Change Destiny

Change Destiny
142


__ADS_3

Bab 142


.


Telah beberapa minggu Josh liburan akhir semester yang panjang. Saatnya bagi dia untuk back to school.


Seragam merah putih lengkap dengan kelengkapan atribut lain,siap untuk menuntut ilmu. Dengan semangat 45, dia diantar Melani ke sekolah.


"Sekarang sudah kelas 2, tandanya sudah jadi Abang kelas.Harus semangat belajar dan jangan suka urusi urusan lain tidak penting" nasehat Melani memakai topi sebelum turun mobil.


"Ok, Mami. See you later.Emuachhh" pamit Josh, sambil mencium pipi ibu cantik hingga meniru suara ciuman sayang.


Melani membalas ciuman dikedua pipi tampan,dan bukakan pintu mobil.


"Non, kita langsung pulang" ucap supir dapat perintah agar tidak bawa Melani ke tempat lain, jika tidak dapat izin.


"Iya Pak" jawab datar Melani.


Sepanjang jalan,ia merasa hampa akan kehidupan ini.Walau usaha yang dirintis sudah berkembang, namun seakan beda.


Kesibukan yang dilakukan juga tidak menghilangkan semua luka dan penyesalan yang ada.


Coba saja dia tidak kembali. Mungkin tidak akan merasakan kehilangan suatu kehidupan kecil dalam perut.


Itu terus-menerus menghantui pikiran Melani jika sedang sendirian.


"Pak" panggil Melani enggan turun mobil yang sudah sampai di mansion.


"Ya, Non" jawab supir lihat dari kaca mobil.


"Bagaimana perasaan Bapak jika kehilangan salah seorang anggota keluarga?" tanya Melani tidak jelas.


"Maksudnya, Non?. Tapi yang pasti sedihlah.Apalagi kalau keluarga terdekat" jawab supir secara biasa.


"Huufff.... Meski itu Bapak belum pernah melihat wujudnya?" berhela nafas, lihat ayunan di bawah pohon rindang samping mansion.


"Kalau tidak pernah ketemu, pasti tidak sesedih yang sering kita jumpa.Emangnya kenapa, Non?" supir jadi penasaran, karena tidak dengar kabar ada anggota keluarga majikan yang meninggal dunia.


"Enggak apa-apa" jawab sedih, membuka pintu mobil.


Melani pun berpikir, apakah Wiliam punya pendapat yang sama jika ditanya. Jika jawaban atas pertanyaan yang sama di jawab dengan jawaban sama pula,maka pria tergolong orang tidak berperasaan.


Kakinya melangkah lesu masuk mansion. Sambutan pelayan saja dijawab dengan anggukan lesu.


"Mbak,nanti masak kesukaan Josh saja ya" perintah lesu Melani,jalan masuk kamar.


"Iya, Nya"


Dia memasuki kamar rapi seakan tidak ada kegiatan apa pun di dalamnya.


Lalu mengeluarkan ponsel dan laptop yang tersembunyi di laci meja samping tempat tidur.


Biarpun tanpa Josh, sebagai seorang profesionalis dia harus profesional dan tanggung jawab atas usaha yang mereka dirikan dari nol.


Tring....


Notifikasi ponsel berbunyi, dilihatnya nomor tidak dikenal mengorder pesanan.


Jika yang dipesan produk yang normal digunakan kehidupan sehari-hari,Melani terlihat tenang. Namun saat ini,ada orang yang ingin memesan produk wanita hamil, dia pun teringat kehamilan mudanya.


Sedih banget hati Melani teringat kejadian itu. Derai air mata tidak mampu tertampung lagi dalam rongga mata.


Tangisnya tertahan oleh bantal menutup mulut. Semua kenangan singkat terungkit jelas dalam memori.


"Maafkan Mami,nak" rutuk tangis Melani.


Sekeras-kerasnya menjerit,tetap tidak ada yang dengar teriakannya yang tertutup bantal.


Beberapa menit setelah puas menangis dan jerit, Melani tengkurap hingga tertidur sesaat.


Jika tidak ada telepon dari Tuan Wijaya, mungkin dia akan tidur panjang.


"Mel, suara kamu kok serak?. Habis nangis?" tanya Tuan Wijaya yang menghubungi untuk ajak makan malam bersama.


"Habis nonton mini drama, Pa" sahut Melani berbohong.


"Benar? Tidak bohong ?" Tuan Wijaya curiga.


"Benar, Pa"

__ADS_1


"Ya sudah kalau benar" coba percaya asal semua memang baik.


"Papa telepon Mel, pasti diminta Mama kan?" tanya Melani.


"Bukan. Tapi Papa ingin ajak kamu dan Josh makan malam di luar. Itu pun kalau suami kamu izinkan " jawab Tuan Wijaya.


"Oke Pa. Mel,akan minta izin dulu. Kalau boleh,nanti Mel kabari lagi ya" Melani merasa senang,dan segera hubungi orang di benua lain.


Melani menanti orang di benua lain yang sedang tidur menjawab panggilan darinya.


Tiga kali panggilan panjang itu baru tersambung.Itu pun tidak terdengar suara sapa basa basi.


"Ko,Papa undang aku dan Josh makan malam di luar, boleh ya?" ucap dingin Melani ngomong sendiri.


Tidak ada deheman iya,atau kata larangan tidak dari percakapan mereka.


"Ko, boleh nggak ?" tanya Melani lagi, tidak sabar nunggu jawaban singkat.


"Maaf" ucap Wiliam.


Melani jadi lesu sedih,dan matikan sambungan jarak jauh.


Persiapan untuk membatalkan undangan makan malam itu sudah ada,tapi Melani tetap tidak bisa mengatakan pada sang Papa.


Agar tidak terdengar suara kekecewaannya, Melani mengirim pesan penolakan terperinci.


"Ihhh... Dasar nyebelin !..Mau sampai kapan aku di kurung kayak narapidana ?. Mereka aja yang ada di jeraji besi bisa bertemu anggota keluarga mereka.Nah aku ?" geram marah Melani.


..._Amerika_...


Bukan niat Wiliam berkata demikian. Yang sebenarnya adalah ucapan rasa penyesalan akan kehilangan anak mereka.


Wiliam tidak bisa kembali tertidur setelah dengar suara istri kecilnya yang habis nangis.


"Maaf, Mel" ucap Wiliam, menjambak rambut.


Wiliam mengambil kertas dan pensil, membuat sketsa wajah Melani yang sudah 2 bulan tidak dilihat.


Dia membayangkan wajah tercantik Melani sewaktu mengandung anaknya.Lalu dituangkan bayangan itu di atas kertas putih.


Setiap detail guratan di wajah Melani tidak ada yang tertinggal untuk dilukis.


Diselesaikan segera lukisan itu dalam 30 menit.


"Kamu satu-satunya wanita yang bisa isi kekosongan hati saya" Wiliam berbicara pada sketsa wajah Melani.


Jam tidak mempedulikan dia tidur atau tidak. Sang Surya yang sudah waktunya terbit, perlahan menampakkan dirinya dengan semangat penuh kehangatan.


Setelah beberapa jam berkelut dengan penyesalan, Wiliam pun memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan agenda janji ketemu minggu itu.


Tanpa memberitahukan seorang pun akan ke pulangannya, karena untuk lebih meyakinkan dirinya mampu atau tidak akan bertemu wanitanya.


Semua pekerjaan dipercepat Wiliam sebelum pulang Indonesia.


Dia juga ingin kelanjutan pertemuan Minggu berikutnya yang belum di ACC,di serah terima pada Ronald yang berarti roker tempat.


.


Hari Sabtu...


Wiliam yang sudah siap pulang ke tanah air bersama pesawat pribadi mulai lepas landas, mengudara di langit benua Amerika.


Butuh waktu puluhan jam untuk tiba di tanah air tercinta.


Wiliam mengerjakan beberapa hal untuk diteruskan sang adik, yang berpindah tanggung jawab.


Usai kerjakan tugasnya,dia melihat kumpulan awan yang tebal sedang berkumpul membentuk berbagai objek.


12 jam kemudian, pesawat pribadi sudah sampai di langit Indonesia.


Setibanya di Indonesia, Wiliam baru menelepon adiknya yang akan bertugas di kantor pusat.


Ronald yang mendapat tugas itu pun tidak bisa membantah, tanpa banyak pertanyaan


Karena dirinya sudah di jemput untuk kepergian besok pagi.


Seorang supir juga dibuat kaget dapat telepon dari majikan yang dikira ada di benua lain.


"Ya Tuan" jawab supir panik.

__ADS_1


"Kamu jemput saya sekarang di bandara" titah Wiliam duduk menunggu di dalam pesawat.


"Baik,Tuan" jawab supir dan memantikan panggilan.


Segera supir yang sedang mencuci mobil memakai seragam bersih,dan pergi melaju jemput majikan.


Wuzzz...


Dalam waktu lima belas menit supir sudah tiba di landasan pesawat.


"Sir, your driver has arrived" pramugari membantu supir menyampaikan keadaan (Tuan, supir anda sudah tiba).


Wiliam beranjak berdiri sambil bawa laptop di tangan kiri, keluar menuruni tangga.


"Selamat datang, Tuan" sapa supir.


"Ya" jawab datar Wiliam berjalan.


Supir membukakan pintu mobil, dan kemudian pergi tinggalkan landasan pesawat.


Tidak lama mobil sampai di mansion. Pelayan yang buka pintu sempat kaget dengan pria tampan yang berdiri dihadapannya.


"Dimana Nyonya dan Josh?" tanya dingin Wiliam, masuk.


"Ada di kamar dari pagi,Tuan" jawab tegang pelayan.


Wiliam berjalan menuju kamar,dan ingin memastikan kedua orang yang di cari memang ada di dalam.


Tokk...Tokkk....


"Nanti Mba" sahut Josh dari balik pintu kamar.


Ibu dan anak tidak curiga siapa yang ketuk pintu, karena hanya ada 3 orang setiap hari di mansion itu.


Melani dan Josh pun masih serius pada pekerjaan online mereka. Hingga ketukan pintu untuk kedua kalinya lagi mereka hanya jawab santai.


Wiliam yang berdiri nunggu jadi penasaran, apa yang terjadi pada mereka di dalam kamar.


Cekrekkk....


"Mba kok masuk.Kan tadi sudah bilang nanti" ucap Josh tanpa noleh lihat siapa yang buka pintu.


Wiliam berjalan hampiri keduanya yang duduk berjarak 1 meter terpisah, membelakangi dia yang masuk.


Tidak ada balasan sahutan pelayan, Melani pun menoleh.


Haaa....


Kaget muka Melani dan cepat tutup laptop tanpa aturan.


"Mami kok tutup laptop?. Proses inputnya kan belum terkonfirmasi" tanya Josh.


"Josh..." panggil gemetar takut Melani, menutup paksa laptop yang di pegang Josh.


"Loh!.Kok punya Josh di tutup?" menolak, sebelum proses pesanan selesai.


"Lihat siapa yang di belakang" gumam halus Melani tertunduk tidak berani berbalik.


Josh berbalik karena penasaran. Ketika berbalik, dirinya sempat lompat dari tempat duduk.


"Hai, Daddy" sapa kaget tegang Josh.


Melani berharap Wiliam tidak melihat jelas apa yang sedang mereka kerjakan.


Tapi sayang.Wiliam sudah lihat semua meski belum jelas.


"Apa yang kalian lakukan tadi, hmm?" tanya dingin Wiliam berlipat tangan.


"Tidak ada" jawab tegang Josh menggeleng kepala.


Memori scan disc yang dilepas dari lubang penghubung, segera diselipkan Melani pada pinggang celana belakangnya.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2