Change Destiny

Change Destiny
Bab 30 Sakit hati


__ADS_3

Bab 30


.


Satu jam kemudian.


Wiliam terlebih dahulu tiba di kota A, dari pada Melani yang mesti nunggu jadwal penerbangan sempat delay sesaat.


Wiliam dihadapi dengan rengekan bocah kecil bertingkah ngulah.


"Pokoknya Josh mau ke sekolah kalau ada mommy" teriak bocah, mengurung diri dalam kamar.


"Iya, besok Grandma minta mommy yang antar kamu ke sekolah, tapi sekarang kamu makan dulu. Kalau tidak bisa sakit" bujuk bu Minah.


Di lantai bawah, Nyonya Sonia sedang memberi laporan akan rengekan anaknya selama beberapa hari, sambil menceramahi Wiliam yang baru datang.


Tambah mumet puyeng pikiran Wiliam dengar keluhan sang nenek yang tak henti maksa nikah.


Praduga rengekkan anaknya pun dikait-kaitkan dengan ceramah nenek. Seakan ada persekongkolan dalam aduan mereka selama ia menjauh.


"Wil, kamu harus segera kawin. Setidaknya anakmu tidak diejek sama kawan sekelas" ucap nenek Sonia.


Wajah Wiliam berkerut tidak sangka kemauan mereka begitu kekeh.


"Kalau begitu, suruh Ronald saja yang nikah. Kan sama saja, Josh jadi bisa punya bibi dan ibu angkat sekaligus" bantah pria, menarik adik yang pasti juga sudah berkelompot kompak saat dia jauh.


"Itu beda. Pokoknya Omah mau kamu yang nikah duluan" pendirian nenek kekeh.


Ibu tua turun dari lantai atas mendengar suara Wiliam pemilik rumah. Ibu tua pun ikut mendukung keputusan ibu besannya, karena dia tidak ingin melihat kesedihan di wajah bocah itu setiap hari sepulang sekolah.


"Kamu mau anakmu tumbuh dengan kurang perhatian, humm?.Tega lihat dia diejek dan mesti bohong?" bertubi-tubi ibu tua melempar pertanyaan.


"Sudah cukup !!. Jika bibi dan Omah tidak mendoktrin pikiran anak itu dengan iming-iming aneh, gak mungkin dia nyusahin terus" tegur Wiliam bernada tinggi marah.


Kedua wanita tua terdiam, rasanya sakit hati banget di tegur dengan suara tinggi. Mereka pun beranjak berdiri menuju kamar.


Anak kecil saja jika dibentak pasti akan merajuk, apalagi wanita tua seumuran Nyonya Minah dan Nyonya Sonia,pasti frekuensi merajuk masuk ke sumsum tulang.


Nyonya Sonia dalam kamar tamunya mengeluarkan koper, rasanya sakit hati tidak bisa terobati dengan begitu saja.


Begitu pula dengan Nyonya Minah, yang ingin cuti ngurus Josh tanpa waktu tidak tau.


Bisa habis kacau rumah Wiliam jika bibinya kabur bebas tanpa bawa anaknya itu.

__ADS_1


Tapi yang namanya masih marahan dengan ego masing-masing, mereka tetap kekeh sama pendirian sendiri.


Tanpa sepengetahuan pemilik rumah, ibu tua dan nenek pergi dari rumah besar mewah berpesan pada pelayan.


"Sakit hati ini,Bi. Padahal saya hanya mau yang terbaik untuk dia dan anaknya, eh ...apa yang kita dapat sekarang" duduk menuju tempat persembunyian mereka.


"Benar Bu. Malah dikatain mencuci otak anaknya. Rasanya sakit banget"sambung ibu tua membasuh air mata sakit hati.


"Biar saja mereka urus anak itu. Mending kita jauh, mana tau bisa berubah pikiran" ujar nenek.


"Ho'oh. Kita berdoa yang terbaik saja untuk mereka" jawab ibu tua sesenggukan.


Taxi pun tiba disebuah rumah sederhana milik seseorang. Mereka memutuskan untuk sementara tinggal di rumah itu, tanpa ada menghidupkan ponsel.


Sore menyambut datangnya malam, tanpa kehadiran dua wanita tua di dalam rumah itu, rumah menjadi sunyi dengan kekacauan belum terselesaikan.


"Ko. Omah,Josh dan bibi kemana?.Kok sepi?" Ronald duduk celingak-celinguk menunggu makan malam bersama.


"Mereka di kamar. Panggil sana" ujar Wiliam berwajah dingin jutek.


Ronald berjalan manggil dua wanita tua terlebih dahulu.Pintu diketuk tanpa respon salah satu orang di dalamnya.


"Aneh. Kenapa Bibi dan Omah tidak jawab. Apa bujukin Josh dari siang gak kelar?" bertanya sendiri, langkah menuju lantai atas.


"Gak!!.Josh gak mau makan !!" teriak bocah sudah dalam keadaan lapar.


"Oke, Josh gak mau makan .Tapi Grandma dan Omah uyut mesti isi tangki perut dulu, biar bisa temani Josh bergadang." bujuk Ronald.


"Grandma dan Omah uyut gak ada" jawab ketus bocah.


"Gue salah dengar atau apa ini?" monolog Ronald,mengorek telinga pakai jari kelingking.


Orang di meja makan sudah cukup sabar menunggu lama. Pikirannya menduga bahwa orang seisi rumah kompakan berdemonstrasi konspirasi. Dia pun tidak menunggu orang-orang itu lagi makan malam bersama.


Perut yang seharusnya sudah lapar, jadi kenyang dipenuhui rasa kesal. Dia berjalan naik ke lantai atas masuk ruang kerja.


"Ko, kamu gak jadi makan malam?.Sebenarnya apa yang terjadi ?" tanya Ronald penasaran, ikut nyusul walau laper datang.


Wiliam tidak menjawab pertanyaan adiknya, karena dianggap pura-pura tidak bersekongkol.


"Ko, ada apa dengan kalian?.Jangan bilang Bibi dan Omah kabur capek bujuk Josh ?" praduga Josh, lalu cepat keluar cari kedua wanita.


"Sial!!" maki Wiliam mematahkan balpoint.

__ADS_1


Wiliam juga ikut keluar cari kedua wanita, yang diduga kabur tanpa ketahuan olehnya.


Pelayan rumah dikumpulkan, lalu ditanya satu persatu oleh Wiliam.


"Jadi, Bapak tau kalau Omah dan Bibi pergi!!" bentak Wiliam.


"I-iya. Tapi Nyonya bilang sudah pamit dengan Tuan, dan tidak perlu bilang ulang" sahut asisten rumah tangga.


Arghhh....


Raung marah Wiliam, merasa bersalah telah membentak dan menyakiti hati kedua wanita hingga jadi kabur. Baru disadari olehnya bahwa keinginan mereka itu tidak perlu digubris lebih ,karena hanya beberapa hari mereka bertemu.


"Ko, kenapa Bibi dan Omah sampai marah dan kabur" Ronald mencengkeram kerah kemeja Wiliam.


Wiliam terdiam dalam rasa bersalah, secepatnya dia menelpon pihak berwajib untuk mencari dua wanita tua.


"Sekarang baru saja cemas. Pasti waktu marah tadi, tidak takut" omel Ronald juga cari orang yang bisa melacak jejak GPS handphone.


Biar namanya tua, akan tetapi kedua wanita sudah bisa duga kalau bakal tetap dicari. Makanya mereka mematikan ponsel begitu keluar dari rumah besar.


Di dalam rumah sederhana, dua wanita tua dapat jamuan makanan sederhana. Suasana hati kalut gabut mereka juga butuh ketenangan, biar penyakit tua damai dalam tenang.


"Ayo ,silahkan makan lauk sederhana kami, Nyonya" mempersilahkan tamu istimewa makan menu sederhana tersaji.


"Ya, tentu saja" sahut ibu tua berwajah terpaksa tanpa beban.


Mereka mulai nyantap sajian sederhana hanya ada ikan gembung sambel ijo, tumis kangkung terasi, tahu goreng dan pelengkap teh manis hangat.


Walau sederhana, tapi rasa tidak kalah nikmat, senikmat masakan koki di rumah gedongan.


"Tambah sayurnya lagi ,Nyonya" pria pemilik rumah menyuguhkan tumis kangkung.


"Terimakasih" sahut nenek Sonia, cukup makan sikit dalam mood bete.


.


...****************...


.


Terimakasih atas dukungan semua.


Sehat sejahtera selalu buat kita 🙏

__ADS_1


__ADS_2