
Bab 138
.
Wiliam kembali harus redam hasrat yang timbul.
Agar wanitanya tidak marahan melulu, Wiliam izin Melani duduk di kursi kepemimpinan melanjutkan kerjaannya.
Saat Melani duduk bekerja serius, giliran Wiliam untuk beristirahat di sofa panjang.
Posisi tidurnya sengaja menghadap Melani yang fokus kerja.
"Kalau capek istirahat saja" ucap Wiliam, tidak tega tapi terpaksa kasih kerjaan.
Melani ngangguk, tapi fokus selesaikan tugas.
Tokk..Tokk..
Seseorang mengetuk pintu ruang CEO,dan buat Wiliam terganggu yang sedang memandang wajah cantik Melani ketika kerja.
"Masuk" Wiliam membenarkan posisi duduk.
Cekrekkk...
Mata sekretaris melotot lebar mengganga pula. Orang yang di lihat bukan Wiliam berwajah tampan, melainkan wanita hina yang kembali usik ketenangan batin mereka.
"Ada apa?" tanya Wiliam dari tempat duduk sejajar pintu terbuka.
"Ini file yang anda minta Tuan" sekretaris jalan mendekat.
"Serahkan ke asisten saya" titah tegas Wiliam.
"Tapi ini harus anda segera tanda tangani" membantah secara tidak langsung.
"Saya katakan, serahkan ke asisten saya!!. Apa kamu tidak bisa dengar bahasa Indonesia yang baik,hengg!" bentak Wiliam bersuara gema.
Sekretaris terperanjat dengan bentakkan big bos. Begitu jug dengan Melani yang berhenti ngetik. Kedua wanita di ruang itu jadi kaku pada posisi mereka masing-masing.
Benar ternyata rumor yang diingat Melani tentang Wiliam. Hari ini dia menyaksikan langsung bagaimana jika Wiliam marah.
Hampir tidak jauh beda saat dirinya di marah ketika melakukan kesalahan fatal beberapa waktu lalu.
Beda pula dengan marah saat dalam keadaan mood baik.
"Kamu harus hati-hati jika berhadapan sama Daddy kamu" ucap batin Melani sambil elus kecebong dalam perut rata.
Sekretaris pun bergegas serahkan file di meja kerja,dimana Melani duduk berkuasa bebas.
"Nih,file Tuan!" ketus sekretaris menyerahkan file yang sedikit dibanting.
"Ok" datar jawab tanpa banyak tanya.
"Kalau sudah, cepat keluar" hardik Wiliam.
"Baik Tuan"
Sekretaris keluar dengan wajah asem Jawa. Berita yang ia lihat dengan mata kepala sendiri langsung tersebar dalam grup Whats App anggota teman segibah kantor.
Haa......!! Kaget serempak sekelompok wanita penggemar Abang beradik Lee saat baca informasi dari grup.
Mereka masih tidak percaya dengan rumor yang beredar. Untuk memastikan keabsahan berita, mereka rela menghentikan pekerjaan penting.
Security yang ada di ruang kontrol pengawasan CCTV memergoki banyak pekerja wanita yang bertampang muram durja sedang duduk memegang ponsel masing-masing.
"Apa pula yang mereka kerjakan. Cari mati saja mereka" umpat security yang harus keluar menertibkan keadaan.
Saat di jalur perjalanan, langkah security terhenti oleh beberapa orang.
"Kalau kamu berani ngadu.Maka siap-siap akan keluar!!" ancam seorang wanita setengah tomboy, menyikut dagu security.
Terkadang orang demi mencapai obsesi, mereka dapat menghalalkan segala daya upaya untuk mencapainya.
Ini yang terjadi pada sekelompok wanita status single dan tak jelas dalam gedung mewah.
Mereka berkoalisi untuk menyingkirkan Melani dengan segala cara dan tipu daya.
Ketika Melani izin keluar untuk mencari cemilan di kantin kantor, beberapa wanita juga tengah ngikutin untuk memberi peringatan pertama.
"Hei,kau!!" seraya seorang wanita tim kreatif.
"Aku??" Melani nunjuk diri sendiri.
"Ya.Siapa lagi kalau bukan kau!" sambung seorang lagi wanita dari divisi lain.
Keadaan Melani terkepung agak jauh dari kantor CEO dan juga kantin.
Tidak ada yang yang berlalu lalang, mungkin karena sudah direncanakan secara matang dan terarah.
Kedua tangan Melani tertahan terbentang dari dua sisi.
__ADS_1
Sang ketua pemimpin mereka yang tidak lain adalah Dewi dari tim kreatif, yang sejak awal sudah menaruh dendam kesumat pada Melani, mencengkeram kuat dagu Melani sebagai peringatan awal darinya dan juga dari teman-teman seperjuangan.
"Gue peringatkan kau untuk tidak cari muka lagi pada Tuan Wiliam maupun Ronald.Jika masih berani maka bukan ini yang akan kau terima. Cam kan itu" ancam Dewi, menjontorkan kepala Melani kebelakang hingga terantuk keras tembok.
Salah seorang dari mereka yang penuh amarah meletup,menonjok perut Melani dengan satu pukulan kuat.
Aarrgggh.....Jerit ringgis Melani kesakitan.
Sekelompok wanita pergi dengan wajah tertawa kesal,begitu setelah memberi pelajaran.
Sedangkan Melani bersimpuh meringkuk pegang perut yang sakit habis ditonjok.
.
20 menit sudah Wiliam menunggu Melani yang pamit cari cemilan di kantin tidak kunjung balik.
"Jangan bilang dia coba kabur" Wiliam menggerakkan gigi kesal.
Ditunggunya lagi beberapa menit,mana tau sekalian ke toilet karyawan.
"Ini hp juga gak di bawa. Bagaimana orang bisa mencarinya. Atau memang sengaja mau kabur" oceh marah Wiliam mendapatkan ponsel ketinggalan.
Wiliam yang marah pun keluar untuk mencari langsung. Baru hendak cari,ia bertemu Melani yang berjalan tertatih wajah pucat.
"Cepat masuk" hardik Wiliam membuka pintu ruang kerjanya.
"Ko,perutku sakit" adu Melani tidak kuat menahan sakit.
"Mel, kamu kenapa hmm?. Jangan bilang pura-pura" marah Wiliam juga cemas lihat Melani kian pucat.
"Sakit" lesu jawab, meremas perut.
Melani dan Wiliam tidak ada yang sadar kalau kecebong dalam perut dalam masa kritis, disebabkan Melani yang memakai celana warna hitam.
Dipikir karena sakit perut biasa namun biar segera sembuh, Wiliam membawa Melani ke rumah sakit.
Wiliam yang memapah Melani keluar dari gedung megah, semakin memancing kecemburuan para idola fanatiknya.
Para wanita menggigit jari, dan juga berhentak kaki lihat pemandangan penuh emosi.
Cemas akan keadaan Melani, Wiliam mengambil ahli mengemudi.
"Mel, kamu harus tahan" ucap Wiliam panik, karena harus fokus saat melaju dengan kecepatan tinggi.
Melani mulai menggigil kedinginan dengan rasa teramat sakit tidak hanya bagian perut.
Jika saja mereka tau apa yang terjadi,maka mereka akan sangat shock.
Begitu tiba di depan rumah sakit, Wiliam langsung menggendong keluar Melani dari mobil langsung ke UGD.
"Dokter... Cepat tolong dia!!" teriak Wiliam yang panik menggendong Melani.
Perawat yang berjaga pun mengambil tempat tidur sorong.
"Tuan tolong tunggu di luar" seorang perawat menghentikan Wiliam ikut masuk ruang UGD.
"Tapi saya suaminya" bentak Wiliam mencengkeram pakaian mantri cowok.
"Anda tetap mematuhi prosedur kami. Tolong isi daftar formulir pendaftaran" jawab mantri cowok dengan tenang, sambil memanggil seorang perawat untuk membantu Wiliam isi formulir pasien.
"Kalian tidak tau siapa saya,hengg!!. Saya bisa membeli rumah sakit ini jika mau" marah Wiliam, coba terobos ruang UGD yang tertutup.
"Tuan, harap jaga ketenangan yang lain juga. Lebih baik,anda bersihkan darah itu" ucap suster.
"Darah??" Wiliam melonggo lihat darah di telapak tangan kanannya.
Pikiran Wiliam semakin kacau. Apa yang terjadi pada wanitanya tiba-tiba?.
Dia teringat bahwa beberapa hari ini,ia terlalu semangat saat memacu olah raga di atas tempat tidur.
"Ini salah saya!. Bodoh! Bodoh!" rutuk sesal Wiliam menjambak rambut dengan tangan berlumur darah.
Sudah empat puluh tujuh menit Melani ada di dalam ruang perawatan. Belum ada tampak seorang keluar dari ruang tersebut.
Mulai khawatir panik Wiliam duduk menunggu samping ruang UGD.
Lima menit kemudian dokter spesialis yang menangani Melani keluar.
"Bagaimana keadaan Melani, Dok?" tanya cemas Wiliam yang acak kusut.
"Keadaan pasien masih dalam efek bius, namun maaf. Keponakan anda tidak bisa diselamatkan" jawab dokter SpOG wanita, yang tidak tau hubungan pasien dan orang penanya.
Wiliam tidak peduli dengan sebutan dokter untuk status mereka.
Untuk kabar duka yang disampaikan dokter, Wiliam langsung memaki diri sendiri yang tidak mengindahkan nasehat dokter beberapa hari lalu.
"Tuan harus tenang. Jika bisa hubungi suaminya" ucap dokter SpOg, menghentikan Wiliam menghantam tembok.
"Dok, pasien sudah sadar" ucap perawat yang keluar membawa jasad kecebong belum berbentuk utuh setelah dikuret.
__ADS_1
"Saya akan masuk" Wiliam menerobos masuk tanpa izin.
Dokter spesialis pun membiarkan keluarga pasien masuk, namun tetap dalam pengawasan perawat beberapa saat.
"Mel, masih sakit kah?" tanya Wiliam menggenggam tangan istrinya yang masih setengah obat bius.
"Sakit" aduh rintih Melani, tidak nyaman sekujur tubuh.
"Saya segera panggil dokter" memanggil perawat yang ada dalam ruangan tersebut.
"Saya akan periksa anda. Tuan tolong keluar dahulu" ucap perawat dengan sekaleng perlengkapan.
Wiliam tidak mau tinggalkan Melani, malah mengancam perawat jika masih berani mengusir dirinya keluar tanpa jelas tau hasil pemeriksaan.
"Efek obat bius sudah habis, jadi terasa sakit.Ini normal saja" ucap perawat usai memeriksa.
"Kalian apa tidak bisa beri obat pereda nyeri" bentak Wiliam beremosi.
"Sebentar lagi Tuan. Semua ada dosis pemberian" sahut suster melonggarkan roda selang infus, agar cairan infus membantu daya tahan tubuh Melani naik.
"Kalian harus kasih obat yang terbaik dan mahal. Berapapun biayanya akan saya bayar. Jika tidak bisa,maka saya akan bawa pasien pindah" hardik marah Wiliam.
Perawat hampir sering hadapi pasien maupun keluarga mereka yang sombong dengan harta mereka yang melimpah, jadi mereka juga terbiasa dengan caci maki yang keluar.
"Baik Tuan" jawab suster membawa keluar piring peralatan medis.
"Ko" panggil lemah Melani.
"Ya" Wiliam segera hampiri.
"Perutku nyeri" aduh sambil meremas perut.
"Tidak apa, nanti suster akan kasih obat bagus. Sekarang tidur dulu ya" ucap Wiliam tidak berani mengatakan fakta sebenarnya.
Wiliam membelai rambut hingga wajah Melani dengan lembut, hingga tertidur wanitanya.
Anak pertama yang dikira bisa disaksikan langsung masa kelahiran, sekarang sudah jauh terbuang di ujung Atlantik.
Sepanjang siang sampai sore menjelang malam, Wiliam duduk disamping Melani yang habis pengkuretan.
Semua panggilan telepon yang berurusan dengan pekerjaan dialihkan Wiliam kepada sang adik.
Tidak ada setetes air mata keluar dari sudut mata Wiliam. Tapi hatinya merutuk sedih, hancur hadapi kenyataan yang ada.
Coba saja dia bisa mengendalikan hasratnya, pasti kecebongnya tidak akan jadi korban keegoisan sebelah mata. Dan beberapa bulan kemudian mereka sudah dapat lihat bentuk utuh buah hati.
Sore menjelang malam, perawat dapur membawa nampan makan malam untuk tiap pasien. Disusul perawat yang khusus membagi obat pada tiap pasien sesuai diagnosa.
"Mel, kamu makan bubur ya" bujuk lembut Wiliam.
"Koko saja" membuang muka, tidak sanggup untuk lihat Wiliam yang begitu perhatian tanpa sebab jelas.
Hati kecil Melani sebenarnya juga ada rasa amarah yang besar. Sakit perutnya pasti berkaitan dengan sekelompok wanita menghakimi dia.
Andai Wiliam tau, bukan hanya sekelompok wanita itu yang akan terima amukan big bos, tapi dirinya juga.
"Semoga kamu baik-baik saja,nak" ucap batin Melani berkomunikasi pada kecebong yang dikira masih ada.
Melani coba tidur miring sendiri tanpa minta bantuan.
Melani merasakan sesuatu benda gumpal panas, seakan mau keluar dari goa pink.
"Ko,anakku?" tanya Melani dengan wajah panik.
"Mel, anak kita....." Wiliam pun sulit menjawab, takut Melani tidak mampu hadapi kenyataan.
"Kenapa,ko?" penasaran panik, menatap tajam wajah tampan kaku.
"Dia sudah tidak ada" mengusap kasar wajah penuh penyesalan.
Melani mematung kaku dengar kabar itu. Biar pun benih tanpa ada cinta, tapi ia bukan berarti tidak menerima.
"Mel" Wiliam memeluk tubuh kecil kaku, wajah cantik Melani mulai bergerai air mata.
Melani pun membisu, dia tau siapa yang harus dituduh sebagai pelaku pembunuhan calon bayi tidak bersalah.
"Aku mau tidur" ucap dingin Melani yang berderai air mata.
"Makan dulu. Kamu harus makan obat" coba membujuk.
Entah siapa antara mereka yang lebih sakit kehilangan calon bayi mereka.
Karena tidak mampu membujuk, Wiliam minta dokter membuka resep nutrisi bagi tubuh Melani.
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1