Change Destiny

Change Destiny
105 Sindiran menyakitkan


__ADS_3

Bab 105


.


Keceriaan selalu terpancar di wajah Josh bila bersama ibu barunya.


Bukan dirinya yang ingin selalu dimanja, melainkan dia sendiri yang ingin memanjakan ibu barunya, agar sang ibu tidak akan meninggalkan dirinya.


"Mami mau makan apa, biar nanti Josh telepon uncle belikan?" menatap senang.


"Tadi Mami sudah pesan online, sebentar lagi sampai. Kamu mandi dulu ya" jawab lembut Melani, meletakkan tas sekolah dan kerja di sofa.


"Siap Mami cantik" memberi hormat ala upacara bendera.


Selang beberapa menit,Melani membuka pintu ambil pesanan yang datang.


Dia memindahkan pesanan ke piring agar mudah dimakan anak sambungnya itu.


"Josh ayo kita makan" panggil Melani,dari depan pintu.


"Ok,Mi" sahut Josh dari dalam kamar utama.


Dengan senyum semeringah, bocah itu langsung memeluk tubuh ibu baru dari belakang.


"Kamu kenapa Josh?" kaget dengan pelukan tiba-tiba.


"Mami,Josh sayang Mami" mengusap wajahnya di punggung kecil.


"Hehehe... Iya. Sekarang kita makan dulu" tertawa geli dengan penuturan si bocah.


"Bapak sama anak suka modusin. Tapi karena kamu masih kecil... No problem lah" menatap sinis bocah yang duduk menggeser kursi untuknya.


Makan siang itu terlalu tenang dan hening, hanya ada tatapan disertai balasan senyum keduanya.


"Mami cuci piring dulu. Kamu lanjut kerjakan PR" titah Melani, merapikan piring kotor.


"Mami jangan lama di dapur ya?" sahut bocah mengedipkan mata.


"Mata kamu kelilipan ya?" pura-pura tidak tau.


"Bukan Mi. Pokoknya Mami cantik jangan tinggalkan Josh" godanya.


"Iya..Iya... Hanya sebentar saja kok" berjalan menuju dapur.


Josh kembali masuk ke kamar utama untuk kerjakan PR. Bagi dirinya tidak sulit mengerjakan semua PR dari guru.


"Sudah selesai. Sekarang tinggal ajak Mami main game" mencari laptop di kamar itu.


"Kamu cari apa Josh?" masuk kamar,bawa sepiring potongan buah.


"Cari laptop,Mi" membuka laci meja samping tempat tidur.


"Untuk apa?"


"Josh mau ajak Mami main game baru" bongkar isi laci.


"Oh. Nanti Mami ambilkan. Ayo dimakan dulu buahnya" menyerahkan piring.


"Mi,ini kok ada gambar wajah Mami dan Josh?" melihat sketsa gambar.


"Mana?" mendekat.


"Pasti Daddy yang lukis saat Josh nginap tempo hari" celetuk Josh.


"Iyakah?. Emang Daddy-mu bisa melukis?" tidak percaya.

__ADS_1


"Bisa dong Mi. Tapi jangan bilang kalau Josh yang kasih tau ya. Nanti Daddy bisa marah. Aummm..." meniru suara harimau mengaum, dengan jari-jari mencakar.


"Hehehe... Ok. Kan Mami juga takut kalau Daddy-mu jadi harimau" tertawa lucu, ternyata anak kandung sendiri bisa takut.


"Jangan takut Mi. Nanti Josh bilang sama Daddy jangan jadi harimau. Hahaha.." ikut tertawa.


Melani meminjamkan laptop kerja,dan mereka mulai main game online dengan seru secara bergantian melawan rival virtual mereka.


"Mi, pakai tendangan kaki super" mengajarkan ibunya teknik tercepat kalahkan musuh.


"Ok. Mami juga mau ambil peti harta karun juga" serius lihat laptop.


"Yang itu aja Mi. Biasanya kalau lawan level 3, isi peti lebih banyak dapat kekuatan super" menyarankan, sambil nunjuk peti yang harus dilalui terlebih dahulu.


"Ok" ngangguk dan fokus.


Kwality time kali ini benar-benar buat Josh bahagia. Selain dapat rasakan kehadiran seorang ibu, dirinya juga ada teman bermain saat kesepian.


Tidak terasa mereka sudah main game 4 jam nonstop. Melani pun memesan kembali makan malam online untuk mereka.


"Josh kamu mau makan apa?" tanya Melani sebelum tekan tombol konfirmasi.


"Suka hati,Mi" jawabnya selesaikan sisa permainan ibunya.


"Ok" menekan tombol konfirmasi.


Baru saja menekan tombol konfirmasi, ponsel pun berdering.


"Halo, Omah" sapa jawab Melani.


"Mel, kalian makan malam di rumah ya" ajak nenek yang juga rindu bertemu.


"Aku baru saja pesan, Omah" jawabnya menolak kaku.


"Begitu ya. Nggak deh. Bawa aja kemari, biar makan rame-rame" nenek cari alasan.


"Siapa?" bingung.


"Tuan Wiliam"


"Oh. Kamu jangan kasih tau"


"Pasti ketahuan dong Omah"


"Pokoknya kamu siap-siap saja sama Josh. Nanti Omah langsung yang jemput biar nggak ketahuan" ucapnya langsung tutup telepon sebelum tau jawaban cucu mantu.


"Ya... Kalau ketahuan aku bakal celaka" menatap layar ponsel.


Melani pun mengingatkan Josh untuk mandi dan bersiap pulang ke rumah besar.


"Pokoknya Josh nggak mau pulang. Mami pasti nggak suka sama Josh ya?" rajuknya bertingkah dewasa.


"Bukan gitu. Tapi Omah uyut minta kita makan bareng di rumah" jelas Melani.


"Tapi,habis makan kita pulang kemari lagi kan, Mi?" meyakinkan tidak tertipu.


"Iya" tidak yakin.


Orang yang jemput pun datang tidak lama dari Melani menyetujui undangan makan malam bersama.


Nenek menekan tombol bel rumah dan menunggu sampai pintu terbuka.


"Omah. Silahkan masuk" mempersilahkan masuk.


"Kalian sudah siap?" masuk.

__ADS_1


"Sudah Omah. Tinggal tunggu delivery"


"Josh mana,Mel?"


"Lagi sisiran" izin untuk memanggil orang yang ditanya.


Nenek duduk dan lihat rumah sederhana terlihat rapi terurus.


"Memang beruntung Wiliam menikahi Melani. Tapi kemana pula anak itu menghilang beberapa hari ini. Awas aja kalau berani cari wanita lain. Akan ku kebiri biar nggak bisa main sama wanita luaran" bicara sendiri, memberi dukungan pada cucu mantunya ini.


"Omah uyut" panggil lesuh Josh.


"Hei Josh. Kok lesuh?. Pasti sudah laper ya?" tanya nenek.


Hati Melani seakan tersindir dengan ucapan nenek. Tidak mungkin ia menyiksa anak yang miliki tameng kuat, meski tidak menyukai tameng tersebut.


"Bukan Omah uyut. Tapi Josh masih mau tinggal bareng Mami" sahut bocah.


"Owalah.... Nanti habis makan,omah uyut suruh supir antar kemari lagi kok" membelai wajah cicit.


Untung saja si anak bisa menjawab dan tidak memojokkan dirinya. Tapi tetap saja merasa tidak enak dengar sindiran sengaja atau pun yg tidak.


Bel berbunyi, Melani membuka pintu. Dan dilihat wajah tampan sedang berdiri menenteng pesanan mereka.


"Loh,kok kak Ronald?" bingung lihat deliveryman sudah pergi.


"Makanan kalian sudah datang. Ayo pulang" ucap paman tampan.


"Siapa Mel?" tanya nenek.


"Kak Ronald, Omah" jawab.


"Omah,kita sudah bisa pulang sekarang" sambung paman tampan berdiri menunggu.


"Iya.Ayo Josh" berjalan keluar mengandeng cicit.


Tanpa supir yang jemput,tentu bakal tidak ketahuan kalau Melani pergi tanpa seizin pemilik rumah.


Mereka berempat pun meninggalkan mansion persembunyian pemilik menuju rumah besar, yang sedang menunggu kedatangan tamu agung.


Hidangan mulai memenuhi meja makan di rumah besar. Aneka sayur dan lauk pauk beserta makanan pencuci mulut sudah siap disantap begitu yang lain sudah duduk di tempat.


"Kamu duduk sini,Mel" ucap ibu tua menunjuk kursi di depannya.


"Josh samping Mami saja" sambung bocah, takut ditipu yang lain.


"Iya. Kamu kan suka jadi perangko" goda ibu tua, tertawa lucu.


Ronald tidak dapat menggambarkan suasana hatinya yang berbahagia detik itu. Status ipar yang dulu tidak terjadi, mungkin sudah jadi status istri tercinta. Meski sudah ada jarak pembatas, mimik wajah Ronald masih bisa dilihat ibu tua.


"Ron" kaki ibu tua senggol kaki Ronald di kolong meja.


Ibu tua tau persis gimana perasaan keponakannya ini. Dari tatapan Ronald pada Melani masih terlihat jelas sisa-sisa pengharapan tidak kesampaian.


Sebagai orang yang lebih tua juga. Sudah sepantasnya untuk mengingatkan,agar jangan terjadi kegaduhan antara sesama saudara hanya karena hal sepele.


Ronald pun paham maksud ibu tua yang senggol kakinya. Dicobanya untuk menyembunyikan perasaan yang tampil sekilas di wajah.


"Sadar Ron. Dia hanya mantan gadis yang dulu pernah kamu suka. Kini dia sudah menjadi milik orang lain. Dan orang lain itu melainkan abang kamu sendiri. Ya, Abang kamu" memarahi dirinya yang masih berharap sesekali.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2