
Bab 45
.
2 hari kemudian.
Pernikahan mereka yang sudah dekat membuat Melani dan Wiliam harus mengikuti tradisi lama, yaitu mesti dipingit.
Rencana awal ingin mengadakan resepsi mewah nan megah pun, gagal total semuanya. Resepsi tersebut diadakan secara sederhana yang dihadiri oleh sanak saudara family terdekat mereka saja.
Undangan yang tercetak banyak tergeletak dalam kotak .
"Mel, ayo minum obat dulu"bujuk ibu suri, memberikan pil anti dipresi dan pil asma.
Semenjak keluar dari rumah sakit, Melani lebih banyak duduk mengurung diri dalam kamarnya,melamuni uang 1,5 M yang raib. Aktivitas kantornya saja pun tidak diingatnya.
2 malaikat pencabut nyawa,mencatat hasil pencapaian Melani menjalankan misi dari mereka.
"Proses kehancuran ,100 persen" malaikat pencabut hitam mencentang kolom misi.
"Membuka hati menerima takdir baru, 0.5 persen" malaikat pencabut putih mencentang kolom misi kegagalan Melani.
Kedua malaikat pun menghilang, setelah menyelesaikan tugas mereka memberikan penilaian.
Dalam beberapa hari sebelum perayaan pernikahan Melani dan William, Nyonya Wijaya memberikan waktu lebih banyak bersama putrinya.
Curahan kasih sayang semua tercurahkan, sebelum melepas ke pergian jauh di negri seberang.
"Mel, kamu tidak boleh jahili Wiliam lagi, ya. Kalau dia main tangan, kamu harus telepon Mama. Mama akan minta Papa segera bawa kamu pulang. Saat berobat, juga mesti patuhi saran dokter, biar lekas sembuh" nasehat sambil membelai wajah lesu linglung Melani.
"Ma, Mel wanita sukses Indonesia loh" sahut Melani ingat masa depan sebelum balik lampau.
Sakit sekali hati Nyonya Wijaya dengan keadaan Melani, entah apa penyebab depresi sesungguhnya.
Untung saja sudah ada orang yang ingin bantu merawat dan memberi pengobatan terbaik.
Sementara itu, perusahaan kecil Melani dialihkan pada Ronald hingga pulih dan dapat beraktifitas kembali.
"Ko, kamu tenang saja. Yang penting nama baik Melani dan kita jangan sampai rusak" jawab Ronald ikut prihatin pada mantan gadis impian.
.
5 hari kemudian....
.
Walau Melani tidak lagi menunjukkan sifat depresinya,namun aktivitas berbau pekerjaan tidak diperbolehkan Tuan Wijaya yang dapat kabar penyebab dari Wiliam.
__ADS_1
"Kamu sedang dipingit. Jadi harus sampai nikah dan dapat izin dari Wiliam, hum" Tuan Wijaya membelai kepala Melani yang bersandar di bahunya.
"Itu berapa lama, Pa?" Melani bertanya dengan suara lemah.
"Mungkin habis honey moon" tawa kecil Tuan Wijaya coba merilekskan pikiran Melani.
"Oh" merangkul erat tangan pria tua tempat sandaran bermanja sedari kecil.
Alangkah bahagianya jika Melani tidak sedang mengalami depresi ,maka Tuan Wijaya bisa lebih banyak bercerita tentang aroma perusahaan sebelum berpisah. Serta dapat lebih memanjakan Melani.
"Sudah jadi istri orang kok masih manja sama Papa ?.Bisa cemburu kalau Wiliam lihat loh" duduk gabung menghampiri dengan sepiring potongan buah.
"Siapa suami Melan ,Pa?" tanya Melani lupa beberapa memori.
"Tuan Wiliam Lee. Itu kartu undangan yang tidak habis terbagi" jawab dan tunjuk Tuan Wijaya.
Melani mengambil selembar undangan bertulis namanya dan pasangan. Lalu bertanya, mengapa dia mesti menikah begitu lulus kuliah, di usia baru 22 tahun lebih dikit.
Dibuat hancur secara tidak langsung hati mereka sebagai orang tua. Anak mereka depresi kok terbawa sampai amnesia.
"Mel, minggu depan kamu genap 23 tahun. Hari ulang tahun pertama setelah menikah" ibu suri ngelus lembut pipi ,tapi sedih tak terutarakan.
"Oo" natap Mama Papa bergantian.
"Kamu sudah mesti tidur, lusa kan sudah hari pernikahanmu" sambung Tuan Wijaya, tidak ingin nambah beban pikiran dan batin pada dua wanita kesayangan.
"Iya loh, Mel. Ayo Mama temani kamu ke kamar" ajak Nyonya Wijaya.
Tuan dan Nyonya Wijaya ngangguk tidak pasti akan kepulangan anak sulung mereka.Yang penting menenangkan sementara hati Melani.
2 hari berlalu cepat. Hari penting bagi kedua belah pihak pun tiba.
Melani dengan gaun pengantin putih gading, dan dandanan elegan penuh kharisma keluar mengandeng sikut tangan sang Papa dari kamarnya menuju pangeran berkuda putih yang datang jemput.
Bibir berbalut lipstik merah cabe merekah Melani ,tampak cemberut kekurangan satu orang saksi penting.
"Mel, senyum donk" bisik Nyonya Wijaya.
Melani melebarkan garis sudut bibir agar tampak senyum,menyambut uluran tangan pangeran kuda putih tua.
"Wiliam, kami serahkan putri kecil kami untuk kamu jaga dan sayang. Jika kamu tidak bisa menjaga dan menyanyanginya lagi,harap pulangkan kembali, atau tidak sanggup memulangkan langsung, kamu bisa minta kami menjemput" petuah Tuan Wijaya, menyerahkan tangan putri kecil kesayangan pada telapak tangan besar.
"Baik" sahut singkat jelas dan padat Wiliam.
Tangan Wiliam mengenggam tangan Melani dan diletakkan pada pergelangan sikut,menuju mobil mewah putih beronamen hiasan bunga pernikahan.
Dalam mobil menuju tempat resepsi, mata Wiliam melirik Melani yang duduk murung.
__ADS_1
"Kamu kenapa?.Sakit ?"
Melani menggeleng, karena bukan sakit,melainkan menunggu salah satu anggota keluarga yang belum pulang menghadiri pestanya.
"Jika kurang enak badan, kita percepat saja acara jamuan"
Melani ngangguk nurut seperti pesan ibu suri sebelum hari- H.
Sesaat kemudian, mobil putih mewah tiba di sebuah tempat out door berornamen mewah menyambut mereka berdua.
Dor... Dorr...
Letupan mercon kertas saat ditarik menyambut mereka masuk gerbang. Sempat sesaat Melani kaget dan merangkul erat tangan pria yang menuntunnya.
"Kamu kaget ?" menepuk pelan punggung tangan Melani.
Melani ngangguk malu pada hal kecil.
Mereka juga dapat sambutan dengan taburan bunga dan dancer dari wedding organizer.
Serta cuitan siul dan tepuk tangan meriah dari keluarga dan tamu khusus.
"Sungguh cantik dan tampan" ucap saudara pihak Melani, bertepuk tangan makin kencang.
"Iya.Pasangan serasi. Seperti matahari dan bulan" jawab orang duduk satu meja.
MC menyambut kehadiran yang berbahagia untuk naik pentas, memberikan kata sambutan pada tamu keluarga.
Ronald yang duduk dipojokkan hanya bisa menggigit jari, melihat gadis impian bersanding pria lain. Kuat tidak kuat wajib kuat. Dia tidak ingin perasaan diketahui abangnya, cukup dua wanita tua saja.
"Hey, Ron. Giliran kamu kapan" seseorang menepuk pundak Ronald dari belakang.
"Hei bro. Silahkan duduk. Gue masih ingin bebas" jawab santai Ronald.
"Wahh... Jangan kelamaan juga dong. Emang gak pingin lepas lajang?" saudara seumuran tertawa canda,mata mengarah ke bawah.
"Sial lu pada. Mentang sudah ngeluarin anak ayam bertumpuk, tuh" balas Ronald terkekeh lihat mereka coba bebas dari ikatan istri dan anak yang ngekor.
Serumpun pria tertawa lepas dengan beban dan bahagia mereka masing-masing.
"Papa.... Papa... Dendong" balita 5 tahun menarik salah satu jas mereka.
"Nah, apa gue bilang" Ronald semakin terkekeh.
"Elehh... Mentang ponakan lu udah ada mainan baru" sindir pria mengendong balita.
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk semua.