Change Destiny

Change Destiny
Bab 13.Oh my God


__ADS_3

Bab 13.


.


Ban mobil telah di tukar, mobil pun kembali melaju ke tempat acara pertemuan.


Setelah berpisah beberapa bulan ayah dan anak ikut berpisah jarak batin mereka.


Josh menggunakan paman tampan sebagai tameng perlindungan pengganti seseorang yang bisa memberi pembelaan.


"Uncle" mata Josh berkaca memohon agar bujuk ayahnya tidak memarahinya lagi, apalagi sampai mengacuhkan dirinya.


Ronald ngangguk dan coba membujuk emosi sang kakak untuk reda. "Ko, biar saja dia ikut"


Wiliam teguh dengan pendiriannya yang memisahkan urusan bisnis dan keluarga.


"Kamu jaga dia di mobil" titah Wiliam tanpa nego.


Ronald ikut patuh biar tidak ada letupan lahar gunung merapi.


Setiba tempat acara Wiliam turun sendiri.Sedangkan Ronald memilih untuk mengajak ponakan pergi ke tempat lain, dari pada maluin jika ketahuan tamu undangan lain.


Dalam gedung mewah dan jamuan memang istimewa bagi semua tamu undangan, Wiliam di persilahkan duduk di kursi VIP terdepan oleh tuan rumah acara.


Di tempat yang sama Melani dan tuan beserta nyonya Wijaya juga baru tiba.Mereka salah satu rekan bisnis yang baru saja bergabung setelah menang tender dalam penyediaan bahan logistik bagi perusahaan itu.


"Selamat ya" Tuan Wijaya menjabat tangan rekan bisnisnya.


"Terimakasih pak. Silahkan masuk" mengantar rombongan tamu duduk di belakang kursi VIP.


Melani dan kedua orang tuanya duduk menikmati hiburan penyambutan, sebelum acara utama di mulai.


"Ma, Mel ke toilet dulu" pamit Melani ingin menelpon seseorang yang telah miscall tiga kali.


Nyonya Wijaya mengangguk, dan duduk menemani sang suami yang senang dengar tembang lagu.


Saat kepala Wiliam menoleh kebelakang, ia di sapa tuan Wijaya dengan senyuman ramah. Begitu juga dengan Nyonya Wijaya yang senyum ramah.


Wajah familiar tuan Wijaya mengingatkan dia dengan seseorang dua tahun lalu, tapi sudah lupa dimana dan siapa orang itu.


Saat Melani keluar dari toilet, ia bertemu dengan teman sekolah SMA yang merupakan anak perusahaan yang sekarang sedang bekerja sama.


"Mel, how are you" pria muda menjabat tangan Melani.


"Fine and you" balas Melani berjabat tangan.


"Ya ginilah. Mulai merintis karir. Kamu sudah nikah belom?" tanya pria muda yang dulu pernah naksir.

__ADS_1


"Belum. Masih mau fokus sama bisnis" berjalan menuju balroom acara.


Melani dan pria muda berjalan hingga kursi dimana orang tua Melani duduk. Waktu yang sama papa pria muda juga ingin memperkenalkan anaknya pada pengusaha sukses se Asia.


"Tom, kemari" panggil tuan rumah acara.


"Bentar ya, om, tante, Mel" izin pria muda berjalan ke depan.


"Tuan Lee, kenalkan ini putra saya. Tom, ini tuan Lee" saling mengenalkan.


Melani sejenak berhenti menikmati acara nyanyian begitu dengar marga Lee keluar dari mulut tuan rumah.


"Tidak mungkin Mister Wiliam atau Ronald Lee" Melani berharap tidak bertemu dengan abang beradik yang buat takdir hidup berubah dan menyulitkan.


"Senang berkenalan dengan anda tuan Lee. Nama saya Tomi Kurniawan" menjabat tangan pebisnis idolanya Tom.


"Anak muda penuh semangat" Wiliam kembali menjabat tangan.


"Oh iya, saya juga punya teman yang satu misi. Boleh saya kenalkan?" tanya Tomi.


Tomi memanggil Melani setelah dapat persetujuan. Awalnya kaki Melani begitu berat untuk berdiri dari kursinya, dan makin lama semakin berat untuk di gerakkan.


Wiliam yang lihat pria muda sedang berdiri membelakangi punggung pun ikut menoleh kembali kebelakang.


"You!!" Wiliam menunjuk kaget.


"Hello, mister Lee. Nice to meet you" basa basi Melani berwajah senyum tertekan batin.


Melani ngangguk canggung. Kalau bilang langsung 'iya', dan tidak diakui pebisnis berdarah dingin, itu akan amat memalukan dirinya yang sedang merintis.


"Tuan Wijaya, kenalkan ini Tuan Lee. Tuan Lee, ini tuan Wijaya dan keluarganya" tuan rumah memperkenalkan kedua pebisnis dari generasi berbeda.


"Hallo,senang bertemu anda langsung" sambut tuan Wijaya berjabat tangan.


Wiliam membalas jabat tangan orang tua Melani, namun matanya menyelidik Melani yang duduk kaku.


Tidak sukar bagi Wiliam Lee dapat info dalam waktu singkat tentang seseorang.


Setelah tau siapa keluarga Wijaya, Wiliam juga ingin coba sepak terjang wanita pebisnis muda yang baru mengepakkan sayap dalam dunia bisnis.


Tidak ada salahnya untuk mencoba cara pebisnis wanita mengelola bisnis mereka. Wiliam pun berencana untuk menanam modal dalam perusahaan yang di kelola Melani secepatnya.


"Mudah-mudahan gak bakal jadi" Melani berdoa agar mantan dosen tamu tidak jadi menanam modal dalam bisnis kecil.


Tuan rumah mulai acara pidato dan di susul serangkaian acara meriah acara itu.


Sambil menikmati acara tarian, lagu dan standup komedi dari artis papan atas, semua tamu dapat menikmati kudapan atau menu hidangan lain.

__ADS_1


"Mel,bagaimana jika minggu ini kita kumpul-kumpul ?" Tomi hendak pedekate lagi mengejar Melani yang kian hari makin cantik dari luar hingga inner beauty.


"Emm... Maaf, aku sudah ada acara keluarga" tolak Melani males ikut gabung dengan gosip tidak penting.


Bukan sombong atau angkuh, tapi dia tau apa topik yang di bahas teman-teman saat mereka berkumpul.Tidak lain topik asmara yang tidak menarik hatinya. Dan yang akhirnya berujung pada bullian lagi.


"Kalau aku undang kamu makan malam sabtu ini, ada yang marah gak?" Tomi berharap permintaan kali ini tidak di tolak langsung.


"Boleh kok nak Tom" sambung nyonya Wijaya sedari tadi lihat gelagat pria muda ingin pedekate.


Wajah Melani tersenyum kesal. Dia tidak ingin pergi jika tidak berkaitan dengan bisnis.


Merasa mulai tertekan dengan sikap anak rekan bisnis dan sekaligus teman SMA, Melani pun membujuk papa untuk pamit pulang.


"Om, Tom, kami pulang dulu" pamit Melani pada tuan rumah acara, tanpa melirik pengusaha berdarah dingin.


Di susul orang tua Melani yang pamitan pada semua.


"Wanita yang berprinsip" gumam batin pengusaha berdarah dingin, melihat Melani dan keluarga Wijaya keluar dari balroom.


Bughh...


Tanpa sengaja seorang bocah menabrak tubuh nyonya Wijaya. Tubuh bocah itu terhuyung tertahan tarikan tangan Melani.


"Hati-hati" ucap lembut Melani menstabilkan posisi berdiri bocah itu.


"Papa mama mu dimana?" tanya nyonya Wijaya.


"Papa ada di dalam" bocah menunjuk sembarangan arah.


"Josh, kamu jangan asal masuk" suara pria yang berdiri di belakang keluarga Wijaya, membuka jalan untuk dia.


"Uncle" bocah tersenyum balas ujaran paman tampan.


Mata Ronald dan Melani bertatap dekat. "Ternyata jodoh tidak kemana" gumam Ronald tersenyum.


"Aunty,grandma,grandpa.Ini my uncle" bocah memperkenalkan Ronald yang memandang lekat kecantikan Melani.


Ronald mengulurkan tangan bersalaman, tangan itu pun disambut tuan dan nyonya Wijaya. Tidak dengan Melani yang sudah cukup mengenal keluarga Lee.


"Oh my God. Apa aku akan apes lagi kali ini" keluh batin Melani menangisi pertemuan yang tidak di inginkan.


Jika saja tau akan bertemu abang beradik Lee, maka Melani tidak akan ikut serta dalam undangan acara peresmian rekan bisnis.


.


...****************...

__ADS_1


.


Terimakasih telah mampir ke karya kacangan. Semoga terhibur dan sehat selalu untuk kita semua 🙏


__ADS_2