
Bab 95
.
Dekapan yang hangat tetap saja buat bulu kudu Melani merinding ketakutan. Mengapa tidak?. Semenjak tinggal satu atap dan sering berkontak, dia lebih banyak terima hukuman jika melakukan kesalahan,baik bertindak salah pada dirinya sendiri maupun pada sang suami.
Wiliam mengambil air mineral yang ada di mobil untuk mensterilkan kotoran di telapak tangan istrinya,lalu ambil kotak P3K yang tersedia di mobil itu.
Perlahan ia mengolesi obat merah pada luka sambil meniup biar tidak perih, kemudian membungkusnya dengan kapas dan perban.
"Tuan, perbannya enggak usah dibuat habis" ucap Melani, lihat 2 gulung perban hampir habis hanya untuk dua telapak tangan.
(Mungkin mau dijadikan mummy🤣🤣).
"Bukannya terima kasih, malah ngatur" hardik Wiliam menghabiskan gulungan perban tersisa.
Sudahlah, dari pada tetap jadi ribet sebelum terima hukuman, lebih baik kunci rapat mulut dan terima nasib.
Mobil pun mulai meninggalkan hutan ini, Wiliam melawan arah jalan dari sewaktu mereka datang.
"Oh ternyata ada jalan lebih bagus.Kok nggak dari awal,senang kali dia lihat aku tersiksa" omel batin Melani.
Jalan yang sekarang dilalui mereka juga bukan merupakan jalan tol mulus,tapi setidaknya tidak banyak lubang, hanya saja jalur berbelok dan ruas jalan lebih sempit tidak bisa dilalui 2 mobil sekaligus.
Mesti lebih berhati-hati kalau melintas, karena pinggiran ruas jalan adalah jurang terjal.
"Kalau kamu takut, pandang lurus saja" ucap Wiliam fokus nyetir.
"Tuan, kapan kita sampai hotel?" tanya Melani.
"Masih sekitar tiga puluh menitan lagi"
"Kalau perkampungan?" menahan kebelet buang air kecil.
"Sama"
"Uhhh..." duduk mengepit rapat paha.
"Kamu kenapa sih?" tanya suami.
"Nggak ada apa-apa"
Baru saja mereka diaman kurang sepuluh menit, Melani bertanya kembali pertanyaan sama dan di jawab sama pula.
"Kamu kenapa, hum?"
"Aku secing" jawab Melani tidak peduli malu.
"Apa itu secing?" pikir Wiliam Melani ingin makan sesuatu atau mencari sesuatu.
"Sesak kencing,tau!" ketusnya nahan malu.
"Oh..." datar, tapi bibir menyeringai.
Tidak bisa mobil melaju dengan kecepatan tinggi dengan ruas jalan kecil, terpaksa Melani harus sabar dengan duduk gelisah,sambil tampang jutek merinding tahan pipis.
Dua puluh menit kemudian mereka masuki area pemukiman warga, segera dicari rumah warga yang bersedia meminjamkan toilet bagi mereka.
__ADS_1
"Permisi Bu, boleh kami pinjam toilet?" tanya Wiliam.
"Nggak ada toilet, yang ada kakus" ucap ibu tua paruh baya nunjuk arah kakus umum.
"Di sana ya. Terima kasih" balas Wiliam.
Dia pun memanggil Melani untuk turun menuju kakus umum warga. Karena sudah di ujung tanduk, Melani tidak sanggup turun apalagi berjalan.
"Memohon dulu pada saya, baru saya bantu kamu" ucap dingin Wiliam,tapi niat hati memang ingin menggoda orang yang kebelet.
"Ini orang paling menyebalkan sepanjang masa. Andai ada orang lain,aku pasti minta tolong sama orang lain aja" mata lihat kiri kanan,mana tau ada dewa penolong yang lewat.
Mungkin kebetulan yang tepat tanpa sengaja, seorang pemuda tampan melintas arah mereka dan menyapa mereka pula.
"Maaf Kang. Boleh aku minta bantuan?" tanya Melani wajah kian merinding secing.
"Boleh atuh Neng. Sok apa itu?"
"Bisa gendong aku ke toilet?" rada malu.
"Oh, kakus maksud si Eneng. Ayo,Akang bantu" jawab pemuda meletakkan pacul samping mobil.
Ada yang tau apa yang terjadi pada Wiliam saat mendengar percakapan mereka?.
Api cemburu membakar wajah putihnya, sontak Wiliam menghalangi pemuda itu modusin istrinya.
"Biar saya saja yang gendong dia" hardik Wiliam, mengusir pemuda jauhi punyanya.
"Tidak apa Tuan,aku-nya juga kuat kalo gendong Eneng gelis" rebutan gendong.
"Cukup!!." teriak Melani dongkol.
Tangan Wiliam langsung membopong turun Melani dari mobil,tanpa perlu izin dan acuhkan pemuda yang ngebet dekati istri.
"Sebaiknya aku saja yang gendong si Eneng. Sayang atuh jaket bagus Tuan rusak" ucap pemuda ngikutin mereka.
Sampai juga mereka bertiga di kakus umum yang terbuat dari bilik bambu dengan tinggi satu meter setengah saja. Dengan penutup terbuat dari terpal plastik usang.
Mata pasangan itu melotot lebar selebar-lebarnya.
"Ini kakus-nya?" serentak kedua pasangan nanya.
"Iya Neng. Meski kurang bersih, tapi belum makan korban" jawab pemuda.
"Minggir kamu" menatap sinis pemuda yang coba goda istri.
"Tuan, jangan tinggalkan aku ya" bisik pelan Melani, takut di intip saat buang air kecil. Dan Wiliam ngangguk.
Demi menjaga keselamatan istri dari tatapan mata orang lain, Wiliam berdiri di depan pintu terpal usang yang krewak bagian bawah sekitar 10 cm.
Melani yang sudah ada di dalam kebinggungan melepaskan celana dengan tangan terbalut perban tebal,belum lagi kakus yang dimaksud warga adalah langsung pembuangan ke empang. Dengan permukaan empang dipenuhi ikan lele peliharaan.
"Sudah belum Mel?" panggil Wiliam, mata terus ngawasin pemuda yang siap colong kesempatan.
"Belum" jawabnya terpaksa membuka perban.
"Lama banget ini anak. Jangan bilang dia sekarang niat mandi" gumam batin Wiliam.
__ADS_1
Srrzzz...
Terdengar suara saluran air mengalir, orang yang di dalam malu setengah mati, tapi apa daya.
Sedangkan Wiliam mengusap kasar wajah tak kalah malunya, refleks pun dia mengusir pemuda untuk lebih jauh dan hilang sekalian.
"Tak baik kalau hanya berdua saja.Takutnya yang ketiga itu syetan" nasehat pemuda.
"Anda orang ketiganya. Jadi silahkan pergi" sindir ngusir.
Selang beberapa detik, serumpun gadis desa memakai sarung dan bawa bakul cucian menghampiri mereka.
"Selamat sore Akang-akang" sapa mereka dengan senyum malu-malu.
"Mau nyuci ya,Neng?" tanya pemuda.
"Iya Akang. Masa kemari mau masak. Hehehehe..." sahut salah seorang gadis sambil tawa tersipu.
"Akang tampan mau mandi,ya?" goda seseorang lagi pada Wiliam.
"Nggak!" ketus jawabnya, meninggalkan serumpun gadis.
Serumpun gadis saling berbisik mengagumi pria dingin tampan walau jutek.
"Mel, sudah selesai belum?" tanya Wiliam bernada kesal,melipat tangan.
"Sudah" keluar dengan perut lega.
"Lama banget. Keburu malam" mengandeng jalan cepat.
"Tuan, tolong jangan pegang. Aku sudah bisa jalan sendiri" coba lepaskan pegangan.
Baru sadar tangan istri lepas perban, dilihatnya luka yang basah itu.
"Kamu ini suka melawan ya. Sudah tau luka kamu tidak boleh tersentuh air kotor, masih saja kamu lepaskan" marah Wiliam.
"Soalnya tadi gak bisa buka kancing,jadi aku terpaksa lepaskan" membela diri.
"Kan bisa minta bantuan saya"
Melani terdiam, mungkin saja big bos lagi kesambet hantu yang lewat sore menjelang magrib.
Sikap acuh Melani semakin buat big bos gregetan ingin segera menjatuhkan Melani di dalam pelukan.
Setiba di hotel, Wiliam menyuruh Melani untuk mandi serta mencuci tangan dengan sabun antiseptik. Selama menunggu, Wiliam juga membrowsing internet cari cara alternatif menaklukkan hati wanita dengan cepat.
"Bunga, suprise, berlian, candle light dinner, bioskop. Memang ribet" keluhnya sambil nulis daftar strategi.
Biasanya dia tidak pernah melakukan hal tersebut. Kebanyakan wanita menggoda dirinya untuk minta dibelikan sesuai kemauan mereka saja. Dan ternyata itu semua adalah kesukaan wanita penggoda dan normal.
Untuk melakukan semua itu,dia tidak perlu langsung terjun. Cukup menelepon orang yang tepat untuk mengurus semua masalah dia.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.