Change Destiny

Change Destiny
171 Kembali rukun


__ADS_3

Bab 171


.


Beberapa menit kemudian,...


Setelah berpakaian rapi dan bersih, Melani pun bersiap untuk keluar dari rumah mewah itu.


Di lantai bawah, Wiliam menerima berita kepanikan Mama mertua.


Bagaimana tidak panik?. Mobil beserta putri mereka hilang entah sejak kapan.


Dan Wiliam pun merahasiakan keberadaan istrinya yang habis dijadikan penghangat ranjang sepanjang malam.


"Wil,jika Melani ada hubungi kamu, segera kasih tau Mama ya" ucap ibu suri bersuara tercekat panik,pada orang diseberang.


"Iya, Ma" jawab Wiliam seolah tidak tau kemana istrinya hilang.


Di kamar utama,Melani masih sibuk mengemasi sisa benda miliknya yang belum sempat terbawa semua.


Ketika Wiliam kembali ke kamar, semua pakaian dan lainnya dalam koper dituang Wiliam.


"Kamu sudah pulang, maka jangan harap bisa keluar lagi" ancamnya dipelototi Melani yang marah lihat semua yang di koper berserakan.


"Nggak!" jawab ketus Melani, memunggut rapi benda yang berserakan di atas tempat tidur.


Baru ditinggal beberapa hari, wajah tampan itu terlihat tidak bersemangat, namun untuk berdebat dengan Melani dia masih punya tenaga cadangan.


Setiap Melani menyusun ke koper, maka Wiliam akan melempar jauh. Untungnya tingkah mereka itu tidak ada yang lihat.


"Ambil saja bajuku kalau Koko mau!" oceh jengkel Melani dibuat capek munggut baju yang berserakan.


"Kamu mau kemana,hmm!!" wajah dingin itu menahan tangan Melani.


"Pulang" menghempas tangan Wiliam.


Grebbb....


Tiba-tiba Wiliam berdiri, memeluk Melani dari belakang.


"Ini rumah kamu. Jangan biarkan rumah ini dingin seperti dulu" ucapnya sambil memeluk posesif.


Mungkin apa yang keluar dari mulut Wiliam adalah halusinasi yang ingin didengar Melani.


"Aku mau pulang" melepaskan rangkulan posesif Wiliam.


"Kamu pergi karena belum bisa jadi Mami kandung,kan?" Wiliam to the point setelah beberapa hari merenung semua kejadian.


Flash back....


Ketika Melani benar-benaran keluar dari rumah beberapa hari lalu, dunia Wiliam berubah 360 derajat. Sepanjang hari marah-marah tak jelas pada karyawan.


Kesalahan sekecil butiran debu, bisa di zoom Wiliam sampai sebesar batu besar di kali.


"Bisa kerja nggak kalian,hahh!!. Kerja kalian ini seperti orang tak berotak!. Percuma kalian sekolah tinggi,tapi otak kalian semua di kaki" maki Wiliam, melempar dokumen serahan sekretaris dan beberapa orang dari tim lain.


Tak satu pun dari karyawan berani tegakkan kepala mereka.


Habis dimarahi cukup panjang, pedas, kasar mereka pun keluar.


"Ada apa sama Tuan?. Tidak biasanya Tuan marah segitunya" tanya kepala gudang.


"Ini semua salah kalian.Kalau kalian tidak buat kesalahan,aku tidak akan kena imbas busuk" cerca sarkastik sekretaris.


Dalam ruangan CEO, Wiliam mengacak rambut, juga jambak rambut.

__ADS_1


Pikiran Wiliam me-restart setiap keinginan Melani, yang mendambakan jadi seorang ibu, merasakan perasaan seorang ibu dengan perut membesar dan berat selama 9 bulan lebih.


Flas on....


Hikss.... Hikss....


Isak tangis menderu itu hiasi kebimbangan hati mereka.


"Kita pasti akan segera memiliki bayi" bujuknya, membalikkan punggung Melani.


"Koko nggak bohong?" sesenggukan bertanya.


Wiliam bergeleng pelan,sambil mengusap jalur air mata Melani yang basahi wajah cantik istrinya.


"Jadi kamu jangan tinggalkan saya,hemm" mencium kening Melani.


Cukup anggukan pelan, hilangkan semua amarah dalam diri Wiliam.


.


Wiliam pun lupa memberitahukan pada Melani, akan pencarian Melani yang dikabarkan hilang oleh orang tuanya.


Dia sibuk untuk membujuk dan menunjukkan perhatian khusus pada sang istri,yang tidak tau sejak kapan telah muncul cinta yang dalam dan terikat satu sama lain.


Jarum jam bergerak terus, tidak mempedulikan apakah kedua pasangan baru rukun itu ingat dengan yang lain.


"Koko" panggil manja Melani.


"Mmm" dehemnya membelai rambut istri yang tidur manja dalam pangkuan.


"Koko nggak ke kantor?" mendongakkan kepala.


"Enggak" elus wajah cantik menatap dirinya.


"Nanti anak kita di kasih makan apa?" candanya setelah beban diri lepas bebas.


Hehehe....Tawa Melani tau seberapa besar kekayaan suami.Tidak usah formal ke kantor, tetap akan mendapatkan income besar tiap menit .


"Ya ampun!!" seru Melani beranjak bangun dari pangkuan Wiliam.


"Ada apa?"


"Aku lupa bilang ke Papa Mama, kalau aku pulang bawa mobil Papa" Melani panik,mana lupa bawa HP untuk kasih tau.


"Habis makan siang,kita jemput Bibi dan Josh" jawab Wiliam, tidak berani bilang informasi yang didapatkan, karena bisa merusak suasana yang membaik.


"Koko suapin ya" pinta manja Melani.


"Mmm" angguk.


.


Sehabis makan siang mereka pergi ke rumah keluarga Wijaya, untuk menjemput 2 anggota keluarga Lee yang mengungsi.


Kedatangan Wiliam dan Melani disambut histeris 2 wanita tua, tidak lupa histeris lebay Josh.


"Mami jangan tinggalkan Josh.Josh janji akan turuti perintah Mami" tangis sesenggukan,sambil jauhkan Wiliam yang coba memisahkan ibu dan anak.


"Iya Mel. Kamu boleh tinggalkan Wiliam,tapi jangan bibi dan Josh" ibu tua nasehati Melani.


"Siapa pun tidak boleh kamu tinggalkan" tambah ibu suri kasih dukungan full pada mantu.


"Melani akan tinggal di rumah kami kok, Ma" jawab Wiliam membela.


"Benarkah?. Kalau dia pulang kemari, Mama akan usir dia" ucap ibu suri, menjewer telinga Melani.

__ADS_1


Sudah jadi istri,ibu dan mantu orang lain, Melani masih diperlakukan hal sama oleh Mama-nya, seperti waktu berstatus single.


"Sakit,Ma" meringis sakit.


"Ampuni Mami, Grandma" Josh memohon.


"Ok" lepaskan tangan penjewer. "Ini karena Josh"


"Mama pilih kasih" umpat pelan Melani,usap telinga.


Mereka semua berkumpul di ruang tengah, sambil nunggu Tuan Wijaya pulang dan berpamitan.


.


Beberapa minggu kemudian....


Tubuh Melani ngilu sepanjang hari, dirinya tiduran di tempat tidur juga kurang nyaman.


Malamnya, Wiliam memijit pelan sekujur tubuh istrinya yang merengek manja.


"Sini, ko" titahnya nunjuk pundak.


"Terus?"


"Kepala" merasa lebih nyaman saat dipijat .


"Sudah mendingan?"


"Sudah" rasa kantuk menyerang.


"Minum obat parasetamol ya?. Mulai demam" ucap Wiliam, periksa suhu tubuh Melani terasa hangat berlebih.


"Nggak.Aku mau Koko peluk" tolaknya, berbalik.


"Enggak takut saya ganggu,hmn?" alis Wiliam naik turun.


"Mel,mau bobok saja" ujar manja Melani, jauhi Wiliam dengan tatapan anehnya.


"Tadi siapa yang minta dipeluk" godanya, menyelimuti tubuh Melani.


Melani pun tertidur dalam belaian kasih sayang sang suami.


Esok pagi....


Melani terbangun dengan rengekan sekujur tubuh ngilu berat. Hal tersebut membuat Wiliam panik sambil telepon dokter keluarga.


Josh yang dengar kabar itu,jadi ikut-ikutan mogok masuk sekolah.


"Josh mau temani Mami" mohonnya berlutut pada Wiliam.


"Tapi Daddy dan Mami tidak mau dapat panggilan guru, karena kamu"


"Ok,ok"


Dokter ngos-ngosan berjalan cepat masuk rumah mewah itu ,untuk periksa kesehatan Nyonya rumah.


"Anda sudah ditunggu Tuan" ucap kepala ART, menunjukkan jalan.


.


......................


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2