
Bab 159
.
Dalam waktu cepat, orang suruhan yang dapat tugas untuk membereskan Maria, sedang mengeksekusi wanita penggoda yang telah berani menyentuh sesuatu yang tidak ada orang lain boleh menyentuh benda tersebut, tanpa seizin pemilik.
"Jika kamu berani menampakkan wajah kamu lagi di depan Tuan Wiliam, bukan hanya tangan ini yang akan kena siksaan,tapi wajah atau mungkin nyawa!" ancam seorang pria bertopeng, mencengkeram dagu Maria agar ingat peringatan dari pengusaha berdarah dingin.
Wajah pucat Maria ditinggalkan oleh pria bertopeng, dengan taburan uang ratusan ribu untuk obati luka tangan akibat siksaan jepretan perangkap tikus.
Dilain tempat, Wiliam sehabis mandi mencari Melani yang ada di kamar anaknya.
Ajakan rahasia untuk berpacaran setelah Josh tidur,pun disetujui Melani berwajah malu-malu kucing.
"Ingat, jangan sampai ketiduran" ucap bisik Wiliam dan diangguk malu Melani.
"Daddy bisikin Mami apa?.Josh enggak ikut dibisiki" Josh tiba-tiba nonggol di celah mereka.
"Ini urusan orang tua.Anak kecil tidak usah ikut campur" jawab sinis Wiliam, muka rada kaget tegang.
"Tapi Josh kan harus tau,demi keselamatan Mami" ngotot pingin tau.
Tidak dapat info dari bapaknya, Josh menanyakan perihal apa yang dibisikkan kepada ibu cantik.
"Daddy bilang, Mami ...." Melani bingung untuk cari jawaban masuk akal.
"Bilang apa,Mi?" semangat penasaran ingin tau.
"Kalian cepat turun makan" teriak Wiliam memanggil kedua bocah.
"Itu Daddy sudah panggil" Melani ngalihkan pertanyaan.
"Daddy bisikin apa,Mi?" kekeh ingin tau apa yang dirahasiakan.
"Bilang liburan nanti ke villa.Ya liburan ke villa" asal jawab Melani teringat keinginan Josh sebelumnya minta jalan-jalan.
"Oh" Josh ngangguk percaya.
"Tapi jangan bilang Daddy, kalau Mami kasih tau" ucap Melani pura-pura untuk menjadikan percakapan mereka rahasia juga.
"Ok" Josh menutup mulut dengan simbol gembok terkunci,dan kunci disimpan dalam saku celana.
Keduanya turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama.
Melani masih belum percaya, bahwa dia sekarang ingin merasakan waktu dimana wanita seumurnya sedang berbunga asmara.
Tatapan Wiliam juga terlihat beda dari pada biasanya.Lebih tenang, lembut dan hangat,mampu meyakinkan akan keputusan konyol dirinya.
"Koko mau ini?" tanya kaku Melani,coba meniru adegan romantis tokoh cewek ke cowok yang mengambilkan menu masakan.
"Boleh" Wiliam dengan senang menerima pemberian wanitanya.
"Mami,Josh juga mau" pengacau ikut-ikutan ambil andil tiap kesempatan.
"Itukan ada di depan kamu,ambil saja sediri" ujar ketus Wiliam merasa tersaingi.
"Tapi Josh mau Mami yang ambilkan" mulut maju ke depan,aksi ngambek pun dimulai.
"Ini untuk Josh sayang" ucap Melani memanjangkan orang yang telah dibuat ngambek.
"Manjakan terus.Nanti sudah besar tinggal di cap sembunyi di bawah ketiak orang tua" omel Wiliam, memasukkan kasar nasi ke mulut.
Kreett....
Suara sendok beradu dengan gigi putih rata terdengar ngilu di telinga Melani.
Situasi yang sulit untuk Melani kendalikan antara 2 orang disampingnya,buat dia serba salah memberikan perhatian khusus.
__ADS_1
"Uhhh... Ternyata mencintai itu tidak mudah.Banyak halangan merintang.Jika bisa putar waktu kembali,aku minta dicintai dari pada mencintai" keluh batin Melani tidak dapat makan dengan tenang.
"Ok, permintaan kamu telah kami catat, dan akan segera diproses.Harap sabar menunggu konfirmasi berikutnya" ucap malaikat baju putih, mencatat keinginan Melani yang dapat kartu silver.
"Langsung kabulkan saja" sambung malaikat baju hitam.
"Tidak bisa.Tetap harus melalui proses atasan dulu" malaikat baju putih menutup buku isi catatan permintaan manusia yang berhati baik.
"Begini, makanya orang baik beralih jahat.Kelamaan nungggu proses tak pasti" cibir malaikat baju hitam.
Biar sering bergaduh dan adu pendapat, kedua malaikat juga kadang kompak saat dibutuhkan.
Kedua malaikat hilang bersama telah mencatat semua keinginan Melani.
"Mel,kamu tadi bilang mau pergi beli sesuatu kan?" tanya Wiliam harap dipahami Melani.
"Tidak ada" jawab jujur, karena tidak merasa ingin keluar rumah.
"Ada.Tadi kamu bilang mau beli krim wajah" asal ngotot Wiliam akan kepolosan istrinya.
"Mami baru beli,Dad" dijawab dingin oleh Josh,kemarin lusa terima paket wajah pembelian dari toko online mereka.
"Kamu tidak tau, jadi cepat habiskan desert kamu, dan masuk kamar" titah Wiliam, akibat terkacaukan.
"Ok" jawab lesu Josh,menyendok puding nata de coco.
Mediasi untuk pacaran tidak dapat ditunda Wiliam.Jika dia punya alat untuk menghentikan waktu,maka wanitanya akan dibawa pergi saat itu bersamanya.
Kakinya yang ada di bawah kolong meja makan pun,menkode kaki Melani.
"Ada apa,ko?" tanya polos Melani, tidak paham dengan bahasa kode sandi baru.
"Nanti ke ruang kerja saya" jawab dingin Wiliam, puyeng dengan sikap polos istrinya tidak tepat waktu.
"Ngapain?" Melani menoleh.
"Bantu saya periksa beberapa berkas laporan" asal kasih jawaban meyakinkan.
Makan malam selesai,Josh dan Melani naik ke lantai atas.
"Mami di kamar saja dulu.Kan Daddy masih lama makannya" usul Josh kasihan lihat ibu cantik harus menunggu termenung.
"Baiklah"
Keduanya masuk kamar utama extra large,dan menguasai kamar itu dengan memberi pembatas tidur minim untuk pemilik kamar.
"Ini wilayah Mami dan Josh" Josh letakkan guling disampingnya yang hampir ke tepi tempat tidur size king.
"Nanti Daddy-mu bisa jatuh" ibah lihat minimnya batas Wiliam setelah dikuasai mereka.
"Daddy bisa tidur di sofa" Josh nunjuk sofa panjang ukuran single bad.
"Betul juga" tersenyum jahat.
Seperti biasanya mereka akan mengobrol sampai tidur, sambil merangkul berpelukan tidak lepas.
Ketika Wiliam menyusul Melani ke ruang kerjanya, tidak terlihat orang yang dicari.
"Ini pasti di kamar" gerutu Wiliam.
Dan benar saja.Begitu melangkah masuk kamar utama, terlihat 2 orang berpelukan mesra di atas tempat tidur miliknya.
"Joshh!!" gigi bergertak menggeram.
Tidak peduli anaknya akan terganggu dengan penyitaan Melani,dia tetap menjauhkan kedua orang berpelukan satu sama lain.
"Koko" ucap Melani terusik.
__ADS_1
"Ikut saya" langsung gendong keluar kamar.
"Aku bisa jalan sendiri" malu masih digendong keluar kamar.
"Bilang mau pacaran,tapi ujung-ujungnya tidur" ucap sinis Wiliam, turunkan Melani.
"Sorry" menunduk minta maaf.
Melani pun membalas dengan senyuman manisnya.
Cup...
Wiliam pun langsung menyerang bibir tipis candunya.
"Koko!!" Melani melotot malu, sambil cubit gemas perut kekar pemilik.
"Sekarang kita pacaran di ruang kerja saja" ajak Wiliam tidak terima penolakan.
Inikah yang disebut jatuh cinta?. Setengah akal sehat mungkin tersingkir jauh sampai ke antariksa.
Kata-kata sanjungan kecil saja membuat kita melayang ke awang-awang jauh dari planet-planet yang ada.
Sungguh mahadahsyat sebuah cinta.Mampu meruntuhkan kerasnya hati yang terkunci rapat.
Maka darinya, jangan kau sakiti cinta.Begitu tersakiti,sebuah kenangan pun akan terbinasakan oleh yang namanya'BENCI'.
Benci itu sendiri tidak jauh dari hati tiap manusia. Setiap kali kita dapat memunculkannya, namun sulit untuk menghancurkannya.
Pacaran menurut Wiliam tampak jauh dari deskripsi pelajaran Melani.
Menurut Wiliam, pacaran itu bisa menyalurkan hasratnya juga dengan wanita yang sudah dinikahi.
Serangan ciuman, tidak mampu buat Melani mengajarkan cara berpacaran yang ia inginkan.
"Sama saja. Yang penting kita selalu dekat" tangan Wiliam menjalar remas gundukan masih terbungkus utuh.
"Beda,Ko" berusaha untuk mengubah pikiran pornoo Wiliam.
"Sama. Sama-sama berciuman dan saling berbagi kasih" tidak kuasa menahan hasrat.
Dalam hitungan detik, tubuh Melani telah terbuka polos tanpa helaian benang. Dan Wiliam segera menyusul, menonjolkan tubuh kekar penuh keperkasaan seorang pria.
Bertubi-tubi Wiliam menyerang dengan ciuman mematikan setiap titik sensitif. Tidak segan juga dia menjilat titik *-**** Melani, yang menaikkan tingkat libido.
Ahhh....
Dengar suara ******* yang begitu manja menggoda, Wiliam siap maju bersama kapten bersenjata untuk menelusuri goa pink gelap lembab,tapi dipenuhi denyutan nikmat.
Emmhhh....Arrggg...
Erangan kenikmatan keduanya mengisi ruang kerja lumayan luas.Dengan tubuh lengket akibat peluh ulah Wiliam.
Cup....
"Thank's" Wiliam mengecup kening wanita yang lelah dipacunya berkuda penuh semangat.
"Mel, capek" adunya mengalungkan tangan di leher Wiliam.
Wiliam menyunggingkan bibir, paham wanitanya tidak ingin diajak berkuda lagi.
Helaian benang disatukan kembali dalam keadaaan sedia kala oleh Wiliam, lalu meminta istrinya istirahat sebentar dalam ruang kerja itu, menemani Wiliam kerjakan sisa tugas.
.
......................
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.