
Bab 8.
.
Untuk kejadian di luar masa lalu, Melani tidak dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berharap apapun yang terjadi kedepannya, tidak merugikan masa depan yang sudah gemilang.
Tik... Tok... Tik... Tok...
Jarum jam tidak berhenti bergerak, tamu rapat baru pada muncul setelah telah hampir dua puluh menit. Sebagai pengusaha, setiap detik itu adalah uang.
Rapat pun dimulai. Semua kaku tegang walau ada yang bercanda sejenak membuka rapat itu.
Melani yang duduk di kursi belakang kembali menulis setiap rincian rapat ,dan presentasi lawan saing sebagai bahan pertimbangan pembelajaran dirinya.
Kali ini rapat lebih lama dari sebelumnya. Karena pesaing kebanyakan berasal dari Eropa.
"Masih lama gak, ya?.Mana kebelet pipis pula" tubuh Melani bergedik nahan pipis.
Sebelum rapat tadi di mulai,Melani tidak dapat izin ke toilet, jadinya sekarang ia berkelut dengan perut yang nahan air urin.
Tiga puluh menit setelah satu jam lalu rapat dimulai juga belum selesai. Rasa merinding nahan air seni buat Melani duduk gusar.
"Ahh... Pecat ya pecat!!!, kalau lama nahan yang ada kena batu ginjal" marah batin Melani, diam-diam berjalan keluar, tidak lupa membungkuk sesuai tradisi adat Indonesia melintasi orang yang duduk menghadap dirinya.
Begitu sampai di pintu,Melani segera bertanya letak toilet pada office girl gedung rapat itu diadakan.
Ia berjalan menghimpit paha menahan air seni. Jika cepat akan bocor, tidak cepat juga bocor. Untung saja letak toilet tidak jauh lagi.
.
"Akhirnya lega.... Siapa peduli sama bos macam dia. Dia saja gak peduli sama nasib karyawan antara hidup mati." omel Melani melihat bayangan wajah di cermin saat mencuci tangan.
"Hati-hati dengan pengusaha itu, jika tidak ingin masa depanmu di binasakan" bisik malaikat bertanduk dua.
"Jangan dengarkan dia. Asal kamu nanti minta maaf dan jelaskan, pasti pengusaha itu akan luluh" sambung malaikat peri baik.
"Tidak mungkin!!. Di masa depan saja, jika bukan adiknya, kamu tidak mungkin kerjasama sampai puncak ke jayaan" malaikat bertanduk dua memanasi,karena memang tugasnya.
"Jangan ikuti ucapan dia. Ingat dosa karma. Ingat misi utama yang akan merubah takdir masa depan. Jika kamu berbuat baik, mungkin dia bisa jadi partner bisnis yang baik" malaikat peri baik membujuk.
Melani dibuat pusing perdebatan antara kedua malaikat abstrak itu. Ia sendiri saja semakin binggung arus nasib masa lalu membawanya jalan.
__ADS_1
Tidak ingin pusing panjang lebar Melani keluar dari toilet dan masuk dalam ruang rapat.
Sepertinya waktu keadaan berhenti sejenak waktu ia keluar dari ruang itu.
Melani kembali duduk mengikuti presentasi orang yang dari tadi belum kelar.
Sialnya sewaktu Melani mulai duduk rapi membuka agenda beserta pulpen, pengusaha berdarah dingin menoleh kepadanya.
Spontan gadis belia itu mati kutu tidak bergerak. "Cepat balik, cepat balik" umpat batin Melani berharap keajaiban sailormoon membantu membalik wajah pengusaha berdarah dingin.
Hufff...
Melani bernafas lega, setidaknya ada keajaiban menyelamatkan dirinya. Giliran perusahaan Wiliam untuk presentasi tiba juga.
"Kamu yang presentasi, awas gagal!!" ancam pengusaha berdarah dingin, yang ternyata menoleh untuk menyuruh gadis belia maju medan perang bisnis.
Melani terdiam kaku, mengapa dia dipilih sebagai kandidat dadakan. Bisa mati berdiri terserang penyakit jantung dalam usia muda jika terus dekat sama orang berdarah dingin tanpa ampun.
Gadis itu tidak ada pilihan lain selain maju mempresentasikan topik yang membopong visi misi perusahaan raksasa asia.
Kaki Melani melangkah gemetar maju kedepan, tapi bukan karena takut presentasi, tapi takut nyawa melayang jika gagal mempresentasikan dengan sempurna.
Ia mulai mempresentasikan sesuai proprosal dari Ronald. Lampu ruangan kembali di matikan, mesin projektor kembali dihidupkan dengan scandisc memori berisi apa saja yang jadi unggulan produk, beserta keunggulan dan kelebihan masing-masing produk tersebut.
Dalam empat puluh lima menit, hasil perjuangan panjang membabarkan setiap rincian produk dengan detail, alhasilnya usai.
Penampilan performa Melani sangat menakjubkan bagi orang Eropa. Mereka tidak sangka wanita muda Asia ada yang mampu mempresentasikan, layak orang yang sudah mahir terjun dalam dunia bisnis global.
"Excellent" pria dewasa bewokan asal Italy memuji kinerja seorang Melani.
"Thank you" Melani senang dapat pujian dari bule,sambil jalan kembali ke tempat duduknya.
Wajah Ronald ngangguk secara tidak langsung muji keberhasilan asisten pengganti sang kakak.
"Tidak buruk. Seperti sudah terlatih adu bisnis" gumam Ronald ngangguk respon tanggapan lawan bisnis lain yang berkompromi.
Diakhir presentasi, satu lawan asal Australia tidak jadi percaya diri dibuat tim perusahaan Wiliam yang begitu 95 persen sempurna dalam segala bidang.
Tim asal Australia tidak banyak topik dibanding tim lain, jadi waktu presentasi tim itu jauh lebih singkat.
Waktunya pihak penyelenggara memutuskan untuk bekerjasama dengan perusahaan mana yang tepat dengan tujuan mereka.
__ADS_1
Sambil nunggu hasil rapat, mereka semua diajak makan malam bersama di ruang dinner gedung.
"Kamu pernah ikut presentasi ?" Ronald bertanya pelan sambil jalan di antara tim lawan lain.
"Tidak " dalih Melani, menutup rapat rahasia masa depannya.
"Oh.Pasti sering belajar?"
"Hanya belajar dari buku" ucap Melani ,mata memutar kiri kanan agar tidak ketahuan bohong.
Ronald mulai ada ketertarikan pada pribadi Melani Wijaya berjiwa misterius. Ia ingin mengulik lebih banyak tentang lawan jenis masih muda dan punya bakat terpendam.
"Kalian ngapain, humm?" penguasa berdarah dingin berdiri tegap memandang dingin pada Ronald dan Melani.
Sebagai adik saja tidak berani banyak bertingkah saat dalam posisi masih menjalankan tugas kantor.
Ronald dan Melani pun segera melangkah cepat, tidak membiarkan ketua pasukan menunggu lama.
Sebagai satu tim, mereka duduk bertiga nikmati makan malam. Ketegangan makan dialami Melani yang tidak berani menggerakkan tangan mengambil menu.
"Gak mati berdiri ,mati kelaparan lah aku. Apes banget nasibku" rutuk Melani mengepal tangan meremas kain serbet di paha.
"Kamu gak lapar?" tanya Ronald.
"Yaelah... Laper lah, pak. Tapi singa ngawasin, gimana cara ngambil tuh sayur" oceh batin Melani, ngangguk berisyarat dirinya 'Laper plus bingit Laper'.
"Ngapain lu urus tuh cewek, kalau laper bisa ambil sendiri" ketus sinis pengusaha berdarah dingin,mengunyah potongan daging BBQ .
"Kau punya tangan kan?" ketus kasar pengusaha berdarah dingin, menatap tajam Melani yang nunduk.
Seumur hidup dari kecil seorang Melani Wijaya tidak pernah dibentak oleh pria manapun. Walau diocehin, tapi tidak sampai segitu kasar.
Rasanya air mata mau tumpah, tapi rasa takut lebih mendominasi, jadi ditahan sebisa mungkin air itu jatuh. Tangan perlahan naik dari bawah meja mengambil makanan sebelum dibentak kembali.
.
...****************...
.
Terimakasih atas dukungan semua. 🙏
__ADS_1