
Bab 24.
.
Jamuan makan siang yang kacau tidak menyamankan sang pemilik hati. Sehabis makan siang itu, Melani semakin harus was-was pada nasib keberuntungan.
Sedikit salah langkah bertindak, karir cemerlang taruhannya.
"Aku mesti buat rencana cadangan mengamankan karirku" panik Melani dalam ruang kerjanya, mondar mandir berfikir keras.
Melani coba menyimpan setengah dana miliknya pada proyek yang belum diketahui orang lain, termasuk Tuan Wijaya.
Dengan modal nekat, Melani memainkan dua puluh persen dana murni pada sebuah obligasi. Ia berharap tidak akan raib hilang jika suatu saat nanti bisnis perusahaan kacau dibuat pengusaha berdarah dingin.
Tidak semua obligasi waktu itu dapat menjamin keamanan. Jika ada, maka suku saham bunga masih tergolong minim.
Segala resikan ditantang Melani, ia pun mulai masuk pada obligasi yang masuk dalam pengawasan tim OJK(Otoritas Jasa Keuangan) Republik Indonesia.
"Setidaknya gak mati sia-sia" ucap Melani bertangan gemetar setelah mendaftar diri pada obligasi.
.
...Rumah Lee...
.
Josh betapa senang bisa ada teman main baru yang punya hoby sama.
Ocehan itu didengar Wiliam yang baru turun makan siang seorang diri.
"Daddy, kalau pulang ke Indonesia lagi, jangan lupa bawa kaset playstation edisi yang baru,ya" oceh bocah tidak peduli dengan wajah tampan dingin.
"Josh mau ajak aunty Mel main game berbasis action" semakin semangat ngoceh.
Di halaman belakang ibu tua dan nenek sedang nyantai membuat rajutan, menghindari amukan penguasa.
Sesekali mereka ngintip bocah yang penuh semangat ngoceh tentang tamu mereka tadi. Walau wajah penguasa dingin tertahan amarah saat makan, setidaknya bisa mengontrol.
"Bu besan, biar saja Josh yang temani dady-nya.Kan gak mungkin anak itu dihajar hanya sekedar memuji" ucap ibu tua.
"Benar. Ada bagusnya juga tuh bocah dekat sama gadis tadi. Kalau begini, setelah bapaknya nikah sama yang tadi bisa tambah lengket" nenek tertawa pelan.
"Dady mau kemana?" tanya bocah sedari tadi ngoceh tetap teracuh.
"Kamu kerjakan PR. Dady urus sesuatu" dinginnya berkata, meninggalkan bocah tanpa pamit pada dua wanita tua.
"Oke. Be carefull dad" bocah melambai.
Pokoknya hati bocah senang, jadi tidak sedang peduli sama sikap dingin cuek bapaknya.
Bocah naik keatas mengikuti perintah mengerjakan semua PR dan belajar mata pelajaran untuk esok hari.
Malam hari setelah semua berkumpul lagi untuk makan malam, bocah melaporkan pada paman tampan akan tamu siang yang sudah lama dia nanti.
__ADS_1
Paman tampan mendengar cerita dengan serius, serta ikut menanggapi dengan senang.
"Aunty Mel baik ya" sahut paman tampan.
"Iya uncle. Kapan-kapan dady undang lagi ya" mata bocah mengarah pada penguasa yang diam dingin.
"Bukan urusan dady" ketusnya, berdiri meninggalkan sekelompok pengagum Melani.
"Biar uncle saja yang undang lain kali" sambung Ronald.
Ada sesuatu tidak beres tampak di wajah penguasa. Ronald yang dapat signal kode dari dua wanita tua coba berani mendekati harimau ngamuk,tanpa tau alasan amukan.
Tok... Tok....
"Ko, aku masuk" izinnya membuka handel pintu.
"Mau apa" ketusnya tanya.
"Ko, kamu marah sama bibi dan omah?" was-was tanya.
"Apa perlu di tanya, haa" kesal.
"Slow ,ko" cari jarak teraman.
"Kamu juga sama saja seperti mereka. Kalau kamu suka, kamu saja ambil" bernada tinggi, menunjuk-nunjuk wajah Ronald.
Ronald binggung maksud perkataan penguasa. Suasana terasa tidak kondusif, Ronald yang tidak ngerti semakin binggung.
"Maksudnya ?" nekat biar nyambung klop.
"Kok ko Wil tau ya?.Apa terlihat ?" meraba wajah memanas malu.
"Kalau tau juga tidak apa. Mana tau bisa bantu lebih dekat" timbul ide memanfaatkan kedudukan penguasa.
Entah sampai mana Wiliam ngamuk akibat Ronald hanyut dalam lamunan.
"Ku kasih tau ya. Semua wanita itu matre, semua sama dengan wanita ****** itu.Jangan nyesal jika kau masuk perangkap mereka" marah Wiliam,meremas dokumen penting.
"Tapi gak semua begitu juga. Mungkin Melani beda dari yang lain" Ronald membela.
"Cukup!!!...Keluar sana!!" bentak usir.
Ronald tidak mengerti mengapa penguasa bisa murka pada gadis sebaik Melani. Ronald juga sadar, bahwa tadi dirinya kurang fokus mendengar semua lampiasan murka.Jadi tidak tau bagaimana harus membujuk tenang ombak yang ngamuk bergelombang tinggi,yang ada menambah frekuensi amukan gelombang.
"Gimana koko mu?" cemas bibi.
"Lagi PMS mungkin, bi. Paling 3 hari sudah mereda" mencandai amukan biar tidak pada panik.
Untuk usia seumuran ibu tua dan nenek, tensi darah amat penting dijaga. Tidak boleh terlalu cemas capek, yang bisa mengubah kualitas kesehatan.
Dalam benak ibu tua, dia hanya berharap ada satu mukjizat nyata membuka hati ponakannya itu, yang telah dingin membatu beberapa tahun belakangan.
"Sudah malam bi.Lebih baik kita tidur" ucap Ronald mengantar ibu tua turuni anak tangga.
__ADS_1
Dalam setiap doa ibu tua. Ia berharap selalu kedua ponakan segera mendapat pendamping hidup, yang mewarnai, menghangati hati membatu beku mereka.
.
Satu hari berlalu lagi.....
Kalender sobek harian dikoyak pelayan rumah keluarga Wijaya.
"Mel, kok lesu?" tanya Tuan Wijaya,mengusap wajah gadis kesayangan.
"Cuma banyak beban kerja saja, Pa " sahutnya lesu.
"Sudah lama juga kamu tidak refresing. Bagaimana kalau besok kita liburan ke bioskop" saran Tuan Wijaya.
"Suka hati" lesu menjawab.
"Kita ajak sekalian anak semalam" sambut Nyonya Wijaya.
Byur..... Air dalam mulut bersembur keluar .Buat hidung gadis itu memerah perih hingga meler.
"Kamu kenapa lagi, hum?" memberikan tisu.
"Ma, please. Jangan ungkit mereka lagi" sambil ngelap hidung perih.
"Siapa?" Tuan Wijaya penasaran.
"Anak kecil keluarga Lee,yang tempo hari kita ketemu saat acara perayaan" mengulang ingat memori suami.
"Maksudnya keluarga Lee yang investor baru kita ya, Mel" Tuan Wijaya menduga.
"Wah,... Benar-benar jodoh sejak awal.Pantas Tuan Wiliam bilang sudah kenal" ibu suri heboh senang sendiri.
Melani semakin kesal dengan ucapan ibu suri yang terlalu ngusik ketenangan hidup berkarir.
Wajah Melani manyun pamitan pergi ngantor. Ia milih menghindar sebelum terusik dalam.
"Mama belum tau kalau berhadapan sama harimau. Nanti kalau tau, ujung-ujungnya kabur duluan" gerutu Melani menunggu sang papa di dalam mobil terpakir teras rumah.
"Mel, tolong Mama. Mama gak tau dia orangnya galak, arogan, kejam. Bla... bla.... " oceh Melani meniru sifat ibu suri jika terjepit .
"Kamu gibahin Mama, ya?" Tuan Wijaya masuk mobil dengan wajah nahan lucu lihat tingkah putri kesayangan.
"Mmm... " dehem ngangguk jutek sebel.
"Harap maklumin sifat Mama. Dia hanya coba yang terbaik" bujuk Tuan Wijaya membelai rambut kuncir rapi.
"Papa.... Sebenarnya aku anak Mama atau bukan, sih?" keluh rengek manja bersandar dibahu setengah kekar.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua 🙏😊