Change Destiny

Change Destiny
Bab 46 Bisa diam gak?


__ADS_3

Bab 46


.


Wiliam memberikan kata ucapan terima kasih disertai mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan jamuan.


Angin sepoi bertiup perlahan, meniup dahan pohon dan bunga.Cuaca juga mendukung acara, hingga semua dapat menikmati secara santai setiap acara.


Melihat wajah cantik Melani mulai lelah, Wiliam berpamitan duluan pulang ke rumah, pada mertua, ibu tua, dan nenek.


"Baik. Mama titip Melani untuk kamu bimbing ya" ibu suri bersalaman pada mantu.


"Ingat pesan Papa. Jika tidak kuat jaga, kamu bisa menghubungi kami" memeluk tuan putri kesayangan, mata menekankan bahwa Melani masih ada orang tua yang kuat jadi sandaran.


"Iya, Pa,Ma" jawab Wiliam.


"Tenang saja Ibu, Bapak besan. Kami juga menyayangi Melani" sahut nenek.


"Sekarang biarkan mereka pergi honeymoon " celetuk ibu tua dengan tawa geli.


Orang yang ngerti maksud Bibi Minah juga ikut tertawa bahagia.


"Semoga pulang nanti, bawa kabar bahagia lagi" nenek mengelus punggung Melani terpeluk.


"Mami, kita sudah mau pulang ya?" Josh tiba-tiba muncul ,mengandeng tangan Melani sehabis bermain dengan anak seumuran.


"Iya" sahut lesuh Melani.


"Josh, kamu pulang sama Grandma dan Omah uyut saja.Kan kamu belum makan kenyang" ibu tua cari alasan, biar pengacau tidak nguntil.


"Benar. Lagian paman Ronald nanti tidak punya teman" sambung nenek.


"Tapi.... Boleh ya Dad" mata berkaca menatap Wiliam.


Berhubung pernikahan ini hanya sekedar formalitas, maka Wiliam ngizinkan Josh ikut mereka pulang.


"Kamu gimana sih. Di kasih waktu berdua saling kenal lebih dalam, kok malah bawa anak" nenek mencubit kesal tangan Wiliam.


"Semuanya, kami pamit pulang dulu, ya" pamit Wiliam, malas lanjutkan omongan garing.


Biarlah yang tua kesal, asal mereka rukun dan bahagia.


Acara tetap berlanjut meski tanpa pemilik acara. Ronald menahan rasa sakitnya, melihat punggung Melani pergi jauh dan tidak mungkin kembali padanya.


"Saya doakan semoga kalian jadi keluarga bahagia" dalam kesedihan,Ronald tetap memberikan doa terbaik bagi abang dan mantan gadis impian .


Sesampai di rumah keluarga Lee, Melani di antar pelayan masuk ke kamar tamunya. Karena Wiliam tidak berencana menjalin hubungan jauh. Cukup sebagai suami istri di mata hukum, serta jadi ibu sambung untuk anaknya.


"Josh kamu mau kemana ?" tanya Wiliam lihat tingkah laku anaknya yang amat cari perhatian.


"Mau ikut Mami, Dad. Kan Mami capek, jadi Josh mau bantu pijit" nunjuk Melani dan pelayan rumah jalan.


"Gak usah. Itu bukan tugas kamu. Lebih baik ganti baju, dan jangan lupa catat pelajaran hari ini" titah Wiliam melonggarkan dasi.

__ADS_1


"Habis pijit Mami saja ya, Dad" Josh merayu.


"No!!." suara Wiliam meninggi setengah oktaf,sambil nunjuk lantai atas.


"Okey" Josh jalan nunduk kecewa ,naik anak tangga lantai dua.


Sementara itu,Melani yang baru saja hendak dibantu pelayan melepaskan gaun pengantin, mendapat ketukan pintu.


"Saya buka pintu dulu ya, Nyonya" izin pelayan.


Sementara pelayan berjalan lihat siapa yang ketuk pintu, Melani menarik resleting belakang gaun dengan mulus.


Pintu terbuka lebar saat tau siapa yang ngetuk. Sebuah maha karya juga terpampang elok sedap dipandang.


"Kamu keluar" titah Wiliam pada pelayan sebelum ketahuan.


"Baik" pelayan langsung keluar tanpa menoleh kiri kanan belakang.


Pintu lalu di tutup sebelum maha karya di lihat orang tidak berstatus jelas.


Langkah Wiliam langsung menempelkan jas miliknya ,pada punggung mulus hanya memakai celana segitiga tali satu warna merah.


Aaahhhh......


Teriak kaget Melani begitu jas pria nempel di tubuh.


"Kamu bisa diam gak. Jangan buat orang lain salah paham" hardik Wiliam memunggungi.


"Anda kenapa masuk.Mana si Mbak tadi?" Melani malu membungkus tubuh mulus dengan jas Wiliam.


"Tapi ,anda tidak lihat kan" ragu Melani.


"Ehemmm..... Sedikit, makanya saya pinjamkan jas" Wiliam kaku, tidak mungkin bilang 'Tidak lihat'.


Wajah Melani memerah malu beserta bumbu kesal. Tubuh yang seharusnya terjaga sampai 35 tahun, kini terlihat oleh orang luar.


Secepatnya Melani masuk kamar mandi, membersihkan seluruh polesan make up tebal, semprotan hair spray, dan berganti baju baru casual.


Wiliam yang juga telah duduk menunggu sehabis berganti pakaian biasa di ruang depan, dihampiri Melani berpakaian casual sopan.


"Aku sudah siap" canggung Melani berkata sehabis kejadian beberapa menit lalu.


"Mmm... " dehem Wiliam, tangan melambai panggil pelayan, untuk berpesan menjaga Josh.


Sebelum pergi mengobati Melani pada dokter luar negri, Wiliam ingin meminta hasil pemeriksaan terakhir sebagai refrensi.


Mobil melaju pada rumah sakit dimaksud, tanpa nunggu antrian lama, nama Melani telah dipanggil perawat untuk lakukan pemeriksaan.


Sementara Melani diperiksa, Wiliam menelpon orangnya agar bersiap menjemput mereka esok hari di landasan terbang.


"Okey, Sir" jawab orang diseberang benua.


"Bagaimana keadaannya, Dok ?" tanya Wiliam merapikan jas.

__ADS_1


"Keadaan Nyonya stabil, hanya saja kecapekan,dan buat denyut jantung lemah.Saya anjurkan pakai metode hipnoterapi untuk depresinya,selain tidak memberatkan beban mental, juga dapat mengontrol pacu jantung dan asma" jelas dokter.


"Oh. Saya mengerti" jawab Wiliam.


"Apa aku harus wajib makan obat lagi, Dok?" tanya Melani berjalan dekat.


"Tidak wajib.Asal, Nyonya merasa tidak nyaman dan sukar tidur saja baru di minum" saran dokter.


Dokter tersenyum pada mereka, si suami tampak dingin namun perhatian, pikiran dokter pun mulai menebak. "Maaf. Apa anda pengantin baru?"


"Iya. Kenapa" sahut dingin Wiliam.


"Anda sungguh beruntung, bisa dapat suami perhatian sekali pada anda,loh Nyonya" ujar dokter.


Melani kurang respon ucapan dokter, dia ngangguk sambil nahan kantuk akibat minum obat siang tadi sehabis jamuan makan siang.


"Terima kasih, Dok.Kami pulang dulu" pamit Wiliam beranjak berdiri.


"Ya, sama-sama Tuan.Semoga Nyonya lekas sembuh" bergantian jabat tangan pasien.


Baru saja melangkah kecil tubuh Melani terhuyung dan tertampung perawat.


"Kamu kenapa lagi, hum?" mengganti papah Melani.


"Ngantuk" mata Melani merem melek.


"Dok, ini... ?"


"Tidak usah cemas Tuan. Hanya efek obat tidur yang Nyonya minum sebelum kemari" jelas dokter, mengantar keluar ruang periksa.


Jika memapah Melani sampai keluar, yang ada tambah sulit dan makan waktu lama. Lalu tangan kekar itu menggendong ala bridal style sampai mobil yang siap kapan dapat perintah melaju.


"Untung saja kamu ringan" gumam pelan Wiliam, dudukan Melani di jok belakang.


"Jalan" perintah Wiliam setelah menutup pintu.


"Baik, Tuan" supir menginjak pedal gas dan mutar stir kemudi.


Dengan kecepatan sedang mobil itu melaju.Saat ada jalan berlubang, supir pun pelan-pelan melajukan mobil.


Tukkk....


Terdengar bunyi suara benda tumpul memukul kaca mobil mereka, ternyata kepala wanita yang sedang tidur lelap itu terbentur tanpa sadar.


Demi keselamatan,Wiliam meminjamkan bahunya dijadikan bantal sepanjang jalan.


.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2