Change Destiny

Change Destiny
145


__ADS_3

Bab 145


.


Esok hari, saat Wiliam akan pergi ke kantor dan Josh ke sekolah, Melani bergegas sembunyikan kertas yang masih nyelip sepanjang malam di pinggang celana.


Merasa tidak ada tempat aman, Melani berat hati untuk membakar lipatan kertas akan kenangan kehilangan calon bayinya.


"Maafkan Mami,nak. Kamu tetap ada di dalam hati, Mami" sedihnya menyalakan batang korek api, yang dipinjam diam-diam dari dapur.


Srasshhh.....


Kertas yang tersulut api pun menyala,membakar hangus kertas itu jadi debu bakaran.


Tokkk....Tokkk..


"Nya, saya mau izin ke pasar beli korek api,ya" pamit pelayan tidak tau korek api dipinjam.


"Iya" jawab Melani seakan tidak tau.


Pelayan yang mau pergi ke pasar beli korek api, bertanya dulu pada bodyguard. Mana tau ada yang merokok dan bersedia meminjamkan padanya.


Melani berjalan celingukan lihat keadaan di luar kamar.


"Aku harus letakkan di tempat lain saja, biar enggak ketahuan" Melani buru-buru bawa korek api ke dapur.


Melani meletakkan kotak korek api di ujung meja dapur, sengaja beda agar dikira pelayan 'terselip'.


"Mba,ini korek apinya" ucap Melani pura-pura menemukan.


"Kok bisa ada?" pelayan bingung sambil pegang mancis yang dipinjam dari salah seorang bodyguard.


"Terselip kali, Mba" mengambil air minum sebagai alasan.


"Mungkin juga" sahut pelayan berjalan sambil garuk-garuk kepala bingung.


Pelayan kembali kerjakan tugas, dan Melani kembali masuk kamar beristirahat.


Siang hari, Wiliam dan Josh yang pulang untuk makan siang, telah memutuskan untuk kembali ke rumah besar.


Setiba di mansion, mereka memberitahukan keputusan untuk kepentingan bersama.


Melani hanya bisa nurut, karena tidak punya hak untuk menolak perbandingan antara 2 banding 1.


"Besok kita balik ke rumah" ucap Wiliam setelah semua setuju.


Mereka makan siang bersama dengan tenang. Melani yang masih demam, hanya memakan sepertiga porsi biasanya.


"Aku sudah siap" ucap Melani letakkan sendok garpu terbalik tutup.


"Jangan lupa minum obat" sahut Wiliam.


"Josh juga selesai" sambung Josh makan terburu-buru.


"Cepat kerjakan PR. Habis itu belajar" sahut Wiliam.


Melani dan Josh hanya ngangguk jika di kasih jawaban peringatan.


Kendati Melani tidak terlalu lesu, Josh mengatakan alasan dirinya setuju untuk kembali ke rumah besar.


"Kalau di kamar Josh nanti,Mami bisa kerja tanpa Daddy tau" ucap Josh dan diangguk Melani.


"Tapi laptop yang di sini?" tanya Melani.


"Semalam sudah Josh salin progam dan data lain ke memori chip. Jadi hanya perlu bawa memori" jawab Josh menunjukkan tempat penyimpanan memori chip.


"Ok"


Cekrekkk.....


"Kamu sudah minum obatnya, belum?" tanya Wiliam sudah ngetuk pintu tapi tidak dijawab.


"Sudah" jawab kaget Melani.


"Kamu juga cepat belajar" ucap Wiliam pada Josh.


"I-iya" Josh terbata-bata jawab.


"Daddy mau kembali ke kantor, kalian jangan buat tingkah aneh" pesan dingin Wiliam, nunjuk keduanya yang duduk tegak kaku.


Josh dan Melani ngangguk terus sampai Wiliam benar-benar keluar kamar.


Sementara itu,di tempat lain pada waktu sama. Santi mulai menyukai Ronald secara bertahap.


"Sepertinya memang dia jodohku" Santi duduk melamun di meja kerja.

__ADS_1


Santi seorang arsitektur, setiap lukisan yang digambarkan tidak hanya asal gambar. Dia menaruh rumus dalam setiap detail bangunan besar, agar kokoh dan tahan terhadap guncangan alam.


Tak...Tukkk...


Pensil digoyang, kadang juga diputar. Membayangkan wajah tampan Ronald,buat Santi lupa harus fokus kerjakan proyeknya.


"Mm.... Kalau punya anak, pasti sangat handsome. So cute" gumam gemasnya menghayal.


"Bu..Bu..." panggil seorang karyawati, lihat Santi duduk melamun begitu lama.


"Mas Ron" sapa malu Santi berdelusi.


Karyawati memegang tangan dan menepuk pelan wajah Santi.


"Uhh...Mas Ron" kesem-sem dikira sedang dirayu.


"Bu!!" karyawati mengoncang tubuh Santi kian bertingkah ngawur aneh.


Santi tersadar dari halusinasi.Tapi hal yang pertama ditanya adalah pergi kemana pria yang tadi ada dihadapannya.


Karyawati noleh kiri kanan, tidak lihat ada pria atau orang lain,selain mereka berdua.


"Dari tadi tidak ada orang lain selain saya dan ibu" jawab karyawati.


"Ahhh... Tidak mungkin. Tadi mas Ronald sempat pegang tangan dan wajahku" gumam pelan Santi.


Suara halus ocehan Santi masih bisa terdengar karyawati.


"Bu,anda baik-baik saja kan?" menoleh wajah Santi masih ngelamun.


Pok...Pok..


Santi menampar pelan wajahnya,lalu kucek mata dengan penglihatan yang dikira buram.


"Ya ampun" ujar Santi menepuk jidatnya karena malu narsis.


"Bu,kita sedang di tunggu untuk rapat" ucap karyawati.


"Sama Pak Kurniawan kan?" memperjelas dengan siapa mereka rapat.


"Benar,Bu" bantu ambil lembaran gulungan kertas.


Santi dan karyawati itu berjalan cepat ke ruang meeting.


Sketsa gambar bangunan yang terpampang,di jelaskan bagaimana dia dan timnya untuk menyelesaikan bangunan itu.


"Kami menjamin akan kwalitas dan kuantitas yang kami kerjakan" ucap Santi meyakinkan pihak konsumen.


"Tapi,saya mau gedung yang kalian rancang selesai dalam waktu 1 tahun" sahut Tuan Kurniawan.


"Baik" Santi menyetujui permintaan.


Sebagai arsitektur yang telah lama berkecimpung membangun, dan juga memahami kebutuhan pihak kontraktor, Santi segera menelepon pihak supplier penyedia bahan bangunan.


Beberapa hari berikutnya, rancangan bangunan mulai dikerjakan setelah semua kebutuhan proyek telah tersedia datang tepat waktu.


Ngingg.... Drettt.... Pakkk....Pukkk....


Itulah suara tempat bangunan akan didirikan,saat Santi meninjau area proyek bangunan.


Para pekerja buruh kasar yang sedang memakai alat berat sampai alat lazim, membunyikan semua suara dari alat-alat itu.


Ada yang menghancurkan sisa bangunan lama dengan palu setelah di robohkan dengan alat kontraktor dan mesin bor.


Ada pula yang memindahkan batu dan besi beton yang akan dipakai.


Matahari yang kian terik pun menyegat tubuh para buruh kasar, yang bergerak lincah di bawahnya.


Cucuran keringat membasahi baju semua pekerja buruh kasar.Namun mereka masih bersemangat kerja untuk mengisi perut sejengkal.


Pritt....Pritt...


Peluit ditiup mandor bangunan,pertanda jam istirahat bagi buruh kasar.


Nasi kotak catering diambil satu persatu oleh mereka yang berbaris rapi.


Masing-masing dari mereka memilih tempat teduh untuk istirahat sejenak, sebelum kembali selesaikan pekerjaan hari itu.


Dari jauh,Santi memantau setiap perkembangan tahap peruntuhan bangunan lama.


"Pak, nanti kita harus cor pondasi pencakar langit harus lebih dalam 5 meter dari yang biasa" ucap Santi memerintahkan mandor bangunan ngawasin pekerjaan lebih dekat.


"Baik,Bu" jawab mandor, memperhatikan sketsa tahap awal pondasi bangunan yang berbentuk 'K'.


Tidak mudah jika hendak membangun bangunan memiliki bentuk tertentu. Jadi setiap pondasi paling bawah sampai setengah bangunan itu, harus mampu menahan beban berat yang ada di atasnya.

__ADS_1


Mandor amat mudah memahami cara penjelasan wanita hampir 30 tahun itu. Dikarenakan, mereka telah berkolaborasi beberapa tahun ini.


Selain itu vendor penyedia bahan bangunan selalu mengirim bahan pokok tepat waktu.


"Kalau ada yang kurang paham, atau ada kendala, bapak bisa segera hubungi aku" ucap Santi sebelum membubarkan orang yang berkumpul, mempelajari sketsa.


"Baik,Bu" jawab mandor,simpan copy-an sketsa pondasi.


Santi dan karyawati pun meninggalkan area proyek tinjauan untuk makan siang, sebelum ke tempat proyek lainnya yang hampir kelar, tersisa untuk finishing.


Drettt......Drettt...


Ponsel gawai Santi bergetar dalam tas handbag.


Ponselnya yang selalu dalam mode sibuk ketika di luar kantor, hanya akan bergetar kencang memberontak dalam tas kecil untuk diperhatikan pemilik.


"Pasti teman Bu Santi lagi nyari" ujar karyawati selalu tau penelepon tiada henti sampai diangkat pemilik.


Santi buka resleting handbag dengan senyum cengengesan.


Betul tebakan karyawati, siapa lagi yang sering menelepon tidak tepat waktu.


"Halo,Mur. Ada apa?" sapa langsung tanya Santi pada orang di seberang sana.


"Gue mau dengar info ter update lu" jawab ceplos Murni, yang duduk sambil nyuapin 2 balitanya.


"Info apa?" Santi bingung.


"Kemajuan lu dekati calon suami,hehehe" tawanya nyindir.


"Aku bahas setelah pulang kerja aja" jawab Santi sudah nyambung.


"Enggak bisa. Kalau sore,gue harus melayani suami,nah malamnya gue harus kasih servis memuaskan,paham dong" oceh Murni tidak malu berkata konotasi di dalam kamar.


"Ok,ok.Aku chat aja" Santi pasrah setiap dengar penjelasan teman yang tak ada malu padanya.


Santi mengirim pesan chat isi hatinya.


Antara takut maju dan ragu untuk mundur. Karena Ronald bukan orang kaya biasa, yang tidak punya saingan untuk menjadi istri.


Murni membaca chat dengan serius.Sangkin serius,jatah makan anaknya dia yang makan sampai habis.


"Punya teman sudah diajarkan banyak tips dan trik, tetap saja nggak dipraktekkan" gerutu Murni,garuk kepala dengan tangan kotor.


"Ma-ma" panggil balita agak besar menarik baju Murni.


"Apa,nak?" sahut Murni tidak noleh.


"Dedek" jawab balita tadi nunjuk adeknya yang manjat di atas meja makan.


Murni masih saja sibuk fokus memberi nasehat untuk teman yang galau di tempat lain.


Padahal keadaan di depan mata saat dia noleh mirip sedang perang dunia ke-2. Bukan satu balita saja yang membuat meja makan berantakan. Balita yang tadi melapor pada Murni juga ikut memberantakan sayur dan lauk.


"Tatak,ain" ucap balita 3 tahun, lempar ikan goreng di atas meja makan.


"Mamam, dek" balita 5 tahun comot telur mata sapi.


Kedua balita sibuk dengan imajinasi mereka ketika lihat masakan di atas meja. Mereka meniru tingkah Murni saat memasak di dapur.


Beberapa macam sayuran dan lauk, disatukan terus diaduk.


"Ya ampun!!" jerit Murni, cepat letakkan ponsel dan bereskan balita bersama experiment mereka.


Kacau! Kacau banget saat anak-anak bertingkah menyusahkan. Pekerjaan yang gampang tambah ribet.


Muka Murni kecut, rambut berantakan. Kesabaran yang dimiliki Murni tergolong langka ajaib.


Biarpun dia menjerit kaget kesal, Murni tidak serta merta ringan tangan mukul anak-anaknya.


Hukuman yang diberikan pun tergolong ringan dan unik.


"Kalian sudah bikin kacau. So kalian harus sapu dan pel" Murni menyerahkan sapu dan sapu pel untuk mereka bersihkan.


Dua-duanya menuruti perintah dengan senang hati. Lantai kotor penuh tumpahan kuah berbumbu dan jatuhan lauk yang dilempar, mereka sorong ke kiri kanan.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2