gelasnya.
Masih tetap terasa pahit, dan tidak nyaman untuk kerongkongan.
"Kalau kamu tidak habiskan,saya akan bawa kamu ke rumah sakit untuk di rawat inap" ancam serius Wiliam.
Paling pintar Wiliam kalau soal ngancam orang yang tidak punya kesempatan.
Melani pun memaksakan untuk habiskan air dalam gelas.
"Good girl" sindir Wiliam.
Akibat di paksa untuk minum air lebih banyak sebelum makan,perut Melani jadi begah, tidak sanggup untuk ikut makan malam bersama yang lain.
"Nanti kamu minum sup saja" ucap dingin Wiliam.
Hacimm....
Disahut Melani dengan bersin tertahan.
"Josh,kamu coba cari mantel atau syal" ucap Wiliam.
"Siap" Josh bergerak cepat cari yang disuruh Wiliam.
Josh membuka lemari pakaian, menarik kursi untuk ambil syal di rak atas.
Saat narik syal, ada benda yang terselip jatuh tak berbunyi.
"Harus cepat kasih Mami" Josh lompat turun dari kursi.
Dia pun berlari keluar untuk berikan syal yang di ambil.
"Sini Josh pake kan, Mi" ucapnya melayani ibu cantik seperti permaisuri dalam istana kecil.
__ADS_1
"Terima kasih sayang" balas lembut Melani mengelus wajah tampan kecil itu.
Mata lainnya melihat tingkah mereka, tidak sadar akan kehadiran dirinya.
"Cepat duduk!" perintah Wiliam dengan suara menekan tinggi.
"Iya, Dad" Josh menarik kursi di samping Melani.
Makan malam di mulai mereka bertiga yang duduk satu meja sama dengan menu yang sama pula.
Agar Melani tidak lalai untuk minum obat, Wiliam kembali ingatkan.
"Sudah sana istirahat di kamar.Nanti saya minta pelayan buatkan jus" ucap dingin Wiliam, melanjutkan makan.
"Josh sudah selesai, Dad" Josh cepat habiskan makan dan minum, untuk temani Melani di kamar.
Wiliam hanya kibaskan tangan, biarkan mereka berdua tinggalkan dirinya dinner.
"Begini kalau jadi orang tua" gumam Wiliam, lanjut nikmati makan malam seorang diri.
Melani yang masuk kamar melihat secarik kertas jatuh di atas lantai. Kertas yang berisi catatan isi hatinya akan kehilangan bakal bayi.
"Semoga Josh belum baca" cepat sembunyikan dalam pinggang celana karet.
"Mami kenapa?" tanya Josh lihat gerak gerik tegang.
"Cuma sakit perut" asal jawab Melani,pegang perut yang berisi selipan kertas.
"Mami cepat naik ke tempat tidur. Josh keluar cari obat" panik Josh,narik Melani untuk segera istirahat.
Seorang anak kecil seperti Josh dapat menggugah Melani, yang selalu merutuk sesal telah kembali dari masa depan.
"Kalau kamu masih ada,kamu pasti akan seperti dia kan,nak" tanya Melani yang pegang selipan kertas dalam pinggang celana.
Hiksss... Hikss...
Derai air mata selalu terjun bebas jika mengenang kejadian.
Luar kamar, Wiliam menanyakan perihal Josh yang keluar kamar tergesa-gesa.
"Apa yang sedang kamu cari?" duduk penasaran lihat Josh ke dapur ambil sesuatu.
"Mami sakit perut,Dad" jawab Josh ke inti pertanyaan.
Wiliam meletakkan sepasang alat makan. Lalu cepat lihat keadaan Melani. Takut penyakit Melani jadi makin serius.
"Mel,perut kamu sakit?" tanya cemas, langsung periksa perut Melani.
Wiliam menempelkan telapak tangan,lalu meniru tindakan dokter ketika periksa pasien.
"Ko, udah enggak sakit lagi kok" dalih Melani takut ketahuan selipan kertas.
"Diam dan biarkan saya periksa" tegas Wiliam, mengetuk punggung tangan yang nempel di atas perut Melani.
"Kamu sakit sampai nangis begitu" ujar Wiliam, melirik.
Melani cepat usap kering sisa air mata, tidak ingin Wiliam bertanya lebih banyak.
"Mami, Josh buatkan susu coklat hangat.Minum dulu, Mi" ucap Josh masuk bawa nampan isi cangkir susu coklat buatan pelayan atas permintaan.
"Apa hubungannya sama sakit perut, hmm?" Wiliam bingung dapat pelajaran dari mana anaknya untuk nanganin sakit di perut.
"Kata Mami, jika perut gembung atau begah,harus di kasih minum air hangat. Karena mulut Mami pahit, jadi Josh buatkan susu coklat manis" jelas Josh secara detail.
Selagi hangat, Wiliam pun suruh Melani untuk habiskan susu buatan Josh.
"Senjata makan tuan" ujar batin Melani, wajib habiskan susu hangat walau masih kenyang air.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.