
Bab 78
.
Langkah kaki gontai Melani meninggal pria tampan berlutut, tidak sampai disitu. Bahkan dunia khayalan mimpi semakin jauh dan jahat.
Dengan kekuasaan yang sekarang dimiliki,apa pun yang dimaunya dapat terkabul.
Pria tampan itu mengikuti Melani sampai ruang kerja CEO. Bukan hanya berlutut saja memohon demi kelangsungan kerja sama, pria tampan itu juga rela jadi budak Melani.
Pria itu mematuhi semua perintah Melani, termasuk untuk memijit pundak capek Melani.
"Saya mohon lanjutkan kerja sama kita. Masa kamu tidak ada toleransi atas hubungan kita selama ini" memohon sambil mijat pundak Melani.
"No...No....Coba kamu ingat baik-baik. Sewaktu aku minta kerja saja,kamu tidak izinkan dengan segudang alasan" ketus Melani, menggoyang jari telunjuk.
"Masa karena hal sepele, wanita secantik kamu ingin balas dendam. Ini akan merusak reputasi kamu" bujuk pria tampan.
"Ckckck..... Oh ternyata kamu sadari juga. Baguslah kalau sudah tau" berbalik mencengkeram dagu pria tampan.
"Lupakan itu semua,kita bisa mulai dengan lebih baik" sahut pria tampan tanpa melawan.
"Lupa, katamu!!. No.... Aku juga ingin minta ganti rugi atas perbuatan kamu dulu" ketus Melani.
"Apa lagi salah saya?" wajah polos tidak melakukan perbuatan keji dan menyiksa.
"Kau telah berani ambil ciuman pertama dan kedua ku. Masih tidak ingat, hahh!!!" mendorong tubuh pria tampan itu.
Wajah pria tampan tersipu malu. Namanya juga pria, saat ada kesempatan tentu tidak dibuang.
"Ingat kok. Tapi itu spontan dan kamu juga suka kan" goda pria tampan.
Plakk....
Tamparan melayang gesit, meninggalkan jejak telapak sakti di wajah putih pria tampan.
"Suka kata -mu.... Cihh... Jijik aku" meludah kesal teringat memori buruk.
"Tapi itu wajar terjadi dengan hubungan kita" pria tampan memberi pembelaan diri.
"Aku akan menuntut kamu dan memasukkan ke rana hukum, terhadap kasus pelecehan" suara menekan agar tidak di bantah.
Pria tampan berlutut memohon, keringat dingin mengucur keluar.
"Saya janji tidak akan lakukan hal itu lagi. Pandanglah muka keluarga kamu dan saya. Mereka juga yang akan malu, jika sampai saya masuk penjara" memohon.
"Baik. Demi keluargaku ,aku akan mengampuni.Tapi dengan satu syarat" ujar Melani dengan wajah angkuh.
"Apa itu?" pria tampan.
"Ceraikan aku" tegasnya.
__ADS_1
Wajah pria tampan jadi pucat, bagaimana bisa menceraikan istri yang sukses naik daun. Sementara di hati sudah mulai terpikat.
Melani kembali meninggalkan pria tampan yang berlutut dengan wajah angkuh dan senyum semeringah.
Aksinya tadi ternyata menjadi tontonan karyawan,yang diam-diam ngintip dari balik celah pintu.
"Cepat kerja!!" hardik Melani berkacak pinggang.
Semua berhamburan kalang kabut, sampai ada bertubrukan.
.
Wiliam yang hanya dengar tawa halus sampai aksi wajah jutek Melani, dibuat semakin penasaran.
"Jangan salahkan saya untuk membangunkan kami" kesal Wiliam.
Wiliam memencet hidung Melani, dan buat Melani harus bernafas pakai mulut.
"Kamu ini, sudah tidur akal masih saja aktif" melepaskan tangan pencet hidung istrinya.
Haa...Huufff.... Suara nafas Melani melalui mulut.
Cup....
Wiliam memberikan ciuman panas dan pastinya buat istri kekurangan oksigen,dan harus bangun.
Bukan Melani yang terbangun diajak ciuman panas. Bocah kecil yang terganggu melihat Daddy-nya yang menyiksa ibu barunya.
Sekuat tenaga bocah mendorong tubuh kekar Papanya, disambung Melani yang telah kembali dari alam mimpi.
"Habis Daddy, duluan" sahut Josh terima hukuman berlutut sambil jewer telinga.
Melani amat malu banget, aksi tidak terpuji jadi tontonan muka polos tak berdosa bocah. Belum lagi bekas ciuman panas tersebut masih terasa, dan membekas dibibir yang kian merah cabe.
"Itu karena Mami kamu sesak nafas.Jadi Daddy hanya beri bantuan CPR (nafas buatan)" dalih Wiliam menahan malu.
"Iya,Mi?. Mami sakit lagi?" tanya polos Josh melihat Melani berlutut dengan wajah nunduk bersemu merah.
Jika jawab Papa-nya bohong, pasti akan heboh sampai pagi.Ingin jujur kalau dia di tipu,maka lebih rumit dijelaskan.
"Ya kan,Mel. Tadi kamu sesak nafas!" tanya Wiliam dengan penekanan kata.
Kebaikan semua penting terjaga. Melani mengangguk iyakan, meski ingin mencincang pria brengsek yang sudah menipu dia.
Hukuman berakhir, Josh pun diizinkan tidur balik. Tapi tidak dengan Melani yang nunggu waktu tepat minta penjelasan.
Lihat Josh sudah tidur lelap, kakinya turun dari tempat tidur pelan-pelan. Hal yang tidak disangka bakal terjadi jika ada bocah, malah terjadi dan jadi tontonan memalukan.
Pelan-pelan Melani buka pintu kamar, dan menutup rapat kembali.
"Bangun!!. Kita harus bicara" ketus Melani berdiri dihadapan Wiliam yang berbaring di sofa panjang.
__ADS_1
Wiliam tau topik yang mau dibahas, namun ia juga sedang bergaduh pada batinnya. Mengapa hal tadi terjadi tanpa terkontrol.
"Kalau mau bicara, ya bicara saja" jawab dingin Wiliam tanpa bergeming bangkit.
"Kenapa kamu lakukan tadi!. Kamu telah memalukan aku" omel Melani, tangan nunjuk wajah suaminya yang berbaring acuh.
"Puas!!. Kalau mau ambil kembali, silahkan ambil" tantang Wiliam, menatap lekat.
"Iihh..... Dasar Om Om mesum!!" marah Melani, tangannya mengepal.
Kemarahannya pun dilampiaskan langsung pada tersangka tunggal. Melani memukul tubuh kekar yang rebahan, sampai berkurang marah.
"Jika saya meninggal, tolong jaga Josh" ucap Wiliam menggosok dada, lumayan sakit terima pukulan bogem.
"Jaga sendiri anak kamu,hengg.." ketus Melani berjalan masuk kamar.
Ingin tertawa tapi tidak tau penyebab pasti, ingin marah juga sadar diri akan perbuatan. Kebodohan itu mendatangi hati Wiliam yang dingin.
Biasa para wanita yang coba ingin mencicipi ciuman panas pengusaha berdarah dingin saja susah untuk dapat,yang ada mereka sakit hati terima penolakan.
"Ada apa dengan diri saya?. Ini pasti karena efek penasaran?. Tidak mungkin saya ada perasaan padanya" runtunan pertanyaan dijawab sendiri dengan bingung.
Rasa sakit pukulan tidak sesakit rasa malu, untuk meredam emosi korban, Wiliam pun akan mengabulkan keinginan korban.
.
Esok hari saat semu berkumpul sarapan, Wiliam membuka suara.
"Kamu masih marah?. Itu tidak baik untuk psikis kamu" ucap Wiliam baik-baik.
"Bukan urusan anda. Hidup matiku, aku yang putuskan" ketus jawabnya.
Bocah yang duduk mendengar perdebatan kecil, menghentikan kunyah roti selai. Matanya berkaca-kaca melihat ibu sambung penuh emosi kemarahan pada Daddy-nya. Terdengar jelas pula, seakan menolak hidup.
"Mami jangan marahan sama Daddy lagi, ya?. Josh nggak mau Mami pergi tinggalkan,Josh" bujuk bocah.
"Josh, cepat habiskan sarapan kamu" bentak Wiliam.
"Daddy jahat sama Mami. Josh gak sayang Daddy lagi" ujar Josh menuding, sekuat tenaga membela ibu sambung jangan sampai pergi jauh.
"Cukup..!!" bentak Wiliam memukul meja makan.
Melani dan Josh terdiam membeku melihat amukan Wiliam. Wajah merah marahnya menakuti kedua orang nunduk tidak berkutik dibuatnya.
"Mulai hari ini, terserah kamu mau lakukan apa pun. Dan bila terjadi hal buruk padamu ,itu sudah di luar tanggung jawab saya" marah Wiliam menatap jengah Melani.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.