Change Destiny

Change Destiny
156 Mandi sendiri


__ADS_3

Bab 156


.


Ronald pulang dengan tampang lelah itu disambut sang abang yang bermuka tanda tanya.


"Belum tidur,ko?" tanya Ronald basa basi.


"Kamu lihat ?" ketus balas Wiliam mengusap kerutan dahi.


"Mikir apa sih?. Bukannya perusahaan tidak ada masalah" duduk di depan Wiliam.


"Bukan itu.Ini lebih serius" menurunkan kaki tertopang kaki.


"Apa itu?" Ronald jadi ikut penasaran.


"Sikap Melani" disimak serius sama Ronald.


"Emangnya kenapa?.Apa terlalu childish?" tanya Ronald memperjelas clue.


"Bukan itu.Tapi kejadian beberapa minggu lalu sewaktu ke Singapura" Wiliam mulai menceritakan duduk penasaran.


Ronald mendengar semua aduan Wiliam secara seksama tanpa dipenggal sedikit pun.


"Yang parahnya, Josh juga ikut-ikutan?" tanya Ronald dan diangguk Wiliam.


"Begitulah mereka setiap harinya. Kamu tau sendiri sifat Josh gimana jika sudah setia" Wiliam pusing untuk masuk ke dalam celah rahasia 2 orang bersamanya.


Dua pria dewasa menghela nafas berat kasar, sambil menggeleng kepala.


Topik percakapan mereka break, karena waktu semakin malam.


"Besok baru kita lanjutkan" ucap Wiliam bangkit dari sofa setelah menghabiskan wine dalam gelas.


"Fine" Ronald juga ikut berdiri sempoyongan karena tidak kuat minum wine lebih dari 1 gelas.


"Sudah tau tidak kuat minum,masih saja nemani minum" omel Wiliam membantu adiknya naik ke lantai atas.


Senyum menyungging saja Ronald membalas ucapan sang abang, sambil naik tangga ke kamar tidur. Sampai juga mereka di depan kamar Ronald,dan pintu terbuka lebar.


"Ko, Melani itu lebih cantik dan lebih segalanya dari cewek tadi.Coba jika bukan kamu yang dalam perjodohan, pasti sekarang dia jadi milik saya" rancau oceh Ronald jujur sejujurnya dalam keadaan makin mabuk.


Bagai tersambar gledek tengah malam, Wiliam langsung menghempas tubuh sang adik di atas tempat tidur.


"Ternyata kamu masih simpan perasaan itu ke istri Koko-mu sendiri.Tidak!!, ini tidak boleh berlanjut.Dia sekarang milik saya seutuhnya" marah Wiliam menarik leher kemeja baju Ronald sudah tidak sadar diri dengan mabuk berat.


Kembali Wiliam menghempas tubuh adiknya,lalu melayangkan sebuah tamparan keras.


Plakk....


Tidak ada gunanya Wiliam memperpanjang urusan itu dengan orang mabuk berat. Dirinya keluar dari kamar itu,lalu turun ke lantai bawah untuk kembali minum wine seorang diri.


Sudah 1 botol wine tahun 1990 dihabiskan Wiliam seorang diri, untuk melampiaskan kemarahannya.


"Ha... Ha..." Wiliam tertawa marah, dan tanpa sengaja gelas di tangan jatuh bebas.


Saat bersamaan, Melani yang hendak turun ke dapur untuk ambil air minum, menemukan suaminya ngomel tak jelas.


"Aku turunnya hati-hati, jangan sampai ketahuan pak satpam" Melani ngendap-ngendap turun ke bawah, agar tidak kena kesialan saat bertatapan.


"Berhenti!!" hardik Wiliam bersuara gelegar, tangan diacungkan tinggi.


Melani pun berhenti di tempat seperti orang ketahuan.


"Mati aku" umpat pelan Melani kaki tidak boleh bergerak, mana posisi mematung tidak nyaman banget.


10 menit Melani berdiri mematung terima hukuman karena ketahuan.


"Ko,aku capek" adu pelan Melani, berharap di dengar dan dimengerti.


Kepala Melani menoleh ke belakang, lihat dimana pemberi hukuman berada.


"Enggak ada orangnya lagi.Berarti aku sudah boleh bebas" gumam Melani sambil menggeser posisi hukuman.


"Haus" ucap berat serak suara seseorang.


"Haa!. Kembali patung deh" Melani cepat cari posisi nyaman jadi patung.


"Air"


"Air?" Melani mendengar lebih jelas apa yang keluar dari mulut Wiliam.


"Minum"


"Oh.....Mau minum... Bilang toh" ujar Melani ke dapur ambil air minum.


Diambilnya 2 gelas air minum dari dispenser, dan berjalan untuk memberikan air tersebut.


"Ko,ini airnya" Melani meletakkan gelas isi air di meja.

__ADS_1


Pecahan kaca yang berserakan tidak buat Melani jadi jahat, justru dia memunggut pecahan itu hingga bersih, agar tidak ada orang dalam rumah terluka.


"Sekarang aku harus tidur kembali" ucap Melani membawa pecahan kaca pergi jauh.


"Kemari"


"Apa lagi sih!" kesal Melani sudah ngantuk.


Mau tidak mau dirinya menghampiri si pemanggil.


"Mmmm" dehem Melani berdiri di depan pemanggil.


Tangan Wiliam mengulur meraih sesuatu.Dalam mabuknya, dia melihat bayangan wanita yang dari tadi mengganggu pikirannya.


Begitu meraih tangan Melani, pegangan tangannya semakin kencang.


"Sakit ko" ucap Melani merasa tulang jemari tangan diremukin kayak kerupuk.


Dalam kondisi mabuk,Wiliam coba berdiri dan membawa Melani naik ke lantai atas.


"Aku bisa masuk kamar Josh sendiri" ucap Melani merintih sakit tangannya dipegang erat.


Bukan ke kamar Josh. Wiliam bawa Melani ke kamar utama.


Untuk melampiaskan segala gundah gulana, Wiliam merobek piyama Melani.


"Jangan ko.Kamu sedang mabuk" tolak Melani coba hindari orang mabuk.


Tetap saja Melani tidak berhasil kabur dari tangkapan Wiliam di luar kendali alkohol banyak.


Permainan di atas ranjang dikuasai sepenuhnya oleh Wiliam, tanpa pemanasan terlebih dahulu.


Dia terus menghujam senjatanya masuk kasar setelah setengah keluar.


Arrrgggggg...


Dalam kenikmatan yang sama,Wiliam sempat mengerang keras bersahutan dengan erangan suara buruan.


"Koko jahat" umpat marah Melani, sakit sekujur tubuh tidak dapat perlakuan wajar.


Wiliam kembali menyerang secara membabih-buta, sampai puncak kenikmatan datang lagi.


Tidak dilepaskan buruan malam itu. Habis permainan sepihak, Wiliam memeluk tubuh Melani tanpa mengeluarkan pisang mengkel dari dalam goa pink.


.


"Kami melakukan ini setelah lama" ucap batin Wiliam, membelai lembut rambut Melani, dengan senyum tidak dapat diartikan untuk saat itu.


Engghh...


Pergerakan tubuh Melani yang ingin merenggangkan otot-otot kaku,malah membangunkan benda yang masih menutup mulut goa pink.


"Maaf" Wiliam mengecup sekilas bibir yang sudah lama tidak mencandui dirinya.


Senjata yang siap melepas peluru itu dibuat kecewa sama pemilik.Dia diguncang kasar tidak enak di bawah guyuran pancuran air dingin shower.


"Karena kamu, calon anak saya meninggal" marah Wiliam natap tajam senjata tumpul tapi mampu menyemai benih.


Cengkraman keras itu hanya menyakiti benda dan sang pemilik, tanpa mudah untuk diajak berdamai.


Arrrggggg...


Jerit keras Wiliam melepaskan rasa tidak nyaman dibuat benda susah ditenangkan.


Di luar kamar mandi, Melani terbangun juga dengan tubuh sakit sekujur tubuh.


"Masa, aku keluar pakai baju robeknya" keluh Melani teringat piyama sudah tercabik.


Perlahan dia turun dari atas tempat tidur ke kamar mandi untuk bersih-bersih dahulu.


Saat buka pintu kamar mandi, terlihat Wiliam yang masih merintih kesusahan lemaskan kembali benda keramat itu.


"Maaf" Melani cepat berbalik dan menghindar.


"Tunggu!" tidak ada cara lain selain bermain sebentar, setelah lama berdamai tanpa ujung.


"No!!" tolak cepat Melani menutup pintu kamar mandi yang sempat terbuka.


Dan akhirnya Wiliam memohon pertolongan Melani, mengizinkan untuk mau jadi mediasi perdamaian.


Tidak mampu pula Melani menolak, secara sukarela dirinya memberikan bantuan, asal pakai perasaan lembut.


Wiliam memulai dengan pemanasan singkat, menyentuh dan cium semua kulit istrinya.Terutama bagian sensitif dapat extra perlakuan lembut.


Emmhhh..... Arrrhhhh.....


Melani mengerang nikmat dapat perlakuan manusiawi.


"Sudah boleh masuk?" tanya izin Wiliam dan di angguk Melani.

__ADS_1


Benda yang sedari tadi berdiri semangat, begitu masuk ke dalam goa pink, langsung gampang jinak.


Senyum semeringah menghias wajah Wiliam, sambil membantu Melani sampai puncak kenikmatan.


"Ko" ucap Melani sudah hampir di puncak nikmat.


"Keluarkan saja" membelai wajah berkeringat capek dipacunya.


Gel hangat membasahi sarung senjata yang masih di dalam.


"Kamu tidur dulu,saya mau mandi" ucap Wiliam menyelimuti asal,lalu kekamar mandi untuk keluarkan gel ******.


Wiliam mengocok dengan ritme acak, untuk keluarkan ****** yang tidak ingin tertanam dalam rahim istrinya.


"Ini terakhir" ujar Wiliam, menggosok bersih tiap lipatan tubuh pakai spon scrub berlumur sabun gel.


Namun tidak dapat terpungkiri, bahwa hari ini dia juga lebih rileks dan bahagia, meski kemarin malam telah dengar pernyataan sang adik akan perasaan terhadap istrinya.


Setelah seger, Wiliam membangunkan istrinya untuk berganti mandi.


"Mau mandi sendiri atau dimandikan?" tanya bisik Wiliam, caranya membangunkan Melani.


"Mandi sendiri" ujar Melani langsung bangkit, selimut melorot menampakkan gundukan bakpao putih, bertoping kacang merah.


Glekk.....


Wiliam kesulitan untuk tidak tergoda walaupun sudah bersih.


"Jangan tutup" Wiliam menarik selimut yang diambil Melani.


"Cukup, ko" Melani menggeleng tidak sanggup.


Simpul senyum bibir Wiliam terbuka lebar, langsung menyusu rakus milik Melani.


"Pelan,ko" rintih Melani terangsang lebih cepat, tangan meremash sprei, sesekali cengkram erat pundak kekar yang sedang di susui.


Wiliam kembali menghujam senjata, yang siap kapan saja bermain dalam goa pink yang kini jadi miliknya.


2 jam permainan itu berakhir dengan mandinya mereka bersama.


Di luar kamar, Josh jadi orang kebakaran jenggot kehilangan benda berharga miliknya.


Semua ART diminta untuk melacak keberadaan orang yang hilang.


Tok....Tokk.....


Josh pun mengetuk pintu kamar utama, untuk menyuruh pemilik rumah ikut mencari.


"Ada apa,hmm?" tanya ketus Wiliam berdiri menghalang Josh masuk.


"Mami Josh hilang!" adu paniknya.


"Oh...Sana mandi dan siap-siap sekolah" jawab Wiliam, memberi perintah baru.


"Mami hilang, Dad!" ujar Josh, mengingatkan kondisi.


"Mmm..." dehem Wiliam,dorong Josh kembali ke kamarnya.


Bammm.....


Pintu kamar ditutup kasar Wiliam,lalu menghampiri istrinya yang bersembunyi, hanya memakai dalaman tertutup handuk sampai atas lutut.


"Sekarang aku gimana harus keluar?" tanya Melani memeluk tubuh kekar Wiliam.


"Tunggu mereka semua pergi" membelai dan cium pucuk kepala istrinya.


"Terus, Koko?" mengangkat kepala tertunduk.


"Tunggu mereka pergi juga" elus lembut wajah gelisah itu.


"Gini aja.Koko ambil baju aku di kamar Josh, biar kita bisa sarapan bersama" saran Melani, tidak ingin buat seisi rumah negatif thinking setelah menemukan dirinya.


"Tidak usah" mengendong tubuh kecil itu ke atas tempat tidur untuk dimanja.


"Ko, turunkan aku" Melani meronta turun.


"Jangan buat benda tadi bangun, Mel" tetap mengendong.


Sampai di atas tempat tidur, Wiliam memijit kaki tegang yang sudah terkangkang lama dibuatnya. Tanpa ada neko-neko yang aneh di ujung pijitan.


.


......................


.


Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2