
Bab 70
.
Esok subuh....
Wiliam terbangun, karena sentuhan geli membuat hasrat tertahan keluar. Siapa lagi yang bisa membuat hasrat itu keluar, selain Melani yang ada di kamar bersamanya. Melani menggemut jempol Wiliam dengan lembut dan expresi meresapi.
"Kamu sudah berani coba menggoda iman saya,hmm?" melihat expresi yang begitu menggoda.
Tangan Wiliam mencoba menyentuh lembut wajah expresi yang ditunjukkan Melani. Sentuhan itu pun membangunkan istrinya, dengan wajah kaget tapi masih mengecap jempol pemilik.
"Jangan sentuh" hardik Melani, mendorong tubuh kekar itu.
Bukannya makin jauh jarak mereka, namun makin nempel akibat ulah Melani lupa lepaskan jempol pemilik saat dorong tubuh kekar suaminya.
"Kamu kalau mau meluk ,ya peluk saja" celetuk Wiliam tertindih Melani.
"Ihh...Ogah meluk Om Om" balas Melani segera membenarkan posisi.
"Oh... Berani kamu sebut saya Om Om ,hmm. Bukannya kamu sedang coba goda saya" ujarnya mendelik, nahan sesuatu mulai sesak di bawah.
"Mana ada aku goda. Anda jangan asal tuduh" ngeyel.
"Perlu buktikan. Tadi kenapa kamu **** jempol saya" menjulurkan jempol basah bekas air liur istrinya.
"Pasti itu jebakan anda" Melani balik tuding.
"Hoohh.... Kamu pikir saya ini pria yang asal tuduh tanpa bukti" Wiliam menghela nafas jengkel, sesuatu di bawah pun sudah mulai tidur kembali.
"Iya.. Anda kan suka ngancam ini itu" Melani nyolot .
"Kamu ini istri yang menjengkelkan" kesal dingin Wiliam beranjak turun dari atas tempat tidur.
"Anda itu ,pria posesif,arogan" balas Melani bersuara pelan tertahan.
Agar emosi tidak meledak lebihi batas normal kesabaran, Wiliam pun mandi mendinginkan pikiran.
Usai mandi, Wiliam keluar dengan bertelanjang dada mengenakan handuk menutup bagian bawahnya.
Di kamar itu sudah tidak tampak batang hidung sang istri yang labil. Langkah kakinya keluar mencari Melani di ruang lain, setelah mengenakan dalaman dan pakai celana santai warna putih berpinggang karet.
"Dia lebih licin dari belut. Susah untuk di jinakkan" gumam Wiliam setelah menemukan sang istri membungkus kepala dengan handuk.
"Apa anda lihat-lihat" seru Melani bersuara lantang.
"Kamu sebagai istri,bisa sopan dan nurut nggak,sih" berusaha sabar hadapi sikap dan tingkah sang istri
"Aku hanya akan sopan ,jika anda sopan juga" jawab ketus Melani melihat tangan.
"Baik. Deal" mengulurkan salaman kesepakatan mereka.
Sesudah sama-sama menyepakati, Wiliam pun menepati bisikan janjinya saat istrinya tidur.
"Kamu mau pulang ke rumah Papa mu kan?"
"Ya iyalah mau" ketusnya jawab.
"Baik,saya akan izinkan kamu pulang.Tapi dengan satu syarat"
__ADS_1
"Apa?" tidak yakin tanpa barter sesuatu.
"Kita akan pulang kemari saat malam" berbalik menuju kamar.
"Haa...." Melani menganga lebar. Tidak percaya dengan pendengaran.
Nggak mungkin seorang Wiliam Lee hanya barter dengan hal sepele,tapi ya sudahlah. Yang penting bisa pulang dan cari bala bantuan, membebaskan sepenuhnya diri dari kukungan Wiliam.
Kami keluar dari rumah sederhana tanpa sarapan. Dalam kecepatan sedang supir melajukan mobil sampai ke rumah keluarga Wijaya.
Selang beberapa waktu,kami pun tiba.Di area teras berjejer mobil yang Melani kenal dan tidak.
"Ada acara apa di rumah,ya?" gumam Melani penasaran.
"Hei, tunggu dulu.Ingat malam nanti kita pulang ke rumah tadi. Atau kita putar balik" tegas Wiliam ingatin perjanjian mereka.
"Ok,ok. Puas." jawab Melani tertekan.
Dengan kode dari Wiliam, supir membuka kunci pintu otomatis, agar kami bisa turun.
Saat turun lihat keadaan sekitar ada mobil tidak di kenalnya, Melani pun mulai menduga pasti di dalam rumah itu sedang ada tamu. Jadi dia harus menjaga tata Krama dan sikap seorang wanita karir yang sukses.
Jari telunjuk menekan tombol bel,dan berdiri menunggu pintu dibuka.
"Kamu kok kaku begitu?" sindir Wiliam.
"Mana ada kaku. Sebaiknya anda jangan ajak debat.Soalnya Mama Papa aku sedang ada tamu" jawab Melani dengan sikap berwibawa.
Wiliam menahan senyum dengar jawaban istrinya itu. Karena tamu di rumah orang tuanya tidak lain dari keluarganya.
"Selamat datang,Nona dan Tuan" sambut Mbok membuka pintu.
"Makasih Mbok. Mbok,di dalam ada tamu,ya?" tanya pelan Melani.
Langkah Wiliam melangkah maju sendiri, meninggalkan istri yang sedang nanya siapa tamu rumah.
"Hei!!." panggil Melani pelan dan berjalan cepat nyusul pria dingin.
Wiliam berhenti tiba-tiba berbalik,dan buat Melani menubruk dada bidangnya.
"Kamu pingin peluk saya?"
"Idihh,ogah...." bergedik bahu merinding.
"Tunggu" menarik tangan Melani,lalu meletakkan pada sikut tangan.
"Apaan ,sih" narik keluar Melani,bakal jadi tontonan malu bagi keluarga.
"Ayo jalan" nahan tangan Melani.
Josh yang menoleh kebelakang karena mencium aroma parfum orang dikenal, segera berlari kecil menghampiri orang yang dilihat.
"Mami" seraya Josh berlari kecil ingin merangkul.
Bukannya meluk sang Daddy, malah berubah haluan.
"Sudah Daddy bilang untuk jaga etika saat di rumah lain" ucap Wiliam menahan Josh yang langsung ingin merebut istrinya.
"Iya ,Dad" menunduk ngerti.
__ADS_1
Posisi yang sama antara Melani dan Josh saat berhadapan Wiliam. Mereka seakan wajib nurut pada setiap ucapan dan titah pria ini.
Tidak bisa meluk, Josh ikut jalan beriringan menghimpit Melani di tengah.
Tampak senyum bahagia antara wajah anggota keluarga, kecuali Agung yang duduk masam.
"Kenapa pria itu?" bisik pelan Wiliam, tatapan ke arah Agung.
"Siapa" melihat hanya ada sang Papa dan kakaknya.
"Yang muda"
Melani memanyunkan wajah, agar kakaknya tau bahwa dia tidak senang.
"Duduk sini,Mel" panggil nenek menepuk tempat kosong disebelahnya.
"Sana" ujar Wiliam lepaskan tangan Melani.
Namun ada anak ayam ngikutin, tidak lepaskan tangan satunya lagi.
"Omah uyut, Mami akan ikut kita pulang,kan?" tanya bocah.
"Iya" mengusap lembut kepala bocah.
"Omah,Bibi. Melani izin ke kamar dulu" pamit Melani.
Ibu tua dan nenek langsung kasih izin, tanpa banyak tanya.
"Grandma,Josh ikut Mami saja ya" pamit bocah pada ibu suri.
"Iya, boleh kok" membelai lembut wajah tampan imut itu.
Wiliam rasanya sedang memelihara dua bocah dengan usia terpaut jauh antara mereka.Namun setidaknya dengan adanya Josh yang nguntil, akan sulit bagi Melani untuk kabur.
Sementara Melani dan Josh di ruang terpisah, yang dewasa membahas tentang alasan Wiliam membawa Melani ke tempat lain.
Setelah dengar penjelasan,para orang tua memahami kondisi akan pasangan dadakan itu.
Lalu, mereka juga ingin tau cerita bagaimana Melani bisa lolos dari peristiwa maut itu.
"Saya juga tidak tau. Karena Melani tidak mau cerita"
"Kalau begitu, kita tunggu saja dia cerita sendiri. Mungkin ada sesuatu yang belum ia siap ceritakan" sambung Tuan Wijaya, paham dengan sifat putri kesayangan.
Semua ngangguk setuju. Setiap orang yang lolos dari suatu peristiwa puluh, pasti menimbulkan trauma besar pula yang tersembunyi dalam-dalam.
Sehubungan Wiliam dan Melani yang belum sarapan, Nyonya Wijaya ngundang Wiliam beserta anggota keluarga lainnya untuk sarapan bareng.
Di dalam kamar, Melani sukar untuk bercicit cuit bebas sama Agung. Akibat ada ipar, keponakan terutama Josh.
"Sabar ya,Mel. Apa pun keputusan kamu, kakak tetap dukung" mengelus telapak tangan, tidak bisa meluk bebas pada saat ada CCTV berjalan.
Melani ngangguk,tapi tidak ada keyakinan hal itu akan terpenuhi.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.