
Bab 119
.
Usai mandi,aku pun keluar dari kamar mandi. Dan ternyata dia masih duduk menunggu diriku.
Sungguh kesalnya aku lihat dirinya tidak tau malu berlagak baik.
"Dasar pria munafik" cibikku pelan, dengan lirikan sinis melewati.
Wiliam masih duduk santai melihat ponsel, tidak menggubris apa yang terlontar keluar dari mulutku.
Rambutku sudah tersisir rapi,aku pun keluar tanpa mengajak pria menjijikkan itu.
"Kamu ingin buat orang tuamu cemas" ucap pria itu menahan tanganku yang satunya.
"Lepas!. Tidak usah pegang tanganku" ku hempas keras tangannya.
Awww....
Alhasil tanganku jadi korban kebentur kosen pintu. Rasanya sakit banget, sangat-sangat sakit sekali.
Huff....Hufff.....
Pria menjijikkan itu meniup tanganku yang kepentok.
"Apa yang terjadi?" tanya ibu suri menghampiri kami.
"Tangan Melani terbentur kosen,Ma" sahut pria dingin menggantikan diriku menjawab.
"Kamu kok enggak hati-hati sih,Mel. Ya sudah. Mama ambil obat dulu" omel ibu suri, berlalu.
Aku ini anaknya bukan sih?. Kok sikap Mama begitu dingin dan jutek. Beda banget jika bicara pada pria menjijikkan disamping.
"Ayo duduk dulu" ajak Wiliam menarik pelan tangan yang sakit.
Kulit yang terbentur pun memerah,dan sedikit goresan kecil berdarah.
"Sakit?" lembutnya bertanya.
"Sakitlah!. Coba saja sendiri kalau mau tau" ketusku jawab terbawa emosi.
Wiliam tersenyum, entah apa yang dia tertawakan. Mungkin menertawakan diriku bertampang bodoh di depannya.
"Mel, pasti kamu lebih sakit saat milikku menerobos gawangmu" ucap pikiran Wiliam, dengan senyum simpul.
"Wil,kita sarapan dulu saja sama Papa.Biar Melani obati sendiri" ajak lemah lembut ibu suri, meninggalkan kotak obat tradisional dipangkuan Melani.
"Tidak apa Ma. Saya obati dulu tangan Melani. Mama Papa duluan saja sarapan" sahut Wiliam bertampang perhatian.
"Enggak usah. Anda pergi saja" sambung kesal Melani diberlakukan bagai anak tiri.
"Kamu ini. Apa enggak bisa lebih lembut sama suami" ucap ibu suri, mencubit tanganku yang sakit.
"Untuk apa lembut sama dia" mulutku langsung dibungkam ibu suri.
Mama lebih menghargai perasaan pria itu, dari pada perasaan putrinya sendiri. Makin jelas perbedaan yang ada. Lebih cocoknya lagi, pria itu jadi anak Mama,dan aku jadi menantu teraniaya.
"Mama temani Papa sarapan duluan. Biar nanti Melani temani saya sarapan" ucap Wiliam membuka penutup kaleng obat oles memar.
"Oh begitu. Baiklah. Mama temani Papa dulu" jawab ibu suri dengan senyum hangat.
Ibu suri keluar meninggalkan kami. Ini saatnya aku untuk bisa keluarkan emosi yang tertahan.
"Puas anda lihat aku digalakin Mama. Sana keluar susul. Karena aku tidak butuh bantuan anda!" ketusku mengusir dirinya.
Cup....
__ADS_1
Ciuman bibirnya menempel tepat di bibir tipis ini. Bibir bawahku di gigit pelan, dan membukakan jalan bagi lidahnya mengabsen susunan gigi yang tidak terlalu rata kayak artis promo pasta gigi dan sejenisnya.
Tersendat-sendat nafasku dibuatnya. Tidak mampu aku melawan dirinya,yang telah mengunci pergerakan tangan dan kakiku. Seakan dia telah membaca tatapan mataku yang ingin menendang miliknya.
"Kamu masih butuh bantuan saya. Dan saya hanya akan keluar dengan kamu" bisiknya,lalu mengelap bekas ciuman dengan jari jempolnya.
"Enggak!" jutekku membumbung kebencian.
"Oh,ya!" tangannya mulai menelusuri leher putih.
Senyum simpul itu semakin menjijikkan, meski aku tidak ingat jelas kejadian malam itu.
Dia berhasil meninggalkan jejak di curung leher putih, dengan senyum semeringah.
"Kalau kamu mau marah. Maka salahkan orang yang telah menjebak kamu. Bukan saya yang tulus menolong kamu" menatap ikuti bola mataku bergerak.
"Sama saja!. Anda juga suka modusin" menutup mata, capek harus diikuti bola mata Wiliam.
"Itu bukan modus. Tapi kasih nafkah batin,dan laksanakan kewajiban" membantu rapikan pakaian yang sempat dibuat kusut.
"Benar kata dia. Aku juga harus cari Amanda untuk minta pertanggung jawaban. Aku tidak bisa tinggal diam. Karena dia,harta yang telah ku jaga sudah hilang" geram batin Melani ,tau siapa dalang utama malam itu.
Melani mendorong kuat tubuh kekar Wiliam, dan membuatnya bisa meloloskan diri.
Tampang marah Melani keluar dari kamar sebelum di olesi obat memar. Dia pun keluar rumah setelah berpamitan tanpa sarapan.
"Wil, Melani kenapa?" tanya Tuan Wijaya heran lihat sikap putrinya penuh amarah.
"Tidak tau ,Pa. Tapi Papa tidak usah cemas. Saya akan pastikan Melani tetap aman" jawabnya tergesa untuk nyusul Melani.
Tuan Wijaya ngangguk dan segera izinkan Wiliam nyusul.
Melani lupa jika itu bukan mobilnya,dan juga tidak ada supir untuk mengantar.
"Kamu mau kemana, biar saya antar" tanya Wiliam menekan tombol remote mobil.
Wiliam ikut masuk dan duduk di depan, samping jok kemudi. "Ini kuncinya" serahkan kunci mobil.
Tanpa basa basi, Melani merebut kunci dan menstarter mobil.
Wiliam sempat berpikir sejenak, bahwa istrinya itu tidak tau cara mengemudi. Tapi, saat Melani menginjak pedal gas dan memutar stir, Wiliam jadi makin yakin akan wanita yang pantas untuk dirinya.
Tidak salah Melani jadi wanitanya Wiliam Lee. IQ dan kemampuan lain telah di uji langsung, dan lulus penilaian dari pandangan Wiliam.
Melani memutar stir kemudi, bahkan bisa ngebut dengan lancar.
"Kamu ingin cari wanita itu?" tanya Wiliam duduk tenang,walau Melani ngebut mengemudi.
"Hem.." fokus nyetir dengan wajah marah.
"Emangnya kamu tau dia dimana?" menoleh.
Crittt.....
Melani injak pedal rem mobil tiba-tiba.
"Kamu ingin kita mati di sini!" ujar Wiliam jantungan.
"Aku harus cari alamat rumahnya dulu" ucap Melani keluarin ponsel.
"Hei. Saya ajak kamu bicara" merebut ponsel Melani.
"Kemarikan ponselku. Aku harus temukan dia" rebut kembali.
"Pindah posisi. Tidak usah kamu cari lagi. Cukup ikuti saya" tegas Wiliam, berpindah posisi tanpa keluar dari mobil.
Bisa dibilang modus, karena Wiliam terlihat senang saat tubuhnya bersentuhan dengan lawannya.
__ADS_1
"Pasang sabuk pengaman" ucap Wiliam berhasil pindah posisi yang seharusnya gampang.
Wiliam memegang kemudi,lalu memutar arah mobil menuju belokan kanan.
Sambil mengemudi,dia menghubungi mata-mata yang di tugaskan untuk ngawasin pergerakan wanita yang menjebak wanitanya.
"Kamu jangan biarkan dia pergi" titah tegas Wiliam pada seseorang di seberang.
Dalam sekejap mobil mewah tiba di tempat mata-mata mengawasi wanita penjebak.
"Dimana dia?" tanya Wiliam berkacak pinggang.
"Di dalam gedung itu, sedang lakukan pemotretan" jawab pria mata-mata.
Melani yang dengar jawaban agen rahasia, langsung berjalan cepat menuju gedung.
Wiliam tau siapa pemilik gedung itu. Ia pun menelepon pemilik gedung untuk mempermudah istrinya yang ingin nuntut balas.
"Amanda....Kamu pikir,kamu berhadapan dengan aku yang lemah!. Salah besar!. Aku yang sekarang bukan wanita lemah. Apa lagi setelah perbuatan kamu yang sudah menghilangkan harta berharga yang ku jaga. Maka aku jauh lebih kuat" menggeram marah, dengan kepalan tangan membulat keras.
Setiap langkah Melani tidak terhentikan oleh siapa pun. Seakan langit membantu dirinya untuk memberi pelajaran.
Sampai di ruang pemotretan. Melani pun menyuarakan suara kemarahan. Dia mengusir semua yang ada.
"Oh .. Kamu" ujar sinis Amanda.
"Keluar kalian jika tidak ingin terkena imbas" ucap Melani dengan suara tinggi dan marah.
"Maaf Nona. Sebaiknya jangan ribut di sini. Jika ada masalah,maka selesaikan di luar jam kerja" nasehat wanita pekerja bagian pakaian.
"Kalian tidak tau siapa dia, jadi diam dan jauh!!" marah Melani menunjuk Amanda yang masih bertampang sombong.
"Dasar simpanan Om Om " cibir Amanda melipat tangan dengan sombong.
"Jaga mulut kau!. Cukup sudah kamu mencemarkan nama baikku. Kau pikir kau itu suci,cih....!!. Kau jauh lebih menjijikkan" maki Melani menghampiri Amanda yang mulai goyah.
"Hentikan dia!. Dia itu cemburu dan saiko" ujar Amanda pada kru yang bertugas pada ruang itu .
Semuanya percaya pada apa yang dikatakan Amanda.
Beberapa pria menahan tangan Melani untuk melangkah maju. Karena mereka juga tidak ingin model produk syuting itu terluka.
"Lepaskan dia" bentak seseorang dari belakang berjarak jauh.
Siapa pria itu?. Suaranya yang menggelegar dan beraura mencekam saja, sudah buat sebagian yang kenal untuk patuh.
Tampangnya semakin terlihat jelas, begitu berada jarak 4 meter.
Wajah penuh wibawa kharisma,dan jadi top topik menghampiri Melani yang diperlakukan tidak sopan.
Tangannya menepis tangan pria yang telah kurang ajar, dan berani menyentuh tubuh wanitanya.
"Tuan,dia itu pelakor. Tuan harus berhati-hati" ucap Amanda,cari perhatian.
"Diam kamu!. Siapa dia,saya lebih tau!" bentak Wiliam, memegang tangan Melani bergemetaran.
Hangat dan tenang saat Wiliam memegang tangan ini. Serasa wujud Kak Agung datang untuk melindungi aku yang sedang di-bully.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1