Change Destiny

Change Destiny
129


__ADS_3

Bab 129


.


Wiliam mengendong keluar tubuh kecil istrinya dari kamar Josh. Wajahnya yang dingin dan jutek itu sudah dianggap biasa oleh Melani setelah menikah hampir 1 tahun.


"Apa yang kamu lakukan sama Josh sampai buat kaki kamu kebas?" tanyanya dingin sambil gendong berjalan.


"Emm.. Hanya ngobrol dan baca buku" dalih Melani.


Flash back....


Sebelum melawan musuh game mereka di babak berikutnya, Melani dan Josh sudah sepakat untuk menjawab satu jawaban yang sama.


"Kalau Daddy tanya, kita bilang saja bicara soal dulu Mami sekolah" ucap Melani.


"Kalau Daddy enggak percaya gimana,Mi?" ragu dengan jawaban Melani.


"Bilang baca buku" mengambil beberapa buku bacaan.


"Oke deh"


Flash on....


Wiliam merasa ada kebohongan keluar dari mulut Melani, namun kondisi yang tidak memungkinkan Wiliam untuk menginterogasi lanjut, Melani pun bebas.


Lihat wajah Wiliam tidak meyakini jawaban, Melani terpaksa harus memakai cara halus.


Jauh...Jauh banget dari sifat Melani. Melani harus bersikap manja biar tidak ada yang berimbas hukuman berat.


Cup.....


Melani mencium pipi suami bertampang dingin sinis itu. Tidak sampai disitu, Melani sengaja duduk manja dalam pangkuan Wiliam.


"Sudah mulai nakal" ujar Wiliam pura-pura jaim,menoel pipi dagu wanitanya.


"Sorry kalau Koko tidak suka aku cium" jawab Melani bersalah telah salah ambil sikap.


Siapa bilang Wiliam menolak tindakan Melani yang manja. Justru dia ingin sekali Melani lebih bermanja.


Cup....


Giliran Wiliam balik membalas ciuman, tapi bukan di pipi, melainkan di bibir candunya yang mencurut senewot rajuk.


Biasa pula tangan Wiliam akan otomatis mengukur setiap milimeter kulit tubuh Melani.


Kali ini Melani mentolerir perbuatan suami yang tingkat mesum sudah muncul, untuk sebagai kompensasi atas kebohongan.


Dua gundukan sudah terlepas keluar dari pembungkus yang longgar.


"Sudah beberapa hari tubuh kamu tidak saya pijat, sekarang saya akan pijat hmm" ucap Wiliam bertindak melepaskan helaian yang masih utuh melekat.


"A-aku..." mulutnya langsung tersumpel dengan permainan lidah Wiliam yang menguasai dalam rongga mulut.


Helaian benang Melani terlepas dan dihempas melayang kesembarang arah oleh Wiliam, yang giliran helaian benang di tubuhnya juga sedang akan dibuang sendiri.


Melani dapat merasakan suhu tubuh suami mesum itu tanpa helaian benang diantara mereka.


Merasa panggutan di mulut cukup, Wiliam menurunkan ciuman di leher Melani sebelum icip kedua bakpao hangat yang sudah menantang dengan toping kacang merah yang segar.


Ummm....


Tubuh Melani selalu menggelinjang geli tiap diperlukan Wiliam yang tidak hanya memberi sensasi rangsang pada leher, dada dan perut. Tapi Wiliam semakin pintar membuat dirinya takluk dalam permainan sebelah pihak.


Wiliam memasukkan jari tengah ke goa pink kecil, lalu memaju mundurkan hingga mengeluarkan gel yang diharapkan.


Wajah Wiliam tersenyum nakal, sudah siap dengan senjata kramat miliknya yang akan membidikkan cairan gel hangat dalam perut Melani.


"Jangan!" tolak Melani, takut akan mencederai bayi dalam perut.


"Sssttt... Saya hanya ingin memantau kondisi di dalam" Wiliam menutup bibir tipis dengan jari telunjuk.

__ADS_1


Tolakan itu di tolak juga oleh Wiliam yang mengkilapkan senjata kramat berhelm.


Masih susah bagi milik Wiliam masuk langsung dalam goa pink itu. Dengan hentakan perlahan beberapa menit,baru miliknya berhasil dapat izin masuk dari pemilik goa.


Pinggulnya di goyang perlahan, guncangan yang diberikan juga dalam intensitas sedang. Dia juga takut melukai kecebongnya dalam rahim wanita pilihan.


"Ummm... sakit" ujar Melani merem melek, mengigit bibir bawahnya.


Wiliam tersenyum semeringah, karena merasa hal sama tapi bukan sakit, melainkan nikmat.


Takut Melani akan melukai bibir tipisnya, Wiliam membantu dengan permainan dalam mulut.


Suhu kamar utama itu minus 16 derajat Celcius tidak terasa dingin,malah terasa panas bagi Wiliam yang bergoyang gergaji atau apa itu namanya.


Puncak permainan sudah buat Wiliam tidak mampu membantu Melani untuk tidak menggigit bibir tipis.


Arrrhhhh...


Suara keduanya saling bersahutan merasakan semburan cairan gel hangat dari lawan masing-masing.


"Enak kan?" tanya Wiliam menatap wajah wanitanya yang telah membantu menyalurkan hasrat, sambil membelai wajah merah kelelahan.


Melani tidak mengangguk atau bergeleng kepala. Yang ia tau, kapan benda penyumbat dalam goa pink bawahnya akan segera dicabut keluar.


"Satu ronde lagi ya" ucap Wiliam, akibat denyutan dalam goa kecil membuat dirinya ketagihan.


"Capek" sahut Melani.


"Sekali lagi.Sudah ini kita tidur" bujuk Wiliam, tangan mengulen gundukan bakpao hangat lembut penuh jejak abstrak.


Pasrah sudah Melani kalau Wiliam memainkan gundukan bakpaonya. Terutama saat Wiliam dalam posisi menyusu rakus. Tangan Melani akan mencengkeram kuat pundak suami, kadang sampai menekan kepala agar lebih memuaskan.


Wiliam kembali berjoget dangdut ria di atas tubuh Melani, dan biarkan Melani ingin mencakar atau mencengkeram tubuh kekar, karena dapat membantu mengeluarkan semua hasrat yang nyantol.


Pinggulnya berjoget ke kiri kanan,naik turun sesuai signal yang di transfer oleh goa pink ke senjata kramat.


Semburan cairan gel keduanya keluar dan memuaskan keduanya yang terkulai berpelukan.


Melani ngangguk, memeluk rapat tubuh Wiliam karena mencampakkan selimut entah kemana.


"Semakin kamu malu dan manja,saya suka" Wiliam mengelus punggung Melani tanpa helaian benang.


Melani cepat terlelap usai permainan lumayan lama mereka.


Sedangkan Wiliam baru hendak mencari selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, yang bakal kedinginan beberapa jam lagi.


Tapi,... Begitu lihat pemandangan yang indah serta perut yang masih rata, hasratnya kembali mengganggu.


"Kamu harus bersabar sampai istri saya segar" marah Wiliam mencekik senjata kramat.


Sulit memang kalau sudah terbuai dalam awang-awang.


Habis menyelimuti tubuh polos Melani yang tidur nyenyak. Wiliam masuk kamar mandi untuk menginterogasi senjata kramat yang kian sesuka hati berisi peluru.


Di bawah guyuran air shower, Wiliam mencekik senjata kramat mengkeras tegang.


"Cepat kamu tidur!.Saya harus temani istri saya juga tidur" memukul senjata kramat tegang lebih susah diatur.


Makin tercaci maki, senjata itu malah memberontak menyiksa pemilik.


Satu jam lebih Wiliam berdiri tersiksa dibuat senjatanya sendiri dalam kamar mandi.


"Awas kalau kamu bangun lagi,akan saya hukum kamu!" hardik marah Wiliam keluar polos dari kamar mandi, melihat miliknya yang letoi bersarung tebal.


Untungnya saja sebelum ke kamar mandi, Wiliam sudah menyelimuti tubuh penuh pesona.


"Kamu kian hari makin cantik dan memikat saya" ucap pelan Wiliam membelai wajah Melani.


Melani tersenyum manis dari alam mimpi.


"Kamu juga sudah berani goda saya saat tidur, hemp!" ikut masuk dalam selimut,dan merapatkan tubuh mereka.

__ADS_1


Alam bawah sadar Melani merespon dan beri tanggapan. Tangan Melani mendekap,dan wajah bersembunyi di dada bidang William.


"Tidurlah, saya akan menunggu sampai kamu bangun untuk berolah raga lagi" mengecup pucuk kepala Melani.


Wiliam pun memejamkan mata, sebelum khayalan membangunkan hasrat yang sulit terkendali tanpa bantuan.


.


Pagi-pagi Wiliam sudah terbangun menunggu Melani yang masih tidur nyenyak, untuk berolah raga pagi sebentar.


"Mel, bangun" Wiliam mengganggu tubuh Melani dengan sentuhan nakal.


"Mmm.... Ngantuk" sahut Melani mata tertutup, suara serak.


Senjata yang sudah siap untuk bertempur itu ikut membangunkan istri pemilik.


Senjata Wiliam bergerak nakal dipangkal paha dan sekitarnya.


"Koko!!" hardik Melani terganggu.


"Ayo olah raga. Nanti saya harus ke kantor" melempar jauh selimut.


Mata Melani membulat lebar, lihat benda panjang kecoklatan tegang berhelm berdiri di depannya.


"I-itu" tunjuk Melani tidak paham maksud di todong dengan benda milik Wiliam.


"Dari semalam dia mau kamu hukum. Jadi kita hukum bersama saja" goda Wiliam menunggu pintu goa pink di buka.


Melani menggeleng, karena penebusan rasa bersalah cukup sampai semalam. Tidak ada tambahan konsekuensi penebusan.


Melani dan Wiliam lari-larian saling kejar menghindar dengan tubuh polos.


"Ko, Mel capek" berhenti berlari, kecapean menghindar.


"Oke. Sekarang saya mandikan kamu" sahutnya menaik turunkan alis.


"Aku bisa sendiri" tolak Melani jalan sendiri ke kamar mandi.


Melani berjalan di depan, dibuntuti Wiliam yang sudah normal.


Tanpa disadari Melani, Wiliam telah mengunci pintu kamar mandi.


"Koko mau ngapain?" kaget menutup silang tubuh polos.


"Mandilah" pura-pura baik tidak akan neko-neko.


Antara percaya dan tidak,Melani mengizinkan untuk mereka berdua mandi bersama.


"Mel, tolong gosok punggung saya" pinta Wiliam, mengulurkan spon.


"Biasanya juga sendiri" oceh pelan Melani meraih spons.


William sengaja melakukan itu, karena ia punya maksud tersembunyi.


Ikhlas tak ikhlas, Melani mengosok punggung yang ternyata mulus dan lebar.


Tangan Wiliam menarik tangan Melani ke depan,akhirnya tubuh mereka menyatu.


Tidak sampai di situ, Wiliam mengajak tangan Melani untuk memberi pijatan di senjata kramat.


"Koko!!!" pekik Melani marah malu.


Wkwkwk..... Wiliam tertawa lepas. Dan tau apa yang harus dilanjutkan dalam keadaan begitu.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2