Change Destiny

Change Destiny
117. Hamil ?


__ADS_3

Bab 117


.


Wiliam keluar dari kamar, memilih duduk di luar untuk meredam emosi.


Ia pun berfikir jika memiliki saudari atau anak perempuan yang diperlukan sebagaimana perbuatannya tadi malam, mungkin juga akan ada penolakan frontal.


"Stupid!. Seharusnya saya harus mengalah" menjambak rambut.


Setelah berpikir jernih, Wiliam pun mandi terlebih dahulu,baru membujuk istrinya yang ngamuk.


Hufff...


"Mengapa saya tidak bisa lebih lembut padanya. Mengapa saya begitu emosional dan egois?" bertanya pada diri sendiri di bawah guyuran air.


Dia bukan tipikal orang bucin akut, karena terbiasa dia dilatih berhadapan dengan banyak wanita yang menggoda dirinya.


Tapi tidak salah juga untuk dirinya mencoba sesuatu yang baru, sebagai wujud cinta.


Usai mandi, dia keluar dan menemui istrinya yang masih tidur miring meringkuk.


"Mel, Josh ingin bertemu dengan kita. Saya juga akan mengizinkan kamu pulang ke rumah orang tua kamu" bujuk Wiliam.


"Aku ingin pulang selamanya" ucap Melani bernada tinggi ketus.


'Pulang selamanya?' berarti tidak akan ada yang diajak beradu mulut. Tidak ada yang menemani hari-harinya. Tidak ada kesempatan pula untuk mengenal kata 'CINTA'.


Kepala Wiliam jadi blank saat Melani mengatakan kata tersebut. Namun Wiliam Lee namanya jika tidak bisa menemukan solusi dalam waktu singkat.


"Baik. Kamu bisa pulang mulai hari ini" jawab Wiliam terdengar pasrah.


Ketika Wiliam keluar meninggalkan dirinya,Melani pun langsung merapikan penampilanya agar tidak buat orang tuanya curiga dengan apa yang sedang di alami.


Cekrekkk....


Pintu terbuka, wanita yang sedari di tunggu melangkah keluar dari kamar.


"Kita temui Josh dulu" ucap Wiliam, lihat jalan Melani yang agak renggang dan terhuyung.


Tidak ada jawaban sepatah kata keluar dari mulut istrinya.


Wiliam pun menyusul dari belakang, sambil membawa paper bag yang ingin dihadiahkan.


Seharusnya yang berulang tahun yang dapat hadiah,tapi beda dengan Wiliam yang ingin menghadiahkan, sebagai tanda terima kasih atas penyerahan harta paling berharga milik Melani.


"Ini untuk kamu" ucap dingin Wiliam menyerahkan paper bag.


"Heng..!!" membuang muka. Jijik lihat pria yang sudah merenggut harta berharga.


"Pak, jalan" ucap dingin Melani.


Supir tidak bisa menjawab perintah Melani, disebabkan big bos masih berdiri menahan pintu mobil terbuka.


Wiliam mengibaskan dua jari nyuruh supir untuk keluar.


Supir pun patuh pada perintah majikan, dan keluar meninggalkan pasangan tersebut.


Sedangkan Melani tidak peduli siapa yang akan mengambil ahli kemudi mobil mewah itu.


Wiliam yang sudah masuk duduk di depan, pegang kemudi melajukan mobilnya menuju tempat yang pertama. Yaitu ke rumah besar mewah menjemput anak kesayangan, untuk merayakan ulang tahun sederhana.


Setiba di rumah besar, Josh yang sedari menunggu kedatangan orang khususnya di depan pintu, langsung berlari menghampiri mobil mewah yang berhenti.


"Mami" sapa bahagia bocah pada ibunya.


"Hai Josh" balas sapa lesuh Melani.


"Mami sakit?" menatap sedih wajah cantik lesuh itu dan di angguk Melani.


Wiliam yang sedari tadi juga ingin di sapa, malah tidak disadari putranya itu akan keberadaannya.

__ADS_1


"Josh" panggil dingin Wiliam dari depan.


"Daddy, cepat bawa Mami masuk" ucap Josh rada cemas.


"Enggak usah. Mami mau pulang" tolak Melani.


"Mami mau pulang kemana?"


"Ke rumah Grandpa"


"Josh ikut ya. Josh bosan tinggal di rumah sendiri" rengek Josh rangkul tangan Melani


Wiliam yang lihat wanitanya di rangkul tanpa dorongan jadi cemburu.


"Josh" panggil Wiliam dengan tatapan sinis dan dingin.


"Ya Dad. Tapi Josh boleh ikut tinggal sama Mami kan?. Please" rengeknya memohon dengan wajah memelas.


"Jangan Josh. Mami mau tinggal di sana sendiri" ucap Melani.


"Iya,kamu tetap tinggal di rumah ini sama uncle" sahut Wiliam.


"Jadi kapan Josh bisa bertemu lagi?" menatap ibunya yang bergedik bahu.


Wiliam menyunggingkan bibir, karena Josh juga dapat perlakuan sama seperti dirinya yang di acuhkan.


"Tapi sekarang kita jadi rayakan ultah Daddy kan?" tanya Josh melihat wajah sang Daddy,dan di angguk Wiliam.


Wiliam pun menyuruh Josh untuk menutup pintu mobil, dan mengajak 2 orang berharga ke suatu tempat.


Tempat yang sudah di reservasi khusus untuk keluarga kecil mereka, tanpa gangguan siapa pun. Dengan menu kesukaan Josh yang hanya terhafal Wiliam selama 7 tahun lebih.


Makan malam yang singkat itu selesai. Kemudian mengantarkan Josh kembali ke rumah mewah sebelum membawa pulang Melani ke rumah orang tuanya.


"Happy birthday Dad" hanya sebuah kecupan menempel di wajah tampan pria dewasa itu. Dan cukup bagi pria tersebut terima kado keduanya setelah kado istimewa dari sang istri.


"Kamu jangan bergadang dan jangan nakal" nasehat Wiliam, mengecup balik kening dan wajah tampan kecil.


Dari tadi wajah murung Melani tidak tersentuh atau respect pada percakapan kedua orang tadi.


Yang ia inginkan sekarang adalah, ingin menjauhkan wajah pria menjijikkan dari hadapannya.


Wiliam mengantar Melani pulang ke rumah orang tuanya.


Kehadiran mereka disambut hangat dengan tangan terbuka. Terutama oleh sang Mama, yang sudah lama tidak bertemu dan teleponan.


"Ayo masuk. Kalian sudah makan belum?" ucap ibu suri, membawa anak dan mantu masuk.


"Kami baru selesai makan malam, Ma. Papa dimana,Ma?" jawab Wiliam sambil basa basi agar tidak langsung pulang.


"Oh, Papa ada di halaman belakang,lagi main catur" jawab ibu suri nunjuk pintu samping rumah.


Wiliam pun menyusul keberadaan Papa mertuanya di halaman belakang.


"Ma, Mel masuk kamar dulu" bertingkah seakan sudah tinggal di rumah orang tua.


"Mel,kamu kenapa?" nyusul Melani yang minta izin.


"Tidak apa-apa. Hanya mau istirahat" jawab dingin, menarik handle pintu kamarnya.


Ibu suri lupa mengatakan bahwa kamar putrinya sedang di renovasi, jadi tidak bisa untuk ditempati.


"Ma, kamar Mel kok di bongkar" tanyanya dengan hati hancur.


Dirinya yang sudah tidak memiliki harta berharga,kini juga sudah dikeluarkan dari keluarga inti. Rasa sakit bukan hanya menghantam tubuh, tapi juga hati yang rapuh.


"Mel,...Mel..." panggil ibu suri menahan tubuh Melani yang lemas.


"Ko... Wiliam...." teriak ibu suri memanggil dua pria di halaman belakang.


Wiliam yang baru saja menghampiri belum juga sempat menyapa Papa mertuanya,lekas berbalik ke arah panggilan Mama mertua.

__ADS_1


"Wil, bawa Melani ke kamar Mama dulu?" ucapnya cemas.


Wiliam langsung menggendong tubuh kecil itu. Diletakkan perlahan tubuh lemah,lemas di atas tempat tidur orang tuanya.


"Kamu kenapa, Mel?" tanya cemas ibu suri.


"Hiksss... Hikss.... Mama sudah nggak mau Mel lagi kan?" tangisnya menyesal telah milih jalan untuk pulang.


Ibu suri bingung, tidak paham sama ucapan putrinya yang menuding.


"Wil,apa ada masalah dengan kalian?" ibu suri menginterogasi mantunya.


Wiliam juga bingung untuk jelaskan. Sebenarnya bisa termasuk kasus serius dan juga tidak.


"Apa Melani sedang hamil?" asal tebak. Karena gelagat Melani seakan rajukan bawaan orang sedang hamil.


Alangkah bagusnya jika itu terjadi. Tapi tidak mungkin dalam satu malam, benih yang ditanam bisa memproses kilat.


"Tidak tau, Ma" sahut Wiliam rada kaku dan pilon.


"Coba kamu ke apotek beli test pack.Eh, sekalian aja bawa Melani ke dokter,mana tau butuh vitamin" ujar ibu suri berwajah bahagia semeringah.


"Kalian datang" tegur Tuan Wijaya baru tau kehadiran anak dan mantu.


"Iya Pa" jawab Wiliam.


"Kenapa Melani nangis,hmm?" tanya Tuan Wijaya, lihat putrinya sesenggukan bersembunyi memeluk dengkul.


"Ko, kayaknya itu bawaan bayi" bisik ibu suri.


"Maksud kamu, Melani hamil?" tidak percaya.


"Iya Ko. Makanya aku minta Wiliam bawa Melani ke rumah sakit"


"Kalau begitu cepat" titah Tuan Wijaya, tidak ingin terjadi sesuatu pada anak dan bakal cucunya.


Wiliam kembali menggendong dengan senang hati.


"Lepaskan!" marah Melani, memukul dada Wiliam.


"Mel, kamu jangan banyak gerak. Bisa bahaya jika jatuh" ujar cemas Tuan Wijaya.


"Papa...." rengeknya meraih tangan sang Papa tersayang, tercinta.


Tak kuasa Tuan Wijaya pada rengekan yang terdengar manja dan piluh.


"Biar Papa yang gendong" ucap Tuan Wijaya pada Wiliam.


Wiliam tidak dapat menolak keinginan mertua, tapi ia juga tidak rela jika benaran benihnya telah berbuah, dan buat dirinya tidak dapat ikut andil merawat serta menjaga.


Krett....


"Aww..." tulang tua Tuan Wijaya ternyata tidak mampu menggendong tubuh kecil putri kesayangan.


"Ko, kamu tidak bisa lagi gendong Melan. Biar Wiliam saja" ujar ibu suri panik sama punggung suami.


"Iya Pa. Biar saya saja" sambung Wiliam dapat kesempatan.


"Papa..." Melani semakin kencang menangis, memeluk tubuh tua itu yang pasti tidak kuat lagi melindungi dirinya.


"Ya sudah, Mama panggil dokter saja" ujar ibu suri.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2